Search

Here, There, & Everywhere

my travel notes

Tag

Kyoto

Melihat Warga Lokal Ber-Hanami di Maruyama Park

IMG_7118
Weeping Cherry Tree

Setelah acara foto selesai, kami berjalan menuju Maruyama Park yang juga berlokasi di Higashiyama. Jarak antara lokasi kami menuju Maruyama Park sekitar 800 meter, jadi bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Suasana di Higashiyama saat malam hari sangat cantik karena di kanan kiri berjajar rumah-rumah tradisional Jepang di sepanjang jalan yang diterangi lampu remang-remang. Apalagi saat malam begini suasananya sudah sepi dan tenang karena wisatawan sudah meninggalkan lokasi ini. Di perjalanan kami melewati toko souvenir yang masih buka. Disini saya menemukan magic towel yang saya cari. Setelah berjalan sekitar 10 menit sampailah kami di Maruyama Park.

Maruyama Park adalah taman umum yang terletak di Higashiyama district, dekat dengan Yasaka Shrine. Pada awal April saat bunga sakura mekar tempat ini menjadi favorit untuk melakukan hanami baik di siang atau malam hari. Pusat dari taman ini adalah weeping cherry tree yang disorot lampu pada malam hari.

DSC05118
Kios-kios makanan

Di sekeliling taman ini banyak kios-kios penjual makanan. Di tengah-tengahnya ada tempat makan berupa meja-meja yang tempat duduknya lesehan di bawah pohon sakura. Disini kami melihat warga lokal ber-hanami, kebanyakan adalah para pekerja yang langsung kesini sepulang kantor. Malam itu hujan yang turun tidak menghalangi mereka untuk menikmati hanami sambil minum sake. Jadi mereka makannya sambil pake payung lho… hehehe niat kan?

DSC05129
Hanami di bawah hujan

Selain hanami yang dilakukan di tempat makan itu, ada juga beberapa orang yang menggelar alas di tanah dan minum-minum sambil memegang payung di bawah pohon sakura. Sepertinya hari ini adalah puncak mekarnya sakura di Kyoto, tidak mengherankan bila warga lokal memanfaatkan moment ini dengan hanami meski harus hujan-hujanan.

20170407175934_IMG_7140_1-01
Meski hujan dan dingin mereka tetap menikmati

Kami pulang dengan berjalan kaki ke arah Gion, melewati Yasaka Shrine, kemudian naik bus ke Shijo Kawaramachi. Di dekat halte ada sebuah kios udon yang sepertinya nikmat sekali, tapi setelah mendekat ternyata di kios ini tidak ada tempat duduknya. Jadi makannya harus sambil berdiri. Kaki ini rasanya capek sekali, ga kuat deh kalo makan sambil berdiri. Lalu kami berjalan menuju Teramachi untuk mencari tempat makan lain. Sudah banyak toko yang tutup disini. Kami berjalan berputar-putar tapi tidak ada tempat makan yang cocok (cocok di dompet maksudnya.. ). Akhirnya kami memutuskan kembali ke kios udon tadi karena harganya cukup murah, hanya JPY 320 untuk satu mangkuk udon + tempura. Gapapa deh makan sambil berdiri, sekalian nyobain makan di kios seperti ini yang banyak tersebar di Jepang.

20170407_205258
Makan sambil menahan lelah

Maiko Makeover Experience in Kyoto

_MG_0405

Salah satu keindahan budaya Jepang dapat kita lihat dari sosok Geisha dan Maiko, yaitu pada kimono indah yang mereka pakai serta make up dan tatanan rambut mereka yang sangat khas. Geisha/ Geiko adalah seniman penghibur tradisional Jepang, sedangkan Maiko adalah para calon yang masih mempersiapkan diri menjadi seorang Geisha/ Geiko. Sebagai seniman, mereka harus mendalami berbagai hal, mulai dari musik tradisional (shamisen), tari tradisional, budaya dan etika Jepang, serta termasuk tata upacara minum teh.

_MG_0401

Salah satu keinginan saya pada kunjungan saya ke Jepang yang kedua kalinya ini adalah melakukan Maiko makeover. Maiko Henshin Studio Shiki adalah salah satu dari beberapa studio foto makeover geisha/maiko di Kyoto. Saya memilih studio ini karena lokasinya yang sangat dekat dengan Okamoto, tempat penyewaan kimono kami, sehingga saya bisa langsung berjalan kesana setelah mengembalikan kimono di Okamoto. Selain pertimbangan lokasi, studio ini juga memiliki Japanese room sebagai lokasi photoshoot dan tarifnya pun cukup reasonable.

_MG_0395

 

 

Setelah kembali ke hostel untuk berganti pakaian saya segera berangkat ke Okamoto untuk mengembalikan kimono sebelum pukul 5 sore. Setelah beres semua urusan pengembalian kimono dan uang deposit saya dikembalikan, saya meneruskan berjalan menuju Maiko Henshin Studio Shiki yang lokasinya juga di Higashiyama tepatnya di dekat Ninenzaka stairs.

Sesampainya di studio saya diminta untuk menunggu sambil memilih empat pose foto dari sample book yang saya inginkan berdasarkan paket yang telah saya pilih. Ada beberapa opsi paket foto di studio ini, tentunya saya memilih yang paling ekonomis. Sebenarnya studio shoot plan adalah paket yang paling murah, akan tetapi saya ingin foto di Japanese room jadi saya memilih Japanese Room Plan seharga JPY 12.900.

 

_MG_0391

Tidak lama kemudian saya dipersilahkan naik menuju ruang ganti untuk berganti pakaian. Semua pakaian dan tas dimasukkan ke dalam locker yang terletak di lantai 3. Setelah mengenakan dalaman kimono berwarna putih saya turun ke lantai 2 menuju ruang make up. Disini kita akan disulap menjadi seorang maiko. Wajah saya dipoles bedak putih dan di make up. Saya agak khawatir dengan hasilnya, kira-kira wajah saya cocok ga ya dengan make up maiko ini.

IMG_7078

 

 

Proses selanjutnya adalah memasang wig. Saya memilih half wig yang lebih natural. Jika menggunakan half wig, bagian depan sanggul menggunakan rambut kita jadi terlihat lebih natural. Setelah memakai wig, saya dipersilahkan ke ruangan selanjutnya untuk memilih kimono. Saya memilih kimono warna oranye agar terlihat cerah. Kemudian saya memasuki ruangan berikutnya untuk dipakaikan kimono. Setelah kimono dipakai saya diminta untuk memilih obi yang cocok untuk kimono saya. Saya memilih obi berwarna biru dan emas. Yang terakhir adalah memasang hiasan bunga pada sanggul dan berubahlah saya menjadi seorang maiko 😉

 

_MG_0403

Fotografer mengambil foto saya sesuai dengan pose yang telah saya pilih sebelumnya. Setelah sesi foto selesai, saya diberi waktu 10 menit untuk mengambil foto sendiri. Saya meminta tolong Grandis untuk memfoto saya. Grandis dan Anik datang menyusul saya ke studio setelah mereka pulang dari Nishiki market.

IMG_7085

 

Arashiyama, Jalan-jalan di Bamboo Groves dan Hanami di Tepi Sungai Katsura

IMG_6744
Bamboo Groves

Hari ini kami bangun pagi-pagi sekali karena berencana untuk berangkat pukul 6 pagi ke Arashiyama. Pukul 5 pagi kami sudah bangun dan mandi kemudian mengenakan kimono. Nah.. disinilah masalahnya… ternyata mengenakan kimono itu tidak semudah mengenakan kebaya. Rumit banget sodara2!! Padahal kemarin waktu melepasnya kami sudah menyusun kimono dan tali-talinya sesuai urutan agar mudah nanti memakainya. Tapi ternyata mengenakan kimono itu ada teknik khususnya dalam menarik, melipat, dan menalikannya. Untuk memasang obi nya juga ada teknik mengikatnya. Satu jam lebih kami habiskan untuk memakai kimono, bikin stress banget ini. Akhirnya setelah satu jam yang menguras tenaga dan pikiran, kimono berhasil kami kenakan walaupun hasilnya tidak sempurna. Tapi ya sudahlah hari sudah makin siang, kami harus segera berangkat.

DSC05104
Jalan di Arashiyama

Pukul 7 pagi kami baru berangkat dari hostel. Tujuan pertama kami pagi ini adalah Arashiyama Bamboo Groves. Kami sengaja berangkat sepagi mungkin agar nanti disana lokasinya masih sepi sehingga bisa lebih bebas berfoto. Kami naik kereta Keifuku Dentetsu menuju Arashiyama Station yang terletak di bagian barat Kyoto. Sesampainya di Arashiyama Station kami berjalan ke arah kanan menuju Bamboo Groves.

IMG_6700

IMG_6694

Pagi ini cuaca mendung sehingga bamboo groves terlihat agak gelap karena cahaya yang sedikit tertutup pohon-pohon bambu yang cukup rapat. Saat pertama kali tiba lokasi ini masih sepi, tapi tidak lama kemudian, wisatawan-wisatawan lain berdatangan sehingga membuat agak sulit untuk berfoto. Selain wisatawan, disini juga ada beberapa pasangan yang melakukan foto pre wedding, diantaranya ada pasangan Indonesia.

IMG_6671

Tujuan kami berikutnya adalah Togetsukyo Bridge yang lokasinya berlawanan arah dengan Bamboo Groves. Kami berjalan kembali ke Arashiyama Station dan mampir dulu untuk membeli makanan karena kami nanti akan ber-hanami. Dari Arashiyama Station kami berjalan ke arah kiri menuju Togetsukyo Bridge. Hujan tiba-tiba turun agak deras waktu kami berjalan, tapi kami terus berjalan menembus hujan menyeberangi Togetsukyo Bridge.

DSC05113
Togetsukyo Bridge

Togetsukyo Bridge adalah landmark paling iconic di Arashiyama. Jembatan kayu sepanjang 155 meter yang membelah Sungai Katsura ini pertama kali dibangun pada masa Heian Period (794-1185). Nama jembatan ini, yaitu Togetsu memiliki arti harfiah “Moon Crossing” yang berasal dari kisah Emperor Kameyama (Kamakura Period, 1185 s.d. 1333) pada saat pergi berperahu di bawah bulan purnama, Emperor berkata bahwa bulan terlihat seperti menyeberangi jembatan. Jembatan ini terlihat menarik dengan background bukit yang dipenuhi pohon-pohon yang diantaranya adalah pohon sakura yang sedang mekar bunganya.

IMG_6778
Hanami di tepi sungai

Sesampainya di seberang sungai, hujan berhenti. Alhamdulillah kami bisa ber-hanami juga nih. Kami memilih tempat di tepi sungai Katsura di bawah pohon sakura dan menggelar alas, kemudian duduk menikmati makanan sambil melihat bunga sakura yang sedang mekar sempurna. Hujan yang baru saja turun membuat cuaca berkabut sehingga suasananya menjadi syahdu. Pemandangan Togetsukyo Bridge dengan background bukit dengan pohon sakura yang terselimuti kabut tipis sungguh merupakan pemandangan yang indah.

IMG_6814
Togetsukyo Bridge and Cherry Blossoms
IMG_6899
Di atas jembatan
IMG_6905
Salah satu sudut Arashiyama

Menyusuri Philosopher’s Path Untuk Menikmati Sakura

DSC05103
Philosopher’s Path

Kami melajutkan perjalanan dengan naik bus no. 100 dari Kiyomizumichi menuju Philosopher’s Path untuk menikmati bunga sakura yang sedang mekar. Philosopher’s Path adalah jalan batu yang berada di bagian utara Higashiyama district. Di sepanjang jalan ini berjajar ratusan pohon sakura yang mekar sekitar awal April setiap tahunnya. Di saat musim sakura seperti sekarang wisatawan memadati tempat ini untuk menikmati bunga sakura yang mekar hanya satu tahun sekali.

IMG_6543

Panjang Philosopher’s Path ini sekitar dua kilo meter mengikuti sebuah parit, dimulai dari Ginkakuji (Silver Pavilion) dan berakhir di sekitar Nanzenji. Jalan ini dinamakan Philosopher’s Path mengacu pada salah satu ahli filsafat ternama Jepang, Nishida Kitaro yang pernah mengatakan bahwa ia mempraktekkan meditasi ketika melintasi jalan ini pada saat pulang pergi menuju Kyoto University setiap hari.

IMG_6565

IMG_6575

Setelah menyusuri jalan yang panjang ini, hari semakin sore dan hujan gerimis turun. Wah kami ga bawa payung nih… kehujanan jadinya. Untungnya di pinggir jalan ada kios yang menjual payung. Kami memilih payung plastik transparan yang besar supaya bisa muat bertiga (ngirit hahaha…). Antrian untuk naik bus sudah mengular panjang, kami segera ikut mengantri karena khawatir bus nya akan semakin jarang yang lewat.

 

IMG_6528

 

Setelah turun dari bus kami langsung menuju Mc Donalds untuk makan malam. Mc D ini terletak di dekat halte bus Shijo Kawaramachi. Malam ini kami berencana untuk pergi ke Gion. Jadi setelah makan kami naik bus menuju Gion, tapi sayangnya setibanya di halte tujuan hujan turun sangat deras. Sepertinya tidak memungkinkan kalo kami memaksa berjalan ke lokasi, jadi akhirnya kami tidak jadi jalan-jalan di Gion.

IMG_6611
Shijo Kawaramachi

Kami kembali naik bus ke Shijo Kawaramachi dan memutuskan untuk mengunjungi Teramachi Dori, sebuah area yang dipenuhi pertokoan dan tempat makan. Disini kami membeli beberapa souvenir, saya membeli Daruma untuk koleksi pribadi dan gelas bergambar khas Jepang untuk oleh-oleh. Saya juga mencari magic towel (handuk yang bisa berubah gambar) tapi tidak menemukannya. Toko-toko disini kebanyakan hanya buka sampai pukul 8 malam, jadi waktu kami disana toko-toko tersebut sudah hampir tutup.

IMG_6615
Teramachi Dori

Kami kembali menuju hostel dengan berjalan kaki karena lokasinya sangat dekat dengan Teramachi Dori, ini adalah salah satu keuntungan menginap di Khaosan Kyoto Guesthouse. Sampai disini petualangan kami hari ini berkimono keliling Kyoto, sampai ketemu besok ^_^

IMG_6628

IMG_6607

IMG_6580

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Nicoline's Journal

by Nicoline Patricia Malina

Alid Abdul

Travel till you die!

Harival Zayuka

Just another WordPress.com site

My Sanctuary

my travel notes

Claraberkelana.com

Travel Stories

The Traveling Cows

my travel notes