Search

Here, There, & Everywhere

my travel notes

Category

Domestic

Trekking Seru ke Air Terjun Tumpak Sewu

IMG_2186
Air Terjun Tumpak Sewu

Sudah lama saya penasaran dengan air terjun Tumpak Sewu sejak mulai terkenal di tahun 2015 lalu. Akses jalan menuju air terjun ini memang baru dibuka pada tahun 2015. Berdasarkan informasi yang saya baca di internet jalan menuju air terjun cukup sulit untuk dilalui, oleh karena itu saya masih menunggu siapa tau nanti akan ada perbaikan akses menuju air terjun ini sehingga menjadi mudah untuk dilalui.

Akhirnya pada akhir november kemarin ada ajakan dari teman-teman saya untuk berwisata ke Tumpak Sewu. Tentu saja saya langsung bersedia, kebetulan weekend itu memang jadwal saya pulang ke Surabaya. Tapi yang jadi masalah adalah saya harus mengajak anak saya kesana. Oleh karena itu sebelum berangkat saya mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai medan yang harus dilalui untuk menuju air terjun ini.  Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari internet medannya cukup sulit dan sepertinya tidak ada anak-anak yang pernah sampai ke dasar air terjun. Akhirnya di sebuah blog saya menemukan nomor telepon seorang guide yang juga pengelola wisata air terjun Tumpak Sewu. Menurut bapak guide yang bernama Pak Yanto, jalur menuju dasar air terjun tidaklah sulit dan berbahaya. Saya juga bertanya ke Pak Yanto apakah anak kecil bisa ikut turun dan jawabannya adalah bisa asal didampingi guide. Sejak awal saya memang ingin menggunakan jasa guide supaya aman dan tentram hati ini *Eeaaa….

Karena jarak dari Surabaya menuju Lumajang cukup jauh, kami memutuskan untuk mengunjungi Tumpak Sewu pada Minggu pagi. Jadi kami berangkat dari Surabaya Sabtu pagi menuju pantai selatan Malang dulu baru sorenya kami lanjutkan perjalanan menuju Lumajang. Lokasi Tumpak Sewu ini memang berada di perbatasan Kabupaten Malang dan Lumajang. Air terjun ini bisa diakses dari dua kabupaten, dari sisi Malang melalui Desa Sidorenggo dan dari sisi Lumajang melalui Desa Sidomulyo. Kami memilih akses dari Desa Sidomulyo, Kec Pronojiwo karena disini ada spot panorama untuk melihat air terjun dari ketinggian. Jadi seandainya cuaca buruk dan kami tidak bisa turun kami masih bisa menikmati keindahan air terjun ini dari spot panorama. Pada musim hujan seperti sekarang jika ingin turun ke air terjun lebih baik pada pagi hari karena cuaca pagi biasanya cerah, belum turun hujan.

Jalan menuju Tumpak Sewu dari arah Malang adalah melewati rute Bululawang – Dampit – Tirtomoyo – Pronojiwo. Dari perbatasan Malang-Lumajang sekitar 500 meter sampailah kita di Desa Sidomulyo, Kecamatan Pronojiwo, di sebelah kanan jalan kita akan melihat papan tanda masuk obyek wisata Air Terjun Tumpak Sewu. Sesampainya di tempat parkir, Pak Yanto sudah menyambut. Kami akan menginap di homestay miliknya malam ini. Harga homestay nya adalah Rp50 ribu per orang. Murah dan praktis kan. Besok paginya kita tinggal berjalan kaki menuju air terjun.

DSC06823
Pintu masuk

Keesokan paginya setelah sarapan kami berangkat ke air terjun pukul 07.30. Harga tiket masuk per orang adalah Rp10 ribu. Kami melewati kebun salak sebelum mencapai spot panorama. Jarak dari pintu masuk ke spot panorama ini sekitar 400 meter, jalannya sudah disemen jadi mudah dilalui oleh siapa saja.

DSC06824
Rendra di kebun salak

Di spot panorama kita bisa melihat megahnya air terjun raksasa ini dari ketinggian. Saat kami baru tiba disana tiba-tiba kabut naik dari bawah, wah jadi tertutup kabut nih air terjunnya. Tapi Pak Yanto bilang tidak usah khawatir, tunggu saja 5 menit nanti kabutnya hilang. Dan memang benar tidak lama kemudian kabut hilang dan kami pun mulai berfoto disana. Saat kami berfoto muncul pelangi yang terlihat di depan air terjun, awalnya pelanginya masih pendek dan tidak jelas, lama kelamaan pelanginya makin panjang dan jelas. Indah sekali… Melihat air terjun raksasa ini saja sudah indah apalagi ditambah pelangi yang menghiasinya.

IMG_1957
Pelangi di air terjun

Setelah menghabiskan waktu cukup lama di spot panorama kami memulai perjalanan turun ke dasar air terjun. Pagi ini cuaca cerah jadi kami bisa turun, tapi tadi malam hujan deras sehingga jalan yang harus kami lalui menjadi licin. Kami menuruni tangga bambu yang cukup panjang. Sebenarnya tidak sulit jika tangga bambunya masih bagus dan lengkap. Yang menjadi masalah adalah tangga ini sudah banyak yang rusak. Banyak anak tangga yang hilang, kadang ada dua anak tangga yang hilang sekaligus jadi kami harus duduk dulu dan menggapai anak tangga berikutnya. Kami yang perempuan-perempuan cukup kesulitan melewati tangga ini, tapi Pak Yanto dengan mudah dan cepat melewatinya sambil menggendong anak saya. Yup… anak saya sebagian besar digendong dalam perjalanan ini kecuali saat jalannya datar dia berjalan sendiri. Saat musim hujan seperti sekarang kita harus ekstra hati-hati karena jalurnya licin.

IMG_2025
Menuruni tangga bambu
IMG_1996
Tangganya sudah banyak yang rusak

 

Selain tangga bambu kami juga harus melewati tebing yang dialiri air. Yang pertama hanya menyeberang saja, yang kedua kami harus menuruninya. Pak Yanto sama sekali tidak kesulitan menuruni tebing ini sambil menggendong anak saya. Cepat sekali gerakannya sampai saya tidak sempat memfotonya. Kami yang perempuan2 dibantu Pak Yanto untuk menuruni tebing ini, ada tali tambang juga untuk membantu kita turun. Setelah menuruni tebing ini perjalanan turun tinggal sedikit lagi.

IMG_2035
Menyeberangi aliran air
IMG_2047
Dibantu guide menuruni tebing
IMG_2067
Turun tebing

Sesampainya di bawah kami bertemu persimpangan jalan, ke kanan menuju air terjun, ke kiri menuju Goa Tetes. Di arah menuju air terjun ada pos penjaga, disini kita harus membayar uang masuk Rp5 ribu per orang. Kemudian kami berjalan lagi  menuju dasar air terjun. Pemandangan disini sangat memukau, jalan yang kami lalui diapit tebing-tebing tinggi. Entah kenapa suasananya terasa magis. Rasanya seperti berada di setting film-film petualangan fiksi, membuat saya jadi membayangkan sebentar lagi ada naga yang terbang di atas kami.

IMG_2086
Jalur favoritku
IMG_2104
Full team

Medan yang kami lalui berikutnya adalah sungai. Sungai ini memisahkan wilayah Kabupaten Malang dengan Kabupaten Lumajang. Kami dua kali menyeberangi sungai, yang pertama dengan melewati jembatan besi kecil. Jembatannya sangat kecil, hanya selebar satu kaki dan pegangannya hanya satu sisi. Kemudian menyeberang yang kedua kali tidak ada jembatannya, hanya ada tali tambang untuk berpegangan agar tidak terseret arus. Sungai ini memang tidak dalam, tapi arusnya cukup kuat.

IMG_2112
Melewati jembatan kecil
IMG-20171208-WA0018
Menyusuri sungai
20171126_094813
Menyeberangi sungai

Setelah dua kali menyeberangi sungai sampailah kami di dekat dasar air terjun. Pak Yanto mengajak kami naik ke atas bukit kecil untuk mendapatkan spot foto terbaik. Dan saat melihat spot foto terbaik yang dimaksud Pak Yanto saya tidak yakin untuk berfoto disitu. Spot ini adalah sebuah batu yang menjorok di tempat yang tinggi. Ketinggiannya dari dasar kira-kira mencapai 8 meter. Saat saya masih ragu tiba-tiba Pak Yanto sudah menggeret saya ke batu itu dan bilang “Udah sampai sini sayang mbak kalo gak foto disitu. Itu temennya udah nungguin di seberang buat motoin” Iya juga sih mengingat perjuangannya buat turun kesini. Akhirnya saya foto juga deh di batu itu.

IMG_2190
Ini ga berani gerak.. takut kepleset

Kalo mau foto disitu hati-hati ya… Batunya selalu basah karena terkena percikan air terjun jadi licin. Saya aja ga berani pindah posisi pas disitu, padahal pengen foto menghadap belakang. Hahaha…..

 

IMG_2247
Full team basah kuyup

Setelah puas menikmati kemegahan air terjun ini kami berbalik arah menuju Goa Tetes karena nanti kami akan keluar melalui jalur Goa Tetes. Kami kembali harus menyeberangi sungai lagi dan berjalan menyusuri sungai.

20171126_110107
Jalur trekking ke arah Goa Tetes

Setelah menyusuri sungai kami bertemu sebuah telaga yang diberi nama Telaga Biru oleh penduduk sekitar. Kenapa diberi nama telaga biru? Hmm sepertinya sih karena ada bagian telaga yang warna airnya biru. Yah walaupun hanya bagian kecil, yaitu di sudut dekat curug. Oya disini ada pos penjaga lagi dimana kita harus membayar Rp 5 ribu per orang untuk menikmati telaga ini.  Kami beristirahat dulu disini, saya nyobain berendam di telaga sambil foto ala ala bidadari yang lagi mandi. Hehehe…

IMG_2301
Mandi di telaga biru
DSC06844
Indah banget kan telaganya
DSC06841
Ada yang lagi pemotretan

Setelah menikmati telaga tibalah saat yang tidak menyenangkan yaitu perjalanan kembali ke atas. Kami melewati jalan berundak yang licin kemudian menaiki tebing yang dialiri air. Pak Yanto dengan mudah dan cepatnya menaiki tebing sambil menggendong anak saya (saya sampai tidak sempat mengabadikan gambarnya). Sementara saya bingung gimana cara naiknya. Hahaha… Untunglah Pak Yanto kembali lagi untuk menjemput kami dan memandu kami untuk naik ke atas. Yang menyulitkan disini adalah batunya banyak yang licin sehingga harus memilih mana yang aman untuk dipijak.

DSC06846
Jalur yang kami lalui.. Batu-batuan licin yang ditumbuhi lumut

Setelah sukses menaiki tebing ini, Pak Yanto mengajak kami untuk naik lagi ke atas menuju ke dalam Goa Tetes. Kami pun menolak mentah-mentah ajakannya. Kami sudah lelah jadi tidak sanggup lagi jika harus naik ke atas dengan jalur bebatuan yang licin. Ampuun deh… mana perjalanan naik masih panjang lagi.

DSC06849
Hati-hati terpleset

Jalur selanjutnya adalah tangga semen yang curam dan panjang. Entah kenapa undakan tangga ini dibuat tinggi sehingga membuat cepat lelah. Sepertinya tangga ini yang membuat paha saya kaku selama 3 hari. Di tengah jalur ada warung yang menjual gorengan dan minuman, kami pun beristirahat dulu disini sambil menikmati gorengan. Setelah mengisi tenaga kami lanjutkan lagi perjalanan sampai anak tangga habis. Alhamdulillah sampai juga ya di atas.

IMG-20171214-WA0006
Tangga di jalur Goa Tetes – minjem foto Yunia

Kami keluar melewati pos pintu masuk Goa Tetes. Pos ini berjarak sekitar 500 meter dari pintu masuk Tumpak Sewu. Dari sini kami langsung kembali ke homestay untuk mandi dan makan mie instant yang sudah disiapkan oleh istri Pak Yanto.

DSC06820
Homestay Pak Yanto

Bagi orang-orang yang sering mendaki gunung mungkin jalur trekking ke Tumpak Sewu ini terasa mudah, tapi bagi saya yang seringnya jalan hanya di jalan-jalan datar saja jalur ini cukup menantang. Oleh karena itu jika kalian bukan pecinta alam dan pendaki, sebaiknya gunakanlah jasa guide untuk turun ke dasar air terjun. Silahkan hubungi Pak Yanto di nomor 085331238963. Orangnya sangat ramah dan helpfull.

IMG_2046
Pak Yanto membantu saya menuruni tebing

Walaupun jalur trekkingnya cukup susah, saya sangat menikmati perjalanan  ke Tumpak Sewu ini. Seru, menyenangkan, dan menantang. Ditambah lagi dengan pemandangan yang indah dan hijau selama perjalanan. Dan tentunya pemandangan air terjun Tumpak Sewu itu sendiri yang megah, indah, dan menakjubkan. Bolehlah kalo diajak kesini lagi…. Tapi tahun depan yaa… ^_^

IMG_2168
Air terjun yang indah dan megah

 

 

 

Saatnya Pulang

Adventure in Meru Betiri National Park
Adventure in Meru Betiri National Park

Setelah puas main dan foto-fotoan di pantai kami pun kembali ke guesthouse. Kemudian kami sarapan dulu di kantin depan guesthouse dengan menu nasi goreng. Tadi malam sepulang dari pantai kami juga makan malam disini dengan menu yang sama, nasi goreng plus telor ceplok. Selesai makan, kami bergantian mandi karena tadi pagi kan belum mandi. Setelah semua siap kami pun berangkat kembali ke Ketapang.

Guesthouse di Sukamade
Guesthouse di Sukamade

Di perjalanan kami menyempatkan berhenti dulu untuk foto di tepi sungai (niat yaaa). Untungnya arus sungai tidak deras, jadi perjalanan kami aman-aman saja. Lalu di tempat parkir Teluk Hijau kami berhenti lagi untuk melihat pemandangan dari atas tebing. Perjalanan kami lanjutkan kembali dan kami berhenti lagi di Pantai Rajegwesi. Kami turun ke pantai sebentar disini. Setelah mengambil beberapa foto kami langsung balik lagi ke jeep karena panasnya minta ampun deh.

Pantai Rajegwesi
Pantai Rajegwesi

Pak Slamet mengajak kami untuk mampir ke Pantai Pulau Merah. Kata dia, “udah deket mbak, sayang kalo gak mampir”. Saya pun menawarkan ke teman-teman (karena saya udah pernah kesana jadi saya sih terserah mereka aja). Mereka semua setuju untuk mampir karena sebagian besar belum pernah kesana.

Sesampainya di Pantai Pulau Merah saya tercengang… Ya ampuuun ramenya kayak pasar!!! Dulu waktu saya kesini pas hari kerja, jadi sepi-sepi aja. Saat itu sudah pukul 14.30 siang dan kami sudah kelaparan berat. Sambil ngiyup kami makan bakso dan minum es degan di pantai.

Pantai Pulau Merah
Pantai Pulau Merah

Seperti yang sudah saya tulis di postingan saya sebelumnya, sebenarnya Pantai Pulau Merah terlihat paling cantik saat sunset karena langit dan pantainya berwarna merah. Tapi karena kami harus segera pulang ke Surabaya maka ga bisa nunggu sampe sore disini. Pukul 16.00 kami udah berangkat lagi balik ke Ketapang.

Sampai di Ketapang sudah hampir pukul 18.00, jadi kami putuskan untuk sekalian makan malam di Banyuwangi. Makannya di tempat favorit saya yaitu nasi tempong. Jadi dari Ketapang balik lagi ke Banyuwangi kota (ribet yaa). Setelah makan kami berangkat pulang ke Surabaya. Bye… Banyuwangi….

Payung merah di Pantai Pulau Merah
Payung merah di Pantai Pulau Merah

Note: All of the photos in this post was taken by Grandis, my professional photografer friend

Melepas Tukik di Pantai Sukamade

Say Hii untuk para tukik ^_^
Say Hii untuk para tukik ^_^

Hari ini kami bangun pagi-pagi sekali karena pukul 6 kita sudah harus berkumpul untuk melepas tukik. Di kantor ranger saya menyelesaikan administrasi terlebih dulu, mengisi buku tamu dan membayar biaya-biaya. Sewa guesthouse per kamar Rp300 ribu. Kami menggunakan dua kamar jadi Rp600 ribu. Kemudian biaya ranger untuk tadi malam dan hari ini Rp100 ribu. Lalu ada juga sumbangan sukarela untuk konservasi tukik, terserah kita mau ngasih berapa. Kami memberi Rp100 ribu untuk konservasi tukik.

Tempat penetasan telur penyu
Tempat penetasan telur penyu
Berjalan menuju pantai dengan membawa tukik
Berjalan menuju pantai dengan membawa tukik

Setelah administrasi selesai kami berangkat menuju pantai. Masing-masing rombongan membawa satu ember yang berisi tukik-tukik yang akan dilepas di pantai. Sesampainya di pantai tiap rombongan berpencar. Mas ranger membuat garis di pantai sebagai titik tempat kita melepas tukik. Lalu dia memberi tahu kami cara memegang tukik yang benar, yaitu pada bagian pinggir tempurungnya, perutnya tidak boleh dipegang. Kami masing-masing memegang dua ekor tukik, lalu kami berbaris di belakang garis untuk melepas tukik bersama-sama. Selamat jalan tukik… Semoga kalian bisa survive hidup di lautan luas.

Tukik siap dilepas
Tukik siap dilepas

Begitu dilepas, tukik-tukik ini mulai merangkak ke laut. Ada yang bergerak cepat menuju laut, ada yang perlahan-lahan dan berhenti dulu sesaat, serta ada juga yang muter-muter dulu. Menurut mas ranger, tukik yang paling cepat bergerak ke laut bukanlah tukik yang nantinya akan survive. Karena seharusnya tukik-tukik ini mengenal dan mengingat dulu karakter pantai yang akan mereka tinggalkan. Oleh karena itulah tukik-tukik ini dilepas agak jauh dari bibir pantai agar mereka dapat merekam medan magnetik pantai. Suatu saat, ingatan yang mereka bentuk akan membawa mereka bisa kembali lagi ke pantai ini. Yang unik dari penyu adalah mereka hanya akan bertelur di pantai tempat mereka menetas. Oleh karena itu banyak juga penyu yang mendarat di pantai tapi tidak jadi bertelur karena lokasinya tidak sama dengan tempat ia menetas.

Tukik menuju lautan
Tukik menuju lautan

Pada saat tukik kami lepas, untungnya tidak ada elang yang datang. Biasanya ada elang yang datang dan menyambar beberapa ekor tukik baik yang masih berjalan di pasir pantai maupun yang berenang di laut. Hingga tiga bulan ke depan tukik akan mengalami masa lost atau hilang tanpa jejak di lautan. Periode tersebut adalah masa yang paling berbahaya bagi tukik untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Tukik harus dilepas ke laut maksimal tiga hari setelah menetas karena ia harus segera beradaptasi dengan kondisi alam di lautan agar ia bisa bertahan hidup hingga 200 tahun ke depan sesuai umur normalnya.

Hutan yang harus dilewati untuk menuju pantai
Hutan yang harus dilewati untuk menuju pantai

Setelah menetas dari telur, seekor penyu akan melakukan migrasi hingga ribuan kilometer selama bertahun-tahun. Pada saat mereka akan bertelur, mereka akan kembali ke tanah kelahirannya tanpa kehilangan arah. Ini karena mereka sudah merekam medan magnet pantai pada saat pertama dilepas ke laut. Jadi saat pelepasan tukik ke laut adalah momen penting bagi tukik agar ia bisa kembali ke pantai kelahirannya.

Setelah semua tukik selesai dilepas, mas ranger bercerita ke kami bahwa kita disini sangat beruntung bisa melihat penyu bertelur dari dekat. Banyak wisatawan manca negara datang kesini untuk bisa mendapatkan pengalaman ini. Bahkan bulan Juni nanti akan datang regu Pramuka dari Amerika kesini. Tapi sayangnya masyarakat Indonesia sendiri malah banyak yang tidak tahu tentang tempat ini. Jangankan masyarakat Indonesia yang jauh dari Banyuwangi, masyarakat Banyuwangi pun banyak yang tidak tahu tentang konservasi penyu di Sukamade. Yang lebih disayangkan adalah Duta Penyu Indonesia juga tidak pernah kesini. Oh my God…. Kami pun bertanya, Siapa pak duta penyu Indonesia?? Mas ranger pun menjawab, “Marshanda”. Hmmm whaattt?? Oh okayyy… marshanda ya…..

Have fun in Sukamade
Have fun in Sukamade
Aku di Pantai Sukamade
Aku di Pantai Sukamade

Note: All of the photos in this post was taken by Grandis, my proffesional photografer friend

Melihat Penyu Bertelur di Pantai Sukamade

Penyu Bertelur di Pantai Sukamade
Penyu Bertelur di Pantai Sukamade

Perjalanan kami berlanjut menuju Pantai Sukamade. Pantai Sukamade adalah kawasan konservasi penyu, disini kita bisa melihat secara langsung penyu bertelur. Selain itu kita juga bisa melihat penangkaran tukik dan mengikuti kegiatan pelepasan tukik ke laut. Pantai Sukamade dikenal sebagai salah satu dari tiga tujuan wisata utama di Banyuwangi yang disebut Triangle Diamonds yang terdiri dari Pantai Plengkung, Kawah Ijen, dan Pantai Sukamade. Sebenarnya jarak antara Teluk Hijau dan Pantai Sukamade hanya sekitar 15 km, akan tetapi jarak ini harus ditempuh dalam waktu 2 jam lebih karena jalan yang berbatu.

Siap2 menyeberangi sungai
Siap2 menyeberangi sungai

Selain melewati jalan yang rusak dan berbatu, jeep kami juga harus melewati sungai, seruuu kan… Dan karena saat ini musim hujan maka tidak hanya satu sungai yang harus kita lewati, tapi tiga sungai. Jika musim kemarau, air di sungai 1 surut, oleh karena itu jeep bisa melewatinya. Tapi di musim hujan sungai 1 jadi dalam dan arus airnya sangat deras serta sungai ini sangat lebar sehingga jeep tidak bisa melewatinya. Oleh karena itu kami harus memutar lebih jauh dan melewati tiga sungai. Saat melewati sungai pertama yang kecil dan cetek kami pun berkata aah… cuma segini aja. Tapi begitu sampai di sungai kedua… wouuww sungainya lebar dan arusnya deras. Pak Slamet turun dari mobil dan berjalan ke sungai untuk memeriksa kedalaman air. Setelah dirasa aman dia kembali ke mobil dan kami bersiap-siap menyeberangi sungai. Waahh… seru… Alhamdulillah jeep kami bisa sampai di seberang sungai dengan selamat. Setelah itu masih ada satu sungai lagi yang harus kami lewati. Sungai ketiga ini ternyata lebih besar, lebih dalam, dan arusnya lebih kencang. Pak Slamet turun lagi dari mobil untuk memeriksa kedalaman air. Pada saat itu banyak anak-anak yang mandi di sungai dengan riang gembira. Mereka membantu kami mengarahkan mobil untuk melintasi sungai. Tapi waktu kami kasih uang ke mereka, mereka malah berebutan dan lupa untuk mengarahkan mobil. Untung ada dua anak yang tetap fokus membantu kami mengarahkan mobil. Fhiiiuhhh…. Alhamdulillah jeep kami sampai di seberang dengan selamat.

Ban belakang jeep nya harus diperbaiki dulu
Ban belakang jeep nya harus diperbaiki dulu

Setelah sampai di seberang sungai perjalanan kami lanjutkan lagi. Tapi kenapa ban belakang jeep ini berbunyi ya? Kayaknya ada yang gak beres nih. Pak Slamet meneruskan perjalanan sampai di area pemukiman PTPN. DIsini beliau berhenti untuk memeriksa ban belakang. Satpam dan pekerja PTPN membantu Pak Slamet memeriksanya. Ternyata ada yang putus (saya gak tau apanya), jadi harus diganti. Selama Pak Slamet dan pekerja PTPN memperbaiki mobil, kami diajak satpam PTPN untuk melihat pabrik karet yang ada disana. Pabriknya merupakan bangunan tua yang sudah ada sejak jaman Belanda, jadi horor gitu deh. Setelah selesai dari jalan-jalan di pabrik karet ternyata mobil belum selesai diperbaiki. Kami diundang oleh penjaga wisma untuk beristirahat di wisma PTPN. Disini juga ada wisma yang disewakan untuk tamu. Tapi harganya lebih mahal daripada guesthouse yang sudah kami booking di Sukamade. Kami diijinkan untuk menggunakan kamar mandi di wisma ini, kebetulan ada kamar yang masih kosong. Kemudian karena hari sudah gelap dan kami lapar, kami memesan mie goreng telur disini.

Pabrik karet PTPN
Pabrik karet PTPN

Sekitar pukul 7 malam mobil sudah selesai diperbaiki dan siap untuk melanjutkan perjalanan. Sebenarnya jarak antara wisma PTPN dengan guesthouse kami hanya 5 km. Tapi karena jalan rusak parah kami baru sampai di guesthouse hampir pukul 8 malam. Di perjalanan beberapa kali Pak Slamet membunyikan klakson tiga kali. Padahal waktu itu tidak ada kendaraan lain selain kami yang melintas. Hiii.. ada apa ya….

Sesampainya di guesthouse kami harus segera mandi karena seharusnya pukul 8 kami berangkat ke pantai untuk melihat penyu bertelur. Pak Slamet meminta kepada ranger untuk menunggu kami. Untungnya saat itu para ranger juga sedang rapat, jadi lumayanlah ada waktu untuk mandi. Oya guesthouse Sukamade ini harga per kamarnya Rp300 ribu, bisa diisi sampai 4 orang. Ada juga kamar yang kecil (isi 2 orang) seharga Rp200 ribu.

Setelah semua siap kami bergabung dengan para ranger dan wisatawan lainnya di depan kantor ranger. Disini kami dibriefing mengenai peraturan untuk melihat penyu bertelur, antara lain adalah ga boleh berisik dan ga boleh nyalain lampu apapun. Sinar dari mobile phone juga ga boleh. Motret juga dilarang pake flash. Setelah briefing kami berjalan menuju pantai dengan dipandu mas ranger. Jarak antara area guesthouse dengan pantai sekitar 700 meter melewati hutan. Di jalan kami hanya bergantung pada cahaya senter yang dibawa mas ranger. Sekitar 100 meter sebelum sampai pantai, mas ranger mematikan senternya, jadi gelap gulita deh.

Sesampainya di pantai kami disuruh duduk oleh mas ranger untuk menunggu penyu datang. Kami duduk dalam kegelapan dan kesunyian karena ga boleh berisik. Dingin juga angin malam itu, untung pake jaket yang ada penutup kepalanya. Tak lama kemudian mas ranger memanggil kami, sepertinya mereka sudah menemukan penyu yang akan bertelur. Kami mengikuti mas ranger berjalan dalam kegelapan malam.

Penyu sedang bertelur
Penyu sedang bertelur
Telurnya seperti bola ping pong
Telurnya seperti bola ping pong

Kemudian terlihatlah seekor penyu sedang dalam proses bertelur. Menurut mas ranger, ini adalah penyu hijau. Kami mendekatinya dan berjongkok di belakangnya. Kami dilarang berada di area depan kepala penyu agar penyu tersebut tidak terganggu. Rasanya amazing banget lihat proses penyu bertelur ini secara langsung dengan jarak yang sangat dekat. Ibu penyu mengeluarkan telurnya satu demi satu. Telurnya berwarna putih berbentuk bulat sempurna seperti bola ping pong. Setelah ibu penyu mengeluarkan semua telurnya, mas ranger mengambil telur-telur itu dan dihitung. Jumlahnya 93 butir.  Kami diijinkan untuk memegang satu butir telur yang boleh kami pegang bergiliran. Setelah semua telur dihitung, telur-telur ini dimasukkan ke dalam tas untuk dibawa ke tempat penangkaran. Tujuan penangkaran telur ini adalah agar telur ini aman dari babi hutan dan pencurian oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab sampai waktunya menetas nanti.

Menghitung telur penyu
Menghitung telur penyu

Setelah mengeluarkan seluruh telurnya, ibu penyu mengubur lagi lubang itu dengan pasir. Tapi ibu penyu ga tau kalo telurnya sudah diambil oleh mas ranger. Kasian juga ya. Setelah selesai proses mengubur, ibu penyu berdiam diri di atas lubang selama sekitar satu jam. Saat itu kami pergunakan untuk berfoto bersama ibu penyu. Tapi tentu saja fotonya tanpa menggunakan flash light, jadi hanya dibantu cahaya dari senter mas ranger yang remang-remang. Selesai berfoto kami diminta untuk menunggu di tempat yang agak jauh. Sekitar satu jam kemudian ibu penyu mulai bergerak kembali ke laut, kami dipanggil ranger untuk mengikutinya. Kami mengikuti ibu penyu yang bergerak perlahan-lahan itu dari belakang sampai dia masuk ke dalam laut. Byee… ibu penyu… Terimakasih telah berbagi pengalaman yang menakjubkan ini.

Ibu penyu kembali ke lautan
Ibu penyu kembali ke lautan

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Nicoline's Journal

by Nicoline Patricia Malina

Alid Abdul

Travel till you die!

Harival Zayuka

Just another WordPress.com site

My Sanctuary

my travel notes

Claraberkelana.com

Travel Stories

The Traveling Cows

my travel notes