IMG_2186
Air Terjun Tumpak Sewu

Sudah lama saya penasaran dengan air terjun Tumpak Sewu sejak mulai terkenal di tahun 2015 lalu. Akses jalan menuju air terjun ini memang baru dibuka pada tahun 2015. Berdasarkan informasi yang saya baca di internet jalan menuju air terjun cukup sulit untuk dilalui, oleh karena itu saya masih menunggu siapa tau nanti akan ada perbaikan akses menuju air terjun ini sehingga menjadi mudah untuk dilalui.

Akhirnya pada akhir november kemarin ada ajakan dari teman-teman saya untuk berwisata ke Tumpak Sewu. Tentu saja saya langsung bersedia, kebetulan weekend itu memang jadwal saya pulang ke Surabaya. Tapi yang jadi masalah adalah saya harus mengajak anak saya kesana. Oleh karena itu sebelum berangkat saya mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai medan yang harus dilalui untuk menuju air terjun ini.  Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari internet medannya cukup sulit dan sepertinya tidak ada anak-anak yang pernah sampai ke dasar air terjun. Akhirnya di sebuah blog saya menemukan nomor telepon seorang guide yang juga pengelola wisata air terjun Tumpak Sewu. Menurut bapak guide yang bernama Pak Yanto, jalur menuju dasar air terjun tidaklah sulit dan berbahaya. Saya juga bertanya ke Pak Yanto apakah anak kecil bisa ikut turun dan jawabannya adalah bisa asal didampingi guide. Sejak awal saya memang ingin menggunakan jasa guide supaya aman dan tentram hati ini *Eeaaa….

Karena jarak dari Surabaya menuju Lumajang cukup jauh, kami memutuskan untuk mengunjungi Tumpak Sewu pada Minggu pagi. Jadi kami berangkat dari Surabaya Sabtu pagi menuju pantai selatan Malang dulu baru sorenya kami lanjutkan perjalanan menuju Lumajang. Lokasi Tumpak Sewu ini memang berada di perbatasan Kabupaten Malang dan Lumajang. Air terjun ini bisa diakses dari dua kabupaten, dari sisi Malang melalui Desa Sidorenggo dan dari sisi Lumajang melalui Desa Sidomulyo. Kami memilih akses dari Desa Sidomulyo, Kec Pronojiwo karena disini ada spot panorama untuk melihat air terjun dari ketinggian. Jadi seandainya cuaca buruk dan kami tidak bisa turun kami masih bisa menikmati keindahan air terjun ini dari spot panorama. Pada musim hujan seperti sekarang jika ingin turun ke air terjun lebih baik pada pagi hari karena cuaca pagi biasanya cerah, belum turun hujan.

Jalan menuju Tumpak Sewu dari arah Malang adalah melewati rute Bululawang – Dampit – Tirtomoyo – Pronojiwo. Dari perbatasan Malang-Lumajang sekitar 500 meter sampailah kita di Desa Sidomulyo, Kecamatan Pronojiwo, di sebelah kanan jalan kita akan melihat papan tanda masuk obyek wisata Air Terjun Tumpak Sewu. Sesampainya di tempat parkir, Pak Yanto sudah menyambut. Kami akan menginap di homestay miliknya malam ini. Harga homestay nya adalah Rp50 ribu per orang. Murah dan praktis kan. Besok paginya kita tinggal berjalan kaki menuju air terjun.

DSC06823
Pintu masuk

Keesokan paginya setelah sarapan kami berangkat ke air terjun pukul 07.30. Harga tiket masuk per orang adalah Rp10 ribu. Kami melewati kebun salak sebelum mencapai spot panorama. Jarak dari pintu masuk ke spot panorama ini sekitar 400 meter, jalannya sudah disemen jadi mudah dilalui oleh siapa saja.

DSC06824
Rendra di kebun salak

Di spot panorama kita bisa melihat megahnya air terjun raksasa ini dari ketinggian. Saat kami baru tiba disana tiba-tiba kabut naik dari bawah, wah jadi tertutup kabut nih air terjunnya. Tapi Pak Yanto bilang tidak usah khawatir, tunggu saja 5 menit nanti kabutnya hilang. Dan memang benar tidak lama kemudian kabut hilang dan kami pun mulai berfoto disana. Saat kami berfoto muncul pelangi yang terlihat di depan air terjun, awalnya pelanginya masih pendek dan tidak jelas, lama kelamaan pelanginya makin panjang dan jelas. Indah sekali… Melihat air terjun raksasa ini saja sudah indah apalagi ditambah pelangi yang menghiasinya.

IMG_1957
Pelangi di air terjun

Setelah menghabiskan waktu cukup lama di spot panorama kami memulai perjalanan turun ke dasar air terjun. Pagi ini cuaca cerah jadi kami bisa turun, tapi tadi malam hujan deras sehingga jalan yang harus kami lalui menjadi licin. Kami menuruni tangga bambu yang cukup panjang. Sebenarnya tidak sulit jika tangga bambunya masih bagus dan lengkap. Yang menjadi masalah adalah tangga ini sudah banyak yang rusak. Banyak anak tangga yang hilang, kadang ada dua anak tangga yang hilang sekaligus jadi kami harus duduk dulu dan menggapai anak tangga berikutnya. Kami yang perempuan-perempuan cukup kesulitan melewati tangga ini, tapi Pak Yanto dengan mudah dan cepat melewatinya sambil menggendong anak saya. Yup… anak saya sebagian besar digendong dalam perjalanan ini kecuali saat jalannya datar dia berjalan sendiri. Saat musim hujan seperti sekarang kita harus ekstra hati-hati karena jalurnya licin.

IMG_2025
Menuruni tangga bambu
IMG_1996
Tangganya sudah banyak yang rusak

 

Selain tangga bambu kami juga harus melewati tebing yang dialiri air. Yang pertama hanya menyeberang saja, yang kedua kami harus menuruninya. Pak Yanto sama sekali tidak kesulitan menuruni tebing ini sambil menggendong anak saya. Cepat sekali gerakannya sampai saya tidak sempat memfotonya. Kami yang perempuan2 dibantu Pak Yanto untuk menuruni tebing ini, ada tali tambang juga untuk membantu kita turun. Setelah menuruni tebing ini perjalanan turun tinggal sedikit lagi.

IMG_2035
Menyeberangi aliran air
IMG_2047
Dibantu guide menuruni tebing
IMG_2067
Turun tebing

Sesampainya di bawah kami bertemu persimpangan jalan, ke kanan menuju air terjun, ke kiri menuju Goa Tetes. Di arah menuju air terjun ada pos penjaga, disini kita harus membayar uang masuk Rp5 ribu per orang. Kemudian kami berjalan lagi  menuju dasar air terjun. Pemandangan disini sangat memukau, jalan yang kami lalui diapit tebing-tebing tinggi. Entah kenapa suasananya terasa magis. Rasanya seperti berada di setting film-film petualangan fiksi, membuat saya jadi membayangkan sebentar lagi ada naga yang terbang di atas kami.

IMG_2086
Jalur favoritku
IMG_2104
Full team

Medan yang kami lalui berikutnya adalah sungai. Sungai ini memisahkan wilayah Kabupaten Malang dengan Kabupaten Lumajang. Kami dua kali menyeberangi sungai, yang pertama dengan melewati jembatan besi kecil. Jembatannya sangat kecil, hanya selebar satu kaki dan pegangannya hanya satu sisi. Kemudian menyeberang yang kedua kali tidak ada jembatannya, hanya ada tali tambang untuk berpegangan agar tidak terseret arus. Sungai ini memang tidak dalam, tapi arusnya cukup kuat.

IMG_2112
Melewati jembatan kecil
IMG-20171208-WA0018
Menyusuri sungai
20171126_094813
Menyeberangi sungai

Setelah dua kali menyeberangi sungai sampailah kami di dekat dasar air terjun. Pak Yanto mengajak kami naik ke atas bukit kecil untuk mendapatkan spot foto terbaik. Dan saat melihat spot foto terbaik yang dimaksud Pak Yanto saya tidak yakin untuk berfoto disitu. Spot ini adalah sebuah batu yang menjorok di tempat yang tinggi. Ketinggiannya dari dasar kira-kira mencapai 8 meter. Saat saya masih ragu tiba-tiba Pak Yanto sudah menggeret saya ke batu itu dan bilang “Udah sampai sini sayang mbak kalo gak foto disitu. Itu temennya udah nungguin di seberang buat motoin” Iya juga sih mengingat perjuangannya buat turun kesini. Akhirnya saya foto juga deh di batu itu.

IMG_2190
Ini ga berani gerak.. takut kepleset

Kalo mau foto disitu hati-hati ya… Batunya selalu basah karena terkena percikan air terjun jadi licin. Saya aja ga berani pindah posisi pas disitu, padahal pengen foto menghadap belakang. Hahaha…..

 

IMG_2247
Full team basah kuyup

Setelah puas menikmati kemegahan air terjun ini kami berbalik arah menuju Goa Tetes karena nanti kami akan keluar melalui jalur Goa Tetes. Kami kembali harus menyeberangi sungai lagi dan berjalan menyusuri sungai.

20171126_110107
Jalur trekking ke arah Goa Tetes

Setelah menyusuri sungai kami bertemu sebuah telaga yang diberi nama Telaga Biru oleh penduduk sekitar. Kenapa diberi nama telaga biru? Hmm sepertinya sih karena ada bagian telaga yang warna airnya biru. Yah walaupun hanya bagian kecil, yaitu di sudut dekat curug. Oya disini ada pos penjaga lagi dimana kita harus membayar Rp 5 ribu per orang untuk menikmati telaga ini.  Kami beristirahat dulu disini, saya nyobain berendam di telaga sambil foto ala ala bidadari yang lagi mandi. Hehehe…

IMG_2301
Mandi di telaga biru
DSC06844
Indah banget kan telaganya
DSC06841
Ada yang lagi pemotretan

Setelah menikmati telaga tibalah saat yang tidak menyenangkan yaitu perjalanan kembali ke atas. Kami melewati jalan berundak yang licin kemudian menaiki tebing yang dialiri air. Pak Yanto dengan mudah dan cepatnya menaiki tebing sambil menggendong anak saya (saya sampai tidak sempat mengabadikan gambarnya). Sementara saya bingung gimana cara naiknya. Hahaha… Untunglah Pak Yanto kembali lagi untuk menjemput kami dan memandu kami untuk naik ke atas. Yang menyulitkan disini adalah batunya banyak yang licin sehingga harus memilih mana yang aman untuk dipijak.

DSC06846
Jalur yang kami lalui.. Batu-batuan licin yang ditumbuhi lumut

Setelah sukses menaiki tebing ini, Pak Yanto mengajak kami untuk naik lagi ke atas menuju ke dalam Goa Tetes. Kami pun menolak mentah-mentah ajakannya. Kami sudah lelah jadi tidak sanggup lagi jika harus naik ke atas dengan jalur bebatuan yang licin. Ampuun deh… mana perjalanan naik masih panjang lagi.

DSC06849
Hati-hati terpleset

Jalur selanjutnya adalah tangga semen yang curam dan panjang. Entah kenapa undakan tangga ini dibuat tinggi sehingga membuat cepat lelah. Sepertinya tangga ini yang membuat paha saya kaku selama 3 hari. Di tengah jalur ada warung yang menjual gorengan dan minuman, kami pun beristirahat dulu disini sambil menikmati gorengan. Setelah mengisi tenaga kami lanjutkan lagi perjalanan sampai anak tangga habis. Alhamdulillah sampai juga ya di atas.

IMG-20171214-WA0006
Tangga di jalur Goa Tetes – minjem foto Yunia

Kami keluar melewati pos pintu masuk Goa Tetes. Pos ini berjarak sekitar 500 meter dari pintu masuk Tumpak Sewu. Dari sini kami langsung kembali ke homestay untuk mandi dan makan mie instant yang sudah disiapkan oleh istri Pak Yanto.

DSC06820
Homestay Pak Yanto

Bagi orang-orang yang sering mendaki gunung mungkin jalur trekking ke Tumpak Sewu ini terasa mudah, tapi bagi saya yang seringnya jalan hanya di jalan-jalan datar saja jalur ini cukup menantang. Oleh karena itu jika kalian bukan pecinta alam dan pendaki, sebaiknya gunakanlah jasa guide untuk turun ke dasar air terjun. Silahkan hubungi Pak Yanto di nomor 085331238963. Orangnya sangat ramah dan helpfull.

IMG_2046
Pak Yanto membantu saya menuruni tebing

Walaupun jalur trekkingnya cukup susah, saya sangat menikmati perjalanan  ke Tumpak Sewu ini. Seru, menyenangkan, dan menantang. Ditambah lagi dengan pemandangan yang indah dan hijau selama perjalanan. Dan tentunya pemandangan air terjun Tumpak Sewu itu sendiri yang megah, indah, dan menakjubkan. Bolehlah kalo diajak kesini lagi…. Tapi tahun depan yaa… ^_^

IMG_2168
Air terjun yang indah dan megah