IMG_0852Rakum
Ranu Kumbolo

Akhirnya… setelah berusia setua ini saya bisa sampai juga di Ranu Kumbolo. Hehehe… Sebenernya ini agak memalukan sih, karena saya ini orang Jawa Timur yang dari lahir sampai besar ya tinggal di Jatim. Mungkin karena gaulnya bukan sama anak gunung ya, jadi ga ada yang ngajakin kesitu. Udah lama sih berangan2 ke Ranu Kumbolo, nyari-nyari temen yang mau ikutan, dapet sih, tapi ga ada realisasi juga. Lagi-lagi karena ga ada yang punya pengalaman naik gunung, jadi bingung kesananya naik apa dan gimana2nya nanti disana. Padahal emang niatnya cuma ke Ranu Kumbolo aja, ga sampe summit. Saya sadar diri lah sama kemampuan, jadi untuk pertama kali mending sampe Rakum aja.

Pada bulan Agustus 2018 ajakan buat camping di Rakum akhirnya datang juga. Grandis yang udah saya pesenin (pokoknya kalo ke Rakum harus ajak aku!!!), mengajak saya ke Rakum bareng adik dan teman2nya. Tentu saja saya mau dong meski ga ada yang kenal dari rombongan itu. Perencanaan trip kali ini semua dilakukan oleh mereka, saya tinggal ikut dan bayar patungannya aja.

Jumat jam 8 malam saya berangkat ke Terminal Bungurasih. Udah janjian sama Grandis dan temen2nya yang rombongan Surabaya untuk berangkat jam 9 dari Bungurasih ke Malang. Singkat cerita kami sampai di Malang dan menginap semalam di rumah salah satu teman pendakian kita. Dini hari pukul 3 kami berangkat naik angkot yang udah disewa untuk membawa kami menuju Desa Tumpang. Di Tumpang kami berhenti di rumah pemilik jeep yang akan kami sewa untuk mengantar kami ke Ranu Pani. Kami disuguhi sarapan disini, jadi sewa jeepnya ini include sarapan gitu. Pukul 6 pagi kami berangkat naik jeep menuju Ranu Pani dengan total rombongan 11 orang. Oya jeep-nya ini belakangnya terbuka dan tempat duduknya dilipat supaya bisa muat banyak. Jadi yang di belakang berdiri semua, seru deh…

20180804_063009
View yang kami lihat di perjalanan

Perjalanan menuju Ranu Pani menghabiskan waktu hampir 1 jam. Pemandangannya sangat indah, gunung Bromo dan lautan pasir terlihat dari jalan yang kami lalui. Sekitar jam 7 kami sampai di Ranu Pani. Dinginnya luar biasa saat itu. Dan yang menakjubkan adalah kami disambut hamparan rumput dan daun2 yang membeku. Yes… it’s frosting in Ranu Pani.

20180804_071550
Ranu Pani

Gara2 frosting ini kami jadi foto2 dulu deh di hamparan rumput  yang membeku. Dingin banget saat itu, padahal matahari sudah bersinar cerah. Jadi kepikiran gimana dinginnya nanti malam di Ranu Kumbolo yang lokasinya jauh lebih tinggi dari Ranu Pani.

IMG-20180804-WA0000
Frosting in Ranu Pani

20180804_084610

Setelah itu kami berjalan menuju pos pendaftaran. Oya untuk naik ke Semeru kita harus daftar online dulu ya lewat web resminya Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Ini harus ya karena ada batasan kuota pendaki untuk mendaki Semeru. Selain itu jangan lupa juga untuk bawa dokumen pendaftaran dan print out bukti pembayaran kalian. Kami sempat kerepotan karena tidak membawa print out bukti transfer karena petugas meminta print out dalam bentuk kertas. Jadi kami harus cari tempat ngeprint dulu di desa.

20180805_164018
Pos Pendaftaran

Setelah proses pendaftaran selesai, kami harus mengikuti briefing dulu sebelum mulai mendaki. Saat briefing kami diberi penjelasan tentang aturan2 yang harus kita patuhi selama mendaki. Point2 yang harus diingat adalah pendaki dilarang memasukkan anggota badan ke dalam danau, dilarang membuat api unggun, dan dilarang membawa tissue basah, jadi semua tissue basah yang terlanjur dibawa bisa dititipkan dulu di petugas.

Setelah briefing mulailah kami berjalan menuju gapura masuk pendakian. Kami tidak menggunakan guide dan porter karena sudah ada beberapa teman yang sudah berpengalaman ke Ranu Kumbolo. Ya lagipula kami memang ingin mengirit biaya. Katanya sih perjalanan sampai camping ground di Ranu Kumbolo menghabiskan waktu 4-5 jam. Kami baru start pukul 11 siang karena urusan print out bukti transfer tadi yang cukup menyita waktu.

20180804_105537
Semangat!!! Ranu Kumbolo…¬† kami datang

Tidak lama berjalan dari gapura jalan sudah menanjak. Menanjaknya lumayan nih hampir 45 derajat. Nafas saya udah hampir habis. Tapi untungnya ga lama sih jalan nanjaknya. Setelah itu jalan landai sampai Pos 1. Kami menghabiskan waktu satu jam untuk mencapai Pos 1. Di Pos 1 ini masih ada signal internet, jadi kalo mau memberi kabar ke orang tua, suami/istri, pacar, temen, atau gebetan segera lakukan di Pos 1. Setelah itu dipastikan sudah tidak ada signal internet dan telepon. Kami beristirahat sambil makan gorengan dan semangka. Nikmat sekali.

IMG_0697Rakum
Meski lelah tapi tetap senyum kalo ada kamera
20180804_130652
Pos 2

Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Pos 2. Jarak antara Pos 1 dan Pos 2 ga terlalu jauh, jadi ga terlalu capek lah. Tapi tetep aja kami istirahat dulu di Pos 2 dan makan semangka lagi dong.

Setelah beristirahat sebentar kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 3. Jarak antara Pos 2 dan Pos 3 ini lumayan jauh. Di jalan kami melewati Watu Rejeng, tebing terjal yang berdiri tegak lurus. Lokasi ini berada pada ketinggian 2350 mdpl.

20180805_133641
Watu Rejeng

 

 

Kemudian kami melihat sebuah jembatan berwarna merah di depan kami. Jembatan ini cukup terkenal dengan cerita mistisnya. Saat itu kabut tebal menutupi area di sekitar jembatan. Tapi karena kami melewatinya pada siang hari dan beramai-ramai jadi ya alhamdulillah aman-aman saja.

 

 

 

20180804_140817
Jembatan Merah

Setelah berjalan lagi beberapa menit, sampailah kami di Pos 3. Waktunya makan semangka lagi nih…

20180805_124011
Abis istirahat langsung melewati ini

Perjalanan menuju Pos 4 diawali dengan undakan tanah yang lumayan menguras energi untuk seorang amatir seperti saya. Kalo dilihat di foto samping ini sih kayaknya landai ya. Tapi foto itu sungguh menipu, apalagi naiknya sambil bawa keril. Untung tadi udah istirahat dan makan semangka. Satu demi satu undakan saya naiki dengan tabah. Semangat!!! Rasanya lega setelah undakan ini berakhir, jalan sudah landai lagi.

Setelah berjalan beberapa menit kemudian, kabut pun mulai turun membuat suasana mistis menjadi terasa. Untung masih siang kan ya.

 

IMG_0722Rakum
Kabut menyelimuti

Kemudian mulailah terlihat Ranu Kumbolo yang indah itu. Hmmm senangnya… rasa lelah terasa berkurang. Sekarang kami berjalan mengitari danau karena camping ground yang kami tuju berada di seberang danau.

IMG_0821Rakum
Udah terlihat danaunya

Meski makin semangat jalannya tapi sekarang jadi makin lama juga perjalanan kami karena sebentar2 berhenti buat foto. Sayang banget lah kalo sampai melewatkan buat foto2 disini. Lihat aja foto2 di bawah ini…

IMG_0850Rakum
Indah dan tenang ya
IMG_0865Rakum
Matahari sudah di ufuk barat
IMG_0875Rakum
Menanti teman seperjalanan
20180805_114729
Semangka terenak yang pernah kumakan

Lalu sampailah kami di Pos 4 yang memiliki view Ranu Kumbolo. Makan semangka lagi lah kami sambil melihat pemandangan yang indah. Nikmat banget makan semangka yang dijual di tiap pos ini, rasanya manis, segar, dan dingin serasa baru keluar dari kulkas.

Nah perjalanan tinggal sebentar lagi, camping ground sudah terlihat jelas dari sini. Matahari sudah berada di ufuk barat jadi kami segera melanjutkan perjalanan  sebelum hari gelap. Setelah berjalan mengitari danau kami sampai di sebuah tanah lapang yang berada di tepi danau. Tapi ini bukan camping ground yang kami tuju, meski ada beberapa pendaki yang mendirikan tenda disini.

20180805_112252
Beberapa pendaki mendirikan tenda disini

Kami berjalan lagi menaiki bukit, lokasi camping ground yang kami tuju ada di balik bukit. Setelah menaiki bukit, jalanan menurun lagi dan sampailah kami di Ranu Kumbolo. Masya Allah indahnya…

20180804_163418
Alhamdulillah sampai juga

Ranu Kumbolo ini berada di ketinggian kurang lebih 2400 mdpl. Senangnya saya akhirnya sampai juga di danau ini. Beberapa teman saya yang sudah sampai duluan sudah memilih lokasi untuk mendirikan tenda. Saat itu camping ground sudah penuh dengan tenda karena kami sampai disana sudah pukul 5 sore. Jadi waktu tempuh kami dari gapura masuk sampai di camping ground adalah 6 jam. Hahaha… dasar amatiran, kebanyakan berhenti istirahat dan foto2 sih. Kami memilih lokasi di bagian belakang, disana masih cukup lenggang, meski jauh dari tepi danau.

20180804_163304
Camping ground

Sementara para laki-laki memasang tenda (inilah enaknya kalo camping sama cowok2, tenda biar jadi urusan mereka), kami yang perempuan pergi mengambil air di danau. Peraturan terpenting yang harus kita ingat disini adalah dilarang memasukkan anggota tubuh kita ke dalam danau. Air danau ini digunakan pendaki untuk minum dan memasak jadi kita harus sama2 menjaga kebersihannya.

DSC08868 (2)
Tenda kami

Oya kabar gembiranya, sekarang di Ranu Kumbolo ada toilet umum. Jadi ga ada masalah lah kalo kebelet. Toilet ini bayarnya Rp5000 per orang, airnya banyak melimpah. Tapi ga boleh mandi disini, dan kupikir kan juga ga bakal ada yang mau mandi dengan suhu udara dan air sedingin es itu ya. Ternyata besoknya saya lihat ada lho yang mandi dan keramas pula. Luar biasaaa…

Oya di dekat toilet ini ada api unggun yang dinyalakan oleh ranger. Para pendaki dilarang untuk menyalakan api unggun, jadi kalo mau mencari kehangatan bisa mendekati api unggun ini. Malam pun tiba, kami mulai menyalakan kompor dan memasak mie instant. Saya semangat masak dengan modus supaya bisa menghangatkan diri deket api. Sumpah dingin banget malam itu. Setelah mie instant sudah jadi semua kami makan bersama2 sambil ngobrol. Tapi kami tidak tahan berada terlalu lama di luar, jadi selesai makan dan minum kopi/susu hangat kami segera masuk ke dalam tenda dan bersiap2 tidur. Dan dimulailah malam yang menyiksa itu….

DSC08873
Menjelang malam di Ranu Kumbolo

Saya pikir saya bakal tidur nyenyak malam itu karena kondisi badan yang lelah, tapi ternyata saya salah besar. Saya luar biasa kedinginan, padahal baju udah dilapisi long john, pake jaket, kaos kaki, kaos tangan dan syall, serta berada di dalam sleeping bag. Oya sleeping bag ini juga hukumnya wajib ya buat dibawa ke Semeru. Malam jadi terasa panjang, saya ga bisa tidur nyenyak, tengah malem kebangun trus susah tidur lagi. Jadi nyesel ga bawa obat tidur waktu itu. Dinginnya luar biasa sampai wajah saya juga saya tutupi syall, trus abis itu bingung gimana nafasnya. Hmmm….