Search

Here, There, & Everywhere

my travel notes

Tag

Toraja

Batutumonga, Keindahan Alam Tana Toraja

20140405_152704
Sawah Terasering di perjalanan menuju Batutumonga
Patung Kebo Belang
Patung Kebo Belang

Setelah dari Londa kami memutuskan istirahat makan siang dulu di Rantepao. Oya, di jalan menuju Rantepao ada patung Kebo Belang di tengah pertigaan. Kami berhenti dulu deh disana untuk berfoto. Ya lumayanlah untuk menghilangkan kekecewaan karena ga bisa lihat Kebo Belang di Pasar Bolu. Setelah berfoto kami mencari tempat makan di Rantepao yang halal tentunya. Akhirnya kami makan ayam goreng plus coto makasar di salah satu warung makan di dekat pool Bus Bintang Prima. Harganya lumayan mahal sih, makan berdua abis Rp 80 ribu.

Setelah kenyang kami melanjutkan perjalanan berikutnya yaitu ke Batutumonga. Batutumonga adalah dataran tinggi di Toraja utara yang memiliki pemandangan yang indah. Banyak yang menyebut Batutumonga adalah kampung di atas awan. Perjalanan ke Batutumonga cukup jauh, hampir di setiap persimpangan kami bertanya arah ke penduduk sekitar. Di sepanjang jalan kami juga sering berhenti kalo ketemu view yang indah untuk difoto. Maklum lah… yang satu fotografer dan yang satu lagi foto model jadi gituu deehh…. Wkwkwkwk…

Berhenti2 buat foto
Berhenti2 buat foto
di depan bangunan yang terbengkalai
di depan bangunan yang terbengkalai

Pemandangan di sepanjang jalan ke Batutumonga kebanyakan adalah pemandangan sawah terasering yang hijau. Ada juga beberapa batu besar yang di dalamnya terdapat lubang umtuk makam. Selain itu juga ada tongkonan yang berdiri di tengah sawah. Jalan yang kami lewati agak sempit dan banyak yang rusak akibat tergerus air. Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang sampailah kami di sebuah warung yang terletak di pinggir tebing. Kami berhenti disana, bukan untuk makan, tapi jalan ke atas masih belum beraspal. Jadi kami ragu untuk meneruskan. Kami lalu berfoto2 disana dan karena hari sudah sangat sore dan langit mendung tebal kami memutuskan untuk kembali. Kayaknya bentar lagi hujan deras nih…

View from the top
View from the top

Persis seperti dugaanku, baru beberapa km kami berkendara, hujan lebat turun. Kami tidak punya pilihan selain berhenti berteduh. Akhirnya kami berhenti di sebuah rumah untuk berteduh. Hujan ini sangat deras dan lama sekali, udah gitu disana hawanya sangat dingin. Bbbrrrr…. Ketika¬† hujan sudah tidak terlalu deras, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Kamera dan hp kami amankan dulu di bagasi motor. Kemudian kami siap deh menembus hujan kembali ke Rantepao. Bbbrr… dingin… Sukses deh basah kuyup….

Berteduh menunggu hujan reda
Berteduh menunggu hujan reda

Sesampainya di wisma monica saya langsung mandi pake air panas. Penting banget air panas ini, untung wisma ini kamar mandinya dilengkapi air panas. Kalo ga saya bisa menggigil kedinginan. Jadwal keberangkatan bus kami adalah pukul 21.00. Oleh karena itu kami baru keluar dari wisma sekitar pukul 19.30 supaya tidak terlalu lama menunggu di luar karena udaranya sangat dingin. Sebelum ke pool bus kami singgah makan malam dulu di sebuah warung jawa yang letaknya di sebelah kantor pool bus. Saya memesan nasi goreng, rasanya enak banget dingin-dingin begini makan nasi goreng yang panas.

Sampai disini berakhirlah kisah perjalanan saya ke Toraja, sebuah tempat yang mempunyai obyek wisata yang sangat unik, tidak bisa ditemukan di tempat lain. Saya berharap bisa berkunjung kesini lagi karena masih ada beberapa obyek wisata yang belum sempat saya kunjungi seperti Kambira, Lokomata, Bori dan Pallawa. Oya, pengen juga bisa menginap di Batutumonga dan melihat sunrise disana ^_^

Salah satu view di perjalanan
Salah satu view di perjalanan

Mengunjungi Bukit Batu Lemo dan Menelusuri Gua Makam Londa

Lemo
Lemo
Selfie dengan partner travelling
Selfie dengan partner travelling

Perjalanan kami berlanjut ke Lemo, obyek wisata berupa bukit batu yang di dalamnya terdapat lubang-lubang yang menjadi makam suku Toraja. Sebenarnya dari Kete Kesu lebih dekat ke Londa, tapi kami sengaja menuju tempat yang paling jauh dulu. Setelah dari Lemo baru kami ke Londa. Tiket masuk ke Lemo adalah Rp 10 ribu per orang untuk turis domestik. Menurut referensi yang pernah saya baca bukit batu ini dinamakan Lemo karena bentuknya mirip limau (buah jeruk). Tiap lubang di bukit batu ini berukuran sekitar 3 x 5 meter yang digunakan untuk kuburan satu keluarga. Lubang-lubang ini ditutup dengan pintu kayu dan letaknya cukup tinggi, mencapai belasan meter. Mayat dimasukkan ke dalam lubang dengan menggunakan tangga atau ditarik dengan tali. Lubang dibuat dengan cara memahat bukit batu secara manual, pengerjaannya memakan waktu antara enam bulan sampai dengan satu tahun. Di dinding tebing ini terdapat patung-patung orang yang meninggal berjejer yang disebut tau-tau. Konon untuk membuat tau-tau harus dipenuhi berbagai syarat antara lain menyembelih kerbau sebanyak 24 ekor. Wooouuww… mahaaalll yaaa….

Hujan gerimis turun pada saat kami berada di Lemo, tapi tidak masalah lah…, tidak menghalangi kenarsisan kami untuk berfoto-foto. Pada saat itu sepi sekali di Lemo, hanya kami berdua dan dua turis domestik laki-laki yang berwisata disana. Menurut saya sih, keren sekali bukit batu ini… Yang seperti ini hanya ada di Toraja…..

Me @ Lemo
Me @ Lemo

Di jalan masuk menuju bukit batu Lemo ini terdapat kios-kios penjual souvenir. Barang-barang yang dijual sama dengan yang dijual di Kete Kesu. Karena kami sudah puas berbelanja di Kete Kesu maka kami tidak mampir di kios-kios ini.

Pose foto model dulu ah.....
Pose foto model dulu ah…..
Gua Makam Londa
Jalan menuju Gua Makam Londa

Tujuan kami selanjutnya adalah Londa, yaitu gua alam yang menjadi makam bagi suku toraja. Londa terletak sekitar 7 km dari Rantepao ke arah selatan. Tiket masuk ke Londa sama dengan dua obyek wisata sebelumnya yaitu Rp 10 ribu per orang. Sebelum berjalan menuju gua kami menyewa petromax dulu yang ditawarkan di parkiran. Harga sewa petromax adalah Rp 30 ribu jika kita bawa sendiri petromax nya. Tapi kita bisa minta dibawakan oleh pemilik petromax dengan tambahan biaya seikhlas kita, pemilik petromax tidak menentukan tambahan biayanya. Nanti pemilik petromax akan berperan sebagai guide juga bagi kita. Jadi tentu kami minta dibawakan dong, petromax itu kan berat, lagian serem juga masuk gua yang penuh dengan mayat manusia… Hiiii…..

Mulut Gua Londa
Mulut Gua Londa

Dari kejauhan terlihat tebing tinggi yang dipenuhi tanaman. Di kaki tebing inilah tersembunyi sebuah gua alam yang dijadikan makam. Di tebing di atas mulut gua terdapat tau-tau (patung orang meninggal) yang berdiri berjajar. Setelah berfoto di depan gua kami pun masuk ke dalam gua. Di dalam gua terdapat banyak tengkorak dan tulang-tulang manusia serta peti-peti mati. Di beberapa tempat juga terdapat sesajen yang kebanyakan berupa rokok. Coba kalo kesini sedirian gimana ya rasanya… Takuuutt…. Gua ini cukup panjang dan juga bercabang, di beberapa bagian sangat rendah tingginya kurang dari satu meter, jadi kami harus menunduk dan berhati-hati ketika berjalan.

Awas ati-ati kebentur
Awas ati-ati kebentur yaa….
di dalam gua, tengkorak dimana-mana
di dalam gua, tengkorak dimana-mana

Menelusuri gua yang penuh dengan tengkorak dan tulang manusia ini merupakan pengalaman yang sangat berkesan karena tidak mungkin kita temui di tempat lain. Alhamdulillah saya bersyukur sekali bisa berkunjung ke Toraja….

Di dalam gua banyak peti mati-nya
Di dalam gua banyak peti mati-nya
Gua nya bercabang
Gua nya bercabang
Pake petromax biar terang
Pake petromax biar terang

Kete Kesu, Wisata Kuburan dan Tulang Belulang

Kete Kesu
Kete Kesu
Tongkonan
Tanduk-tanduk kerbau yang dikorbankan dipasang berjejer di depan tongkonan

Kete Kesu terletak di sebelah selatan Rantepao, letaknya tidak jauh dari Rantepao, hanya sekitar 4 km. Dari Rantepao berkendaralah ke arah selatan, kemudian ada plang penunjuk jalan menuju Kete Kesu, beloklah ke kiri. Pemandangan menuju ke Kete Kesu sangatlah indah, bukit-bukit dan sawah terhampar disana. Biaya masuk ke Kete’ Kesu adalah Rp10 ribu per orang. Kete’ Kesu adalah sebuah kompleks rumah adat toraja yang disebut tongkonan dan pemakaman di tebing. Begitu masuk langsung terlihat deretan tongkonan yang unik. Kami pun berfoto-foto dengan berbagai pose. Salah satu tongkonan disana dijadikan museum, tapi pada saat itu masih belum buka.

Di depan Tongkonan
Di depan Tongkonan

Kami lalu berjalan ke arah belakang menuju tebing tempat pemakaman. Di kanan kiri jalan terdapat kios-kios yang menjual souvenir khas toraja. Nanti harus mampir kesitu nih… Oya, jika ingin melihat kerbau belang juga ada disini. Ada sebuah kandang yang berisi satu kerbau belang. Saya pun berfoto-foto sama kerbau ini. Kerbau belang adalah aktor utama di acara pemakaman atau pernikahan, oleh karena itu harganya sangatlah mahal, puluhan juta rupiah satu ekornya. Suku Toraja percaya bahwa arwah membutuhkan kerbau untuk melakukan perjalanannya menuju akhirat dan akan lebih cepat sampai di akhirat jika ada banyak kerbau. Saya sendiri baru kali ini melihat kerbau belang secara langsung karena kerbau belang ini memang hanya hidup di tana toraja. Kerbau ini memang unik, selain tubuhnya berwarna belang hitam dan pink, matanya juga memiliki banyak unsur warna putih. Semakin banyak warna pink di tubuh seekor kerbau maka makin mahal pula harganya. Jika ingin puas melihat kerbau belang datanglah ke Pasar Belo tempat jual beli kerbau. Tapi pasar ini hanya buka enam hari sekali dan sayangnya pada saat kami disana pasarnya lagi tutup.

Foto bareng kerbau belang
Foto bareng kerbau belang
20140405_085510
Makam yang mewah
Kuburan di tebing
Kuburan di tebing

Sesampainya di ujung jalan terlihat tebing menjulang yang di celah-celahnya terdapat peti-peti kayu tempat mayat disemayamkan. Peti-peti ini berbentuk rumah dan perahu kecil. Terlihat juga tengkorak-tengkorak dan tulang-tulang berserakan di celah-celah tebing. Di beberapa titik juga terdapat sesajen yang berisi rokok, makanan, dan minuman soda (mungkin itu dulu kesukaan orang yang meninggal semasa hidup ya…). Di bagian bawah tebing terdapat dua buah makam yang sangat besar berbentuk rumah dan di depannya ada patung manusia yang dibuat mirip dengan orang yang meninggal. Kami juga melihat sebuah lubang di tebing yang tertutup pagar besi dan digembok. Di dalamnya terlihat patung-patung sebuah keluarga. Konon di dalam lubang itu, selain makam juga terdapat benda-benda berharga almarhum sehingga dipagari dan digembok.

Makam dengan jeruji besi dan gembok
Makam dengan jeruji besi dan gembok
20140405_090134
di depan tebing

Upacara pemakaman suku toraja kadang-kadang baru digelar setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sejak kematian yang bersangkutan, dengan tujuan agar keluarga yang ditinggalkan dapat mengumpulkan cukup uang untuk menutupi biaya pemakaman. Suku Toraja percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba tetapi merupakan sebuah proses yang bertahap menuju Puya (dunia arwah, atau akhirat). Dalam masa penungguan itu, jenazah dibungkus dengan beberapa helai kain dan disimpan di bawah tongkonan. Arwah orang mati dipercaya tetap tinggal di desa sampai upacara pemakaman selesai, setelah itu arwah akan melakukan perjalanan ke Puya.

IMG_1843
yang digantung di atas itu tulang rahang kerbau lho
Pilih yang mana yaa
Pilih yang mana yaaa…..

Setelah puas melihat kuburan di tebing, sekarang tiba waktunya untuk berbelanja. Souvenir yang dijual disini kebanyakan adalah ukiran kayu khas toraja. Setiap ukiran memiliki nama khusus. Motifnya biasanya adalah hewan dan tanaman yang melambangkan kebajikan, contohnya tanaman air seperti gulma air dan hewan seperti kepiting dan kecebong yang melambangkan kesuburan. Selain itu juga motif kerbau atau kekayaan, sebagai harapan agar suatu keluarga memperoleh banyak kerbau. Tentunya saya membeli ukiran kayu tersebut untuk hiasan dinding di rumah. Selain untuk hiasan dinding, ukiran kayu juga dibuat dalam bentuk peralatan rumah tangga seperti baki, asbak, tempat tissue, tatakan gelas, dan lain sebagainya. Saya memilih sebuah baki kecil dengan harga Rp 50 ribu untuk saya bawa pulang. Disana juga dijual kain-kain dengan motif toraja, tapi sayang tidak banyak motifnya. Saya pun membeli kain dengan motif ornamen khas toraja kembaran dengan grandis. Punya saya warna putih dan pink, sedangkan punya grandis warna hijau dan emas. Harga kain itu per lembarnya 105 ribu dengan panjang 3 meter.

Partner travellingku di Toraja
Partner travellingku di Toraja
IMG_1868
Motor yang mengantar kami keliling Toraja
Jalan masuk ke Kete Kesu
Jalan masuk ke Kete Kesu

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Nicoline's Journal

by Nicoline Patricia Malina

Alid Abdul

Travel till you die!

Harival Zayuka

Just another WordPress.com site

My Sanctuary

my travel notes

Claraberkelana.com

Travel Stories

The Traveling Cows

my travel notes