Search

Here, There, & Everywhere

my travel notes

Category

Malang

Pagi yang Indah di Ranu Kumbolo

IMG-20180808-WA0089
Sunrise

Pagi yang kami nantikan akhirnya datang juga. Saat saya keluar dari tenda, langit masih gelap, tapi sinar matahari sudah mengintip di antara dua bukit di seberang Ranu Kumbolo. Kami segera keluar dan menuju tepi danau untuk menikmati momen sunrise ini. Bersyukur sekali akhirnya saya bisa sampai di danau yang indah ini dan melihat matahari terbit.

IMG_1090
Danaunya berkilauan tertimpa sinar matahari
IMG_1085
Tanjakan Cinta

Setelah itu kami berpindah lokasi ke arah tanjakan cinta yang berada di belakang tenda kami. Disini kita bisa melihat pemandangan Ranu Kumbolo dan tenda2 yang memenuhi camping ground. Kemudian kami mendaki tanjakan cinta menuju Oro Oro Ombo. Tanjakan cinta ini terkenal dengan mitosnya yang katanya sih barang siapa yang bisa mendaki tanjakan ini tanpa menoleh ke belakang maka dia akan menemukan cintanya. Yang pasti sih memang sulit untuk tidak menoleh ke belakang saat mendaki tanjakan ini. Kenapa? Karena dalam kondisi lelah mendaki tentunya kita ingin berhenti sebentar dan melihat pemandangan indah yang ada di belakang kita.

DSC08880
View dari atas
IMG_1072Rakum
Diantara Ranu Kumbolo dan Oro-Oro Ombo

Sesampainya di atas kita akan melihat padang savana yang luas. Ini adalah Oro Oro Ombo. Saat itu Oro Oro Ombo dalam keadaan kering karena musim kemarau. Tapi pada saat musim hujan padang rumput ini akan dipenuhi tanaman Verbena Brasiliensis, tanaman invasif dari Amerika Selatan yang bunganya berwarna ungu seperti lavender. Pada saat itu Oro-oro Ombo akan terlihat indah dengan hamparan bunga berwarna ungu tersebut. Tapi meski indah, keindahan tanaman ini tidak berarti baik bagi Semeru karena ada ancaman ekologis di balik keindahan itu. Saya jadi penasaran pengen kesini lagi waktu Verbena-nya berbunga.

IMG_1029Rakum
Oro-Oro Ombo

Setelah puas kami kembali ke tenda. Lalu saya mengajak Grandis ke sisi kanan danau, pengen foto di atas batang pohon tumbang kayak orang2 itu. Akhirnya nemu juga lokasinya, ini dia fotonya…

IMG_1105-01
Beautiful morning

Saat kami kembali ke tenda, teman2 yang lain sudah mulai memasak sarapan. Mereka menggoreng sosis dan nugget, serta menyeduh mie instant. Hmm… udah laper banget ini. Nikmatnya makan bersama sambil memandang Ranu Kumbolo.

Matahari telah bersinar terik, setelah selesai sarapan kami segera membereskan tenda dan barang bawaan. Sampah2 harus dibawa kembali dengan karung yang sudah diberikan kepada pendaki di pos pendaftaran. Jangan sampai lupa ya, nanti bakal disuruh balik lagi ke Rakum kalo kita ga bawa balik sampahnya. Saat itu sudah pukul 10 lewat, perjalanan pulang masih panjang, tetapi hati senang karena sudah berhasil mencapai Ranukumbolo. Semoga next time bisa sampai puncak Mahameru ya…

IMG_1180
Foto full team sebelum pulang
IMG_8935
Perjalanan pulang
IMG_8911
TNBTS ini indah banget

Sampai Juga di Ranu Kumbolo

IMG_0852Rakum
Ranu Kumbolo

Akhirnya… setelah berusia setua ini saya bisa sampai juga di Ranu Kumbolo. Hehehe… Sebenernya ini agak memalukan sih, karena saya ini orang Jawa Timur yang dari lahir sampai besar ya tinggal di Jatim. Mungkin karena gaulnya bukan sama anak gunung ya, jadi ga ada yang ngajakin kesitu. Udah lama sih berangan2 ke Ranu Kumbolo, nyari-nyari temen yang mau ikutan, dapet sih, tapi ga ada realisasi juga. Lagi-lagi karena ga ada yang punya pengalaman naik gunung, jadi bingung kesananya naik apa dan gimana2nya nanti disana. Padahal emang niatnya cuma ke Ranu Kumbolo aja, ga sampe summit. Saya sadar diri lah sama kemampuan, jadi untuk pertama kali mending sampe Rakum aja.

Pada bulan Agustus 2018 ajakan buat camping di Rakum akhirnya datang juga. Grandis yang udah saya pesenin (pokoknya kalo ke Rakum harus ajak aku!!!), mengajak saya ke Rakum bareng adik dan teman2nya. Tentu saja saya mau dong meski ga ada yang kenal dari rombongan itu. Perencanaan trip kali ini semua dilakukan oleh mereka, saya tinggal ikut dan bayar patungannya aja.

Jumat jam 8 malam saya berangkat ke Terminal Bungurasih. Udah janjian sama Grandis dan temen2nya yang rombongan Surabaya untuk berangkat jam 9 dari Bungurasih ke Malang. Singkat cerita kami sampai di Malang dan menginap semalam di rumah salah satu teman pendakian kita. Dini hari pukul 3 kami berangkat naik angkot yang udah disewa untuk membawa kami menuju Desa Tumpang. Di Tumpang kami berhenti di rumah pemilik jeep yang akan kami sewa untuk mengantar kami ke Ranu Pani. Kami disuguhi sarapan disini, jadi sewa jeepnya ini include sarapan gitu. Pukul 6 pagi kami berangkat naik jeep menuju Ranu Pani dengan total rombongan 11 orang. Oya jeep-nya ini belakangnya terbuka dan tempat duduknya dilipat supaya bisa muat banyak. Jadi yang di belakang berdiri semua, seru deh…

20180804_063009
View yang kami lihat di perjalanan

Perjalanan menuju Ranu Pani menghabiskan waktu hampir 1 jam. Pemandangannya sangat indah, gunung Bromo dan lautan pasir terlihat dari jalan yang kami lalui. Sekitar jam 7 kami sampai di Ranu Pani. Dinginnya luar biasa saat itu. Dan yang menakjubkan adalah kami disambut hamparan rumput dan daun2 yang membeku. Yes… it’s frosting in Ranu Pani.

20180804_071550
Ranu Pani

Gara2 frosting ini kami jadi foto2 dulu deh di hamparan rumput  yang membeku. Dingin banget saat itu, padahal matahari sudah bersinar cerah. Jadi kepikiran gimana dinginnya nanti malam di Ranu Kumbolo yang lokasinya jauh lebih tinggi dari Ranu Pani.

IMG-20180804-WA0000
Frosting in Ranu Pani

20180804_084610

Setelah itu kami berjalan menuju pos pendaftaran. Oya untuk naik ke Semeru kita harus daftar online dulu ya lewat web resminya Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Ini harus ya karena ada batasan kuota pendaki untuk mendaki Semeru. Selain itu jangan lupa juga untuk bawa dokumen pendaftaran dan print out bukti pembayaran kalian. Kami sempat kerepotan karena tidak membawa print out bukti transfer karena petugas meminta print out dalam bentuk kertas. Jadi kami harus cari tempat ngeprint dulu di desa.

20180805_164018
Pos Pendaftaran

Setelah proses pendaftaran selesai, kami harus mengikuti briefing dulu sebelum mulai mendaki. Saat briefing kami diberi penjelasan tentang aturan2 yang harus kita patuhi selama mendaki. Point2 yang harus diingat adalah pendaki dilarang memasukkan anggota badan ke dalam danau, dilarang membuat api unggun, dan dilarang membawa tissue basah, jadi semua tissue basah yang terlanjur dibawa bisa dititipkan dulu di petugas.

Setelah briefing mulailah kami berjalan menuju gapura masuk pendakian. Kami tidak menggunakan guide dan porter karena sudah ada beberapa teman yang sudah berpengalaman ke Ranu Kumbolo. Ya lagipula kami memang ingin mengirit biaya. Katanya sih perjalanan sampai camping ground di Ranu Kumbolo menghabiskan waktu 4-5 jam. Kami baru start pukul 11 siang karena urusan print out bukti transfer tadi yang cukup menyita waktu.

20180804_105537
Semangat!!! Ranu Kumbolo…  kami datang

Tidak lama berjalan dari gapura jalan sudah menanjak. Menanjaknya lumayan nih hampir 45 derajat. Nafas saya udah hampir habis. Tapi untungnya ga lama sih jalan nanjaknya. Setelah itu jalan landai sampai Pos 1. Kami menghabiskan waktu satu jam untuk mencapai Pos 1. Di Pos 1 ini masih ada signal internet, jadi kalo mau memberi kabar ke orang tua, suami/istri, pacar, temen, atau gebetan segera lakukan di Pos 1. Setelah itu dipastikan sudah tidak ada signal internet dan telepon. Kami beristirahat sambil makan gorengan dan semangka. Nikmat sekali.

IMG_0697Rakum
Meski lelah tapi tetap senyum kalo ada kamera
20180804_130652
Pos 2

Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Pos 2. Jarak antara Pos 1 dan Pos 2 ga terlalu jauh, jadi ga terlalu capek lah. Tapi tetep aja kami istirahat dulu di Pos 2 dan makan semangka lagi dong.

Setelah beristirahat sebentar kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 3. Jarak antara Pos 2 dan Pos 3 ini lumayan jauh. Di jalan kami melewati Watu Rejeng, tebing terjal yang berdiri tegak lurus. Lokasi ini berada pada ketinggian 2350 mdpl.

20180805_133641
Watu Rejeng

 

 

Kemudian kami melihat sebuah jembatan berwarna merah di depan kami. Jembatan ini cukup terkenal dengan cerita mistisnya. Saat itu kabut tebal menutupi area di sekitar jembatan. Tapi karena kami melewatinya pada siang hari dan beramai-ramai jadi ya alhamdulillah aman-aman saja.

 

 

 

20180804_140817
Jembatan Merah

Setelah berjalan lagi beberapa menit, sampailah kami di Pos 3. Waktunya makan semangka lagi nih…

20180805_124011
Abis istirahat langsung melewati ini

Perjalanan menuju Pos 4 diawali dengan undakan tanah yang lumayan menguras energi untuk seorang amatir seperti saya. Kalo dilihat di foto samping ini sih kayaknya landai ya. Tapi foto itu sungguh menipu, apalagi naiknya sambil bawa keril. Untung tadi udah istirahat dan makan semangka. Satu demi satu undakan saya naiki dengan tabah. Semangat!!! Rasanya lega setelah undakan ini berakhir, jalan sudah landai lagi.

Setelah berjalan beberapa menit kemudian, kabut pun mulai turun membuat suasana mistis menjadi terasa. Untung masih siang kan ya.

 

IMG_0722Rakum
Kabut menyelimuti

Kemudian mulailah terlihat Ranu Kumbolo yang indah itu. Hmmm senangnya… rasa lelah terasa berkurang. Sekarang kami berjalan mengitari danau karena camping ground yang kami tuju berada di seberang danau.

IMG_0821Rakum
Udah terlihat danaunya

Meski makin semangat jalannya tapi sekarang jadi makin lama juga perjalanan kami karena sebentar2 berhenti buat foto. Sayang banget lah kalo sampai melewatkan buat foto2 disini. Lihat aja foto2 di bawah ini…

IMG_0850Rakum
Indah dan tenang ya
IMG_0865Rakum
Matahari sudah di ufuk barat
IMG_0875Rakum
Menanti teman seperjalanan
20180805_114729
Semangka terenak yang pernah kumakan

Lalu sampailah kami di Pos 4 yang memiliki view Ranu Kumbolo. Makan semangka lagi lah kami sambil melihat pemandangan yang indah. Nikmat banget makan semangka yang dijual di tiap pos ini, rasanya manis, segar, dan dingin serasa baru keluar dari kulkas.

Nah perjalanan tinggal sebentar lagi, camping ground sudah terlihat jelas dari sini. Matahari sudah berada di ufuk barat jadi kami segera melanjutkan perjalanan  sebelum hari gelap. Setelah berjalan mengitari danau kami sampai di sebuah tanah lapang yang berada di tepi danau. Tapi ini bukan camping ground yang kami tuju, meski ada beberapa pendaki yang mendirikan tenda disini.

20180805_112252
Beberapa pendaki mendirikan tenda disini

Kami berjalan lagi menaiki bukit, lokasi camping ground yang kami tuju ada di balik bukit. Setelah menaiki bukit, jalanan menurun lagi dan sampailah kami di Ranu Kumbolo. Masya Allah indahnya…

20180804_163418
Alhamdulillah sampai juga

Ranu Kumbolo ini berada di ketinggian kurang lebih 2400 mdpl. Senangnya saya akhirnya sampai juga di danau ini. Beberapa teman saya yang sudah sampai duluan sudah memilih lokasi untuk mendirikan tenda. Saat itu camping ground sudah penuh dengan tenda karena kami sampai disana sudah pukul 5 sore. Jadi waktu tempuh kami dari gapura masuk sampai di camping ground adalah 6 jam. Hahaha… dasar amatiran, kebanyakan berhenti istirahat dan foto2 sih. Kami memilih lokasi di bagian belakang, disana masih cukup lenggang, meski jauh dari tepi danau.

20180804_163304
Camping ground

Sementara para laki-laki memasang tenda (inilah enaknya kalo camping sama cowok2, tenda biar jadi urusan mereka), kami yang perempuan pergi mengambil air di danau. Peraturan terpenting yang harus kita ingat disini adalah dilarang memasukkan anggota tubuh kita ke dalam danau. Air danau ini digunakan pendaki untuk minum dan memasak jadi kita harus sama2 menjaga kebersihannya.

DSC08868 (2)
Tenda kami

Oya kabar gembiranya, sekarang di Ranu Kumbolo ada toilet umum. Jadi ga ada masalah lah kalo kebelet. Toilet ini bayarnya Rp5000 per orang, airnya banyak melimpah. Tapi ga boleh mandi disini, dan kupikir kan juga ga bakal ada yang mau mandi dengan suhu udara dan air sedingin es itu ya. Ternyata besoknya saya lihat ada lho yang mandi dan keramas pula. Luar biasaaa…

Oya di dekat toilet ini ada api unggun yang dinyalakan oleh ranger. Para pendaki dilarang untuk menyalakan api unggun, jadi kalo mau mencari kehangatan bisa mendekati api unggun ini. Malam pun tiba, kami mulai menyalakan kompor dan memasak mie instant. Saya semangat masak dengan modus supaya bisa menghangatkan diri deket api. Sumpah dingin banget malam itu. Setelah mie instant sudah jadi semua kami makan bersama2 sambil ngobrol. Tapi kami tidak tahan berada terlalu lama di luar, jadi selesai makan dan minum kopi/susu hangat kami segera masuk ke dalam tenda dan bersiap2 tidur. Dan dimulailah malam yang menyiksa itu….

DSC08873
Menjelang malam di Ranu Kumbolo

Saya pikir saya bakal tidur nyenyak malam itu karena kondisi badan yang lelah, tapi ternyata saya salah besar. Saya luar biasa kedinginan, padahal baju udah dilapisi long john, pake jaket, kaos kaki, kaos tangan dan syall, serta berada di dalam sleeping bag. Oya sleeping bag ini juga hukumnya wajib ya buat dibawa ke Semeru. Malam jadi terasa panjang, saya ga bisa tidur nyenyak, tengah malem kebangun trus susah tidur lagi. Jadi nyesel ga bawa obat tidur waktu itu. Dinginnya luar biasa sampai wajah saya juga saya tutupi syall, trus abis itu bingung gimana nafasnya. Hmmm….

 

 

 

Serpihan Surga itu Bernama Segara Anakan

Segara Anakan, view from the top
Segara Anakan, view from the top

Keesokan hari saya bangun pukul 5 pagi dan segera membangunkan yang lainnya. Kami berjalan ke atas bukit karang di belakang area perkemahan untuk melihat pemandangan laut selatan. Di atas bukit ini terlihat dua pemandangan, yang satu pemandangan tebing tinggi dan lautan luas di bawahnya. Sedangkan yang satu lagi adalah pemandangan Segara Anakan beserta kumpulan tenda-tenda. Masya Allah indahnyaaaa….

View of The Ocean
View of The Ocean
Selfie di tebing
Ayo semua lihat ke atas… Smile….

Setelah puas menikmati pemandangan dan berfoto-foto kami turun kembali ke pantai. Di pantai sebelum nyebur ke laguna kita foto-fotoan lagi dong….

Foto-fotoan sebelum nyebur
Foto-fotoan sebelum nyebur
DSC_1227
Mari kita nyebur

Sekarang tiba waktunya berenang di laguna. Air disini sangat tenang, ombak hanya bisa masuk melalui karang bolong. Kedalaman airnya pun hanya setinggi dada orang dewasa saja. Jadi aman untuk berenang dan bermain air disini. Pokoknya asyik banget deh…. apalagi pemandangannya indah banget……

Ga dalem kan airnya
Ga dalem kan airnya

Setelah puas berenang kami baru merasa kelaparan, jadi kami balik ke tenda dan memasak sarapan indomie (again). Hhhmmm enaaakk. Laper sihhh…..

Seusai sarapan kami berjalan ke jalan setapak yang kami lalui kemarin untuk mencari spot bagus buat foto.

DSC_1397
Pengen kesini lagi dan lagi dan lagiiii

Saat kami kembali ke tenda, cuaca sudah panas. Kami segera mengemasi barang dan membereskan tenda, kemudian memulai trekking kembali ke Teluk Semut. Ayooo semangat……

Jalur trekking
Jalur trekking

Satu jam kemudian sampailah kami di Teluk Semut. Wuuiiihh capeknyaaa…. Sambil beristirahat kami menelpon pemilik kapal untuk menjemput kami. Selamat tinggal Pulau Sempu yang sangat indah…. Sampai ketemu lagi….. Saya benar-benar berharap untuk bisa kembali lagi ke pulau ini…..

“There is no heaven on earth, but… there is piece of it”

20141019_071721
basah kuyup abis nyebur
di atas bukit karang
di atas bukit karang
Pemandangan Segara Anakan dari atas bukitkarang
Pemandangan Segara Anakan dari atas bukitkarang

Menikmati Malam Bertabur Bintang di Pulau Sempu

Segara Anakan, Pulau Sempu
Segara Anakan, Pulau Sempu

Trip saya kali ini adalah ke tempat yang sudah saya idam-idamkan sejak bertahun-tahun yang lalu. Agak ironis sebenarnya, karena lokasi tempat ini adalah di Kabupaten Malang, Jawa Timur, jadi cukup dekat dengan tempat tinggal saya. Pulau Sempu…..  itulah tempat yang sangat ingin saya kunjungi sejak lama. Banyak yang bilang bahwa Pulau Sempu ini mirip Phi Phi Island di Thailand. Ironis bukan??? Saya sudah pernah ke Phi Phi Island nun jauh di Thailand sana tapi belum pernah ke Pulau Sempu yang jaraknya hanya sekitar lima jam berkendara dari Surabaya.

Pulau Sempu terletak di kawasan Sendang Biru, Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang. Sesuai statusnya sebagai Cagar Alam, Pulau Sempu sebenarnya diperuntukkan bagi penelitian, pendidikan dan kebutuhan keilmuan lainnya. Di dalam pulau seluas 877 hektar terdapat beragam keanekaragaman hayati. Untuk fauna misalnya, mulai dari lutung jawa (Tracypithecus auratus), kera hitam (Presbitis cristata pyrrha), kera abu-abu (Macaca fascicularis), babi hutan (Sus sp), kijang (Muntiacus muntjak), kancil (Tragulus javanicus), raja udang (Alcedo athis) dan lainnya.

Segara Anakan
Segara Anakan

Pulau Sempu adalah pulau yang tidak berpenghuni, jadi di dalam pulau itu tidak ada fasilitas apa pun. Di dalam Pulau Sempu terdapat sebuah laguna yang dikelilingi bukit-bukit karang, inilah yang dinamakan Segara Anakan. Kebanyakan orang yang berkunjung ke Sempu camping satu malam di Segara Anakan. Pada awalnya kami tidak mempertimbangkan opsi buat camping disana karena tidak adanya toilet umum, kalo mau buang air gimana coba. Awalnya kami berencana untuk menginap di rumah penduduk di Sendang Biru yang disewakan (homestay) sehingga kami bisa menyebrang ke Pulau Sempu pukul 6 pagi. Tapi setelah googling ga nemu nomer telpon rumah penduduk yang disewakan, akhirnya opsi camping pun harus dipertimbangkan. Ini karena tidak mungkin langsung berangkat dari Surabaya yang jarak tempuhnya lebih dari 4 jam. Sampai sana pasti sudah siang sekali kemudian sore sudah harus menyeberang kembali. Pasti ga akan puas disana, cuma dapet capeknya. Akhirnya setelah dipertimbangkan kami memutuskan untuk nekat camping. Dulu waktu masih kecil saya sih sering camping sama keluarga, tapi di lokasi campingnya selalu ada toilet umum. Nah kalo ntar di Sempu gimana dong??? Saran dari seorang teman sih, “ya pipis di laut lah mbak, feel free gitu“.  Okayyy… Lets do that!!!!!

Kami berangkat pada hari Sabtu tanggal 18 Oktober 2014. Rencananya jam 8 pagi udah cabut dari Surabaya, tapi ada kendala mobil yang mau dipake ga dateng-dateng. Akhirnya setelah jemput teman-teman dan sarapan, kami baru berangkat jam 9.30 dari Surabaya. Udah kesiangan banget nih. Tapi gapapa kami tetap ceria dan semangat menuju Pulau Sempu.

Pos BKSDA
Pos BKSDA

Untuk menuju Pulau Sempu kami harus menyeberang dari Sendang Biru. Dari Malang berkendaralah menuju Gadang. Kemudian ikuti petunjuk jalan menuju Turen atau Sendang Biru. Sangat mudah kok, di tiap persimpangan ada petunjuk arahnya. Lima jam kemudian, sekitar pukul 14.30 kami sampai di Sendang Biru. Tiket masuk ke Sendang Biru adalah 40 ribu untuk kami berenam plus mobil. Sebelum menyebrang ke Pulau Sempu kita harus lapor dulu di pos Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Konservasi Wilayah Pulau Sempu. Disini kami ditanya-tanya asal kami dari mana, apa tujuan kami kesana, dan tahu Pulau Sempu dari mana. Bapak petugas memberi tahu bahwa Pulau Sempu sebenarnya bukanlah tempat wisata. Pulau ini adalah cagar alam yang harus dilindungi. Saat ini semakin banyak pengunjung yang datang sehingga alamnya menjadi rusak. Jadi kebijakan untuk mengizinkan pengunjung masuk ke Pulau Sempu adalah kebijakan yang salah. Kami diberi wejangan-wejangan agar selama disana menjaga alam dan kebersihan. Kami juga diberi karung untuk diisi sampah kami selama disana dan nanti karung sampah itu harus dikembalikan ke pos ini. Bapak petugas juga berpesan agar kami tidak mempromosikan pulau ini agar tidak semakin banyak pengunjung yang datang. Maaf pak… Kami melanggar janji…. karena rasanya sulit untuk tidak berbagi cerita tentang tempat yang begitu indah ini. Oleh karena itu… kalian yang mau berkunjung ke pulau ini harus benar-benar menjaga alam dan kebersihan. Kita harus melindungi cagar alam ini bersama-sama agar keidahannya tetap bisa kita nikmati selamanya.

Menyeberang ke Pulau Sempu
Menyeberang ke Pulau Sempu

Oya, di Pulau Sempu kami harus didampingi pemandu untuk trekking menuju Segara Anakan. Tarif pemandu adalah Rp100 ribu untuk pagi dan siang hari. Sedangkan untuk di atas pukul 2 siang tarifnya Rp150 ribu. Jika kita tidak menginap/camping di Sempu maka pemandu akan menunggu selama kita disana dan mengantar pulang kembali. Tapi jika kita camping maka pemandu akan langsung kembali, keesokannya kita harus pulang sendiri tanpa pemandu. Tarif kapal yang mengantar kita menyeberang ke Pulau Sempu adalah Rp100 ribu pulang pergi. Kita harus mencatat nomor kapal dan nomor telpon pemilik kapal untuk minta dijemput keesokannya. Perjalanan menyeberang ke Pulau Sempu hanya menghabiskan waktu 10 menit. Tempat bersandar kapal di Pulau Sempu ini disebut Teluk Semut. Kami sampai di Teluk Semut pada pukul 15.30, kemudian dimulailah trekking menuju Segara Anakan.

Teluk Semut
Teluk Semut
Ayo semangat!!!
Ayo semangat!!!

Menurut informasi yang saya dengar, pada musim kemarau seperti saat ini trekking menuju Segara Anakan hanya akan menghabiskan waktu sekitar satu jam. Sedangkan pada musim hujan akan menghabiskan waktu 3 jam lebih, yaa karena you know laaah… jalannya becek dan ga ada ojek pastinya. Makanya kalo mau ke sempu mending musim kemarau aja. Lagian kalo camping sambil ujan-ujanan juga ga asyik keleeuuss.

Setelah memakai sepatu kami mulai berjalan menembus hutan, sangat disarankan untuk memakai sepatu ya… karena banyak akar pohon dan karang-karang tajam sepanjang perjalanan. Jalan setapak yang kami lalui ini penuh dengan akar-akar pohon yang melintang, beberapa kali saya tersandung akar-akar itu. Di beberapa titik ada pohon tumbang yang menghalangi jalan, jadi kami harus melompatinya. Ada beberapa tanjakan dan turunan sepanjang perjalanan. Yang membuat perjalanan terasa melelahkan adalah ransel berat yang kami bawa. Baru jalan beberapa meter saja keringat udah bercucuran. Kami beberapa kali berhenti untuk melepas lelah dan minum air supaya tidak dehidrasi. Mendekati akhir perjalanan jalannya menjadi semakin sempit, hanya cukup dilalui satu orang. dengan dibatasi tanah tegak di sisi sebelah kiri dan tebing karang curam di sebelah kanan yang di bawahnya adalah air laut.

Istirahat dulu
Istirahat dulu

Akhirnya setelah trekking sekitar satu jam lebih sampailah kami di Segara Anakan….

Segara Anakan
Indah banget kan…..

Tempat ini benar-benar indah…. sebuah laguna dengan pantai berpasir putih yang halus. Air lautnya berwarna hijau tosca. Laguna ini dikelilingi gugusan bukit-bukit karang yang ditumbuhi pepohonan. Di satu sisi bukit karang ini terdapat karang bolong tempat ombak air laut masuk ke dalam laguna. Very very beautiful…. Jadi ga rugi deh capek-capek trekking. Worth it banget…..

Karang Bolong
Karang Bolong
Area perkemahan di pantai
Area perkemahan di pantai

Kami segera mencari tempat untuk mendirikan tenda di pantai. Karena kami datangnya sudah kesorean, pantainya sudah penuh dengan tenda-tenda pengunjung lain. Bapak pemandu membantu kami mencari tempat kosong dan sekaligus membantu mendirikan dua tenda kami. Setelah tenda berdiri kami berganti pakaian dan bergegas menuju laguna untuk bermain air. Tak lama kemudian matahari beranjak tenggelam, kami pun tidak bisa berlama-lama bermain di air. Setelah hari gelap kami memasak indomie untuk makan malam (sekaligus makan siang karena tadi tidak sempat makan siang). Malam itu kami habiskan dengan bermain sambung kata, polisi2 numpang tanya, dan mendengarkan suara gitar dan nyanyian dari tenda sebelah (kami memang ga bawa gitar dan ga ada yg bisa nggitar).

Dinner di bawah bintang
Dinner di bawah bintang

Kami berenam sepakat tidur di atas tikar di luar tenda karena udara di penghujung musim kemarau ini terasa panas, jadi lebih enak tidur di luar saja. Malam di Pulau Sempu ini sungguh indah, kami tidur di bawah bintang-bintang yang bertebaran di langit sambil mendengarkan debur ombak dan suara gitar dari tenda sebelah. Sampai-sampai salah satu teman saya mengigau saat tidur, “malam yang indah“. Yes… it was definitely a beautiful night……

Camping seru di Sempu
Camping seru di Sempu

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Nicoline's Journal

by Nicoline Patricia Malina

Alid Abdul

Travel till you die!

Harival Zayuka

Just another WordPress.com site

My Sanctuary

my travel notes

Claraberkelana.com

Travel Stories

The Naked Traveler

Journey Redefined

The Traveling Cows

my travel notes