Search

Here, There, & Everywhere

my travel notes

Category

Foreign

Menemui Baby-Baby Panda yang Menggemaskan di Chengdu Research Base of Giant Panda Breeding

 

DSC01440
Yeaaay… mau ketemu baby panda

Hari ini adalah saatnya bertemu dengan Pandaaaa. Siapa sih yang ga suka sama binatang yang satu ini. Pasti semua orang menyukainya kan. Memang tujuan kami ke Chengdu adalah untuk melihat panda di habitat aslinya. Tempat konservasi panda ini bernama Chengdu Research Base of Giant Panda Breeding. Lokasinya ada di pinggiran kota Chengdu, sekitar 10 km dari pusat kota. Berhubung tarif taxi di Chengdu ini gak mahal-mahal amat maka kami pergi kesana menggunakan taxi supaya cepat sampai.

DSC01447.JPG
Pintu masuk Chengdu Research Base of Giant Panda Breeding

Chengdu Research Base of Giant Panda Breeding ini dibangun semirip mungkin dengan habitat asli Giant Panda supaya mereka mendapatkan lingkungan terbaik untuk tumbuh dan berkembang biak. Tanaman dalam jumlah besar dan sedikitnya sepuluh ribu rumpun bambu telah ditanam untuk menyediakan habitat dan bahan makanan panda-panda yang tinggal disini. Tempat ini mulai buka pada pukul 7.30 s.d. 18.00. Waktu terbaik untuk datang adalah pukul 9.00 s.d. 10.00 yaitu saat mereka sedang makan dan beraktifitas.

DSC01426
Hutan bambu

Setelah sampai kami langsung membeli tiket dan masuk ke dalam. Harga tiketnya adalah CNY 58. Tujuan pertama kami adalah ke tempat baby panda. Kami menaiki shuttle car untuk menuju ke dalam karena lokasi baby panda ini cukup jauh. Naik shuttle car ini bayarnya CNY 10, bisa dipake mondar mandir seharian.

DSC01445
Shuttle car

Sebelum sampai di kandang baby panda kami melewati kandang- kandang panda dewasa. Panda dewasa menempati satu kandang untuk satu panda. Di depan kandangnya ada papan yang berisi biodata si panda beserta fotonya. Jadi di papan tersebut tertulis nama panda, student number, tanggal lahir, jenis kelamin, serta deskripsi sifat dan perilaku si panda. Contohnya Cheng Ji, panda betina yang lahir pada tanggal 11 September 2000. Di papan tertulis bahwa Cheng Ji ini cukup rewel soal kebersihan, dia sering membersihkan diri dan selalu kencing di tempat yang sama. Lucu juga ya, ada panda yang selalu menjaga kebersihan diri. Lalu ada Xi Lan, panda jantan yang lahir pada tangal 31 Agustus 2008. Meski terlihat manis, tapi Xi Lan ini suka milih-milih makanan dan lama kalo makan. Hihihi… mungkin bambu yang mau dimakan dipilihin dulu kali yang segar aja yang mau dia makan.

DSC01379
Panda dewasa

 

DSC01382
Biodata panda

Kemudian tiba lah kami di tempat baby panda. Bayi-bayi panda ini ditempatkan di satu tempat beramai-ramai. Mereka ini cute banget. Menggemaskan deh, pengen nguleng-nguleng rasanya. Beberapa baby panda ada yang sedang tiduran di pohon. Lucu deh, mereka bisa ga jatuh gitu meski pohonnya kecil dan merekanya gendut. Lalu yang lain ada yang lagi bermain bersama, lagi makan, lagi manjat pohon, dan ada pula yang lagi iseng gangguin temennya yang lagi tidur. Hihihi… mungkin maksudnya mau ngajak main bareng. Lihat tingkah polah baby panda ini bikin ketawa. Kami sampe betah nongkrong di depan kandang itu selama satu jam lebih.

20160402_110302
Kandang baby panda

Berhubung hari semakin siang, maka kami harus menyudahi acara nonton baby panda. Kalo diturutin bisa seharian nongkrongin para baby panda yang menggemaskan itu. Oya, disini kita juga bisa mendonasikan uang untuk konservasi panda. Dan menariknya, dengan memberikan donasi sebesar CNY 100 kita diberi souvenir berupa boneka panda yang lucu. Kami bertiga akhirnya membawa pulang masing-masing satu boneka panda. Tempat untuk memberikan donasi ini berada di sebuah bangunan kayu yang terletak di dekat area baby panda.

DSC01393
Tempat untuk memberi donasi

Setelah itu kami menuju area red panda. Tapi sayangnya red panda-nya lagi bobo. Jadi kami tidak berlama-lama disana. Saat naik shuttle car kami melewati bioskop mini. Kami pun turun dan masuk ke Panda Story Cinema ini. Di bioskop ini diputar film dokumentasi giant panda mulai dari lahir sampai dewasa.

DSC01417
Panda Story Cinema

Giant Panda bukan hanya binatang yang merupakan harta kekayaan China, namun binatang ini juga disukai semua orang di dunia. Giant Panda hanya dapat ditemukan di Provinsi Sichuan, Shaanxi and Gansu. Secara total saat ini hanya terdapat kurang dari 2000 ekor, dimana 70 persennya berada di wilayah Provinsi Sichuan. Oleh karena itu, ketika turis domestik China dan luar negeri berkunjung ke Chengdu, Provinsi Sichuan, pasti salah satu tujuan utamanya adalah untuk melihat binatang ini secara langsung. Begitu juga kami ^_^

DSC01371
Lagi bobo di atas pohon
20160402_111442
Bola-bola bulu yang menggemaskan
20160402_112422
Lucuuu banget
DSC01385
Meski gendut tapi mereka bisa nyaman bobo di atas pohon
DSC01433
Ga bisa foto sama baby panda ya udah foto aja sama bonekanya

Tiba di Chengdu dan Menghabiskan Malam Berbelanja di Jinli Street

DSC01313
Gerbang masuk Jinli Street

Pagi ini saya bangun di kereta dan menyadari bahwa perjalanan masih lama. Kereta kami baru akan sampai di Chengdu pada pukul 14.26. Bingung mau ngapain aja. Ada penjual nasi yang menjajakan jualannya sepanjang gerbong pada pagi hari. Jadi syukurlah pagi ini kami tidak kelaparan. Saya menyapa cewek China yang satu kompartemen dengan kami, dan ternyata dia lancar berbahasa Inggris. Akhirnya kami mengobrol dengan dia, namanya Yang Yi Men. Dia adalah mahasiswi yang akan berlibur ke rumah temannya di Chengdu.

Setelah kereta sampai Chengdu kami mengikuti Yang Yi Men menuju stasiun MRT. Lokasi stasiun MRT ini dekat tapi cukup membingungkan bila kita pertama kali kesini, apalagi jalan menuju kesana penuh orang. Kemudian Yang membantu kami untuk membeli tiket di ticketing machine. Setelah semua mendapat tiket kami masuk ke dalam. Lalu Yang berkata akan mengantarkan kami ke hostel, katanya dia khawatir kami tersesat. Woouww baik sekali ya dia. Jadi dia naik kereta bersama kami dan ikut turun di stasiun yang terdekat dari hostel. Dia menggunakan smartphone-nya untuk mencari lokasi hostel kami, yaitu  Chengdu Lazy Bones Backpackers Boutique Hostel. Selama di China, kami memang tidak menggunakan internet selain wifi hostel. Hostel kami sangat dekat dengan stasiun MRT, tak perlu berjalan jauh untuk menemukannya. Setelah sampai kami pun berpisah dengan Yang Yi Men. Terima kasih banyak Yang Yi Men, senang berkenalan denganmu.

DSC01348
Hostel kami di Chengdu

Kami memesan triple room untuk 2 malam. Tarifnya adalah CNY 80 per orang per malam. Setelah mandi kami segera keluar menuju Jinli Street. Jinli street adalah sebuah area yang berbentuk jalan kecil yang di kanan kirinya berdiri rumah-rumah kuno yang sekarang dijadikan pertokoan dan rumah makan. Jalan in terletak di sebelah timur Wuhou Temple. Untuk menuju kesana kami tinggal berjalan kaki sedikit menuju perempatan besar dan naik bus dari sana.

DSC01321
Menyenangkan sekali jalan-jalan disini

Jinli street dulunya adalah area komersial tersibuk pada masa Shu Kingdom (221-263). Oleh karenanya jalan ini juga dinamakan First Street of the Shu Kingdom. Untuk mengembalikan kejayaannya pada masa lampau, jalan ini dan bangunan-bangunan di dalamnya direstorasi dengan kontribusi dari Wuhou Temple dan dibuka untuk umum pada Oktober 2004. Sejak itu pengunjung dari seluruh penjuru China dan luar negeri datang kesana untuk bersantai, mengagumi bangunan-bangunan tradisional yang ada disana, dan menikmati jajanan lokal, serta tentunya berbelanja souvenir.

DSC01339
Saat malam Jinli Street makin cantik karena lampu-lampu yang menyala

 

 

Karena kami belum makan siang, maka kami langsung masuk ke restoran terdekat yang ada di Jinli Street. Restoran ini menjual aneka macam mie dan pangsit. Kami memesan mie kuah dan pangsit kuah. Setelah kenyang, sekarang saatnya berkeliling Jinli Street. Jalan ini sudah tertata dengan rapi dan cantik, berbeda dengan muslim quarter di Xian yang berupa pasar. Bangunan-bangunan tradisional yang mengapit jalan ini merupakan daya tarik tersendiri saat berjalan-jalan disini. Saat malam tiba, lampu-lampu dan lampion mulai menyala sehingga menambah kecantikan jalan ini. Selain toko souvenir, disini juga terdapat banyak restoran, cafe, dan penjual jajanan tradisional. Souvenir yang dijual pun bermacam-macam, mulai gantungan kunci, tempelan kulkas, kaos, pajangan, sampai karya seni dengan harga mahal. Malam itu kami puas berkeliling dan berbelanja di Jinli Street sampai larut malam.

DSC01346
Membeli souvenir untuk oleh-oleh
DSC01322
Kanan kirinya dipenuhi toko-toko

 

 

Melihat Sakura di Qinglong Temple dan Menikmati Sunset di Atas Xi’an City Wall

DSC01176
South Gate

Hari ini adalah hari terakhir kami di kota Xi’an. Nanti malam kami akan berangkat ke Chengdu menaiki kereta. Tujuan kami hari ini adalah melihat bunga sakura yang sedang mekar. Memang ada pohon sakura di China? Ada dong…. yaitu di Qinglong Temple, Xian. Qinglong Temple dikenal juga dengan nama Green Dragon Temple yang terletak di sebelah tenggara kota Xian. Lokasinya searah dengan Big Wild Goose Pagoda, dapat dicapai dengan menaiki bus. Kuil ini adalah kuil Budha yang terkenal dengan arsitektur kunonya.

DSC01028
Cherry Blossom

Di halaman kuil ini ditanam sekitar seribu pohon sakura sehingga saat musim semi halaman kuil ini dipenuhi bunga sakura. Menurut prakiraan, hari ini adalah puncak mekarnya bunga sakura, jadi saya sengaja menjadwalkan untuk mengunjungi kuil ini pada hari terakhir kami di Xi’an.

DSC01136
Taman di Qinglong Temple

Hari itu pengunjung kuil ini sangat ramai. Begitu memasuki halaman kuil terlihatlah bunga sakura memenuhi seluruh halaman. Indah sekali… Memang benar prakiraannya, bunga sakura sudah mekar seluruhnya hari ini. Sebagian besar bunga sakura berwarna  merah muda, namun ada juga sebagian yang berwarna putih. Ini adalah pertama kalinya saya melihat bunga sakura. Di salah satu papan yang saya baca di halaman kuil tertulis bahwa Sakura dikirim ke Qinglong Temple oleh Japanese Shikoku Four Counties pada tanggal 5 April 1985.

DSC01043
Pertama kali saya melihat sakura ya disini

Setelah menikmati keindahan sakura kami kembali ke pusat kota dengan menaiki bus. Tujuan kami berikutnya adalah Xi’an City Wall. Dari Drum Tower kami naik bajaj ke South Gate City Wall. Kali ini sopir bajaj-nya nenek tua. Wah… nenek-nenek bisa juga ya jadi sopir bajaj. Meskipun sopirnya nenek tapi cara nyetirnya ga kalah dong sama sopir bajaj kemarin malam. Ngebut, ngepot, sepanjang jalan bunyiin klakson supaya orang-orang minggir. Haduuhh… sport jantung lagi deh.

DSC01160
Nenek sopir bajaj

Xi’an City Wall adalah tembok kota dengan kondisi yang paling utuh yang bertahan di China. Tembok ini adalah salah satu sistem pertahanan militer kuno terbesar di dunia. Xi’an City Wall memiliki ukuran tinggi 12 meter, lebar 12-14 meter di bagian atas dan 15-18 meter di bagian bawah. Panjangnya mencapai 13,7 km dengan parit disekelilingnya. Di setiap 120 meter terdapat benteng yang menjorok keluar dari tembok utama. Keseluruhan terdapat 98 benteng di city wall yang dibangun untuk menyerang musuh yang memanjat tembok.

DSC01208
Di atas Xi’an City Wall

Tembok kota ini memiliki 4 gerbang yang diberi nama Changle (eternal joy) di sisi timur, Anding (harmony peace) di barat, Yongning (eternal peace) di selatan dan Anyuan (forever harmony) di utara. Kami masuk melalui gerbang selatan (Yongning) yang lokasinya paing dekat dengan Bell Tower. South gate adalah gerbang yang didekorasi paling baik di antara gerbang-gerbang yang lain.

DSC01184

Tiket masuk ke City Wall adalah CNY 54 per orang. Kami naik ke atas tembok saat hari sudah sore. Sepertinya sore hari adalah saat yang paling tepat untuk berkunjung ke city wall karena cuaca sudah teduh jadi nyaman untuk berlama-lama di atas. Disini terdapat persewaan sepeda untuk berkeliling sepanjang tembok. Harga sewanya adalah CNY 45 per 2 jam untuk sepeda single. Sedangkan untuk sepeda tandem harga sewanya CNY 90 per 2 jam. Kami tidak menyewa sepeda karena sudah lelah dan hanya ingin duduk dan menikmati suasana dan pemandangan di atas tembok. Selain bisa berkeliling dengan sepeda, pengunjung juga bisa menaiki battery car untuk mengelilingi city wall. Tarif per orang untuk satu putaran penuh adalah CNY 80 dengan rute South Gate – West Gate – North Gate – East Gate. Sedangkan untuk tarif antar gate hanya CNY 20 per orang.

DSC01226copy
Menikmati matahari terbenam di atas tembok kota

 

Kami berada di atas tembok sampai matahari terbenam dan lampu-lampu kota menyala. Saat kami turun, di bawah sedang ada persiapan pertunjukan. Di South Gate, pada jam-jam tertentu diadakan art performance. Sayangnya kami tidak bisa melihat pertunjukan itu karena malam ini kami harus berangkat ke Chengdu naik kereta. Kami segera kembali ke hostel mengambil koper dan berangkat menuju stasiun kereta.

DSC01264
Art performance di South Gate

 

DSC01273copy
Terowongan gerbang

Pada tahun 2016 saat saya melakukan perjalanan ini, belum ada kereta cepat/ bullet train dari Xi’an ke Chengdu. Oleh karena itu kami harus menaiki kereta biasa dengan lama perjalanan 16 jam. Jadwal keberangkatan kereta kami adalah pukul 22.12. Sesampainya di stasiun kami masuk ke ruang tunggu kemudian membeli snack di supermarket untuk bekal selama di kereta. Mengingat perjalanan yang cukup lama yaitu 16 jam, sepertinya hiburan satu-satunya adalah ngemil sepanjang waktu. Mulai Desember 2017 sudah ada bullet train yang melayani rute Xi’an-Chengdu, jadi kalian bisa menaikinya supaya menghemat waktu. Sebaiknya kita memesan tiket kereta secara online dari situs reservasi seperti ctrip, travelchinaguide, chinahighlights, dll. Hal ini untuk menghindari kehabisan tiket jika kita membeli langsung di stasiun. Jika sampai kehabisan tiket maka akan merusak jadwal perjalanan kita yang padat. Saya memesan melalui situs ctrip. Untuk memesan melalui situs-situs ini ada booking fee nya. Saat itu booking fee dari situs ctrip adalah CNY 30 per tiket.

Pukul 21.30 kami dipersilakan masuk ke dalam kereta. Kami memesan tiket soft sleeper dengan harga CNY 315. Ada tiga jenis tempat duduk di kereta ini: soft sleeper, hard sleeper, dan hard seat. Tempat duduk yang paling mahal adalah soft sleeper karena yang paling nyaman, bentuknya kompartemen (kamar) yang berisi 4 tempat tidur (2 susun). Sedangkan hard sleeper tidak berbentuk kompartemen, pembatas antara tempat tidur dalam satu gerbong hanya berupa papan tipis. Bed nya susun 3 dan tidak seempuk soft sleeper.

DSC01276
Kompartemen kami

Selain kami bertiga, ada satu lagi penumpang yang satu kompartemen dengan kami, Penumpang ini adalah cewek China yang tempat tidurnya di tempat tidur atas. Dia hanya menaruh tas kemudian keluar dan duduk di lorong. Di depan pintu setiap kompartemen ada tempat duduk lipat untuk satu orang. Awalnya saya mengira dia tidak bisa bahasa Inggris seperti kebanyakan orang China lainnya jadi kami pun tidak mengajaknya bicara. Malam semakin larut, cewek China tadi naik ke tempat tidurnya dan begitu juga kami.

DSC01278
Lorong kereta

 

DSC01242copy
Last day in Xi’an

 

Terracotta Warriors, Pasukan Pelindung Kaisar Qin di Alam Baka

DSC00908
Berfoto bersama Terracotta Warriors

Hari kedua di Xi’an adalah inti dari tujuan perjalanan saya ke China kali ini yaitu melihat Terracotta Army. Terracotta Army atau Terracotta Warriors and Horses adalah kumpulan koleksi dari 8.099 patung terakota atau tanah liat berbentuk tokoh prajurit dan kuda dengan ukuran asli yang terletak di dekat makam dari Kaisar pertama dinasti Qin ,Qin Shi Huang. Tokoh prajurit itu ditemukan pada tahun 1974 di Lintong District, Xi’an, Provinsi Shaanxi oleh para petani lokal. Terakota dibangun tahun 210 SM–209 SM sebagai bentuk seni pemakaman dengan maksud untuk melindungi Kaisar Qin pada kehidupan sesudah kematian.

Untuk menuju lokasi Museum of Qin Terracotta Warriors and Horses kami naik tourist bus no 5 (306) dari Xi’an Railway Station. Tarif bus ini adalah CNY 7 per orang dengan waktu tempuh 1 jam. Sebelum sampai di Terracotta Warriors kami mampir dulu ke Huaqing Palace yang terletak sekitar 30 km dari Kota Xian. Huaqing Palace Scenic Area meliputi Imperial Pools dari zaman Dinasty Tang (618 – 907), Pear Garden, Frost Flying Hall, Nine-Dragon Lake, Five-Room Building and Mount Li. Huaqing Palace ini terkenal dengan kisah cinta romantis antara Kaisar Xuanzong dan selirnya, Yang Yuhuan. Tiket masuk ke Huaqing Palace adalah CNY 150.

DSC00873
Patung Kaisar Xuanzong dan selirnya, Yang Yuhuan

Di dalam Huaqing Palace terdapat lima hot springs: Lotus Pool, Haitang Pool, Star Pool, Shangshi Pool, and the Prince Pool. Lotus Pool adalah kolam pribadi Kaisar Xuanzong yang terlihat menyerupai teratai. Haitang Pool, yang juga dinamakan Guifei Pool, adalah kolam untuk Yang Yuhuan. Star Pool adalah kolam tanpa atap sehingga bisa melihat bintang-bintang saat mandi malam hari. Shangshi Pool adalah kolam untuk para pejabat, dan Prince Pool, yang tentu saja adalah kolam untuk pangeran.

DSC00797
Huaqing Palace

Setelah mengelilingi Huaqing Palace kami meneruskan perjalanan menuju Museum of Qin Terracotta Warriors and Horses. Sebelum memasuki museum kami makan siang dulu di KFC yang ada di luar museum. Tiket masuk museum ini adalah CNY 150. Terracotta Wariors dibuat atas perintah Kaisar Qin dengan tujuan sebagai pasukan yang menjaga dan melayaninya pada kehidupan setelah kematian. Pembuatan patung-patung ini menghabiskan waktu sekitar 40 tahun yang dilakukan oleh lebih dari 700.000 pematung dan pekerja. Setiap patung terakota ini berbeda wajah, ekspresi muka, tata rambut, pakaian, dan sikap tubuh anatara satu patung dengan yang lainnya. Luar biasa ya…

DSC00881
Prajurit dan kuda perangnya

 

Museum ini berisi 3 pit dan 1 exhibition hall yaitu Pit 1, Pit 2, Pit 3, dan The Exhibition Hall of the Bronze Chariots. Pit-pit ini terletak menghadap timur menuju musuh lama pemerintahan Qin, dengan Pit 1 di sayap kanan dan Pit 2 di sayap kiri serta Pit 3 di belakang sebagai pusat komando.

DSC00922
Pit 1

Pit 1 adalah pit yang terbesar dengan panjang 230 meter dan lebar 62 meter, seukuran hangar pesawat terbang. Di Pit 1 dipercaya terdapat lebih dari 6000 patung tentara dan kuda, tapi hanya kurang dari 2.000 patung yang sudah dipamerkan. Semua tentara dan kuda menghadap ke arah timur dalam barisan persegi panjang. Pasukan garda depan adalah pasukan infanteri yang berada di tiga baris paling timur. Tepat dibelakangnya adalah pasukan utama yang memegang senjata diikuti oleh 38 kereta tempur.

DSC00876
Pit 2

Pit 2 berukuran setengah dari ukuran Pit 1 dengan panjang 94 meter dan lebar 84 meter. Pit ini berisi 4 unit. Unit pertama adalah barisan pasukan pemanah yang berlutut dan berdiri. Unit kedua adalah kesatuan kereta tempur. Unit ketiga adalah gabungan pasukan infanteri, kereta tempur dan pasukan berkuda yang membentuk barisan persegi panjang. Yang terakhir, unit keempat meliputi pasukan berkuda yang membawa senjata dengan jumlah yang sangat banyak. Pit 2 ditemukan pada tahun 1976 bersamaan dengan Pit 3.

DSC00888
Pit 3

Pit 3 berukuran panjang 28,8 meter dan lebar 24,57 meter. Investigasi menunjukkan bahwa Pit 3 pernah dihancurkan pada masa lampau. Hanya 68 tentara, 1 kereta tempur, dan 34 senjata yang telah digali dari pit ini. Pit 3 adalah pusat komando untuk Pit 1 dan Pit 2 karena figure yang ada di Pit 3 semuanya adalah pejabat.

DSC00945
Patung-patung yang ada di Pit 1

The Exhibition of Bronze Chariots

Dua kereta perunggu yang dipamerkan disini ditemukan sekitar 20 meter dari sisi barat makam Kaisar Qin Shi Huang pada Desember 1980. Masing-masing kereta memiliki sekitar 3.400 bagian dan ditarik oleh 4 kuda.  Ukuran kereta ini adalah panjang 3,17 meter dan tinggi 1,06 meter. Sedangkan kuda perunggunya bervariasi ukuran tingginya mulai dari 65 cm sampai dengan 67 cm, dan panjang 120 cm. Setiap kereta memiliki berat total 1.234 kg. Kedua kereta ini terbuat dari perunggu, tapi ada 1.720 ornamen emas dan perak dengan berat 7 kg di setiap kereta.

DSC00874
The Bronze Chariots

Pada Desember tahun 1987 makam Kaisar Qin dan Terracotta Army ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO. Sampai saat ini para arkeolog masih bekerja di area museum ini untuk merestorasi patung-patung yang tersisa.

DSC00879
Arkeolog yang sedang merestorasi patung teracotta

 

Setelah mengeksplor museum ini kami kembali ke kota Xi’an dengan menaiki bus. Sesampainya di Xi’an, kami menuju Big Wild Goose Pagoda North Square untuk melihat musical fontain yang katanya terbesar se-Asia. Jadwal musical fontain show ini adalah pukul 12.00 dan 20.30. Berhubung waktu kami datang sudah mepet dengan mulainya show maka seluruh tempat yang viewnya bagus sudah penuh. Untuk melihat musical fontain ini tidak dipungut biaya alias gratis. Tapi ada tempat duduk khusus yang dijual tiketnya. Tempat ini adalah yang paling bagus posisinya untuk melihat show. Sayangnya tiket tempat duduk ini juga sudah habis terjual saat itu. Akhirnya kami menonton dengan posisi yang kurang enak deh.

274---big-wild-goose-pagoda-northern-square-9508
Musical Fontain Water Show – foto diambil dari google

Malam ini kami mengunjungi Muslim Quarter lagi untuk membeli makan malam. Saya makan mie bayam lagi (emang enak sih mie ini). Lalu tidak lupa membeli sate cumi yang paling lezat itu. Selain itu saya mencoba jajanan yang berupa kripik kentang ditusuk sate dan kue apel. Rasanya menyenangkan sekali berada di negara lain tapi tidak perlu khawatir tentang ke-halal-an makanannya.

DSC01004
Jajan lagi di Muslim Quarter

Setelah kenyang kami pulang menuju hostel. Berhubung sudah lelah, kami memutuskan untuk naik bajaj yang mangkal di dekat Drum Tower. Setelah menyepakati harganya (saya lupa berapa) kami naik bertiga di bajaj itu. Dan itu menjadi pengalaman yang tidak terlupakan buat kami. Jika ingin merasakan gimana rasanya ketakutan sambil tertawa terpingkal-pingkal naiklah bajaj di Xian. Bajaj ini jalannya ngebut dan lincah sekali, ngepot kesana kemari sehingga kami dibuat terguncang-guncang di dalamnya. Bajaj ini juga hampir menyerempet beberapa orang dan kendaraan lain. Pokoknya cara menyetir tukang bajaj ini bikin kami tercengang dan sport jantung sampai tertawa terpingkal-pingkal. Tapi alhamdulillah kami sampai di hostel dengan selamat.

DSC01018
Ini dia sopir bajaj yang nyetirnya gila-gilaan

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Nicoline's Journal

by Nicoline Patricia Malina

Alid Abdul

Travel till you die!

Harival Zayuka

Just another WordPress.com site

My Sanctuary

my travel notes

Claraberkelana.com

Travel Stories

The Traveling Cows

my travel notes