Search

Here, There, & Everywhere

my travel notes

Category

Macau

Keliling Macau Naik Bus Itu Mudah dan Murah

DSC_0042
Praca de Ferreira do Amaral

Bus adalah moda transportasi utama di Macau. Oleh karena itu kalo mau ngirit harus naik bus kemana-mana. Tarif bus kota sekali naik adalah MOP 3,2 untuk rute di wilayah Macau Peninsula. Sedangkan untuk rute dari Macau Peninsula ke Taipa adalah MOP 4,2. Kita tidak perlu takut untuk keliling Macau naik bus. Caranya hampir sama dengan di Hong Kong. Tapi kalo di Hong Kong transportasi utamanya adalah MTR, sedangkan di Macau adalah bus. Jadi kita benar-benar bergantung pada moda transportasi ini. Caranya adalah sebagai berikut:

Halte bus
Halte bus

1. Minta peta Macau di tourism office dan tanyakan nomor bus menuju tempat yang ingin kita datangi.  Sebaiknya kita membuat ittinerary dulu secara pasti. Jadi kita bisa langsung menanyakan semua nomor bus sesuai rute ittinerary kita. Oya, jangan lupa tanyakan di halte mana kita harus turun.

2. Menunggu bus di halte. Di setiap halte terdapat keterangan nomor-nomor bus yang lewat di halte tersebut, berikut dengan rute setiap nomor bus. Cek dulu apakah bus yang akan kita naiki melewati halte tersebut. Kemudian cek juga rute bus, apakah tempat tujuan kita tertera di rute bus yang akan kita naiki.

3. Naik bus sesuai dengan nomornya. Bayar di pintu depan dengan uang pas karena tidak ada kembalian.

4. Perhatikan pengumuman di speaker nama halte yang akan dilewati berikutnya. Selain diumumkan di speaker, nama halte berikutnya juga tertulis di layar yang terletak di depan. Jika nama halte yang kita tuju sudah kita dengar dan tertulis di layar, maka tekanlah tombol yang terletak di tiang samping kursi penumpang. Bus tidak akan berhenti jika kita tidak menekan tombol.

5. Setelah bus berhenti, turunlah dari bus dari pintu tengah.

ada layar petunjuk halte berikutnya di atas
ada layar petunjuk halte berikutnya di atas

Jika kita tidak sempat menanyakan nomor bus pada petugas tourism office kita juga tidak perlu khawatir karena peta Macau dan rute bus nya cukup mudah dipelajari. Yang penting kita sudah memiliki peta Macau dari tourism office. Berikut caranya:

1. Di peta Macau ini terdapat lokasi halte bus dan disampingnya tertulis nomor bus yang melewati halte itu. Untuk menuju tempat tujuan, kita lihat halte terdekat dari tempat tujuan kita, bus nomor berapa saja yang melewati halte itu.

2. Kemudian periksa apakah bus yang melewati halte tempat tujuan itu juga melewati halte tempat kita berangkat. Jika tidak berarti kita harus berganti bus. Memang untuk menuju suatu tempat seringkali kita harus berganti bus dua kali.

3. Lalu kita cari saja halte bus yang dilewati bus dari tempat kita berangkat dan bus dari tempat tujuan kita. Itulah nanti halte tempat kita berganti bus. Ada sebuah tempat bernama Praca de Ferreira do Amaral yang merupakan halte besar tempat hampir semua bus melewatinya. Dari tempat kalian berangkat turun saja disini, nanti di halte ini banyak pilihan bus menuju hampir semua tempat wisata di Macau.

Oya, di peta Macau juga terdapat keterangan nomor seluruh bus beserta rute lengkapnya. Jika ingin melihat rute bus secara lengkap juga bisa disini.

Selain bus kota, di Macau juga terdapat shuttle bus milik hotel-hotel besar yang gratis. Shuttle bus ini bisa kita jumpai di Ferry Terminal dan airport. Hotel-hotel yang memiliki free shuttle bus antara lain adalah The Venetian, City of Dreams, Wynn Hotel, Lisboa/Grand Lisboa, dan Starworld Hotel. Bus tersebut akan mengantar kita menuju hotel mereka. Jadi kita bisa menggunakan jasa bus ini dari hotel ke hotel dengan cara transit di Ferry Terminal. Akan tetapi saya lebih suka menggunakan bus kota karena tidak ribet dan harganya pun cukup murah. Selamat jalan-jalan mengelilingi Macau dengan menggunakan bus…..

DSC_0742
Praca de Ferreira do Amaral di malam hari

Macau Day 3: Keliling Kun Iam Ecunumical Centre, A Ma Temple, Moorish Barracks, dan Mandarin’s House

di dalam A Ma Temple
A Ma Temple

Hari ini adalah hari terakhir travelling kami di Macau. Kami bersiap-siap packing, kemudian check out dan menitipkan koper di resepsionis. Sarapan kami pagi ini masih sama dengan kemarin, portuguese egg tart dari Pastelaria Koi Kei.

Kun Iam Ecunumical Centre

DSC_0162
Kun Iam Ecunumical Centre

Tujuan pertama hari ini adalah Kun Iam Ecunumical Centre yang terletak di Avenida Dr Sun Yat Sen. Disini terdapat patung Kun Iam, Goddess of Mercy, yang letaknya menjorok ke laut. Patung ini berwarna bronze, tingginya 20 meter, dan berdiri di atas kubah berbentuk bunga lotus yang menjadi tempat Kun Iam Ecunumical Centre. Di tempat ini kita bisa melihat sebuah pameran kecil untuk memperoleh pengetahuan tentang Buddhisme, Taoisme, Konfusianisme. Tempat ini buka setiap hari mulai pukul 10.00 s.d. 18.00 kecuali hari Jumat, tiket masuknya gratis.

A Ma Temple

A Ma Temple
A Ma Temple
ngadem dulu disini
ngadem dulu disini

Tujuan berikutnya adalah A Ma Temple yang terletak di sebelah tenggara Macau Peninsula. Ini adalah kuil tertua di Macau, dibangun sejak tahun 1.488 di era Dinasti Ming (1368-1644). Di dalamnya berisi artefak-artefak historis. Kuil ini juga merupakan bangunan yang paling lama bertahan di Macau. Terdapat beberapa bagian dalam kuil ini yaitu: Pavilion Gate, Arch Memorial, Hall Doa, Aula Kebajikan, Aula Guanyin, dan Zhengjiao Chanlin (paviliun Buddha). Lokasi A Ma Temple ini adalah tempat pertama kalinya bangsa Portugis mendarat di Macau sekitar 400 tahun yang lalu. Pendaratan inilah yang menjadi titik awal sejarah Macau. Konon, bangsa Portugis bertanya pada masyarakat setempat, apa nama daratan ini. Tapi masyarakat setempat salah mengerti, mereka mengira bangsa Portugis menanyakan nama kuil itu. Jadi mereka menjawab “Ma Ge”. Kemudian bangsa Portugis menterjemahkan nama itu menjadi Macau yang dijadikan nama daratan ini. Kuil ini buka setiap hari mulai pukul 07.00 s.d. 18.00 tanpa biaya masuk.

Moorish Barracks

DSC01691
Moorish Barracks
DSC01685
Jalan menanjak

Setelah keluar dari A Ma Temple kami menyusuri sebuah jalan kecil dan melewati Moorish Barracks. Bangunan ini dibangun pada tahun 1874 oleh arsitek Italia bernama Cassuto. Moorish Barack pada awalnya dibangun sebagai rumah bagi tentara India yang dikirim ke Macau. menurut catatan, ada 200 tentara India yang ditempatkan di Moorish Barack saat itu. Pada tahun 1905, gedung ini digunakan Marine and Customs Police dan kini digunakan untuk Macau Maritime Administration.

Warna utama Moorish Barrack adalah kuning dengan kombinasi putih di beberapa bagian. Gaya arsitekturnya mengintegrasikan dua budaya yakni Moghul-India dan Inggris. Gaya India terlihat dari model pintu yang melengkung di bagian atasnya. Jajaran pintu yang berjumlah cukup banyak dan seragam ini memberikan pemandangan ritmis yang elok. Beberapa bagian dari bangunan ini menggunakan tiang-tiang penyangga yang cukup tinggi dan besar. Kusen pintu dan jendela di bagian dalam berwarna coklat dan terbuat dari kayu. Wisatawan memang tidak diperbolehkan masuk namun kita dapat melihat sekeliling gedung eksotis.

Mandarin’s House

Mandarin's House
Mandarin’s House

Kemudian kami berjalan menanjak lagi dan melewati Lilau Square. Tidak jauh dari Lilau Square berdirilah Mandarin’s House. Mandarin’s House merupakan kompleks perumahan yang dibangun sejak tahun 1881. Di kompleks perumahan kuno ini berdiri rumah salah satu tokoh terkenal di China yakni Zheng Guanying yang karya-karyanya di bidang ekonomi sangat dipengaruhi oleh pemikiran Dr. Sun Yat Send an Mao Tse Tung. Dua tokoh ini pulalah yang ikut menstimulasi adanya perubahan – perubahan di China.

pekarangan Mandarin's House
pekarangan Mandarin’s House

Mandarin’s House berdiri di wilayah seluas 4.000 meter persegi. Seluruh kompleks ini terdiri dari pos jaga, halaman, ruang untuk pembantu dan tuan rumah. Hunian kuno ini berjajar di 120 meter sepanjang Barra Street. Gerbang utama berada di sebuah halaman yang sekaligus memisahkan ruangan antara majikan dan pelayan. Sedangkan pintu di masing-masing rumah berorientasi pada arah yang sama yakni menghadap barat laut. Kita bisa mengunjungi tempat ini setiap hari mulai pukul 10.00 s.d. 18.00 tanpa dipungut biaya, kecuali hari Rabu Mandarin’s House tutup. Di bagian depan kompleks ini terdapat toko souvenir. Lumayan bagus barang-barangnya, bahkan ada juga tas totte disini. Harganya lebih murah daripada yang di Macau Tower dengan bentuk dan desain yang berbeda. Tapi karena kemarin saya sudah beli jadi tidak beli lagi disini.

salah satu sudut di dalam Mandarin's House
salah satu sudut di dalam Mandarin’s House

Setelah puas mengelilingi Mandarin’s House kami pun pulang naik bus. Ada halte bus di Lilau Square, jadi kami tidak perlu berjalan lagi. Kami naik bus no 28, di dalam bus ada tiga orang WNI yang asyik mengobrol menggunakan Bahasa Indonesia. Waktu itu, kamera dan kaca mata hitam sudah saya masukkan ransel. Mereka kemudian menyadari kalo kami berdua adalah WNI juga, dan terjadilah pembicaraan ini:

Mereka: ” Orang Indonesia ya mbak?”

Kami: “Iya”

Mereka: “Oh… lagi nyari majikan ya disini?”

Gubraaakk…..

Kami: “Enggak sih mbak, lagi jalan-jalan aja.”

Mereka: “Oh… jalan-jalan sambil nyari majikan ya mbak? Ini saudara saya juga lagi nyari majikan”

Gubraaaakkk lagi…. Oh my God…. kenapa sih mereka masih nuduh aja…

Kami: “Enggak mbak, cuma jalan-jalan aja. Kami lagi travelling.”

Mereka: “Oh gitu… Udah berapa lama disini mbak?”

Kami: “Di Macau mulai kemarin lusa. Tapi sebelumnya kami ke Hong Kong empat hari. Sore ini udah mau pulang ke Indonesia.”

Mereka: “Lho kok bentar banget mbak. Kan sayang banget tuh visa nya.”

Kami: (bingung…..) “Kalo buat turis ke Hong Kong dan Macau kan ga perlu pake visa mbak.”

Mereka: “Ahh… masa sih mbak?”

Kami: “Iya” (bingung)

Begitulah percakapan kami di bus itu. Entah kenapa saya merasa sepertinya mereka tetep ga percaya kalo kami ini bener-bener turis. Mungkin di konsep pikiran mereka itu turis harusnya pake bus pariwisata atau minivan dan ditemani guide untuk pergi ke obyek-obyek wisata. Bukannya keleleran naik bus kota seperti kami. Hehehe…

Nyegat bus di Lilau Square
Nyegat bus di Lilau Square

Kami berpisah dengan tiga orang itu di Terminal Barra. Di terminal ini kami turun dari bus dan lanjut naik bus menuju Avenida Almaida de Ribeiro dan turun di dekat Senado Square. Sebelum balik ke hotel kami beli makan siang dulu di Mc D dan makan di bawah pohon karena di restonya sudah tidak ada kursi kosong. Setelah makan saya mau mampir dulu di kios penjual kaos di jalan menuju Ruins of St Paul. Itu satu-satunya penjual kaos di daerah ini. Ternyata harganya cukup murah dan fix price, ga perlu repot-repot menawar lagi. Saya memilih kaos dengan gambar sketsa Ruins of St Paul dan tulisan Macau warna hitam dan merah dengan harga MOP 29 per buah.

Setelah dapat kaos, kami kembali ke hotel dan kemudian berangkat ke airport naik bus. Bye.. bye… Macau…. Senang bisa mengunjungimu ^_^

salah satu sudut Lilau Square
salah satu sudut Lilau Square

Macau Day 2: (Part 2) Bertemu Putri Duyung di City of Dreams dan Naik Gondola di The Venetian

Grand Kanal
Grand Kanal

Setelah berlindung dari teriknya matahari dan mengisi perut, kami berangkat menuju City of Dreams dan The Venetian yang terletak di Taipa. Kami naik bus dan turun persis di depan City of Dreams.

City of Dreams

Tujuan kami ke City of Dreams ini cuma mau melihat show putri duyung di lobi utama hotel ini. Show putri duyung ini tentunya bukan yang sesungguhnya, melainkan permainan teknologi dan pencahayaan sehingga terlihat mirip aslinya. Jadi di lobi utama terdapat layar raksasa yang menyerupai aquarium yang disebut Vquarium. Di Vquarium tersebut terdapat ikan-ikan berenang kemudian muncul gelembung udara dan keluarlah putri duyung virtual yang berenang bersama ikan-ikan. Kadang hanya satu putri duyung yang muncul, kadang sekaligus dua. Tidak lama kemudian putri duyung ini menghilang dan kita harus menunggu lagi kemunculannya yang tiba-tiba.

Helloo mermaid....
Helloo mermaid….

City of Dreams berisi luxury hotel dan casino. Hotel yang ada disini yaitu Crown Towers, Grand Hyatt, dan Hard Rock Hotel. Sedangkan casino-nya yaitu City of Dreams Casino, Hard Rock Hotel Gaming Area, dan Signature Club. Selain itu terdapat juga beberapa atraksi lain yang bisa kita lihat dengan membeli tiket antara lain pertunjukan The House of Dancing Water, pertunjukan multimedia di The Bubble, dan pertunjukan kabaret Taboo.

The Venetian

The Venetian
The Venetian

Setelah puas melihat dancing mermaid, kami menyeberang jalan menuju The Venetian yang terletak persis di seberang City of Dreams. The Venetian adalah kompleks yang terdiri dari hotel, kasino, dan pusat perbelanjaan. Begitu masuk ke dalam The Venetian saya langsung terperangah (ya… memang saya agak udik sih), interior di dalam gedung ini sungguh mewah. Kami memasuki sebuah lorong yang didominasi dengan warna emas, kanan kirinya berbaris pilar-pilar berwarna putih, atapnya pun dihias lukisan yang indah.

Di dalam The Venetian
Di dalam The Venetian

Tujuan utama kami ke The Venetian adalah untuk naik gondola di Grand Canal. Oleh karena itu kami langsung mengikuti papan petunjuk menuju Grand Canal. Grand Canal ini dibangun dengan bentuk yang menyerupai kota Venice – Italy (yaa… meski saya belum pernah ke sana, tapi dari gambar2nya sih mirip). Di tengah terdapat kanal yang memanjang dengan jembatan-jembatan indah di atasnya. Di pinggir kanal ini berjejer toko-toko branded yang bikin saya ga nafsu belanja. Yang bikin makin keren, langit-langit bangunan ini dilukis menyerupai langit siang yang cerah dengan awan-awan putih berarakan.

Pengen ke Venice
Pengen ke Venice

Kami berjalan menuju tempat pemberhentian gondola dan membeli tiketnya seharga MOP 118. Kemudian kami dipersilakan naik gondola bersama dua orang lainnya (pasangan suami istri dari Shanghai). Gondola ini berisi empat orang. Kalo kalian datang berempat atau merasa kebanyakan duit dan ingin privasi, sewa saja satu gondola. Tarif naik private gondola ini MOP 472 per sekali naik. Agar suasana Venezia-nya lebih terasa, para pendayung gondola yang direkrut adalah orang latin atau keturunan latin (ada yang guanteeng banget lho…). Sambil mendayung, mereka menyanyikan lagu latin selama perjalanan kami menaiki gondola. Suasananya jadi romantis, tapi berhubung sebelah saya Rere ya ga jadi romantis deh. Saya berdoa, semoga suatu saat nanti saya bisa naik gondola di tempat asalnya, Venice – Italy.

Naik gondola
Naik gondola

Sebelum balik ke hotel kami mampir dulu ke Macau Tower buat beli kaos dan totte bag. Di dekat lift menuju ke observation deck ada beberapa kios yang menjual kaos dan souvenir khas Macau. Kemarin saya udah ngincer totte bag itu. Tapi pas turun dari observation deck kiosnya udah tutup. Jadilah kami kembali lagi sore ini, untung belum tutup. Totte bag ini bergambar sketsa Ruins of St Paul. Saya suka banget, tapi ternyata harganya cukup mahal, MOP 239. Lalu saya juga membeli kaos berwarna putih dengan motif yang sama persis dengan tas itu. Kaosnya diskon, MOP 200 untuk dua pieces. Jadi saya beli satu dan rere beli satu. Rere memilih kaos bergambar panda lagi balapan.

Setelah dari Macau Tower kami langsung pulang ke hotel. Tapi mampir dulu di Sevel buat beli noodle cup untuk makan malam. Udah eneg banget kalo harus makan Mc D lagi. Hihihi……

Ini pendayung gondola yang guanteeng
Ini pendayung gondola yang guanteeng
Zoro???
Zoro???

Macau Day 2: (Part 1) Keliling Senado Square dan Ruins of St Paul

Ruins of St Paul
Ruins of St Paul
Egg Tart
Egg Tart

Pagi ini kami keluar dari hotel dan berjalan menuju Senado Square untuk membeli sarapan. Meskipun judulnya hotel, tapi saya memesan kamar tidak include breakfast supaya harganya ga makin mahal. Tujuan kami adalah ke toko Pastelaria Koi Kei untuk membeli Portuguese Egg Tart. Harga egg tart ini MOP 9 per buah. Rasanya enak dan ukurannya cukup lah untuk mengisi perut sebelum beraktivitas. Toko Pastelaria Koi Kei  ini toko penganan paling terkenal se-Macau. Cabangnya ada beberapa yaitu di Senado Square, di jalan menuju Ruins of Saint Paul. Kebanyakan turis yang saya lihat selalu membawa kantong belanjaan dari Pastelaria Koi Kei.

Senado Square di siang hari
Senado Square di siang hari
Kawasan Senado Square
Kawasan Senado Square

Kami menikmati sarapan minimalis ini di bawah pohon di Senado Square sambil memperhatikan gedung-gedung kuno yang indah dan sangat terawat. Memang anda harus berkunjung ke Senado Square pada siang hari dan malam hari agar mendapatkan pengalaman suasana yang berbeda. Senado Square telah menjadi pusat dari Macau sejak dahulu kala. Tempat ini menjadi tuan rumah untuk berbagai public events dan festival-festival. Gedung-gedung yang mengelilingi square ini dibangun sejak abad ke-19 dan ke-20. Pada tahun 1993, lantainya dipaving menggunakan batu berwarna hitam dan putih dengan pola gelombang. Hal ini membantu memunculkan warna cerah dari gedung-gedung disekelilingnya dan menambah atmosfir Mediterania. Di Senado Square juga terdapat tourism office. Kami masuk lagi ke tourism office untuk menanyakan cara menuju lokasi obyek wisata yang kemarin belum sempat kami tanyakan.

Tujuan kami berikutnya adalah Ruins of St Paul. Di jalan menuju Ruins of St Paul kami melewati St Dominic’s Church, gereja yang dibangun oleh pendeta-pendeta Dominika pada tahun 1587. Ini adalah gereja pertama yang dibangun di China. Jalan menuju Ruins of St Paul agak menanjak, di kanan kirinya terdapat toko-toko yang diantaranya adalah toko souvenir.

St Dominic's Church
St Dominic’s Church

Akhirnya sampailah kami di Ruins of St Paul. Tidak lengkap rasanya bila ke Macau tidak mengunjungi tempat ini. Ruins of St Paul merupakan landmark dari kota Macau. Gereja ini dibangun pada tahun 1602 di samping Jesuit College of St. Paul’s. Namun, pada tahun 1835, kebakaran terjadi dan melahap habis universitas dan bangunan gereja, akibatnya hanya menyisakan bangunan depan gereja (facade) seperti sekarang. Fasad depan gereja ini menampilkan ukiran yang berkaitan dengan kisah gereja Katolik di Asia lengkap dengan beberapa gambar naga dan kapal berlayar.Selain itu, ukiran-ukiran dan ornamen Ruins of St. Paul’s Church juga menunjukkan campur tangan budaya China dalam pembangunannya.

Foto berdua di Ruins of St Paul
Foto berdua di Ruins of St Paul

Pada tahun 2005, Ruins of St. Paul’s Church ditetapkan menjadi situs warisan dunia UNESCO, oleh karena itu bangunan tua ini benar-benar dipelihara oleh pemerintah Macau. Di bagian belakang reruntuhan, terdapat tiang penyangga dari beton dan baja yang digunakan untuk menopang bangunan. Tangga baja inilah yang memungkinkan wisatawan untuk naik ke reruntuhan gereja bagian atas dari belakang. Di dasar reruntuhan ini dibangun The Museum of Sacred Art and Crypt yang memiliki koleksi artefak-artefak keagamaan, patung, lukisan, pahatan dan benda-benda upacara dari gereja-gereja dan biara-biara. Museum ini dibuka untuk umum mulai pukul 09.00 s.d. 18.00 tanpa dipungut biaya masuk.

Jalan menuju Ruins of St Paul
Jalan menuju Ruins of St Paul

Karena cuaca makin panas di hari yang cerah ini maka kami segera mengakhiri kunjungan kami disini. Di jalan pulang kami mampir berbelanja di toko souvenir. Saya membeli pajangan fasad Ruins of St Paul seharga MOP 40, magnet kulkas seharga MOP 18 per buah, gantungan kunci seharga MOP 70 (isi 6 buah), dan pajangan snow ball Ruins of St Paul seharga MOP 58.

Kemudian kami membeli makan siang french fries dan chicken wings Mc Donalds (again…) untuk dibawa pulang ke hotel. Siang ini kami istirahat dulu di hotel sambil makan siang. Di Macau ini saya benar-benar ga punya ide lain selain makan di Mc D. Banyak sih restoran lain tapi kayaknya ga halal deh. Jadi ya udahlah yang penting perut terisi makanan. Dan saya sudah bener-bener kangen sama nasi karena hampir seminggu ga ketemu nasi. Hiks….

DSC_0898
Gedung kunonya semua bagus dan terawat

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Nicoline's Journal

by Nicoline Patricia Malina

Alid Abdul

Travel till you die!

Harival Zayuka

Just another WordPress.com site

My Sanctuary

my travel notes

Claraberkelana.com

Travel Stories

The Traveling Cows

my travel notes