Search

Here, There, & Everywhere

my travel notes

Tag

Pantai Rajegwesi

Saatnya Pulang

Adventure in Meru Betiri National Park
Adventure in Meru Betiri National Park

Setelah puas main dan foto-fotoan di pantai kami pun kembali ke guesthouse. Kemudian kami sarapan dulu di kantin depan guesthouse dengan menu nasi goreng. Tadi malam sepulang dari pantai kami juga makan malam disini dengan menu yang sama, nasi goreng plus telor ceplok. Selesai makan, kami bergantian mandi karena tadi pagi kan belum mandi. Setelah semua siap kami pun berangkat kembali ke Ketapang.

Guesthouse di Sukamade
Guesthouse di Sukamade

Di perjalanan kami menyempatkan berhenti dulu untuk foto di tepi sungai (niat yaaa). Untungnya arus sungai tidak deras, jadi perjalanan kami aman-aman saja. Lalu di tempat parkir Teluk Hijau kami berhenti lagi untuk melihat pemandangan dari atas tebing. Perjalanan kami lanjutkan kembali dan kami berhenti lagi di Pantai Rajegwesi. Kami turun ke pantai sebentar disini. Setelah mengambil beberapa foto kami langsung balik lagi ke jeep karena panasnya minta ampun deh.

Pantai Rajegwesi
Pantai Rajegwesi

Pak Slamet mengajak kami untuk mampir ke Pantai Pulau Merah. Kata dia, “udah deket mbak, sayang kalo gak mampir”. Saya pun menawarkan ke teman-teman (karena saya udah pernah kesana jadi saya sih terserah mereka aja). Mereka semua setuju untuk mampir karena sebagian besar belum pernah kesana.

Sesampainya di Pantai Pulau Merah saya tercengang… Ya ampuuun ramenya kayak pasar!!! Dulu waktu saya kesini pas hari kerja, jadi sepi-sepi aja. Saat itu sudah pukul 14.30 siang dan kami sudah kelaparan berat. Sambil ngiyup kami makan bakso dan minum es degan di pantai.

Pantai Pulau Merah
Pantai Pulau Merah

Seperti yang sudah saya tulis di postingan saya sebelumnya, sebenarnya Pantai Pulau Merah terlihat paling cantik saat sunset karena langit dan pantainya berwarna merah. Tapi karena kami harus segera pulang ke Surabaya maka ga bisa nunggu sampe sore disini. Pukul 16.00 kami udah berangkat lagi balik ke Ketapang.

Sampai di Ketapang sudah hampir pukul 18.00, jadi kami putuskan untuk sekalian makan malam di Banyuwangi. Makannya di tempat favorit saya yaitu nasi tempong. Jadi dari Ketapang balik lagi ke Banyuwangi kota (ribet yaa). Setelah makan kami berangkat pulang ke Surabaya. Bye… Banyuwangi….

Payung merah di Pantai Pulau Merah
Payung merah di Pantai Pulau Merah

Note: All of the photos in this post was taken by Grandis, my professional photografer friend

Teluk Hijau, Surga Tersembunyi di Banyuwangi

Pintu masuk Taman Nasional Meru Betiri
Pintu masuk Taman Nasional Meru Betiri

Bulan Februari 2015 ini saya dan teman-teman mengadakan trip ke Taman Nasional Meru Betiri yang berlokasi di Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Jember. Sudah lama saya pengen banget lihat penyu bertelur. Oleh karena itu saya meracuni teman-teman untuk nge-trip ke Meru Betiri dan mereka setuju. So lets go guys…

Kali ini peserta trip berjumlah tujuh orang, empat perempuan dan tiga laki-laki. Kami berangkat dari Surabaya pukul 18.30, mampir makan malam nasi punel di Pasuruan, dan sampai di penginapan di Ketapang jam 12 malam. Kami menginap di Hotel Berlian Abadi di daerah Ketapang. Kami memilih hotel ini karena tarifnya cukup murah secara cuma numpang tidur lima jam doang. Harga kamar standar non AC adalah Rp100 ribu, sedangkan standar AC Rp175 ribu. Murah meriah kaaannn…..

Siap Berangkat!!!
Siap Berangkat!!!

Besoknya jam 7 pagi kami dijemput jeep yang kami sewa untuk menuju Meru Betiri. Jeep ini dikemudikan oleh Bapak Slamet. Tarif sewa jeep plus sopir plus bensin selama dua hari satu malam adalah Rp1.100.000,00. Pak Slamet menjemput kami di hotel dan esoknya akan mengantar kami kembali ke hotel.

Perjalanan dari Kota Banyuwangi ke pintu masuk Taman Nasional Meru Betiri menghabiskan waktu tiga jam. Dari Kota Banyuwangi kami menuju ke arah Jajag, kemudian ke Pesanggaran, lalu masuk ke Desa Sarongan. Sekitar 1,5 jam awal perjalanan jalan yang kami lalui masih relatif mulus sampai di pos jaga PTPN, disini jalannya sudah rusak. Kami melewati kawasan perkebunan PTPN antara lain kebun karet, kebun kakao, dan hutan sengon. Di Desa Sarongan kami berhenti dulu untuk makan siang di sebuah warung. Ini adalah desa terakhir jadi makanlah dulu disini sebelum menuju Teluk Hijau. Setelah melewati perkebunan dan hutan sampailah kami di pintu masuk Taman Nasional Meru Betiri. Disini kami harus melapor dan membayar tiket masuk per orang Rp5 ribu dan mobil Rp10 ribu.

Setelah melewati pintu masuk Taman Nasional Meru Betiri kami bertemu dengan Pantai Rajegwesi. Akan tetapi karena hari sudah siang kami hanya melewatinya saja. Pantai ini terletak persis di pinggir jalan, jadi aksesnya sangat mudah. Di pantai ini terlihat beberapa perahu nelayan dan orang yang memancing ikan. Tak lama kemudian sampailah kami di jalan masuk menuju Pantai Teluk Hijau.

Titik awal trekking ke Teluk Hijau
Titik awal trekking ke Teluk Hijau

Untuk menuju Teluk Hijau ada dua cara, yang pertama adalah dengan naik perahu dan yang kedua adalah dengan trekking seperti yang kami lakukan. Kalo ga mau capek mending naik perahu selama 15 menit. Jalan menuju lokasi perahu berbeda dengan jalan menuju titik awal trekking. Kami lebih memilih trekking supaya lebih terasa perjuangannya untuk mencapai Teluk Hijau. Halaah….

Pak Slamet menurunkan kami di titik awal trekking, kemudian beliau mencari tempat parkir dan menunggu disana. Jalur trekking ke Teluk Hijau adalah sekitar 1 km dengan medan yang cukup berat dan melelahkan. Kami menyusuri tebing, naik turun di jalan yang curam dan licin karena saat itu adalah musim hujan. Oleh karena itu harus berhati-hati agar tidak terpeleset. Untungnya ada tali tambang yang dipasang disana untuk berpegangan, jadi cukup membantu perjalanan kami. Salah satu keuntungan dari trekking adalah kita bisa melihat pemandangan laut yang indah dari atas tebing dan mengabadikannya.

Pantai Batu
Pantai Batu

Setelah naik turun tebing yang menguras tenaga sampailah kami di Pantai Batu, dinamakan pantai batu karena pantai ini dipenuhi dengan batu, bukannya pasir. Jadi cukup unik lah. Pantai ini dulu berpasir putih layaknya Teluk Hijau. Namun sejak tsunami tahun 1994, bebatuan dari dasar laut tergeser ke pantai. Agak susah juga berjalan di atas batu-batu ini, tapi jadi makin seru perjalanannya. Di pantai batu ini terdapat aliran air dari sungai menuju ke laut. Setelah menyusuri pantai batu kami terus berjalan lurus sampai bertemu jalan setapak. Jalan setapak ini berada di balik bukit karang yang jauhnya kira-kira 300 meter. Dan di ujung jalan setapak itu terlihatlah pantai yang sangat indah dengan warna lautnya yang hijau. Itulah Teluk Hijau.

Selamat datang di Teluk Hijau
Selamat datang di Teluk Hijau

Sesuai dengan namanya, teluk ini berwarna hijau jika dilihat dari jauh. Warna hijau tersebut disebabkan di dasar perairan dangkalnya terdapat alga yang memantulkan warna hijau di permukaan perairannya. Di dekat jalan masuk terdapat dua bukit karang yang saling berhadapan sehingga membentuk sebuah celah. Pantai ini memiliki pasir yang lembut dan berwarna coklat terang. Meskipun terletak di laut selatan, ombak di pantai ini tidak terlalu besar karena berupa teluk. Jadi cukup aman untuk sekedar bermain air di pinggiran lautnya.

pantai yang cantik
pantai yang cantik

Belum lama menikmati pantai tiba-tiba hujan turun cukup deras. Kami pun berlarian masuk ke pinggir hutan, berlindung di bawah pepohonan. Sebenernya kami sudah bawa jas hujan kesini. Tapi pas mau dipake kok kayaknya ribet banget, lagian mau main air juga, jadinya kami langsung sekalian nyemplung ke laut. Main di pantai hujan-hujanan jadi seru. Ombak di Teluk Hijau tidak terlalu besar, tapi tidak kecil juga, jadi pas buat main ombak. Kami tiduran di pantai sambil nungguin ombak besar datang untuk menyeret tubuh kami ke laut. Seru abis…. Oya, hati-hati kalo menaruh barang di hutan, disini banyak monyet yang tertarik dengan barang kita. Salah satu tas kami ada yang udah diseret sama monyet, tapi untungnya ga berhasil karena berat.

Bermain ombak
Bermain ombak

Tak lama kemudian hujan reda dan setelah puas main air laut kami berjalan menuju air terjun kecil yang lokasinya di pantai itu juga. Air terjun ini tingginya sekitar 8 meter. Pada saat itu debit airnya lumayan besar karena musim hujan. Seger banget rasanya mandi di air terjun ini. Di dekat air terjun ternyata juga ada gubug untuk tempat berteduh.

Aku di Teluk Hijau
Aku di Teluk Hijau

Karena hari sudah beranjak sore kami segera bersiap-siap untuk balik supaya tidak kemalaman sampai Sukamade. Kami berjalan lagi menyusuri Pantai Batu dan jalan menanjak di tebing. Perjalanan pulang ini semakin sulit karena hujan deras baru saja mengguyur kawasan ini sehingga jalan semakin licin dan berlumpur. Setelah bersusah payah dan berkali-kali hampir terpeleset sampailah kami di atas. Phiuufff capeknya…. Sekarang kami siap melanjutkan perjalanan menuju Sukamade….

Perjalanan kembali yang melelahkan
Perjalanan kembali yang melelahkan

Note: All of the photos in this post was taken by Grandis, my professional photografer friend

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Nicoline's Journal

by Nicoline Patricia Malina

Alid Abdul

Travel till you die!

Harival Zayuka

Just another WordPress.com site

My Sanctuary

my travel notes

Claraberkelana.com

Travel Stories

The Traveling Cows

my travel notes