Search

Here, There, & Everywhere

my travel notes

Tag

Kansai Osaka Airport

Hari yang dinantikan, Landing di Osaka dan Jalan-jalan di Kyoto

DSC_0007
Tiba di Jepang

Kamis, 4 Juni 2015, hari yang ditunggu selama setahun akhirnya datang juga. Pesawat kami berangkat pukul 18.25 menuju Kuala Lumpur, kemudian berangkat dari Kuala Lumpur ke Osaka pukul 01.00 (tgl 5 Juni). Karena berangkat malem, tanggal 4 Juni itu saya masih ngantor supaya ngirit cutinya. Karena cuti buat saya kan penting banget, harus dipergunakan seefektif mungkin.

IMG-20150604-WA0009
Kami siap berangkat!!!

Pesawat kami mendarat di Kansai Osaka Airport pukul 08.25. Setelah melewati imigrasi kami bersih-bersih dulu di toilet airport, cuci muka n sikat gigi aja, gak pake mandi. Setelah cantik (meski gak mandi) kami cari sarapan di airport. Di information office ada brosur restoran-restoran halal yang ada di airport. Akhirnya kami memilih restoran udon yang terletak di lantai 2. Setelah kenyang, kami segera berangkat ke Kyoto. Awalnya saya berencana untuk naik shinkansen ke Kyoto, tapi kalo naik shinkansen harus ganti kereta. Jadi dari Kansai Airport naik Ltd Express Haruka, lalu turun di stasiun Shin Osaka. Kemudian baru naik shinkansen ke Kyoto. Setelah dirundingkan, ternyata beberapa orang males ganti kereta secara bawa koper. Akhirnya diputuskan kami naik Ltd Express Haruka langsung ke Kyoto.

DSC_0070
Ini dia Ltd Express Haruka

Oya, untuk mengetahui semua informasi kereta di Jepang kita bisa menggunakan website www.hyperdia.com. Disini kita tinggal mengetik stasiun keberangkatan dan stasiun tujuan kita, lalu website ini akan menampilkan jalur kereta yang harus kita naiki dan stasiun tempat transfer ke jalur lain hingga kita sampai ke stasiun tujuan kita. Informasi yang disajikan disini juga mencantumkan waktu (jadwal) keberangkatan kereta beserta harga tiketnya. Sebelum berangkat ke Jepang saya sudah menggunakan website ini selain untuk mengetahui jalur kereta juga untuk estimasi biaya transportasi lokal selama di Jepang. Menurut saya ini penting karena biaya transportasi di Jepang sangatlah mahal. Jadi kita bisa membawa yen dengan jumlah yang cukup, tidak kurang dan tidak berlebihan.

20150605_143749
Kyoto City Bus Pass

Sesampainya di Kyoto kami menitipkan koper di locker stasiun dulu karena belum bisa check in juga di hostel. Hostel-hostel di Jepang waktu check in nya adalah pukul 15.00. Kami memilih locker yang ukuran terbesar supaya bisa masuk 2 koper dengan harga 700 yen. Jadi masing-masing orang hanya perlu mengeluarkan 350 yen untuk menitipkan koper. Oya siapkan uang koin 100 yen untuk sewa locker ini. Setelah memasukkan koper ke dalam locker kami keluar stasiun dan mencari tempat penjualan bus pass. Untuk menghemat biaya transportasi selama di Kyoto gunakanlah Kyoto city bus pass yang bisa digunakan naik bus berkali-kali selama sehari penuh. Harga bus pass ini 500 yen untuk satu hari. Tempat-tempat wisata di Kyoto banyak yang dapat dijangkau dengan menggunakan bus, tarif bus one way (tanpa bus pass) adalah 230 yen, jadi menggunakan bus pass bisa sangat menghemat biaya. Kami membeli dua bus pass, satu untuk hari ini dan satu untuk besok.

 

Nijo Castle

DSC_0091
Nijo Castle

Begitu keluar dari stasiun kami disambut hujan, jadi agak basah-basahan dan kedinginan deh. Tapi gapapa tetap semangat dong. Tujuan pertama kami adalah Nijo Castle yang merupakan kediaman Tokugawa Ieyasu, shogun pertama Jepang pada zaman Edo. Nijo Castle dibangun pada tahun 1603. Setelah keshogunan Tokugawa jatuh pada tahun 1867, Nijo Castle digunakan sebagai imperial palace untuk beberapa waktu sebelum akhirnya diberikan ke kota Kyoto dan dibuka untuk publik sebagai tempat bersejarah. Kastil ini ditetapkan sebagai UNESCO world heritage site pada tahun 1994.

20150605_152708
Karamon Gate

Tiket masuk ke Nijo Castle adalah 600 yen per orang. Setelah membeli tiket masuk kami melewati Karamon Gate kemudian menuju Ninomaru Palace. Sebelum masuk ke dalam Ninomaru Palace, alas kaki harus dilepas di pintu masuk. Disini juga tidak diperbolehkan untuk memotret. Di dalam bangunan ini terdapat ruangan-ruangan dengan tatami floor dan pintu geser yang dilukis sangat indah. Oh ya, pernah baca buku across the nightingale floor ga? Koridor di bangunan ini lantainya adalah nightingale floors. Jadi lantai ini akan berbunyi jika ada yang melewatinya, ini digunakan sebagai alarm untuk mengetahui jika ada penyusup yang masuk ke dalam kastil.

Hari sudah sore ketika kami keluar dari Nijo Castle, jadi kami hanya bisa ke satu tempat wisata lagi hari ini. Akhirnya diputuskan ke Fushimi Inari dengan pertimbangan lokasinya cukup dekat, tempat itu buka sampai malam dan kami juga harus kembali ke stasiun untuk mengambil koper, karena untuk menuju Fushimi Inari paling mudah adalah dengan naik kereta. Oya, keuntungan lainnya dari pilihan ini adalah tidak perlu tiket masuk ke Fushimi Inari. Hehe…

Fushimi Inari

DSC_0023
Fushimi Inari
DSC_0048
salah satu sudut kuil di Fushimi Inari

Kami naik bus kembali ke stasiun Kyoto, kemudian naik kereta JR ke stasiun Inari. Jalan masuk menuju Fushimi Inari Shrine terletak di depan stasiun Inari. Fushimi Inari merupakan sebuah kuil Shinto di Kyoto Jepang yang merupakan kuil pusat bagi sekitar 40.000 kuil Inari yang memuliakan Dewa Inari atau Dewa Padi di ajaran Shinto. Sebelum bertemu aula utama atau Honden, kita akan disambut oleh sebuah gerbang/gapura besar berwarna merah-oranye yang disebut Romon Gate. Gerbang ini disumbangkan oleh salah satu penguasa Jepang yaitu Toyotomi Hideyoshi pada tahun 1589.

DSC_0063
Torii Gates

Fushimi Inari terkenal dengan seribu torii gates yang terletak di belakang kuil. Sejak abad ke-17, penganut kuil Fushimi Inari memiliki tradisi membangun torii. Sekitar 10.000 torii yang berderet-deret di Gunung Inari merupakan hasil sumbangan umat, baik individual maupun perusahaan. Pada setiap torii tercantum nama orang atau perusahaan yang menyumbang torii tersebut dengan harapan mendapat nasib baik dan sukses dalam bisnis. Biaya untuk membangun satu torii ini berkisar antara 400.000 yen untuk torii ukuran kecil hingga 1000.000 yen untuk torii berukuran besar.

Di area kuil Fushimi Inari ini banyak terdapat patung rubah. Kenapa rubah?? Rubah bagi Inari dianggap sebagai hewan pembawa pesan atau pendamping Inari. Rubah dikenal sebagai hewan yang bijaksana, bersahabat dan penjaga yang setia. Untuk mendaki ke puncak Gunung Inari dan kembali ke bawah diperlukan waktu antara 2-3 jam. Karena hari sudah menjelang gelap saat itu maka kami hanya berfoto-foto di deretan torii yang paling bawah.

DSC_0051
Patung rubah

 

Kami kembali ke stasiun Kyoto dan mengambil koper di locker. Sebelum menuju hostel kami mampir dulu ke Lawson untuk membeli tiket Fujiko F Fujio Museum untuk hari Minggu. Tiket masuk ke museum ini hanya dapat dibeli di Lawson melalui loppi machine. Tiket tidak dijual di museum dan ada kuota pengunjung untuk masing-masing jam masuk. Jam masuk ke museum ini tiap harinya ada empat yaitu pukul 10.00, 12.00, 14.00, dan 16.00. Sebenarnya saya mau memilih pukul 10.00, tapi ternyata sudah habis tiketnya untuk jam itu. Akhirnya saya ambil yang jam 12.00. Pada saat membeli tiket ini ternyata tidak semudah yang dibayangkan, mesin tiketnya berbahasa Jepang. Dan ketika saya minta bantuan pegawai Lawson ternyata mereka juga gak bisa bahasa inggris. Pusing deh… Untungnya ada satu pegawai lagi yang agak mengerti sedikit bahasa inggris. Saya berkali-kali mengucapkan kata .. Doraemon… Fujiko F Fujio… Selain menjual tiket museum Fujiko F Fujio, mesin ini juga menjual tiket ke tempat-tempat lain. Makanya kalo salah alamat repot dong. Akhirnya setelah mengalami kesulitan komunikasi ini, tiket museum Fujiko F Fujio seharga 1000 yen pun di tangan.

DSC_0082
Kamar kami di Khaosan Kyoto Guesthouse

Setelah urusan tiket beres kami naik bus menuju hostel kami, Khaosan Kyoto Guesthouse yang terletak di daerah Kawaramachi. Kami turun di Shijo Kawaramachi bus stop, dari sana jalan kaki sekitar 8 menit mengikuti petunjuk dari hostel yang bisa dilihat disini. Di Khaosan Kyoto Guesthouse kami memilih kamar 6 bed female dorm dengan harga 2500 yen per orang untuk satu malam. Setelah check in, kami langsung mandi (iya.. tadi seharian belum mandi) dan tidur pules.

My Birthday Trip to Japan

DSC_0106

Tahun 2015 lalu saya menghadiahi diri sendiri dengan trip ke Jepang. Ini semua berkat tiket promo Air Asia seharga 2,4 juta pp (include airport tax) dengan rute Surabaya – KL – Osaka dan Osaka – KL – Jakarta. Tiket ini saya beli setahun yang lalu, Juni 2014. Setelah saya membeli tiket, saya tawarin ke teman-teman yang mau ikutan, ternyata banyak yang mau ikut, ada 5 orang. Sebenarnya rute awal tiket saya ini adalah Surabaya – KL – Osaka dan Nagoya – KL – Jakarta, tapi awal tahun 2015 ini Air Asia menutup penerbangan dari Nagoya ke Kuala Lumpur. Jadi penerbangan pulang kami dipindah ke Osaka.

Kami berada di Jepang selama 9 hari, berangkat tanggal 4 Juni dan pulang tanggal 13 Juni 2015. Selama di Jepang kami berencana mengunjungi empat kota, yaitu Kyoto, Kawaguchiko, Tokyo, dan Osaka. Enam bulan sebelum keberangkatan saya sudah booking hostel di empat kota itu. Saya memilih Khaosan Kyoto Guesthouse sesuai rekomendasi teman saya yang pernah tinggal di Kyoto selama satu tahun. Lokasi guesthouse ini sangat dekat dengan pasar Teramachi sehingga memudahkan untuk berbelanja. Selain itu yang terpenting di pasar Teramachi terdapat beberapa tempat penyewaan kimono, jadi tidak perlu jauh-jauh untuk menyewa kimono. Di Kawaguchiko, saya memilih K’s House Mt Fuji berdasarkan rekomendasi dari teman saya juga. Saya membooking Japanese style room yang dilengkapi dengan futton matress dan tatatami floor. Pengen ngerasain tidur seperti orang Jepang beneran walaupun cuma semalam. Hehehe… Di Tokyo saya memilih hostel yang berlokasi di Asakusa karena daerah ini adalah pusat turisme di Tokyo. Pilihan saya adalah jaringan hostel Khaosan, di Asakusa terdapat beberapa hostel milik jaringan hostel Khaosan. Saya memilih Khaosan World Asakusa Hostel karena lokasinya sangat dekat dengan metro subway station. Terakhir di Osaka saya memilih J-Hoppers Osaka Guesthouse karena lokasinya juga dekat dari stasiun kereta.

Untuk masuk Jepang diperlukan visa, dan karena paspor saya belum e-paspor maka saya belum bisa bebas visa. Tahun 2015 ini Jepang telah memberlakukan bebas visa bagi WNI yang memiliki e-paspor. Sebenarnya saya ingin sekali untuk merubah paspor saya menjadi e-paspor, tapi karena masa berlakunya belum habis jadi gak bisa deh. Kalo udah punya e-paspor itu enak banget, kita tinggal registrasi saja di konsulat terdekat, tidak perlu ke konsulat yang membawahi wilayah yuridiksi KTP. Seperti salah satu teman saya yang udah punya e-paspor. Teman saya ini KTP nya Medan, tapi dia tidak perlu ke Medan untuk registrasi, cukup di Surabaya saja. Jika dia belum punya e-paspor maka dia harus apply visa di Konsulat Jepang di Medan sesuai wilayah yuridiksinya. Selain itu kalo udah punya e-paspor kita gak perlu punya saldo rekening tabungan puluhan juta karena gak diperlukan syarat itu. Enaaak kan…

Awal bulan mei saya apply visa di Konjen Jepang di Surabaya. Setelah visa keluar, saya memesan tiket bus untuk perjalanan antar kota selama di Jepang. Saya memilih menggunakan bus Willer Express untuk transportasi dari Kyoto ke Tokyo dan Tokyo ke Osaka karena kemudahan untuk reservasinya. Kita bisa membeli tiket di website Willer www.willerexpress.com dengan mudah. Saya maunya memang yang pasti-pasti aja, reservasi dulu untuk transportasi luar kota. Nanti di Jepang udah gak perlu repot-repot pesen tiket karena itu juga akan membuang waktu, apalagi kalo sampe kehabisan tiket bisa celaka karena waktu kami sangat terbatas. Sedangkan untuk transportasi dari Tokyo ke Kawaguchiko kami naik highway bus yang juga dapat direservasi di www.highway-buses.jp/fuji Reservasi highway bus ini tidak perlu membayar terlebih dulu, nanti kita bayarnya di kantor busnya di Shinjuku.

Setelah semua urusan reservasi hostel dan bus beres, visa juga udah oke, dan cuti sudah disetujui, kami siap berangkat… Horeee….

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Nicoline's Journal

by Nicoline Patricia Malina

Alid Abdul

Travel till you die!

Harival Zayuka

Just another WordPress.com site

My Sanctuary

my travel notes

Claraberkelana.com

Travel Stories

The Traveling Cows

my travel notes