Search

Here, There, & Everywhere

my travel notes

Tag

Great Wall

Menyusuri Great Wall

Finally I'm HERE
Finally I’m HERE

Hari ini, Kamis tanggal 12  September 2013 kami akan berwisata ke Great Wall Mutianyu. Yipeee…. Kami sudah membeli paket tour seharga CNY 250 per orang (rendra gratis). Tour agent akan menjemput di lobi hostel pada pukul 07.30. Setelah membangunkan rendra dengan susah payah dan mengajaknya mandi, akhirnya kami siap di lobi pada pukul 07.30. Tapi  kami belum sempat sarapan. Harga yang kami bayar untuk hostel memang belum termasuk sarapan, tapi di hostel ada restoran yang menyediakan sarapan. Akan tetapi waktunya sudah mepet sekali, jadi kami memutuskan tidak sarapan di hostel. Kemarin saya melihat sebuah kios yang menjual makanan di sebelah hostel. Kelihatannya banyak yang membeli makanan disana untuk dibawa ke kantor atau sekolah. Saya pun kesana untuk membeli sarapan. Tapi ternyata tak semudah yang dibayangkan, penjualnya sama sekali tidak bisa bahasa inggris dan lagi-lagi saya tidak bisa bertanya mana makanan yang halal. Akhirnya saya memilih saja roti dengan isi daging, bentuknya seperti humberger kecil. Saya lalu membawa roti itu ke hostel untuk menanyakan daging apakah itu. Kebetulan tour guide kami, seorang wanita cantik, sudah datang menjemput, saya pun bertanya ke dia tentang daging itu. Dia tidak terlalu yakin karena dagingnya berbumbu merah. Dia pun bertanya dimana saya membelinya, kemudian dia berlari-lari menuju kios tadi untuk menanyakan ke penjualnya. Jawabannya daging itu adalah daging ayam. Alhamdulillah… Saya pun membeli dua lagi untuk sarapan kami bertiga.

Kios tempat beli sarapan
Kios tempat beli sarapan

Wanita cantik yang sudah berbaik hati menolong kami mengidentifikasi daging roti tadi bernama Amy, dialah yang menjadi tour guide kami. Kami berangkat ke Mutianyu Great Wall menaiki minivan yang kira-kira berisi sepuluh orang. Selama di perjalanan, Amy memberikan penjelasan tentang sejarah Great Wall. Dia juga mengatakan bahwa kami berwisata ke Great Wall pada waktu yang tepat. Cuaca pada hari itu cerah dan belum memasuki liburan nasional Cina, jadi jalanan dan tempat wisata belum ramai dengan masyarakat Cina yang berpergian. Selain itu, lokasi Great Wall yang kami pilih adalah yang paling tepat karena Mutianyu lebih sepi pengunjung tetapi sudah direstorasi dengan baik. Jika kami memilih Badailing maka yang bisa kita lihat hanyalah lautan manusia, temboknya malah ga akan kelihatan. Sedangkan Jinshanling memang sepi pengunjung, tapi masih minim restorasi dan lokasinya lebih jauh.

image
Tembok raksasa sepanjang mata memandang

Tembok Raksasa Cina (Great Wall) merupakan bangunan terpanjang yang pernah dibuat manusia. Great Wall membujur sepanjang 8,850 kilometers (5,500 miles) dari timur ke barat China melewati gurun pasir, padang rumput, gunung-gunung, dan dataran tinggi.  Bahkan hasil studi terbaru menyatakan bahwa tembok ini memiliki panjang 21,196.18 kilometer. Jadi Great Wall ini jauh lebih panjang daripada panjang Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Pada tahun 1987 bangunan ini ditetapkan sebagai World Heritage Site oleh UNESCO. Berbagai teori mengapa tembok besar didirikan antara lain sebagai benteng pertahanan, batas kepemilikan lahan, penanda perbatasan dan jalur komunikasi untuk menyampaikan pesan. Berdasarkan bukti tertulis yang bisa diterima umum, pada dasarnya Tembok Raksasa Cina dibangun mayoritas pada periode Dinasti Qin, Dinasti Han, dan Dinasti Ming. Namun sebagian besar tembok raksasa yang masih berdiri pada saat ini merupakan hasil dari periode Ming, yang konstruksinya paling kuat. Sedangkan hasil dari Dinasti sebelumnya sudah banyak yang rusak.

Amy, tour guide kami menjelaskan juga bahwa di Mutianyu Great Wall ini terdapat tiga pilihan untuk mencapai tembok raksasa. Yang pertama adalah dengan menaiki cable car yang akan membawa kita ke titik tertinggi dari Mutianyu Great Wall. Pilihan kedua adalah menaiki gondola yang akan membawa kita ke titik yang lebih rendah dari tembok raksasa ini. Sedangkan pilihan ketiga adalah berjalan kaki (yang jelas ga akan kami pilih). Jika memilih pilihan pertama (cable car), nanti untuk turun dari Great Wall juga akan naik cable car itu juga. Sedangkan jika memilih pilihan kedua (gondola), turunnya kita bisa memilih mau naik gondola lagi atau naik tobogan. Tobogan adalah semacam perosotan yang sangat panjang yang akan membawa kita turun dari Great Wall. Tentu saja saya memilih pilihan kedua, kapan lagi bisa main perosotan yang sangat panjang seperti itu. Untuk pilihan pertama atau pilihan kedua, kami harus membayar CNY 80 per orang (rendra gratis) karena ini belum termasuk di harga pake tour. Kalo mau gratis ya silakan berjalan kaki menanjak. Hihihi….

Pintu masuk Great Wall
Pintu masuk Great Wall
Naik Gondola
Naik Gondola

Setelah satu setengah jam perjalanan sampailah kami di Great Wall Mutianyu. Horeee…. Amy memandu kami memasuki kawasan pintu masuk Great Wall. Kemudian kami diantar ke sebuah restoran tempat meeting point kami setelah selesai menyusuri Great Wall. Di restoran itulah tempat kami makan siang nanti. Setelah menunjukkan tempat meeting point, Amy membagi kami menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang memilih cable car dan kelompok yang memilih gondola. Ternyata di dalam rombongan kami tidak ada yang memilih opsi berjalan kaki. Ya iyalah… capek tau. Meskipun di Cina ada pepatah yang mengatakan, “you’re not considered as a real man if you are not climbing the great wall”, tetep aja kita males. Tapi saya melihat banyak juga bule yang siap dengan dua tongkat untuk menaiki Great Wall dengan berjalan kaki. Kereenn…

Suereeeemm......
Suereeeemm……

Setelah membayar CNY 80 per orang untuk naik gondola kami mengantri dulu. Ternyata naik gondola ini lumayan serem juga. Gondola ini ga berhenti, jadi kami menunggu di sebuah titik kemudian langsung duduk pada saat gondola menghampiri kami. Lebih susah lagi karena sama rendra, jadi dia harus digendong dan duduk di pangkuan. Seremnya lagi gondolanya ini terbuka banget, jadi cuma kayak tempat duduk aja, sandaran kakinya juga cuma sebatang besi. Naiknya tinggi baget, jadi kalo lihat ke bawah asli sereeemm. Pas turun kita harus loncat dari gondola trus langsung ditarik ke pinggir sama petugasnya karena gondolanya ini ga berhenti, tetep jalan terus. Kami sempat bingung waktu itu karena sebelum turun, petugas itu teriak-teriak pake bahasa Cina. Ya mana kami tau lah artinya apa (capek deh). Setelah deket banget baru dia sadar kalo kami ga ngerti maksudnya, trus dia baru ngomong “foot off!!” (maksudnya kakinya suruh lepasin dari sandaran kaki supaya bisa loncat). Hhfiiuff… Untung ga telat. Lagian udah tau tampangku ga ada oriental-nya gini tetep aja diajak ngomong bahasa Cina (aku curiganya sih ini karena tampang suamiku yang sering dipanggil koko koko kalo di mall).

Mutianyu Great Wall
Mutianyu Great Wall

Finally We are Here…, at The Great Wall. Sumpah deh rasanya seneng banget. Dari dulu pengen banget kesini, cuma bisa terpesona kalo lihat fotonya. And now… my dream came true… Thanks God…

I made it to Great Wall
I made it to Great Wall

Dan aku lebih terpesona lagi pada saat melihat real-nya. Ini bener-bener KEREEENN…….

dsc_0442
Haiii… Rendra udh sampe Great Wall nih

Cuaca pada saat itu cerah, tidak hujan dan tidak panas. Kami mengeksplor tembok raksasa ini dengan riangnya. Berfoto-foto di tiap sudut. Rendra juga berlari-lari dengan gembira, meskipun dia ga ngerti itu tempat apaan. “Rendra…, jangan pernah lupakan ya kenangan kita di Great Wall”. He was only 3 years old, it seems he will forget it when he grows up. But I hope he won’t.

image
Rendra at The Great Wall

Disini kami bebas mau ambil jalan ke kanan atau kiri, pemandangannya sih sama saja, sama-sama AMAZING-nya. Yang penting nanti kembali ke titik awal tempat gondola dan tobogan. Kami mengambil jalan ke kiri dulu, kemudian kembali ke titik awal trus jalan lagi ke arah kanan, kemudian balik lagi ke titik awal.

image
Aku dan rendra

Kemudian tiba waktunya kami turun dari Great Wall. Ternyata rendra ga mau naik tobogan, jadi papanya terpaksa nemenin dia naik gondola. Sementara saya naik tobogan dong. Hihihi… Tobogan ini berbentuk alas duduk dengan roda di bawahnya dan dilengkapi tuas untuk mengatur kecepatan. Kalo mau cepet tinggal didorong ke depan tuasnya, sedangkan kalo mau nge-rem tuasnya ditarik ke belakang. So simple and so fun. You should try it. Meluncur pake tobogan ini durasinya sekitar 10 menit. Di titik-titik tertentu ada rambu-rambu yang meminta agar kita mengurangi kecepatan dan ada juga petugas yang berjaga. Pada saat musim salju atau hujan deras tobogan ini ditutup karena seluncurannya licin sehingga berbahaya.

Naik tobogan yang mengasyikkan
Naik tobogan yang mengasyikkan
dsc_0543
Sesampainya di bawah

Sesampainya di bawah rendra dan papanya sudah menunggu, kemudian kami langsung menuju restoran tempat meeting point. Nama restorannya adalah Yisonglou. Di restoran ini kami dijamu chinese food, lumayan enak kok. Harga paket tour sudah termasuk makan siang prasmanan di restoran ini. Setelah selesai makan kami kembali ke minivan untuk diantar kembali ke Beijing. And our next destination for today is Beijing Olympic Stadium.

dsc_0429
I am glad to be here
image
at the roof top
Pintu masuk untuk naik gondola
Pintu masuk untuk naik gondola

Another Dream Came True

My dream came true
My dream came true

Rencana perjalanan saya ke China berawal dari melihat obrolan di forum next trip backpacker indonesia (BPI) Disitu ada ajakan untuk nge-trip bareng ke Beijing n Shanghai. Mereka bilang ada promo Cebu Pacific Air untuk rute Jakarta – Manila – Beijing. Saya pun langsung tertarik untuk ikutan, apalagi kalo tidak ada teman yang bisa saya ajak saya berencana untuk ikut trip teman-teman BPI. Pada saat saya ceritakan keinginan saya untuk travelling ke Beijing dan Shanghai ke suami saya (sekalian minta ijin maksudnya), ternyata suami saya juga ingin ikut. Akhirnya kami putuskan untuk mengajak rendra, karena kasian kan dia kalo tidak diajak sementara mama papanya liburan. Karena rendra ikut, maka saya putuskan kami berangkat sendiri, tidak ikutan trip bareng temen-temen BPI. Saya pun segera hunting tiket Cebu untuk bulan September 2013, karena katanya bulan September adalah bulan yang paling tepat untuk travelling ke China. Di bulan September udara di China sejuk, tidak panas dan tidak dingin. Dari hasil hunting tersebut saya dapat tiga tiket pp Jakarta – Manila – Beijing dan Shanghai – Manila – Jakarta senilai Rp1.500.000,00 per orang. Murah banget kan… Asyiikk…

Dari dulu saya ingin sekali pergi ke China untuk melihat Great Wall. Menurut saya Great Wall ini keren banget, pantes kalo dijadikan salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Great Wall ini membujur sepanjang 8,850 kilometers (5,500 miles) dari timur ke barat China melewati gurun pasir, padang rumput, gunung-gunung, dan dataran tinggi. Jadi Great Wall ini jauh lebih panjang daripada panjang Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Bahkan hasil studi terbaru menyatakan bahwa tembok ini memiliki panjang 21,196.18 kilometer. Imagine that… Selain Great Wall, China memiliki obyek wisata lain yang juga spektakuler antara lain Forbidden City, Temple of Heaven, dan Summer Palace. Keempat obyek wisata inilah yang harus saya kunjungi selama berada di China. Sebenarnya masih ada satu lagi obyek wisata yang sangat ingin saya kunjungi yaitu patung terracotta armies di Xian. Tapi sayangnya lokasinya terlalu jauh dari Beijing sehingga membutuhkan waktu dan dana ekstra. Perjalanan dari Beijing ke Xian saja menghabiskan waktu 13 jam dengan menggunakan kereta. Jadi kalo pulang pergi jadi 2 hari saja untuk perjalanan, sangat tidak mungkin untuk dilakukan, jadi saya terpaksa mencoret Xian dari itinerary saya.

Ini adalah perjalanan pertama saya bersama rendra ke luar negeri, oleh karena itu harus saya rencanakan dengan matang, Saya ga boleh ngegembel banget selama disana. Jadi meski di Manila kami hanya transit dari pagi sampai malam, saya tetap membooking hotel untuk istirahat. Kami akan transit dua kali di Manila, untuk itu saya membooking dua hotel yang berbeda, Yang pertama di daerah Makati dan yang kedua di Intramuros. Sedangkan di Beijing kami akan menginap di 161 Hotel dan di Shanghai di The Phoenix Hotel. Kedua hotel ini berjarak cukup dekat dari stasiun subway, bisa ditempuh dengan jalan kaki. Ini yang terpenting supaya tidak kelelahan dan menekan biaya. Oya, untuk pesawat dari Surabaya ke Jakarta saya memilih menggunakan Air Asia karena ada promo Surabaya – Jakarta pulang pergi Rp350.000,00. Lumayan kan….

Untuk masuk ke negara China, kita harus memliki visa. Kami mengurus visa sebulan sebelum tanggal keberangkatan. Untungnya di Surabaya ada Konsulat China dan ada Chinese Visa Application Service Center yang terletak di Jl Pakis Argosari F / 24. Jadi kami tidak perlu jauh-jauh ke Jakarta untuk mengurus visa. Proses pengurusannya pun sangat mudah, kita bisa mendownload formulir aplikasi visa di internet atau langsung datang dan mengisi formulir di visa center. Persyaratan yang dibutuhkan adalah paspor, foto ukuran 4 x 6 dengan latar belakang putih, dan formulir aplikasi visa yang sudah diisi. Saya juga menyiapkan semua tiket pesawat, reservasi hotel, asuransi perjalanan, dan itinerary kami selama disana. Tapi ternyata tidak diminta sama sekali oleh petugasnya. Setelah dokumen kami diterima, petugas visa center memberikan tanda bukti untuk pengambilan visa. Kemudian visa tersebut bisa diambil setelah 4 hari kerja dengan biaya Rp540.000,00 per orang. Mudah bukan…

Selain visa, tiket pesawat, dan reservasi hotel, yang saya siapkan untuk travelling ke China adalah peta subway, peta obyek-obyek wisata, serta petunjuk arah untuk menuju tempat wisata. Ini sangat penting karena di China jarang yang bisa berbahasa Inggris, jadi daripada kita kesasar dan menghabiskan waktu, lebih baik kita persiapkan semuanya dengan matang. Kemudian yang tidak kalah penting adalah kamus bahasa Mandarin di gadget kami supaya bisa membantu komunikasi selama disana. China adalah negara yang kaya akan budaya dan warisan sejarah, oleh karena itu travelling ke China menjadi salah satu impian saya.

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Nicoline's Journal

by Nicoline Patricia Malina

Alid Abdul

Travel till you die!

Harival Zayuka

Just another WordPress.com site

My Sanctuary

my travel notes

Claraberkelana.com

Travel Stories

The Traveling Cows

my travel notes