Search

Here, There, & Everywhere

my travel notes

Category

China

Xi’an Kota Tua yang Penuh dengan Peninggalan Sejarah

DSC00446
Bell Tower

Ini cerita perjalanan saya di tahun 2016 lalu. Cerita ini terlambat ditulis karena saya berpindah kerja ke Jakarta tepat setelah saya pulang dari perjalanan ini. Jadi ceritanya saya penasaran pengen melihat Terakotta Army yang berada di Xian. Saat Air Asia membuka promo dan ada tujuan Xi’an di daftarnya, saya langsung mengajak teman-teman saya untuk travelling kesana. Akhirnya saya mendapat dua orang yang ingin ikut ke Xi’an. Agar lebih banyak yang bisa kami lihat maka saya menambahkan Chengdu sebagai kota tujuan kedua. Kebetulan saya juga ingin melihat panda di kota asalnya. Jadi kami membeli tiket pulang pergi Jakarta-Xian dan Chengdu-Surabaya untuk keberangkatan akhir Maret sampai awal April 2016.

Setelah perjalanan yang melelahkan dari Surabaya-Jakarta-KualaLumpur-Xian, akhirnya pesawat kami mendarat di Xian Xianyang International Airport pukul 11 malam. Saya sudah memesan pihak hostel untuk menyediakan mobil yang menjemput di bandara. Berhubung kami tiba tengah malam maka saya tidak mau mengambil resiko untuk menaiki transportasi umum lainnya. Setelah melewati imigrasi kami mencari-cari driver yang menjemput kami. Ternyata yang menjemput adalah pengemudi taxi. Oke gapapa yang penting kami sampai di hostel dengan cepat dan aman tanpa ada resiko nyasar karena kesulitan komunikasi dengan driver.

DSC00419
Hostel kami di Xi’an

Kami menginap di Ancient City Youth Hostel yang terletak di Lian Hu Road. Saya memilih hostel ini karena lokasinya yang strategis, hanya perlu berjalan sedikit menuju pemberhentian bus terdekat. Kamar yang kami tempati adalah standard 3 bed private ensuite dengan harga CNY 240 per malam. Kami menginap tiga malam disini sebelum berpindah kota ke Chengdu. Setelah urusan check in selesai kami segera beristirahat malam ini.

Besoknya, tujuan pertama kami setelah makan di KFC adalah ke stasiun kereta Xi’an untuk mengambil tiket. Saya sudah memesan tiket kereta melalui situs ctrip. Untuk rute Xi’an-Chengdu saat itu belum ada high speed train (kalo sekarang sudah ada), jadi waktu tempuhnya cukup lama yaitu 16 jam. Ada 3 pilihan di kereta ini yaitu, soft sleeper, hard sleeper dan hard seat. Saya memilih kereta soft sleeper agar nyaman selama di perjalanan. Harga tiket kereta soft sleeper pada saat itu adalah CNY 315.

DSC00431
Stasiun Kereta Xi’an

Sesampainya di stasiun kereta kami menunjukkan kertas print out reservasi kereta ke petugas stasiun, lalu mereka menunjukkan loket mana yang harus saya datangi. Kami mendatangi loket 1 dan menunjukkan print out reservasi dan paspor kami, kemudian kami diberi tiket kereta. Cukup mudah bukan. Pastikan kalian melakukan reservasi online terlebih dahulu agar tidak kehabisan tiket.

Setelah urusan tiket beres, tujuan pertama kami adalah Bell Tower. Bell Tower adalah salah satu landmark kota Xian yang dibangun pada tahun 1384 oleh Kaisar Zhu Yuanzhang. Bangunan ini terletak di bundaran di tengah jalan raya. Untuk mencapainya kita harus melalui underpass. Harga tiket masuk ke Bell Tower adalah CNY 35. Tapi jika kita sekaligus membeli tiket masuk Drum Tower maka harganya menjadi CNY 50 untuk dua tower tersebut, jadi lebih hemat. Bangunan ini memiliki tinggi 36 meter, berdiri di atas bata sepanjang 35,5 meter dan tinggi 8,6 meter di tiap sisinya. Diberi nama Bell Tower karena terdapat lonceng raksasa yang terbuat dari logam yang memberitahukan waktu. Bell Tower ini berdiri tepat di tengah-tengah kota Xian, di persimpangan empat jalan utama: South Main Street, North Main Street, East Main Street, dan West Main Street.

DSC00487
Lonceng raksasa di Bell Tower

Selanjutnya kami menuju Drum Tower yang letaknya tidak jauh dari Bell Tower. Drum Tower dibangun pada tahun 1380 oleh Kaisar Hongwu pada masa Dinasty Ming, dan telah direnovasi dua kali pada masa Dinasty Qing pada tahun 1699 dan 1740.  Pengunjung dapat naik ke lantai dua dan menikmati pemandangan dari atas. Terdapat 24 drum di sisi utara dan selatan drum tower. Dahulu kala, khususnya pada jaman Dinasty Yuan, drum-drum yang ada disini digunakan sebagai penanda waktu dan juga alarm saat ada keadaaan darurat.

DSC00542
Drum Tower
DSC00514
Deretan Drum di Drum Tower

Persis di sisi utara Drum Tower terdapat Beiyuanmen Muslim Market yang di sepanjang jalannya menjual beraneka makanan halal. Sore ini kami berencana untuk mengunjungi Great Mosque dulu, setelah itu wisata kuliner di Muslim Quarter. Jalan menuju Great Mosque berupa gang sempit yang kanan kirinya dipenuhi kios-kios penjual souvenir. Sesampainya di Great Mosque kami membeli tiket masuk seharga CNY 25. Sebenarnya untuk orang muslim gratis masuk ke area masjid ini, tapi karena kami lagi tidak sholat dan kesana untuk berwisata jadi kami membeli tiket saja.

DSC00595
Great Mosque

Area Great Mosque ini cukup luas, halamannya dipenuhi dengan taman yang indah dengan pohon-pohon dan bunga-bunga yang sedang bemekaran. Masjidnya berada di bagian paling belakang. Masjid ini dibangun tahun 742 pada masa Dinasty Tang, merupakan hasil dari penyebaran agama Islam di barat laut China oleh pedagang dan pengembara dari Persia dan Afganistan selama pertengahan abad ketujuh. Beberapa pedagang dan pengembara tersebut menetap di China dan menikahi wanita-wanita bangsa Han. Keturunan mereka menjadi muslim sampai saat ini.

DSC00579
The Wooden Memorial Archway

Great Mosque berdiri di area seluas 13.000 meter persegi, dengan luas bangunan seluruhnya 6.000 meter persegi. Areanya berbentuk persegi panjang dari timur ke barat dan dibagi menjadi empat halaman. Di halaman pertama terdapat The Wooden Memorial Archway. Gapura ini dibangun pada awal abad ke-17, jadi telah berumur 390 tahun. Di kedua sisi gapura terdapat beberapa rumah yang di dalamnya dipamerkan furniture-furniture yang dibuat pada jaman Dinasty Ming dan Qing.

DSC00600
The Five – Room Hall

Di tengah-tengah halaman kedua terdapat The Five – Room Hall. Kemudian setelah melewati The Five – Room Hall kita akan menjumpai The Stone Memorial Gateway. Di atas gerbang utamanya terdapat tulisan kaligrafi China yang berarti: The Court of The Heaven. Kompleks batu ini dibangun pada jaman Dinasty Ming.

DSC00605.JPG
The Stone Memorial Gateway

Di tengah halaman ketiga terdapat The Introspection Tower yang berbentuk menara, merupakan bangunan tertinggi di seluruh kompleks masjid yang berfungsi untuk menyuarakan adzan, memanggil orang-orang muslim untuk shalat. Menara ini memiliki dua lantai dengan tiga lapis atap yang berbentuk oktagonal. Menurut guide book yang saya baca, di sisi selatan menara berdiri Official Reception Hall dan di sisi utara berdiri Lecture Hall, dimana di dalamnya disimpan Al Quran tulisan tangan dari jaman Dinasty Ming dan peta Kota Mekkah dari jaman Dinasty Qing.

the-great-mosque-7
The Introspection Tower – foto diambil dari google

Pada halaman terakhir, pengunjung pertama kali akan melihat The One God Pavilion. Bangunan ini berbentuk kombinasi antara gerbang dan paviliun tradisional China. Paviliun-nya sebagai bangunan utama di tengah berbentuk segi enam dengan atap menengadah. Sementara kedua bagian sampingnya berbentuk segitiga dan menengadah seperti gapura. Arsitektur keseluruhan dari bangunan ini terlihat seperti burung Phoenix yang sedang membuka sayapnya dan akan terbang, oleh karena itu bangunan ini juga dinamakan The Phoenix Pavilion. Di bawah atapnya, terdapat papan kecil dengan dekorasi ukiran naga yang tergatung. Tulisan di papan itu adalah “One God”, yang ditulis oleh seorang pejabat tinggi pada jaman Dinasty Ming.

DSC00680copy
The One God Pavilion

Setelah melewati empat halaman sampailah kita di bangunan masjid yang terletak di paling ujung kompleks ini. Masjid ini besar dan sangat indah dengan arsitektur tradisional China. Atapnya ditutup dengan genteng berwarna biru. Masjid ini bisa menampung seribu jamaah untuk menjalankan shalat pada waktu yang sama.Saya sangat menyesal saat itu tidak bisa masuk dan shalat di dalam masjid ini karena selain ingin merasakan shalat di salah satu masjid tertua, saya juga ingin melihat arsitektur di dalamnya. Menurut guide book yang saya baca, di dalam masjid, seluruh halaman Al Quran diukir di 600 papan kayu besar, 30 diantaranya tertulis dalam tulisan China dan sisanya ditulis dengan huruf Arab. Ini adalah karya seni ukir yang menakjubkan dan jarang ditemukan di masjid-masjid lain di seluruh dunia.

DSC00635
Bangunan Masjid

Jika berkunjung ke Xian, jangan lewatkan Great Mosque ini, karena selain sejarahnya dari berabad-berabad yang lampau, masjid ini juga memiliki arsitektur yang merupakan perpaduan gaya muslim dan China tradisional. Pada saat kami disana menjelang waktu ashar, adzan dikumandangkan dan orang-orang berdatangan untuk sholat. Sayang sekali saat itu kami tidak bisa mengikuti sholat di salah satu masjid yang tertua di China ini.

DSC00672
Para jemaah selesai melaksanakan sholat Ashar

Setelah mengeksplor Great Mosque sekarang tiba saatnya untuk berbelanja souvenir dan wisata kuliner di Muslim Quarter. Sambil berjalan menuju Muslim Quarter kami melihat-lihat souvenir yang dijual di sepanjang jalan. Kami membeli beberapa kaos untuk oleh-oleh. Saya juga membeli satu set patung perunggu Terracotta Army untuk pajangan di rumah.

DSC00565copy
Beiyuanmen Street

Beiyuanmen Muslim Market berada di sebuah jalan sepanjang 500 meter yang terletak d sebelah utara Drum Tower. Jalan ini dipaving batu berwarna gelap dan di kanan kirinya berjajar pohon-pohon yang membuat teduh jalan ini. Banyak sekali makanan halal yang dijajakan di Beiyuanmen Muslim Market dan semuanya halal lhooo… Penjualnya semua muslim. Rasanya pengen makan semua makanan yang dijajakan disana. Atas rekomendasi dari seorang turis Indonesia yang kami temui di Great Mosque, malam ini kami ingin makan mie bayam yang katanya lezat. Setelah memakannya memang enak sekali mie ini. Sluuurrrp… lezat….

DSC00703
Mie Bayam

Lalu ada banyak sate-satean yang sangat menggiurkan disana. Ada sate bakso, sate tempura, sate fish cake, sate daging, dan sate cumi yang sangaaat enak. Yang bikin enak semua sate ini adalah bumbunya yang sangat khas. Dan menurut saya yang paling juara adalah sate cuminya. Mungkin kalo saya tinggal selama satu bulan di kota ini saya akan menggendut dengan pasti.

DSC00702
Aku, Yuni dan Sate Cumi
DSC00708
Semua makanan disini halal

 

DSC00731
Drum Tower at night

 

 

Waiting for The Lights at Beijing Olympic Park

Beijing Olympic Park
Beijing Olympic Park

Tujuan kami berikutnya adalah Beijing Olympic Park. Sekitar pukul 4 sore kami sampai di Beijing dan diturunkan oleh minivan di Yonghegong Station, kemudian kami naik subway line 2 dan turun di Guloudajie dan berganti ke subway line 8. Kami turun di Olympic Sports Center Station dan keluar di Exit B. Di Beijing Olympic Park ada dua bangunan yang dapat kita lihat, yaitu Beijing National Stadium (Bird Nest) dan Beijing National Aquatics Center (Water Cube).

image
Pintu masuk Beijing Olympic Park

Beijing National Stadium (Bird Nest)

image
Beijing National Stadium

Beijing National Stadium disebut Bird Nest karena tiang penyangga stadion ini membentuk seperti sarang burung.  Tiang penyangga yang dibuat memiliki desain khusus, walaupun terkesan tidak beraturan, namun tiang-tiang yang bersambungan tersebut tetap diperhatikan ukurannya, baik panjang lebar, tinggi dan letak tiang tersebut, sehingga tetap dapat menopang stadion. Stadion ini memiliki luas 260.000 meter persegi, dengan lapangan hijau dan kursi yang tertata rapi. Kapasitas dari stadion ini dapat menampung sekitar 91.000 pengunjung. Stadion ini pernah dijadikan tempat olimipiade di beijing pada tahun 2008 lalu.

image
Olimpiade 2008

Pada waktu kami sampai disini cuaca masih terang, kami pun berfoto-foto di depan bangunan ini. Jalan dari pintu keluar stasiun kesini cukup jauh, pokoknya kalo di Beijing harus kuat jalan jauh deh… Untuk masuk ke dalam stadion ini harus membayar tiket masuk CNY50 per orang. Stadion ini buka mulai pukul 09.00 s.d. 18.00, oleh karena itu kami tidak masuk kedalamnya karena pada waktu itu sudah sore. Setelah puas foto-foto di depan Bird Nest, kami pun pindah ke bangunan di sebelahnya, yaitu…

Beijing National Aquatics Center (Water Cube)

image

Dinamakan Water Cube karena bentuknya kubus transparan, dengan warna biru air yang terang. Bangunan ini merupakan salah satu bangunan yang didirikan untuk ajang Olimpiade di Beijing tahun 2008. Pada malam hari, penampakan bangunan Water Cube ini sangat keren. Cahaya lampu yang berwarna putih dan biru berpadu dengan warna air di kolam yang ada di dalam Water Cube ini, menghasilkan spektrum warna biru cerah yang luar biasa. Water Cube ini mampu menampung sekitar 17.000 penonton, dengan arena untuk olahraga air seluas 7.000 meter persegi. Dengan tinggi bangunan yang mencapai 31 meter, anda dapat melihat cahaya biru terang dari bangunan unik ini dari jarak ratusan meter. Kami tidak masuk ke dalam Water Cube ini, cukup melihat keunikannya saja dari luar. Jika ingin masuk harus membayar tiket masuk CNY 30 per orang.

Rendra & Nouri
Rendra & Nouri

Setelah berfoto-foto di depan Water Cube, kami menunggu hari gelap di taman dekat Water Cube. Kami memang sengaja menunggu hari menjadi gelap agar lampu-lampu di kedua bangunan tersebut menyala sehingga dua bangunan itu menjadi semakin indah. Sambil menunggu, rendra bermain mobil-mobilan yang kami bawa dari rumah, yakni Tayo (the little bus) dan Nouri taxi (temennya Tayo). Kemana-mana kami memang membawa dua mainan itu supaya kalo lagi bosen rendra bisa mainan dan ga rewel.

Oh ya, sedikit cerita tentang toilet umum di Beijing. Waktu menunggu di Beijing Olympic Park saya sempat menggunakan toilet umum disana. Toiletnya berbentuk bilik-bilik kecil yang sangat banyak (jadi ga perlu ngantri). Memang seperti cerita- cerita yang pernah saya dengar sebelumnya, kebanyakan toilet di Beijing memang jorok dan bau pesing. Oleh karena itu saya selalu menyiapkan masker dan gel pencuci tangan dettol jika mau ke toilet. Jadi saya teteskan dettol ke atas masker, trus dipake deh maskernya pas mau masuk toilet. Lumayanlah mengurangi bau pesing yang kita hirup diganti dengan bau dettol. Kebanyakan toilet umum di Beijing sudah menggunakan sistem flush otomatis, jadi begitu kita buang air langsung diguyur secara otomatis dan ada busa sabunnya di air flush-nya itu. Tapi meski udah otomatis gitu kok tetep bau pesing aja yaa. Bingung…

Setelah menunggu cukup lama, jam 7 malam hari baru gelap dan lampu-lampu pun menyala….

dsc_0671
Cantik kan kalo lampunya udah nyala
Buih-buih air berwarna biru
Buih-buih air berwarna biru

Indah bukan….? Ga sia-sia lah nungguin lama disini. Penampakan kedua bangunan itu emang keren banget di malam hari pada saat lampu-lampunya menyala.

dsc_0636
Gemeeess
dsc_0633
My cute little boy

Menyusuri Great Wall

Finally I'm HERE
Finally I’m HERE

Hari ini, Kamis tanggal 12  September 2013 kami akan berwisata ke Great Wall Mutianyu. Yipeee…. Kami sudah membeli paket tour seharga CNY 250 per orang (rendra gratis). Tour agent akan menjemput di lobi hostel pada pukul 07.30. Setelah membangunkan rendra dengan susah payah dan mengajaknya mandi, akhirnya kami siap di lobi pada pukul 07.30. Tapi  kami belum sempat sarapan. Harga yang kami bayar untuk hostel memang belum termasuk sarapan, tapi di hostel ada restoran yang menyediakan sarapan. Akan tetapi waktunya sudah mepet sekali, jadi kami memutuskan tidak sarapan di hostel. Kemarin saya melihat sebuah kios yang menjual makanan di sebelah hostel. Kelihatannya banyak yang membeli makanan disana untuk dibawa ke kantor atau sekolah. Saya pun kesana untuk membeli sarapan. Tapi ternyata tak semudah yang dibayangkan, penjualnya sama sekali tidak bisa bahasa inggris dan lagi-lagi saya tidak bisa bertanya mana makanan yang halal. Akhirnya saya memilih saja roti dengan isi daging, bentuknya seperti humberger kecil. Saya lalu membawa roti itu ke hostel untuk menanyakan daging apakah itu. Kebetulan tour guide kami, seorang wanita cantik, sudah datang menjemput, saya pun bertanya ke dia tentang daging itu. Dia tidak terlalu yakin karena dagingnya berbumbu merah. Dia pun bertanya dimana saya membelinya, kemudian dia berlari-lari menuju kios tadi untuk menanyakan ke penjualnya. Jawabannya daging itu adalah daging ayam. Alhamdulillah… Saya pun membeli dua lagi untuk sarapan kami bertiga.

Kios tempat beli sarapan
Kios tempat beli sarapan

Wanita cantik yang sudah berbaik hati menolong kami mengidentifikasi daging roti tadi bernama Amy, dialah yang menjadi tour guide kami. Kami berangkat ke Mutianyu Great Wall menaiki minivan yang kira-kira berisi sepuluh orang. Selama di perjalanan, Amy memberikan penjelasan tentang sejarah Great Wall. Dia juga mengatakan bahwa kami berwisata ke Great Wall pada waktu yang tepat. Cuaca pada hari itu cerah dan belum memasuki liburan nasional Cina, jadi jalanan dan tempat wisata belum ramai dengan masyarakat Cina yang berpergian. Selain itu, lokasi Great Wall yang kami pilih adalah yang paling tepat karena Mutianyu lebih sepi pengunjung tetapi sudah direstorasi dengan baik. Jika kami memilih Badailing maka yang bisa kita lihat hanyalah lautan manusia, temboknya malah ga akan kelihatan. Sedangkan Jinshanling memang sepi pengunjung, tapi masih minim restorasi dan lokasinya lebih jauh.

image
Tembok raksasa sepanjang mata memandang

Tembok Raksasa Cina (Great Wall) merupakan bangunan terpanjang yang pernah dibuat manusia. Great Wall membujur sepanjang 8,850 kilometers (5,500 miles) dari timur ke barat China melewati gurun pasir, padang rumput, gunung-gunung, dan dataran tinggi.  Bahkan hasil studi terbaru menyatakan bahwa tembok ini memiliki panjang 21,196.18 kilometer. Jadi Great Wall ini jauh lebih panjang daripada panjang Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Pada tahun 1987 bangunan ini ditetapkan sebagai World Heritage Site oleh UNESCO. Berbagai teori mengapa tembok besar didirikan antara lain sebagai benteng pertahanan, batas kepemilikan lahan, penanda perbatasan dan jalur komunikasi untuk menyampaikan pesan. Berdasarkan bukti tertulis yang bisa diterima umum, pada dasarnya Tembok Raksasa Cina dibangun mayoritas pada periode Dinasti Qin, Dinasti Han, dan Dinasti Ming. Namun sebagian besar tembok raksasa yang masih berdiri pada saat ini merupakan hasil dari periode Ming, yang konstruksinya paling kuat. Sedangkan hasil dari Dinasti sebelumnya sudah banyak yang rusak.

Amy, tour guide kami menjelaskan juga bahwa di Mutianyu Great Wall ini terdapat tiga pilihan untuk mencapai tembok raksasa. Yang pertama adalah dengan menaiki cable car yang akan membawa kita ke titik tertinggi dari Mutianyu Great Wall. Pilihan kedua adalah menaiki gondola yang akan membawa kita ke titik yang lebih rendah dari tembok raksasa ini. Sedangkan pilihan ketiga adalah berjalan kaki (yang jelas ga akan kami pilih). Jika memilih pilihan pertama (cable car), nanti untuk turun dari Great Wall juga akan naik cable car itu juga. Sedangkan jika memilih pilihan kedua (gondola), turunnya kita bisa memilih mau naik gondola lagi atau naik tobogan. Tobogan adalah semacam perosotan yang sangat panjang yang akan membawa kita turun dari Great Wall. Tentu saja saya memilih pilihan kedua, kapan lagi bisa main perosotan yang sangat panjang seperti itu. Untuk pilihan pertama atau pilihan kedua, kami harus membayar CNY 80 per orang (rendra gratis) karena ini belum termasuk di harga pake tour. Kalo mau gratis ya silakan berjalan kaki menanjak. Hihihi….

Pintu masuk Great Wall
Pintu masuk Great Wall
Naik Gondola
Naik Gondola

Setelah satu setengah jam perjalanan sampailah kami di Great Wall Mutianyu. Horeee…. Amy memandu kami memasuki kawasan pintu masuk Great Wall. Kemudian kami diantar ke sebuah restoran tempat meeting point kami setelah selesai menyusuri Great Wall. Di restoran itulah tempat kami makan siang nanti. Setelah menunjukkan tempat meeting point, Amy membagi kami menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang memilih cable car dan kelompok yang memilih gondola. Ternyata di dalam rombongan kami tidak ada yang memilih opsi berjalan kaki. Ya iyalah… capek tau. Meskipun di Cina ada pepatah yang mengatakan, “you’re not considered as a real man if you are not climbing the great wall”, tetep aja kita males. Tapi saya melihat banyak juga bule yang siap dengan dua tongkat untuk menaiki Great Wall dengan berjalan kaki. Kereenn…

Suereeeemm......
Suereeeemm……

Setelah membayar CNY 80 per orang untuk naik gondola kami mengantri dulu. Ternyata naik gondola ini lumayan serem juga. Gondola ini ga berhenti, jadi kami menunggu di sebuah titik kemudian langsung duduk pada saat gondola menghampiri kami. Lebih susah lagi karena sama rendra, jadi dia harus digendong dan duduk di pangkuan. Seremnya lagi gondolanya ini terbuka banget, jadi cuma kayak tempat duduk aja, sandaran kakinya juga cuma sebatang besi. Naiknya tinggi baget, jadi kalo lihat ke bawah asli sereeemm. Pas turun kita harus loncat dari gondola trus langsung ditarik ke pinggir sama petugasnya karena gondolanya ini ga berhenti, tetep jalan terus. Kami sempat bingung waktu itu karena sebelum turun, petugas itu teriak-teriak pake bahasa Cina. Ya mana kami tau lah artinya apa (capek deh). Setelah deket banget baru dia sadar kalo kami ga ngerti maksudnya, trus dia baru ngomong “foot off!!” (maksudnya kakinya suruh lepasin dari sandaran kaki supaya bisa loncat). Hhfiiuff… Untung ga telat. Lagian udah tau tampangku ga ada oriental-nya gini tetep aja diajak ngomong bahasa Cina (aku curiganya sih ini karena tampang suamiku yang sering dipanggil koko koko kalo di mall).

Mutianyu Great Wall
Mutianyu Great Wall

Finally We are Here…, at The Great Wall. Sumpah deh rasanya seneng banget. Dari dulu pengen banget kesini, cuma bisa terpesona kalo lihat fotonya. And now… my dream came true… Thanks God…

I made it to Great Wall
I made it to Great Wall

Dan aku lebih terpesona lagi pada saat melihat real-nya. Ini bener-bener KEREEENN…….

dsc_0442
Haiii… Rendra udh sampe Great Wall nih

Cuaca pada saat itu cerah, tidak hujan dan tidak panas. Kami mengeksplor tembok raksasa ini dengan riangnya. Berfoto-foto di tiap sudut. Rendra juga berlari-lari dengan gembira, meskipun dia ga ngerti itu tempat apaan. “Rendra…, jangan pernah lupakan ya kenangan kita di Great Wall”. He was only 3 years old, it seems he will forget it when he grows up. But I hope he won’t.

image
Rendra at The Great Wall

Disini kami bebas mau ambil jalan ke kanan atau kiri, pemandangannya sih sama saja, sama-sama AMAZING-nya. Yang penting nanti kembali ke titik awal tempat gondola dan tobogan. Kami mengambil jalan ke kiri dulu, kemudian kembali ke titik awal trus jalan lagi ke arah kanan, kemudian balik lagi ke titik awal.

image
Aku dan rendra

Kemudian tiba waktunya kami turun dari Great Wall. Ternyata rendra ga mau naik tobogan, jadi papanya terpaksa nemenin dia naik gondola. Sementara saya naik tobogan dong. Hihihi… Tobogan ini berbentuk alas duduk dengan roda di bawahnya dan dilengkapi tuas untuk mengatur kecepatan. Kalo mau cepet tinggal didorong ke depan tuasnya, sedangkan kalo mau nge-rem tuasnya ditarik ke belakang. So simple and so fun. You should try it. Meluncur pake tobogan ini durasinya sekitar 10 menit. Di titik-titik tertentu ada rambu-rambu yang meminta agar kita mengurangi kecepatan dan ada juga petugas yang berjaga. Pada saat musim salju atau hujan deras tobogan ini ditutup karena seluncurannya licin sehingga berbahaya.

Naik tobogan yang mengasyikkan
Naik tobogan yang mengasyikkan
dsc_0543
Sesampainya di bawah

Sesampainya di bawah rendra dan papanya sudah menunggu, kemudian kami langsung menuju restoran tempat meeting point. Nama restorannya adalah Yisonglou. Di restoran ini kami dijamu chinese food, lumayan enak kok. Harga paket tour sudah termasuk makan siang prasmanan di restoran ini. Setelah selesai makan kami kembali ke minivan untuk diantar kembali ke Beijing. And our next destination for today is Beijing Olympic Stadium.

dsc_0429
I am glad to be here
image
at the roof top
Pintu masuk untuk naik gondola
Pintu masuk untuk naik gondola

Bersantai di Behai Park

Behai Park
Behai Park

Setelah mengelilingi Forbidden City, tujuan kami selanjutnya adalah Behai Park. Untuk menuju Behai Park, kami naik bus nomor 109 dari depan pintu keluar Forbidden City ke arah kiri dan turun di satu pemberhentian berikutnya. Kami masuk ke dalam Behai Park melalui South Gate, tiket masuknya adalah CNY 10 per orang (dan tentu saja rendra gratis). Taman ini buka mulai pukul 06.30 s.d. 21.00 di bulan April, Mei, September, dan Oktober. Sedangkan pada musim dingin hanya buka sampai dengan pukul 20.00. Behai Park adalah sebuah taman yang sangat luas dan indah. Di dalam taman tersebut ada danau luas dengan pulau di tengahnya yang bernama Jade Islet. Di atas Jade Islet berdiri White Dagoba yang dibangun pada tahun 1651 pada masa kekuasaan Kaisar Shunzhi, Kaisar pertama dari Dinasti Qing. Kaisar Shunzhi setuju untuk membangun Dagoba khas Tibet untuk menunjukkan kepercayannya pada agama Budha dan keinginannya untuk penyatuan kelompok etnis China yang beragam.

South Gate of Behai Park
South Gate of Behai Park
Suka bgt sama jembatan ini

Suasana di Behai Park ini sangat tenang dan sepi, berbeda sekali dengan Forbidden City yang penuh dengan turis. Rasanya relax sekali disini. Saya sangat menyukai taman ini, terutama jembatan putih khas China yang cantik sekali. Jembatan ini menghubungkan kita ke Jade Islet. Selain itu, yang membuat taman ini terlihat indah adalah pohon-pohon willow yang tumbuh mengelilingi danau, daun-daunnya menjuntai sampai mengenai air danau. Ga tau kenapa saya suka banget sama taman ini, jadi membayangkan kalo musim gugur pasti akan terlihat lebih indah. Pada saat kami sampai disini, rendra sudah tertidur di gendongan papanya, jadi kami tidak bisa mengelilingi seluruh sudut taman ini. Lagian udah capek banget rasanya kaki ini. Kami hanya duduk di bawah pohon sambil memandang jembatan putih yang cantik tadi. Tidak jauh dari tempat kami duduk, ada seorang kakek yang melukis kaligrafi tulisan China di lantai, beberapa orang mengerumuninya. Disini juga ada electric bus yang bisa kita naiki untuk mengelilingi taman yang sangat luas ini. Tapi tarif untuk per orangnya CNY 20, cukup mahal ya, jadi kami tidak menaikinya (lagian rendra juga masih tidur). Sambil menunggu rendra bangun kami membeli mie instant (sejenis pop mie) di kios makanan. Harganya CNY 8, porsinya sangat besar, kami makan semangkuk berdua.

image
at The Bridge

Tidak lama kemudian rendra terbangun, kami pun mengajaknya berjalan melewati jembatan menuju Jade Islet. Di pinggir pulau ini ada sekelompok orang yang bermain musik, suara musik ini pun semakin menambah keindahan taman.

dsc_0356
Melewati jembatan menuju Jade Islet
image
Naik perahu tradisional

Di pinggir danau ada perahu-perahu tradisional China yang bisa kita naiki untuk mengelilingi danau. Tarif untuk naik perahu ini adalah CNY 30 per orang (rendra tetep gratis) untuk mengelilingi seperempat danau. Jika mau keliling lebih jauh lagi tarifnya lebih mahal.

dsc_0386
Kesayanganku

Setelah naik perahu, hari sudah menjelang malam, kami pun kembali ke hostel dengan menaiki bus nomor 109 lagi dan turun di bus stop depan Dongsi Station. Hari ini kami sangat lelah karena tadi malam hanya tidur sambil duduk di bangku airport, badan rasanya sakit semua. Sebenarnya saya merencanakan untuk jalan-jalan ke Wangfujing malam ini, tapi rasanya sudah benar-benar tidak sanggup lagi. Jadi akhirnya setelah mandi kami makan malam di warung muslim sebelah hostel kemudian setelahnya langsung istirahat dengan nyenyak. Selamat malam Beijing….. ^_^

dsc_0354
Behai Park
Seorang kakek yang menulis kaligrafi tulisan Cina
Seorang kakek yang menulis kaligrafi tulisan Cina
Sekelompok orang bermain musik di pinggir danau
Sekelompok orang bermain musik di pinggir danau

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Nicoline's Journal

by Nicoline Patricia Malina

Alid Abdul

Travel till you die!

Harival Zayuka

Just another WordPress.com site

My Sanctuary

my travel notes

Claraberkelana.com

Travel Stories

The Naked Traveler

Journey Redefined

The Traveling Cows

my travel notes