Search

Here, There, & Everywhere

my travel notes

Category

Palembang

Berburu Pempek dan Berperahu ke Pulau Kemaro

Jembatan Ampera, foto diambil dari atas perahu sepulang dari Pulau Kemaro
Jembatan Ampera, foto diambil dari atas perahu sepulang dari Pulau Kemaro
Pempek Candy
Pempek Candy

Besok siang saat break adalah waktu buat berburu pempek, makanan khas Palembang yang sangat terkenal. Belum sah juga ke Palembang kalo belum makan pempek di tempat asalnya. Banyak sekali toko yang menjual pempek disana, dan kami coba beberapa toko pempek yang cukup terkenal. Toko pertama yang kami kunjungi adalah Vico. Kami makan di tempat dan memesan beberapa untuk oleh-oleh. Hhhmmm enaakkk… Kemudian pemberhentian kedua adalah pempek Beringin. Disini kami pun memesan satu paket untuk dimakan bersama-sama di tempat dan memesan untuk oleh-oleh. Menurut saya sih pempek Beringin ini lebih enak daripada Vico, lebih terasa ikannya. Setelah dari Beringin kami melanjutkan berburu pempek di Candy. Tapi karena sudah kekenyangan kami ga makan disana lagi. Jadi kami langsung memesan untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Oh ya di setiap toko pempek mereka melayani pengiriman ke luar kota. Jadi buat yang malas bawa kardus pempek yang berat bisa langsung mengirimnya ke tujuan dengan membayar biaya ongkos kirim.

Pempek Vico.... Udah abis setengah
Pempek Vico…. Udah abis setengah
20140411_120449
Pempek Beringin

Acara yang diselenggarakan di Palembang ini selesai sore hari. Setelah penutupan saya langsung pamit ke boss saya untuk jalan-jalan ke Jembatan Ampera, karena saya mau mengambil foto pada saat hari masih terang. Saya ajakin boss saya itu, tapi beliaunya ogah. Tapi beliau ngijinin saya buat jalan (udah hafal sama kelakukan anak buahnya yg satu ini kayaknya). Rencananya saya mau ke Jembatan Ampera dan kalau memungkinkan mau naik perahu mengarungi Sungai Musi menuju Pulau Kemaro. Untungnya ada teman dari kantor Jatim lagi yang menghadiri acara berbeda di Palembang. Mereka mendarat di Palembang siang ini. Kemudian sorenya mereka menjemput saya di hotel dengan taxi dan kami pun menuju Jembatan Ampera.

Sesampainya di pinggir Sungai Musi saya terbelalak kaget, kok kumuh banget yaa….. Ternyata bener kata orang-orang kalo Jembatan Ampera lebih cantik kalo dilihat pada malam hari karena: pertama, lampu-lampunya yang warna-warni dan kedua, kelihatan kumuhnya kalo siang. Tapi gapapa lah yaa… gimanapun juga tetep harus lihat waktu siang. Yang membuat kumuh disana adalah para pedagang kaki lima yang kebanyakan menjual makanan disana. Setiap penjual makanan menggelar kursi-kursi plastik yang memenuhi area di pinggir Sungai Musi. Pokoknya crowded banget deh, kami pun jadi susah mau mengambil foto karena latar belakangnya penuh dengan kursi plastik. Sangat disayangkan sebenernya…. Seharusnya pemerintah kota bisa melakukan penataan terhadap PKL- PKL ini sehingga tidak membuat kumuh pinggiran Sungai Musi.

Kursi-kursi plastiknya sangat merusak pemandangan
Kursi-kursi plastiknya sangat merusak pemandangan
Jembatan Ampera
Jembatan Ampera

Setelah berfoto-foto kami kemudian mencari perahu yang bisa mengantar kami ke Pulau Kemaro. Di tengah perjalanan kami bertemu sebuah bangunan yang sangat menarik. Ternyata bangunan itu adalah Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Sebenernya ingin sekali mampir masuk ke dalamnya, tapi museumnya sudah tutup dan hari sudah semakin gelap. Setelah jalan sedikit terlihatlah dermaga kecil tempat perahu-perahu bersandar. Dermaga ini lokasinya persis di bawah Jembata Ampera, namanya adalah Dermaga Bus Air Bawah Ampera 16 Ilir. Pemilik perahu menawarkan jasanya Rp250 ribu untuk mengantar ke Pulau Kemaro pulang pergi. Tapi kami sudah dapat bocoran kalo harga perahu ke Pulau Kemaro adalah Rp150 ribu pp, jadi kami tidak mau membayar lebih dari itu. Akhirnya negoisasi harga mencapai kesepakatan di harga Rp 150 ribu. Waktu itu hari sudah hampir Maghrib, kami nekat juga ya naik perahu kecil itu untuk menyusuri Sungai Musi, mana tukang perahunya ngebut lagi njalanin perahunya, kami sampai terguncang-guncang dibuatnya.

Perahu menuju Pulau Kemaro
Perahu menuju Pulau Kemaro

Alhamdulillah kami sampai di Pulau Kemaro sebelum matahari terbenam. Karena hari sudah menjelang malam, disana kami tidak ketemu dengan turis lain, bahkan penjaganya saja juga tidak ada. Ngeri juga sih, apalagi kami cuma bertiga dan cewek semua, tapi ya udahlah kan udah sampe sini jadi harus berani. Setelah berpesan pada tukang perahu agar tidak pergi kemana-mana kami pun memasuki pulau ini. Menurut Wikipedia, Pulau Kemaro adalah sebuah pulau di tengah Sungai Musi, terletak sekitar 6 km dari Jembatan Ampera. Pulau Kemaro terletak di daerah industri,yaitu di antara Pabrik Pupuk Sriwijaya dan Pertamina Plaju dan Sungai Gerong. Pulau Kemaro adalah tempat rekreasi yg terkenal di Sungai Musi. Di tempat ini terdapat sebuah vihara cina (klenteng Hok Ceng Bio). Di Pulau Kemaro ini juga terdapat kuil Buddha yang sering dikunjungi umat Buddha untuk berdoa atau berziarah ke makam. Di sana juga sering diadakan acara Cap Go Meh setiap Tahun Baru Imlek.

Di Pulau Kemaro juga terdapat makam dari putri Palembang. Menurut legenda setempat, pada zaman dahulu, seorang putri Palembang dikirim untuk menikah dengan seorang anak raja dari Cina. Sang putri meminta 9 guci emas sebagai mas kawinnya. Untuk menghindari bajak laut maka guci-guci emas tersebut ditutup sayuran dan ketika sang anak raja membukanya dilihatnya hanya berisi sayuran maka guci-guci tersebut dibuangnya ke sungai. Rasa kecewa dan menyesal membuat sang anak raja memutuskan untuk menerjunkan diri ke sungai dan tenggelam. Sang putri pun ikut menerjunkan diri ke sungai dan juga tenggelam. Sang putri dikuburkan di Pulau Kemaro tersebut dan untuk mengenangnya dibangunlah Kuil.

Legenda Pulau Kemaro
Legenda Pulau Kemaro

Masih menurut Wikipedia, daya tarik Kemaro adalah Pagoda berlantai 9 yang menjulang di tengah-tengah pulau. Bangunan ini baru dibangun tahun 2006. Selain pagoda ada klenteng yang sudah dulu ada. Klenteng Soei Goeat Kiong atau lebih dikenal Klenteng Kuan Im dibangun sejak tahun 1962. Di depan klenteng terdapat makam Tan Bun An (Pangeran) dan Siti Fatimah (Putri) yang berdampingan. Kisah cinta mereka berdualah yang menjadi legenda terbentuknya pulau ini.

DSC_0536

Selfie bertiga di Pulau Kemaro
Selfie bertiga di Pulau Kemaro

Selain itu ditempat ini juga terdapat sebuah Pohon yang disebut sebagai “Pohon Cinta” yang dilambangkan sebagai ritus “Cinta Sejati” antara dua bangsa dan dua budaya yang berbeda pada zaman dahulu antara Siti Fatimah Putri Kerajaan Sriwijaya dan Tan Bun An Pangeran dari Negeri Cina, konon, jika ada pasangan yang mengukir nama mereka di pohon tersebut maka hubungan mereka akan berlanjut sampai jenjang Pernikahan.

Setelah hari semakin gelap dan kami sudah puas mengeksplor Pulau Kemaro kami pun kembali ke perahu. Wah udah gelap banget…, ngeri juga naik perahu kecil malam-malam gini. Di perjalanan menuju ke Pulau Kemaro kami melewati Pabrik Pupuk Sriwijaya yang berdiri di pinggir Sungai Musi. Pada saat perjalanan pulang karena hari sudah gelap, lampu lampu di Pabrik Pupuk Sriwijaya sudah menyala, jadi cukup menarik untuk dilihat.

Akhirnya kami kembali ke dermaga dengan selamat… Alhamdulillah yaa… Tujuan berikutnya adalah wisata kuliner pempek lagi. Kali ini kami ingin mencoba pempek panggang. Kami pun berjalan ke jalan raya untuk mencari taxi. Sebelum ke tempat pempek kami mampir dulu ke Nyenyes, toko yang manjual kaos distro bertema Palembang. Saya membeli sebuah kaos bergambar Jembatan Ampera untuk Rendra seharga Rp80 ribu. Setelah itu, kami diantar sopir taxi ke Jalan Jaksa Agung R Suprapto untuk makan pempek panggang di warung Cek Isa 238. Disini kami memesan satu porsi pempek Lenggang dan pempek panggang untuk dimakan bertiga. Hhhmmm…. enaakk..

Pempek Lenggang dan Pempek Panggang
Pempek Lenggang dan Pempek Panggang

Setelah makan pempek kami diajak karaokean bareng di Inul Vista di sebelah Hotel Aryaduta. Jadi hari ini kami akhiri dengan menyanyi riang bersama-sama…. Horeeee…….

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II
Museum Sultan Mahmud Badaruddin II
Klenteng di Pulau Kemaro
Klenteng di Pulau Kemaro
Pabrik Pupuk Sriwijaya di pinggir Sungai Musi
Pabrik Pupuk Sriwijaya di pinggir Sungai Musi

Jalan-jalan ke Palembang

Jembatan Ampera, foto diambil dari Restoran Riverside
Jembatan Ampera, foto diambil dari Restoran Riverside

Seminggu setelah pulang dari Makassar, saya mendapat kesempatan untuk bertugas ke Palembang bersama boss saya untuk menghadiri sebuah acara kantor yang diselenggarakan disana selama dua hari. Karena belum pernah kesana maka saya gembira dan bersemangat sekali. Pesawat yang kami tumpangi tiba di Palembang malam hari karena sebelumnya transit dulu di Jakarta. Malam itu kami langsung menuju hotel dan beristirahat. Kami menginap di Hotel Aryaduta yang merupakan tempat acara akan dilaksanakan besok.

Besok siang pada saat break saya dan beberapa rekan yang semuanya ibu-ibu pergi hunting kain khas Palembang. Memang kami mencuri-curi waktu di saat break karena waktu kami disini sangatlah sedikit dengan jadwal yang cukup padat. Kami pergi diantar oleh sopir ke toko kain Al Fikri di daerah Tangga Buntung. Berbagai macam kain dijual di toko ini, mulai kain motif songket yang per meternya seharga Rp60 ribu sampai kanin songket beneran yang harganya mencapai puluhan¬† juta. Dan sayaa… tentu saja memilih kain motif songket seharga Rp60 ribu tadi. Hahaha…. Selain songket ada juga kain batik dengan motif khas Palembang, harganya Rp150 ribu per potong (2 meter). Kemudian ada juga kain jumputan yang juga menjadi khas dari Palembang. Disini saya membawa pulang satu kain motif songket, satu kain songket yang murah seharga Rp250 ribu, serta tiga kain batik motif Palembang, yaitu untuk saya, suami, dan mama.

Foto di Restoran Riverside
Udah sah ke Palembang-nya

Malamnya kami diundang makan malam di Restoran Riverside yang lokasinya tepat di pinggir Sungai Musi dengan pemandangan Jembatan Ampera yang menjadi icon Kota Palembang. Belum sah ke Palembang kalo belum foto dengan background Jembatan Ampera. Kami kesana menaiki bus yang sudah disediakan panitia. Sesampainya disana kami pun berfoto bersama rombongan perwakilan jatim dengan latar belakang Jembatan Ampera yang dihiasi lampu warna-warni. Panitia juga menyediakan fotografer untuk memfoto setiap rombongan. Usai makan malam dan acara nyanyi-nyanyi di panggung, kami diajak naik sebuah kapal yang cukup besar untuk menelusuri Sungai Musi. Yippeeee…… Kapal ini membawa kami melewati kolong Jembatan Ampera kemudian kembali lagi ke restoran Riverside tempatnya bersandar.

20140410_214712
Di atas kapal menyusuri Sungai Musi
ini nih dalamnya kapal
ini nih dalamnya kapal

 

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Nicoline's Journal

by Nicoline Patricia Malina

Alid Abdul

Travel till you die!

Harival Zayuka

Just another WordPress.com site

My Sanctuary

my travel notes

Claraberkelana.com

Travel Stories

The Traveling Cows

my travel notes