Search

Here, There, & Everywhere

my travel notes

Category

Pulau Sempu

Serpihan Surga itu Bernama Segara Anakan

Segara Anakan, view from the top
Segara Anakan, view from the top

Keesokan hari saya bangun pukul 5 pagi dan segera membangunkan yang lainnya. Kami berjalan ke atas bukit karang di belakang area perkemahan untuk melihat pemandangan laut selatan. Di atas bukit ini terlihat dua pemandangan, yang satu pemandangan tebing tinggi dan lautan luas di bawahnya. Sedangkan yang satu lagi adalah pemandangan Segara Anakan beserta kumpulan tenda-tenda. Masya Allah indahnyaaaa….

View of The Ocean
View of The Ocean
Selfie di tebing
Ayo semua lihat ke atas… Smile….

Setelah puas menikmati pemandangan dan berfoto-foto kami turun kembali ke pantai. Di pantai sebelum nyebur ke laguna kita foto-fotoan lagi dong….

Foto-fotoan sebelum nyebur
Foto-fotoan sebelum nyebur
DSC_1227
Mari kita nyebur

Sekarang tiba waktunya berenang di laguna. Air disini sangat tenang, ombak hanya bisa masuk melalui karang bolong. Kedalaman airnya pun hanya setinggi dada orang dewasa saja. Jadi aman untuk berenang dan bermain air disini. Pokoknya asyik banget deh…. apalagi pemandangannya indah banget……

Ga dalem kan airnya
Ga dalem kan airnya

Setelah puas berenang kami baru merasa kelaparan, jadi kami balik ke tenda dan memasak sarapan indomie (again). Hhhmmm enaaakk. Laper sihhh…..

Seusai sarapan kami berjalan ke jalan setapak yang kami lalui kemarin untuk mencari spot bagus buat foto.

DSC_1397
Pengen kesini lagi dan lagi dan lagiiii

Saat kami kembali ke tenda, cuaca sudah panas. Kami segera mengemasi barang dan membereskan tenda, kemudian memulai trekking kembali ke Teluk Semut. Ayooo semangat……

Jalur trekking
Jalur trekking

Satu jam kemudian sampailah kami di Teluk Semut. Wuuiiihh capeknyaaa…. Sambil beristirahat kami menelpon pemilik kapal untuk menjemput kami. Selamat tinggal Pulau Sempu yang sangat indah…. Sampai ketemu lagi….. Saya benar-benar berharap untuk bisa kembali lagi ke pulau ini…..

“There is no heaven on earth, but… there is piece of it”

20141019_071721
basah kuyup abis nyebur
di atas bukit karang
di atas bukit karang
Pemandangan Segara Anakan dari atas bukitkarang
Pemandangan Segara Anakan dari atas bukitkarang

Menikmati Malam Bertabur Bintang di Pulau Sempu

Segara Anakan, Pulau Sempu
Segara Anakan, Pulau Sempu

Trip saya kali ini adalah ke tempat yang sudah saya idam-idamkan sejak bertahun-tahun yang lalu. Agak ironis sebenarnya, karena lokasi tempat ini adalah di Kabupaten Malang, Jawa Timur, jadi cukup dekat dengan tempat tinggal saya. Pulau Sempu…..  itulah tempat yang sangat ingin saya kunjungi sejak lama. Banyak yang bilang bahwa Pulau Sempu ini mirip Phi Phi Island di Thailand. Ironis bukan??? Saya sudah pernah ke Phi Phi Island nun jauh di Thailand sana tapi belum pernah ke Pulau Sempu yang jaraknya hanya sekitar lima jam berkendara dari Surabaya.

Pulau Sempu terletak di kawasan Sendang Biru, Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang. Sesuai statusnya sebagai Cagar Alam, Pulau Sempu sebenarnya diperuntukkan bagi penelitian, pendidikan dan kebutuhan keilmuan lainnya. Di dalam pulau seluas 877 hektar terdapat beragam keanekaragaman hayati. Untuk fauna misalnya, mulai dari lutung jawa (Tracypithecus auratus), kera hitam (Presbitis cristata pyrrha), kera abu-abu (Macaca fascicularis), babi hutan (Sus sp), kijang (Muntiacus muntjak), kancil (Tragulus javanicus), raja udang (Alcedo athis) dan lainnya.

Segara Anakan
Segara Anakan

Pulau Sempu adalah pulau yang tidak berpenghuni, jadi di dalam pulau itu tidak ada fasilitas apa pun. Di dalam Pulau Sempu terdapat sebuah laguna yang dikelilingi bukit-bukit karang, inilah yang dinamakan Segara Anakan. Kebanyakan orang yang berkunjung ke Sempu camping satu malam di Segara Anakan. Pada awalnya kami tidak mempertimbangkan opsi buat camping disana karena tidak adanya toilet umum, kalo mau buang air gimana coba. Awalnya kami berencana untuk menginap di rumah penduduk di Sendang Biru yang disewakan (homestay) sehingga kami bisa menyebrang ke Pulau Sempu pukul 6 pagi. Tapi setelah googling ga nemu nomer telpon rumah penduduk yang disewakan, akhirnya opsi camping pun harus dipertimbangkan. Ini karena tidak mungkin langsung berangkat dari Surabaya yang jarak tempuhnya lebih dari 4 jam. Sampai sana pasti sudah siang sekali kemudian sore sudah harus menyeberang kembali. Pasti ga akan puas disana, cuma dapet capeknya. Akhirnya setelah dipertimbangkan kami memutuskan untuk nekat camping. Dulu waktu masih kecil saya sih sering camping sama keluarga, tapi di lokasi campingnya selalu ada toilet umum. Nah kalo ntar di Sempu gimana dong??? Saran dari seorang teman sih, “ya pipis di laut lah mbak, feel free gitu“.  Okayyy… Lets do that!!!!!

Kami berangkat pada hari Sabtu tanggal 18 Oktober 2014. Rencananya jam 8 pagi udah cabut dari Surabaya, tapi ada kendala mobil yang mau dipake ga dateng-dateng. Akhirnya setelah jemput teman-teman dan sarapan, kami baru berangkat jam 9.30 dari Surabaya. Udah kesiangan banget nih. Tapi gapapa kami tetap ceria dan semangat menuju Pulau Sempu.

Pos BKSDA
Pos BKSDA

Untuk menuju Pulau Sempu kami harus menyeberang dari Sendang Biru. Dari Malang berkendaralah menuju Gadang. Kemudian ikuti petunjuk jalan menuju Turen atau Sendang Biru. Sangat mudah kok, di tiap persimpangan ada petunjuk arahnya. Lima jam kemudian, sekitar pukul 14.30 kami sampai di Sendang Biru. Tiket masuk ke Sendang Biru adalah 40 ribu untuk kami berenam plus mobil. Sebelum menyebrang ke Pulau Sempu kita harus lapor dulu di pos Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Konservasi Wilayah Pulau Sempu. Disini kami ditanya-tanya asal kami dari mana, apa tujuan kami kesana, dan tahu Pulau Sempu dari mana. Bapak petugas memberi tahu bahwa Pulau Sempu sebenarnya bukanlah tempat wisata. Pulau ini adalah cagar alam yang harus dilindungi. Saat ini semakin banyak pengunjung yang datang sehingga alamnya menjadi rusak. Jadi kebijakan untuk mengizinkan pengunjung masuk ke Pulau Sempu adalah kebijakan yang salah. Kami diberi wejangan-wejangan agar selama disana menjaga alam dan kebersihan. Kami juga diberi karung untuk diisi sampah kami selama disana dan nanti karung sampah itu harus dikembalikan ke pos ini. Bapak petugas juga berpesan agar kami tidak mempromosikan pulau ini agar tidak semakin banyak pengunjung yang datang. Maaf pak… Kami melanggar janji…. karena rasanya sulit untuk tidak berbagi cerita tentang tempat yang begitu indah ini. Oleh karena itu… kalian yang mau berkunjung ke pulau ini harus benar-benar menjaga alam dan kebersihan. Kita harus melindungi cagar alam ini bersama-sama agar keidahannya tetap bisa kita nikmati selamanya.

Menyeberang ke Pulau Sempu
Menyeberang ke Pulau Sempu

Oya, di Pulau Sempu kami harus didampingi pemandu untuk trekking menuju Segara Anakan. Tarif pemandu adalah Rp100 ribu untuk pagi dan siang hari. Sedangkan untuk di atas pukul 2 siang tarifnya Rp150 ribu. Jika kita tidak menginap/camping di Sempu maka pemandu akan menunggu selama kita disana dan mengantar pulang kembali. Tapi jika kita camping maka pemandu akan langsung kembali, keesokannya kita harus pulang sendiri tanpa pemandu. Tarif kapal yang mengantar kita menyeberang ke Pulau Sempu adalah Rp100 ribu pulang pergi. Kita harus mencatat nomor kapal dan nomor telpon pemilik kapal untuk minta dijemput keesokannya. Perjalanan menyeberang ke Pulau Sempu hanya menghabiskan waktu 10 menit. Tempat bersandar kapal di Pulau Sempu ini disebut Teluk Semut. Kami sampai di Teluk Semut pada pukul 15.30, kemudian dimulailah trekking menuju Segara Anakan.

Teluk Semut
Teluk Semut
Ayo semangat!!!
Ayo semangat!!!

Menurut informasi yang saya dengar, pada musim kemarau seperti saat ini trekking menuju Segara Anakan hanya akan menghabiskan waktu sekitar satu jam. Sedangkan pada musim hujan akan menghabiskan waktu 3 jam lebih, yaa karena you know laaah… jalannya becek dan ga ada ojek pastinya. Makanya kalo mau ke sempu mending musim kemarau aja. Lagian kalo camping sambil ujan-ujanan juga ga asyik keleeuuss.

Setelah memakai sepatu kami mulai berjalan menembus hutan, sangat disarankan untuk memakai sepatu ya… karena banyak akar pohon dan karang-karang tajam sepanjang perjalanan. Jalan setapak yang kami lalui ini penuh dengan akar-akar pohon yang melintang, beberapa kali saya tersandung akar-akar itu. Di beberapa titik ada pohon tumbang yang menghalangi jalan, jadi kami harus melompatinya. Ada beberapa tanjakan dan turunan sepanjang perjalanan. Yang membuat perjalanan terasa melelahkan adalah ransel berat yang kami bawa. Baru jalan beberapa meter saja keringat udah bercucuran. Kami beberapa kali berhenti untuk melepas lelah dan minum air supaya tidak dehidrasi. Mendekati akhir perjalanan jalannya menjadi semakin sempit, hanya cukup dilalui satu orang. dengan dibatasi tanah tegak di sisi sebelah kiri dan tebing karang curam di sebelah kanan yang di bawahnya adalah air laut.

Istirahat dulu
Istirahat dulu

Akhirnya setelah trekking sekitar satu jam lebih sampailah kami di Segara Anakan….

Segara Anakan
Indah banget kan…..

Tempat ini benar-benar indah…. sebuah laguna dengan pantai berpasir putih yang halus. Air lautnya berwarna hijau tosca. Laguna ini dikelilingi gugusan bukit-bukit karang yang ditumbuhi pepohonan. Di satu sisi bukit karang ini terdapat karang bolong tempat ombak air laut masuk ke dalam laguna. Very very beautiful…. Jadi ga rugi deh capek-capek trekking. Worth it banget…..

Karang Bolong
Karang Bolong
Area perkemahan di pantai
Area perkemahan di pantai

Kami segera mencari tempat untuk mendirikan tenda di pantai. Karena kami datangnya sudah kesorean, pantainya sudah penuh dengan tenda-tenda pengunjung lain. Bapak pemandu membantu kami mencari tempat kosong dan sekaligus membantu mendirikan dua tenda kami. Setelah tenda berdiri kami berganti pakaian dan bergegas menuju laguna untuk bermain air. Tak lama kemudian matahari beranjak tenggelam, kami pun tidak bisa berlama-lama bermain di air. Setelah hari gelap kami memasak indomie untuk makan malam (sekaligus makan siang karena tadi tidak sempat makan siang). Malam itu kami habiskan dengan bermain sambung kata, polisi2 numpang tanya, dan mendengarkan suara gitar dan nyanyian dari tenda sebelah (kami memang ga bawa gitar dan ga ada yg bisa nggitar).

Dinner di bawah bintang
Dinner di bawah bintang

Kami berenam sepakat tidur di atas tikar di luar tenda karena udara di penghujung musim kemarau ini terasa panas, jadi lebih enak tidur di luar saja. Malam di Pulau Sempu ini sungguh indah, kami tidur di bawah bintang-bintang yang bertebaran di langit sambil mendengarkan debur ombak dan suara gitar dari tenda sebelah. Sampai-sampai salah satu teman saya mengigau saat tidur, “malam yang indah“. Yes… it was definitely a beautiful night……

Camping seru di Sempu
Camping seru di Sempu

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Nicoline's Journal

by Nicoline Patricia Malina

Alid Abdul

Travel till you die!

Harival Zayuka

Just another WordPress.com site

My Sanctuary

my travel notes

Claraberkelana.com

Travel Stories

The Traveling Cows

my travel notes