Search

Here, There, & Everywhere

my travel notes

Category

Domestic

Pagi yang Indah di Ranu Kumbolo

IMG-20180808-WA0089
Sunrise

Pagi yang kami nantikan akhirnya datang juga. Saat saya keluar dari tenda, langit masih gelap, tapi sinar matahari sudah mengintip di antara dua bukit di seberang Ranu Kumbolo. Kami segera keluar dan menuju tepi danau untuk menikmati momen sunrise ini. Bersyukur sekali akhirnya saya bisa sampai di danau yang indah ini dan melihat matahari terbit.

IMG_1090
Danaunya berkilauan tertimpa sinar matahari
IMG_1085
Tanjakan Cinta

Setelah itu kami berpindah lokasi ke arah tanjakan cinta yang berada di belakang tenda kami. Disini kita bisa melihat pemandangan Ranu Kumbolo dan tenda2 yang memenuhi camping ground. Kemudian kami mendaki tanjakan cinta menuju Oro Oro Ombo. Tanjakan cinta ini terkenal dengan mitosnya yang katanya sih barang siapa yang bisa mendaki tanjakan ini tanpa menoleh ke belakang maka dia akan menemukan cintanya. Yang pasti sih memang sulit untuk tidak menoleh ke belakang saat mendaki tanjakan ini. Kenapa? Karena dalam kondisi lelah mendaki tentunya kita ingin berhenti sebentar dan melihat pemandangan indah yang ada di belakang kita.

DSC08880
View dari atas
IMG_1072Rakum
Diantara Ranu Kumbolo dan Oro-Oro Ombo

Sesampainya di atas kita akan melihat padang savana yang luas. Ini adalah Oro Oro Ombo. Saat itu Oro Oro Ombo dalam keadaan kering karena musim kemarau. Tapi pada saat musim hujan padang rumput ini akan dipenuhi tanaman Verbena Brasiliensis, tanaman invasif dari Amerika Selatan yang bunganya berwarna ungu seperti lavender. Pada saat itu Oro-oro Ombo akan terlihat indah dengan hamparan bunga berwarna ungu tersebut. Tapi meski indah, keindahan tanaman ini tidak berarti baik bagi Semeru karena ada ancaman ekologis di balik keindahan itu. Saya jadi penasaran pengen kesini lagi waktu Verbena-nya berbunga.

IMG_1029Rakum
Oro-Oro Ombo

Setelah puas kami kembali ke tenda. Lalu saya mengajak Grandis ke sisi kanan danau, pengen foto di atas batang pohon tumbang kayak orang2 itu. Akhirnya nemu juga lokasinya, ini dia fotonya…

IMG_1105-01
Beautiful morning

Saat kami kembali ke tenda, teman2 yang lain sudah mulai memasak sarapan. Mereka menggoreng sosis dan nugget, serta menyeduh mie instant. Hmm… udah laper banget ini. Nikmatnya makan bersama sambil memandang Ranu Kumbolo.

Matahari telah bersinar terik, setelah selesai sarapan kami segera membereskan tenda dan barang bawaan. Sampah2 harus dibawa kembali dengan karung yang sudah diberikan kepada pendaki di pos pendaftaran. Jangan sampai lupa ya, nanti bakal disuruh balik lagi ke Rakum kalo kita ga bawa balik sampahnya. Saat itu sudah pukul 10 lewat, perjalanan pulang masih panjang, tetapi hati senang karena sudah berhasil mencapai Ranukumbolo. Semoga next time bisa sampai puncak Mahameru ya…

IMG_1180
Foto full team sebelum pulang
IMG_8935
Perjalanan pulang
IMG_8911
TNBTS ini indah banget

Sampai Juga di Ranu Kumbolo

IMG_0852Rakum
Ranu Kumbolo

Akhirnya… setelah berusia setua ini saya bisa sampai juga di Ranu Kumbolo. Hehehe… Sebenernya ini agak memalukan sih, karena saya ini orang Jawa Timur yang dari lahir sampai besar ya tinggal di Jatim. Mungkin karena gaulnya bukan sama anak gunung ya, jadi ga ada yang ngajakin kesitu. Udah lama sih berangan2 ke Ranu Kumbolo, nyari-nyari temen yang mau ikutan, dapet sih, tapi ga ada realisasi juga. Lagi-lagi karena ga ada yang punya pengalaman naik gunung, jadi bingung kesananya naik apa dan gimana2nya nanti disana. Padahal emang niatnya cuma ke Ranu Kumbolo aja, ga sampe summit. Saya sadar diri lah sama kemampuan, jadi untuk pertama kali mending sampe Rakum aja.

Pada bulan Agustus 2018 ajakan buat camping di Rakum akhirnya datang juga. Grandis yang udah saya pesenin (pokoknya kalo ke Rakum harus ajak aku!!!), mengajak saya ke Rakum bareng adik dan teman2nya. Tentu saja saya mau dong meski ga ada yang kenal dari rombongan itu. Perencanaan trip kali ini semua dilakukan oleh mereka, saya tinggal ikut dan bayar patungannya aja.

Jumat jam 8 malam saya berangkat ke Terminal Bungurasih. Udah janjian sama Grandis dan temen2nya yang rombongan Surabaya untuk berangkat jam 9 dari Bungurasih ke Malang. Singkat cerita kami sampai di Malang dan menginap semalam di rumah salah satu teman pendakian kita. Dini hari pukul 3 kami berangkat naik angkot yang udah disewa untuk membawa kami menuju Desa Tumpang. Di Tumpang kami berhenti di rumah pemilik jeep yang akan kami sewa untuk mengantar kami ke Ranu Pani. Kami disuguhi sarapan disini, jadi sewa jeepnya ini include sarapan gitu. Pukul 6 pagi kami berangkat naik jeep menuju Ranu Pani dengan total rombongan 11 orang. Oya jeep-nya ini belakangnya terbuka dan tempat duduknya dilipat supaya bisa muat banyak. Jadi yang di belakang berdiri semua, seru deh…

20180804_063009
View yang kami lihat di perjalanan

Perjalanan menuju Ranu Pani menghabiskan waktu hampir 1 jam. Pemandangannya sangat indah, gunung Bromo dan lautan pasir terlihat dari jalan yang kami lalui. Sekitar jam 7 kami sampai di Ranu Pani. Dinginnya luar biasa saat itu. Dan yang menakjubkan adalah kami disambut hamparan rumput dan daun2 yang membeku. Yes… it’s frosting in Ranu Pani.

20180804_071550
Ranu Pani

Gara2 frosting ini kami jadi foto2 dulu deh di hamparan rumput  yang membeku. Dingin banget saat itu, padahal matahari sudah bersinar cerah. Jadi kepikiran gimana dinginnya nanti malam di Ranu Kumbolo yang lokasinya jauh lebih tinggi dari Ranu Pani.

IMG-20180804-WA0000
Frosting in Ranu Pani

20180804_084610

Setelah itu kami berjalan menuju pos pendaftaran. Oya untuk naik ke Semeru kita harus daftar online dulu ya lewat web resminya Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Ini harus ya karena ada batasan kuota pendaki untuk mendaki Semeru. Selain itu jangan lupa juga untuk bawa dokumen pendaftaran dan print out bukti pembayaran kalian. Kami sempat kerepotan karena tidak membawa print out bukti transfer karena petugas meminta print out dalam bentuk kertas. Jadi kami harus cari tempat ngeprint dulu di desa.

20180805_164018
Pos Pendaftaran

Setelah proses pendaftaran selesai, kami harus mengikuti briefing dulu sebelum mulai mendaki. Saat briefing kami diberi penjelasan tentang aturan2 yang harus kita patuhi selama mendaki. Point2 yang harus diingat adalah pendaki dilarang memasukkan anggota badan ke dalam danau, dilarang membuat api unggun, dan dilarang membawa tissue basah, jadi semua tissue basah yang terlanjur dibawa bisa dititipkan dulu di petugas.

Setelah briefing mulailah kami berjalan menuju gapura masuk pendakian. Kami tidak menggunakan guide dan porter karena sudah ada beberapa teman yang sudah berpengalaman ke Ranu Kumbolo. Ya lagipula kami memang ingin mengirit biaya. Katanya sih perjalanan sampai camping ground di Ranu Kumbolo menghabiskan waktu 4-5 jam. Kami baru start pukul 11 siang karena urusan print out bukti transfer tadi yang cukup menyita waktu.

20180804_105537
Semangat!!! Ranu Kumbolo…  kami datang

Tidak lama berjalan dari gapura jalan sudah menanjak. Menanjaknya lumayan nih hampir 45 derajat. Nafas saya udah hampir habis. Tapi untungnya ga lama sih jalan nanjaknya. Setelah itu jalan landai sampai Pos 1. Kami menghabiskan waktu satu jam untuk mencapai Pos 1. Di Pos 1 ini masih ada signal internet, jadi kalo mau memberi kabar ke orang tua, suami/istri, pacar, temen, atau gebetan segera lakukan di Pos 1. Setelah itu dipastikan sudah tidak ada signal internet dan telepon. Kami beristirahat sambil makan gorengan dan semangka. Nikmat sekali.

IMG_0697Rakum
Meski lelah tapi tetap senyum kalo ada kamera
20180804_130652
Pos 2

Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Pos 2. Jarak antara Pos 1 dan Pos 2 ga terlalu jauh, jadi ga terlalu capek lah. Tapi tetep aja kami istirahat dulu di Pos 2 dan makan semangka lagi dong.

Setelah beristirahat sebentar kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 3. Jarak antara Pos 2 dan Pos 3 ini lumayan jauh. Di jalan kami melewati Watu Rejeng, tebing terjal yang berdiri tegak lurus. Lokasi ini berada pada ketinggian 2350 mdpl.

20180805_133641
Watu Rejeng

 

 

Kemudian kami melihat sebuah jembatan berwarna merah di depan kami. Jembatan ini cukup terkenal dengan cerita mistisnya. Saat itu kabut tebal menutupi area di sekitar jembatan. Tapi karena kami melewatinya pada siang hari dan beramai-ramai jadi ya alhamdulillah aman-aman saja.

 

 

 

20180804_140817
Jembatan Merah

Setelah berjalan lagi beberapa menit, sampailah kami di Pos 3. Waktunya makan semangka lagi nih…

20180805_124011
Abis istirahat langsung melewati ini

Perjalanan menuju Pos 4 diawali dengan undakan tanah yang lumayan menguras energi untuk seorang amatir seperti saya. Kalo dilihat di foto samping ini sih kayaknya landai ya. Tapi foto itu sungguh menipu, apalagi naiknya sambil bawa keril. Untung tadi udah istirahat dan makan semangka. Satu demi satu undakan saya naiki dengan tabah. Semangat!!! Rasanya lega setelah undakan ini berakhir, jalan sudah landai lagi.

Setelah berjalan beberapa menit kemudian, kabut pun mulai turun membuat suasana mistis menjadi terasa. Untung masih siang kan ya.

 

IMG_0722Rakum
Kabut menyelimuti

Kemudian mulailah terlihat Ranu Kumbolo yang indah itu. Hmmm senangnya… rasa lelah terasa berkurang. Sekarang kami berjalan mengitari danau karena camping ground yang kami tuju berada di seberang danau.

IMG_0821Rakum
Udah terlihat danaunya

Meski makin semangat jalannya tapi sekarang jadi makin lama juga perjalanan kami karena sebentar2 berhenti buat foto. Sayang banget lah kalo sampai melewatkan buat foto2 disini. Lihat aja foto2 di bawah ini…

IMG_0850Rakum
Indah dan tenang ya
IMG_0865Rakum
Matahari sudah di ufuk barat
IMG_0875Rakum
Menanti teman seperjalanan
20180805_114729
Semangka terenak yang pernah kumakan

Lalu sampailah kami di Pos 4 yang memiliki view Ranu Kumbolo. Makan semangka lagi lah kami sambil melihat pemandangan yang indah. Nikmat banget makan semangka yang dijual di tiap pos ini, rasanya manis, segar, dan dingin serasa baru keluar dari kulkas.

Nah perjalanan tinggal sebentar lagi, camping ground sudah terlihat jelas dari sini. Matahari sudah berada di ufuk barat jadi kami segera melanjutkan perjalanan  sebelum hari gelap. Setelah berjalan mengitari danau kami sampai di sebuah tanah lapang yang berada di tepi danau. Tapi ini bukan camping ground yang kami tuju, meski ada beberapa pendaki yang mendirikan tenda disini.

20180805_112252
Beberapa pendaki mendirikan tenda disini

Kami berjalan lagi menaiki bukit, lokasi camping ground yang kami tuju ada di balik bukit. Setelah menaiki bukit, jalanan menurun lagi dan sampailah kami di Ranu Kumbolo. Masya Allah indahnya…

20180804_163418
Alhamdulillah sampai juga

Ranu Kumbolo ini berada di ketinggian kurang lebih 2400 mdpl. Senangnya saya akhirnya sampai juga di danau ini. Beberapa teman saya yang sudah sampai duluan sudah memilih lokasi untuk mendirikan tenda. Saat itu camping ground sudah penuh dengan tenda karena kami sampai disana sudah pukul 5 sore. Jadi waktu tempuh kami dari gapura masuk sampai di camping ground adalah 6 jam. Hahaha… dasar amatiran, kebanyakan berhenti istirahat dan foto2 sih. Kami memilih lokasi di bagian belakang, disana masih cukup lenggang, meski jauh dari tepi danau.

20180804_163304
Camping ground

Sementara para laki-laki memasang tenda (inilah enaknya kalo camping sama cowok2, tenda biar jadi urusan mereka), kami yang perempuan pergi mengambil air di danau. Peraturan terpenting yang harus kita ingat disini adalah dilarang memasukkan anggota tubuh kita ke dalam danau. Air danau ini digunakan pendaki untuk minum dan memasak jadi kita harus sama2 menjaga kebersihannya.

DSC08868 (2)
Tenda kami

Oya kabar gembiranya, sekarang di Ranu Kumbolo ada toilet umum. Jadi ga ada masalah lah kalo kebelet. Toilet ini bayarnya Rp5000 per orang, airnya banyak melimpah. Tapi ga boleh mandi disini, dan kupikir kan juga ga bakal ada yang mau mandi dengan suhu udara dan air sedingin es itu ya. Ternyata besoknya saya lihat ada lho yang mandi dan keramas pula. Luar biasaaa…

Oya di dekat toilet ini ada api unggun yang dinyalakan oleh ranger. Para pendaki dilarang untuk menyalakan api unggun, jadi kalo mau mencari kehangatan bisa mendekati api unggun ini. Malam pun tiba, kami mulai menyalakan kompor dan memasak mie instant. Saya semangat masak dengan modus supaya bisa menghangatkan diri deket api. Sumpah dingin banget malam itu. Setelah mie instant sudah jadi semua kami makan bersama2 sambil ngobrol. Tapi kami tidak tahan berada terlalu lama di luar, jadi selesai makan dan minum kopi/susu hangat kami segera masuk ke dalam tenda dan bersiap2 tidur. Dan dimulailah malam yang menyiksa itu….

DSC08873
Menjelang malam di Ranu Kumbolo

Saya pikir saya bakal tidur nyenyak malam itu karena kondisi badan yang lelah, tapi ternyata saya salah besar. Saya luar biasa kedinginan, padahal baju udah dilapisi long john, pake jaket, kaos kaki, kaos tangan dan syall, serta berada di dalam sleeping bag. Oya sleeping bag ini juga hukumnya wajib ya buat dibawa ke Semeru. Malam jadi terasa panjang, saya ga bisa tidur nyenyak, tengah malem kebangun trus susah tidur lagi. Jadi nyesel ga bawa obat tidur waktu itu. Dinginnya luar biasa sampai wajah saya juga saya tutupi syall, trus abis itu bingung gimana nafasnya. Hmmm….

 

 

 

Trekking Seru ke Air Terjun Tumpak Sewu

IMG_2186
Air Terjun Tumpak Sewu

Sudah lama saya penasaran dengan air terjun Tumpak Sewu sejak mulai terkenal di tahun 2015 lalu. Akses jalan menuju air terjun ini memang baru dibuka pada tahun 2015. Berdasarkan informasi yang saya baca di internet jalan menuju air terjun cukup sulit untuk dilalui, oleh karena itu saya masih menunggu siapa tau nanti akan ada perbaikan akses menuju air terjun ini sehingga menjadi mudah untuk dilalui.

Akhirnya pada akhir november kemarin ada ajakan dari teman-teman saya untuk berwisata ke Tumpak Sewu. Tentu saja saya langsung bersedia, kebetulan weekend itu memang jadwal saya pulang ke Surabaya. Tapi yang jadi masalah adalah saya harus mengajak anak saya kesana. Oleh karena itu sebelum berangkat saya mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai medan yang harus dilalui untuk menuju air terjun ini.  Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari internet medannya cukup sulit dan sepertinya tidak ada anak-anak yang pernah sampai ke dasar air terjun. Akhirnya di sebuah blog saya menemukan nomor telepon seorang guide yang juga pengelola wisata air terjun Tumpak Sewu. Menurut bapak guide yang bernama Pak Yanto, jalur menuju dasar air terjun tidaklah sulit dan berbahaya. Saya juga bertanya ke Pak Yanto apakah anak kecil bisa ikut turun dan jawabannya adalah bisa asal didampingi guide. Sejak awal saya memang ingin menggunakan jasa guide supaya aman dan tentram hati ini *Eeaaa….

Karena jarak dari Surabaya menuju Lumajang cukup jauh, kami memutuskan untuk mengunjungi Tumpak Sewu pada Minggu pagi. Jadi kami berangkat dari Surabaya Sabtu pagi menuju pantai selatan Malang dulu baru sorenya kami lanjutkan perjalanan menuju Lumajang. Lokasi Tumpak Sewu ini memang berada di perbatasan Kabupaten Malang dan Lumajang. Air terjun ini bisa diakses dari dua kabupaten, dari sisi Malang melalui Desa Sidorenggo dan dari sisi Lumajang melalui Desa Sidomulyo. Kami memilih akses dari Desa Sidomulyo, Kec Pronojiwo karena disini ada spot panorama untuk melihat air terjun dari ketinggian. Jadi seandainya cuaca buruk dan kami tidak bisa turun kami masih bisa menikmati keindahan air terjun ini dari spot panorama. Pada musim hujan seperti sekarang jika ingin turun ke air terjun lebih baik pada pagi hari karena cuaca pagi biasanya cerah, belum turun hujan.

Jalan menuju Tumpak Sewu dari arah Malang adalah melewati rute Bululawang – Dampit – Tirtomoyo – Pronojiwo. Dari perbatasan Malang-Lumajang sekitar 500 meter sampailah kita di Desa Sidomulyo, Kecamatan Pronojiwo, di sebelah kanan jalan kita akan melihat papan tanda masuk obyek wisata Air Terjun Tumpak Sewu. Sesampainya di tempat parkir, Pak Yanto sudah menyambut. Kami akan menginap di homestay miliknya malam ini. Harga homestay nya adalah Rp50 ribu per orang. Murah dan praktis kan. Besok paginya kita tinggal berjalan kaki menuju air terjun.

DSC06823
Pintu masuk

Keesokan paginya setelah sarapan kami berangkat ke air terjun pukul 07.30. Harga tiket masuk per orang adalah Rp10 ribu. Kami melewati kebun salak sebelum mencapai spot panorama. Jarak dari pintu masuk ke spot panorama ini sekitar 400 meter, jalannya sudah disemen jadi mudah dilalui oleh siapa saja.

DSC06824
Rendra di kebun salak

Di spot panorama kita bisa melihat megahnya air terjun raksasa ini dari ketinggian. Saat kami baru tiba disana tiba-tiba kabut naik dari bawah, wah jadi tertutup kabut nih air terjunnya. Tapi Pak Yanto bilang tidak usah khawatir, tunggu saja 5 menit nanti kabutnya hilang. Dan memang benar tidak lama kemudian kabut hilang dan kami pun mulai berfoto disana. Saat kami berfoto muncul pelangi yang terlihat di depan air terjun, awalnya pelanginya masih pendek dan tidak jelas, lama kelamaan pelanginya makin panjang dan jelas. Indah sekali… Melihat air terjun raksasa ini saja sudah indah apalagi ditambah pelangi yang menghiasinya.

IMG_1957
Pelangi di air terjun

Setelah menghabiskan waktu cukup lama di spot panorama kami memulai perjalanan turun ke dasar air terjun. Pagi ini cuaca cerah jadi kami bisa turun, tapi tadi malam hujan deras sehingga jalan yang harus kami lalui menjadi licin. Kami menuruni tangga bambu yang cukup panjang. Sebenarnya tidak sulit jika tangga bambunya masih bagus dan lengkap. Yang menjadi masalah adalah tangga ini sudah banyak yang rusak. Banyak anak tangga yang hilang, kadang ada dua anak tangga yang hilang sekaligus jadi kami harus duduk dulu dan menggapai anak tangga berikutnya. Kami yang perempuan-perempuan cukup kesulitan melewati tangga ini, tapi Pak Yanto dengan mudah dan cepat melewatinya sambil menggendong anak saya. Yup… anak saya sebagian besar digendong dalam perjalanan ini kecuali saat jalannya datar dia berjalan sendiri. Saat musim hujan seperti sekarang kita harus ekstra hati-hati karena jalurnya licin.

IMG_2025
Menuruni tangga bambu
IMG_1996
Tangganya sudah banyak yang rusak

 

Selain tangga bambu kami juga harus melewati tebing yang dialiri air. Yang pertama hanya menyeberang saja, yang kedua kami harus menuruninya. Pak Yanto sama sekali tidak kesulitan menuruni tebing ini sambil menggendong anak saya. Cepat sekali gerakannya sampai saya tidak sempat memfotonya. Kami yang perempuan2 dibantu Pak Yanto untuk menuruni tebing ini, ada tali tambang juga untuk membantu kita turun. Setelah menuruni tebing ini perjalanan turun tinggal sedikit lagi.

IMG_2035
Menyeberangi aliran air
IMG_2047
Dibantu guide menuruni tebing
IMG_2067
Turun tebing

Sesampainya di bawah kami bertemu persimpangan jalan, ke kanan menuju air terjun, ke kiri menuju Goa Tetes. Di arah menuju air terjun ada pos penjaga, disini kita harus membayar uang masuk Rp5 ribu per orang. Kemudian kami berjalan lagi  menuju dasar air terjun. Pemandangan disini sangat memukau, jalan yang kami lalui diapit tebing-tebing tinggi. Entah kenapa suasananya terasa magis. Rasanya seperti berada di setting film-film petualangan fiksi, membuat saya jadi membayangkan sebentar lagi ada naga yang terbang di atas kami.

IMG_2086
Jalur favoritku
IMG_2104
Full team

Medan yang kami lalui berikutnya adalah sungai. Sungai ini memisahkan wilayah Kabupaten Malang dengan Kabupaten Lumajang. Kami dua kali menyeberangi sungai, yang pertama dengan melewati jembatan besi kecil. Jembatannya sangat kecil, hanya selebar satu kaki dan pegangannya hanya satu sisi. Kemudian menyeberang yang kedua kali tidak ada jembatannya, hanya ada tali tambang untuk berpegangan agar tidak terseret arus. Sungai ini memang tidak dalam, tapi arusnya cukup kuat.

IMG_2112
Melewati jembatan kecil
IMG-20171208-WA0018
Menyusuri sungai
20171126_094813
Menyeberangi sungai

Setelah dua kali menyeberangi sungai sampailah kami di dekat dasar air terjun. Pak Yanto mengajak kami naik ke atas bukit kecil untuk mendapatkan spot foto terbaik. Dan saat melihat spot foto terbaik yang dimaksud Pak Yanto saya tidak yakin untuk berfoto disitu. Spot ini adalah sebuah batu yang menjorok di tempat yang tinggi. Ketinggiannya dari dasar kira-kira mencapai 8 meter. Saat saya masih ragu tiba-tiba Pak Yanto sudah menggeret saya ke batu itu dan bilang “Udah sampai sini sayang mbak kalo gak foto disitu. Itu temennya udah nungguin di seberang buat motoin” Iya juga sih mengingat perjuangannya buat turun kesini. Akhirnya saya foto juga deh di batu itu.

IMG_2190
Ini ga berani gerak.. takut kepleset

Kalo mau foto disitu hati-hati ya… Batunya selalu basah karena terkena percikan air terjun jadi licin. Saya aja ga berani pindah posisi pas disitu, padahal pengen foto menghadap belakang. Hahaha…..

 

IMG_2247
Full team basah kuyup

Setelah puas menikmati kemegahan air terjun ini kami berbalik arah menuju Goa Tetes karena nanti kami akan keluar melalui jalur Goa Tetes. Kami kembali harus menyeberangi sungai lagi dan berjalan menyusuri sungai.

20171126_110107
Jalur trekking ke arah Goa Tetes

Setelah menyusuri sungai kami bertemu sebuah telaga yang diberi nama Telaga Biru oleh penduduk sekitar. Kenapa diberi nama telaga biru? Hmm sepertinya sih karena ada bagian telaga yang warna airnya biru. Yah walaupun hanya bagian kecil, yaitu di sudut dekat curug. Oya disini ada pos penjaga lagi dimana kita harus membayar Rp 5 ribu per orang untuk menikmati telaga ini.  Kami beristirahat dulu disini, saya nyobain berendam di telaga sambil foto ala ala bidadari yang lagi mandi. Hehehe…

IMG_2301
Mandi di telaga biru
DSC06844
Indah banget kan telaganya
DSC06841
Ada yang lagi pemotretan

Setelah menikmati telaga tibalah saat yang tidak menyenangkan yaitu perjalanan kembali ke atas. Kami melewati jalan berundak yang licin kemudian menaiki tebing yang dialiri air. Pak Yanto dengan mudah dan cepatnya menaiki tebing sambil menggendong anak saya (saya sampai tidak sempat mengabadikan gambarnya). Sementara saya bingung gimana cara naiknya. Hahaha… Untunglah Pak Yanto kembali lagi untuk menjemput kami dan memandu kami untuk naik ke atas. Yang menyulitkan disini adalah batunya banyak yang licin sehingga harus memilih mana yang aman untuk dipijak.

DSC06846
Jalur yang kami lalui.. Batu-batuan licin yang ditumbuhi lumut

Setelah sukses menaiki tebing ini, Pak Yanto mengajak kami untuk naik lagi ke atas menuju ke dalam Goa Tetes. Kami pun menolak mentah-mentah ajakannya. Kami sudah lelah jadi tidak sanggup lagi jika harus naik ke atas dengan jalur bebatuan yang licin. Ampuun deh… mana perjalanan naik masih panjang lagi.

DSC06849
Hati-hati terpleset

Jalur selanjutnya adalah tangga semen yang curam dan panjang. Entah kenapa undakan tangga ini dibuat tinggi sehingga membuat cepat lelah. Sepertinya tangga ini yang membuat paha saya kaku selama 3 hari. Di tengah jalur ada warung yang menjual gorengan dan minuman, kami pun beristirahat dulu disini sambil menikmati gorengan. Setelah mengisi tenaga kami lanjutkan lagi perjalanan sampai anak tangga habis. Alhamdulillah sampai juga ya di atas.

IMG-20171214-WA0006
Tangga di jalur Goa Tetes – minjem foto Yunia

Kami keluar melewati pos pintu masuk Goa Tetes. Pos ini berjarak sekitar 500 meter dari pintu masuk Tumpak Sewu. Dari sini kami langsung kembali ke homestay untuk mandi dan makan mie instant yang sudah disiapkan oleh istri Pak Yanto.

DSC06820
Homestay Pak Yanto

Bagi orang-orang yang sering mendaki gunung mungkin jalur trekking ke Tumpak Sewu ini terasa mudah, tapi bagi saya yang seringnya jalan hanya di jalan-jalan datar saja jalur ini cukup menantang. Oleh karena itu jika kalian bukan pecinta alam dan pendaki, sebaiknya gunakanlah jasa guide untuk turun ke dasar air terjun. Silahkan hubungi Pak Yanto di nomor 085331238963. Orangnya sangat ramah dan helpfull.

IMG_2046
Pak Yanto membantu saya menuruni tebing

Walaupun jalur trekkingnya cukup susah, saya sangat menikmati perjalanan  ke Tumpak Sewu ini. Seru, menyenangkan, dan menantang. Ditambah lagi dengan pemandangan yang indah dan hijau selama perjalanan. Dan tentunya pemandangan air terjun Tumpak Sewu itu sendiri yang megah, indah, dan menakjubkan. Bolehlah kalo diajak kesini lagi…. Tapi tahun depan yaa… ^_^

IMG_2168
Air terjun yang indah dan megah

 

 

 

Saatnya Pulang

Adventure in Meru Betiri National Park
Adventure in Meru Betiri National Park

Setelah puas main dan foto-fotoan di pantai kami pun kembali ke guesthouse. Kemudian kami sarapan dulu di kantin depan guesthouse dengan menu nasi goreng. Tadi malam sepulang dari pantai kami juga makan malam disini dengan menu yang sama, nasi goreng plus telor ceplok. Selesai makan, kami bergantian mandi karena tadi pagi kan belum mandi. Setelah semua siap kami pun berangkat kembali ke Ketapang.

Guesthouse di Sukamade
Guesthouse di Sukamade

Di perjalanan kami menyempatkan berhenti dulu untuk foto di tepi sungai (niat yaaa). Untungnya arus sungai tidak deras, jadi perjalanan kami aman-aman saja. Lalu di tempat parkir Teluk Hijau kami berhenti lagi untuk melihat pemandangan dari atas tebing. Perjalanan kami lanjutkan kembali dan kami berhenti lagi di Pantai Rajegwesi. Kami turun ke pantai sebentar disini. Setelah mengambil beberapa foto kami langsung balik lagi ke jeep karena panasnya minta ampun deh.

Pantai Rajegwesi
Pantai Rajegwesi

Pak Slamet mengajak kami untuk mampir ke Pantai Pulau Merah. Kata dia, “udah deket mbak, sayang kalo gak mampir”. Saya pun menawarkan ke teman-teman (karena saya udah pernah kesana jadi saya sih terserah mereka aja). Mereka semua setuju untuk mampir karena sebagian besar belum pernah kesana.

Sesampainya di Pantai Pulau Merah saya tercengang… Ya ampuuun ramenya kayak pasar!!! Dulu waktu saya kesini pas hari kerja, jadi sepi-sepi aja. Saat itu sudah pukul 14.30 siang dan kami sudah kelaparan berat. Sambil ngiyup kami makan bakso dan minum es degan di pantai.

Pantai Pulau Merah
Pantai Pulau Merah

Seperti yang sudah saya tulis di postingan saya sebelumnya, sebenarnya Pantai Pulau Merah terlihat paling cantik saat sunset karena langit dan pantainya berwarna merah. Tapi karena kami harus segera pulang ke Surabaya maka ga bisa nunggu sampe sore disini. Pukul 16.00 kami udah berangkat lagi balik ke Ketapang.

Sampai di Ketapang sudah hampir pukul 18.00, jadi kami putuskan untuk sekalian makan malam di Banyuwangi. Makannya di tempat favorit saya yaitu nasi tempong. Jadi dari Ketapang balik lagi ke Banyuwangi kota (ribet yaa). Setelah makan kami berangkat pulang ke Surabaya. Bye… Banyuwangi….

Payung merah di Pantai Pulau Merah
Payung merah di Pantai Pulau Merah

Note: All of the photos in this post was taken by Grandis, my professional photografer friend

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Nicoline's Journal

by Nicoline Patricia Malina

Alid Abdul

Travel till you die!

Harival Zayuka

Just another WordPress.com site

My Sanctuary

my travel notes

Claraberkelana.com

Travel Stories

The Naked Traveler

Journey Redefined

The Traveling Cows

my travel notes