Search

Here, There, & Everywhere

my travel notes

Category

Bondowoso

Ngos-ngosan Trekking ke Kawah Ijen

Kawah Ijen
Kawah Ijen

Pukul 00.30 weker saya berdering. Kami segera bangun lalu cuci muka dan sikat gigi. Ga pake mandi, kan kemarin malam udah. Setelah semua siap kami berangkat dari homestay pukul 01.30 menuju Patulding. Yuk buruan karena kami rencananya mau mengejar blue fire, fenomena alam yang hanya ada dua di dunia, salah satunya di Kawah Ijen ini. Perjalanan menuju Patulding ditempuh sekitar 20 menit dan melewati dua pos penjagaan. Yang satu adalah Pos Blawan yang kemarin sudah kami lewati ketika menuju pemandian air panas. Sedangkan yang satu lagi ga tau namanya pos apa. Di pos Blawan kami tidak membayar uang administrasi lagi, kami bilang aja kalo kemarin udah. Di pos yang berikutnya baru kami bayar lagi Rp10 ribu.

Sesampainya di Patulding kami mendaftar dulu di pos. Tiket masuk per orang adalah Rp5 ribu dan parkir mobil Rp10 ribu. Jadi total kami berenam plus parkir mobil Rp40 ribu. Di Patulding banyak pemandu yang menawarkan jasanya, tapi kami tidak menggunakannya karena menurut informasi jalan setapaknya hanya satu untuk menuju ke Kawah Ijen, jadi ga mungkin tersesat. Dari Patulding menuju Kawah Ijen jaraknya 3 km. Yuuuk mari kita mendaki….

Sesampainya di atas
Sesampainya di atas

Oh ya, kostum dan perlengkapan yang saya pakai untuk mendaki Ijen adalah sebagai berikut: Jaket tebal, celana panjang plus didalamnya diramgkepin legging, kaos kaki, sepatu, kaos tangan, serta topi kupluk. Sedangkan perlengkapan yang kami bawa adalah masker, senter, tongkat, air minum, snack, dan oksigen kalengan. Sebelum berangkat ke Ijen ini saya jogging dulu seminggu sebelumnya. Soalnya denger cerita temen2 saya yang sampe nangis-nangis karena ga kuat nanjak. Jadi harus nyiapin stamina dulu lah, latihan biar nafasnya kuat buat nanjak.

Perjalanan diawali dengan jalan yang datar, tapi cuma sebentar banget. Trus kenudian mulai menanjak dan terus menanjak. Kayaknya hampir tiap 10 langkah kami berhenti dulu deh untuk ngatur nafas. Tapi gapapa ayo terus semangat, jangan menyerah. Tongkat yang kami bawa itu sangat membantu lho, kami yang cewek-cewek pada pake tongkat kecuali Wully. Setelah lebih dari satu jam kemudian kami sampai di pos penimbangan belerang, yang disebut juga Pos Bunder. Kami istirahat dulu disana sambil makan coklat buat nambah energi. Kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi. Di akhir perjalanan jalan yang kami lalui menjadi lebih landai. Alhamdulillah senangnya hati ini.

Setelah matahari terbit
Terbayar sudah semua rasa capeknya
Kereeen kan
Kereeen kan

Kemudiaaannn…. sampailah kami di puncak Ijen. Yipeeee…. Pendakian dari Patulding kesini kami tempuh dalam waktu dua jam. Not too bad for begginner, isn’t it??? Lalu kami menuju ke arah kawah untuk melihat fenomena blue fire. Dari kejauhan sudah terlihat blue fire-nya, walaupun cuma kecil seuprit. Kalau mau turun ke kawah bisa supaya dapat melihat lebih jelas, tapi menurut seorang bapak pengangkut belerang sebentar lagi matahari terbit. Jadi fenomena blue firenya akan hilang. Untuk turun ke kawah dan naik lagi ke atas diperlukan waktu 1,5 jam. Saya udah males aja bayangin nanti baliknya harus nanjak lagi. Akhirnya kami menuruti saran bapak itu untuk menunggu sunrise di atas aja. Setelah mencari posisi enak kami duduk sambil kedinginan. Bbbrrr….

Indahnya Kawah Ijen
Indahnya Kawah Ijen

Tak lama kemudian matahari terbit memperlihatkan keindahan alam di sekitar kami. Kawah ijen yang berwarna hijau terpampang di depan kami. Woouuwww indahnyaaaa…. Coba kalo untuk kesini ga perlu pake acara nanjak-nanjak segala pasti saya mau berkali-kali kesini lagi. Kami menikmati pemandangan ini dan berfoto-foto dengan berbagai pose sampai puas. Sayangnya pagi itu kabut agak menghalangi pemandangan kawah. Tapi gapapalah… tetep indah kok pemandangannya.

DSC_0460
Trip to Ijen with my bestfriend
Loncat-loncatan di Ijen
Loncat-loncatan di Ijen
20140830_073516
Ga rugi capek2 kesini
DSC_0425
my bestfriend
Pengangkut belerang
Pengangkut belerang

Di sini ada penjual kerajinan dari belerang. Jadi belerang dicetak menjadi bentuk-bentuk yang lucu. Ada bentuk kura-kura, kepiting, ikan, dinosaurus, dll. Harganya murah banget, ada yang Rp 5 ribu per buah, dan ada juga yang Rp 5 ribu dapat dua buah. Kami membeli Rp20 ribu dapat banyak banget. Para pengangkut belerang banyak berlalu lalang di sekitar kami, berat belerang yang mereka panggul sekitar 70 kg. Beraaat yaaa… Saya aja cuma bawa badan sendiri rasanya berat banget.

DSC_0485
Foto di jalan pulang
Balik yuukk
Balik yuukk. Bye… bye… Ijen… Sampe ketemu lagi
Pos Bunder
Pos Bunder
Pos Penimbangan Belerang
Pos Penimbangan Belerang

Setelah puas menikmati pemandangan kami kembali menuruni jalan setapak yang tadi. Sekarang sih enak jalannya turun, tapi betis agak pegel juga karena turunannya agak curam. Untung bawa tongkat buat pegangan. Di beberapa titik kami harus hati-hati karena jalannya berpasir sehingga licin. Kami berhenti dulu di pos penimbangan belerang. Di dekat pos penimbangan belerang ini ada sebuah bangunan kuno yang bentuknya setengah lingkaran. Inilah yang disebut Pos Bunder. Di pos penimbangan belerang ada kantin yang menjual pop mie dan minuman hangat. Jadi kami istirahat sambil makan pop mie dulu lah. Sambil istirahat saya melihat para pengangkut belerang yang menimbang belerang yang mereka angkut di timbangan. “78 kg” kata petugas pos penimbangan. Busyeeet deh….

Perjalanan pulang
Perjalanan pulang

 Oh ya di belakang pos penimbangan belerang ini ada tempat untuk buang air kecil. Saya seneng dong karena udah nahan pipis dari tadi, di pikiran saya lumayan ada toilet. Saya pun menuju kesana, tempatnya agak naik ke atas. Dan ternyata sodara-sodara itu bukan toilet sama sekali. Cuma lubang di tanah dengan pijakan kaki dari kayu dan tanpa penutup sama sekali. Oke deh… karena saya udah kebelet banget mau gimana lagi, Kalo dilihat sekitarnya sih memang tempat itu tidak terlihat dari jalan setapak, jadi semestinya sih memang ga ada yang bisa lihat kesitu. Hehehehe….

DSC_0514
Istirahat dulu yaaa

Setelah istirahat kami melanjutkan kembali perjalanan turun dan sampai di Patulding pukul 09.30. Kemudian kami kembali ke homestay untuk sarapan, mandi, dan tidur sebentar. Jam 13.00 kami check out dari homestay untuk menuju tujuan wisata kami berikutnya yaitu Taman Nasioal Baluran.

DSC_0521
We did it !!!!
Patulding
Patulding

 

Trip ke Kawah Ijen dan Baluran bersama sahabat

Trip with my bestfriend
Trip with my bestfriend

Jumat tgl 29 Agustus 2014 saya dan teman-teman kantor cuti bareng-bareng untuk berwisata ke Kawah Ijen dan Taman Nasional Baluran. Kami berangkat berenam, yaitu saya, Vanny, Anik, Wully, Rommy, dan Dani (suaminya Wully). Setelah muter-muter menjemput teman-teman di rumah masing-masing, kami akhirnya berangkat dari Surabaya pukul 10.00. Perjalanan cukup lancar tanpa macet. Setelah singgah makan di Probolinggo, kami sampai di Bondowoso pukul 3 sore. Di Bondowoso kami isi bensin dulu, karena nanti di atas tidak ada pom bensin. Dari Bondowoso ambil jalan yang menuju Situbondo, nanti ada pertigaan  dengan penanda jalan, Kawah Ijen belok ke kanan. Pada awalnya jalan cukup mulus, tapi kemudian ada beberapa titik yang jalannya rusak berat. Sekitar 1,5 jam kemudian kami sampai di Pos pertama yaitu Pos Jampit. Kami berhenti di pos ini untuk melapor ke petugas jaga dan tentunya memberikan uang administrasi sukarela (kami kasih 10 ribu aja). Pos ini letaknya di pinggir tebing, jadi pemandangannya indah. Kami pun foto-foto dulu dong.

Pos pertama
Pos Jampit
Arabica Homestay
Arabica Homestay

Saya sudah membooking tiga kamar di Arabica Homestay di daerah Sempol dengan harga Rp300 ribu per kamar (VIP room). Sebenernya mau pake kamar yang standar aja, tapi udah full book. Kamar standar harganya Rp150 ribu. Ada penginapan lain di daerah Ijen ini yaitu Catimor Homestay. Kedua homestay ini adalah milik PTPN XII. Awalnya saya ingin menginap di Catimor saja karena di Catimor ada kolam renang dan kolam air panas belerang untuk berendam. Tapi sayangnya udah full book juga untuk semua tipe kamar. Sepertinya bulan ini Ijen lagi ramai2nya dikunjungi wisatawan, jadi saya tidak punya pilihan lain selain mengambil kamar VIP di Arabica itu.

Setelah dari pos pertama kami kemudian melewati pos kedua yaitu Pos Blawan, disini kami harus turun lagi untuk lapor dan memberikan uang adminstrasi. Setelah melalui pos kami melewati rumah-rumah pekerja PTPN XII yang mungil dan asri, halaman rimah-rumah ini ditanami sayur-sayuran dan buah-buahan. Kemudian kami sampai di pertigaan, kami pun bertanya pada penduduk dimana letak Arabica Homestay. Ternyata kami kelewatan, lokasi Arabica adalah sebelum Pos Blawan. Daripada kami kembali lagi, saya mengajak teman2 untuk ke pemandian air panas belerang. Lokasi pemandian air panas ini di dekat Catimor Homestay, dari pertigaan lurus saja mengikuti jalan. Kata penduduk sih jaraknya 2 km dari pertigaan itu. Tidak lama kemudian kami sampai di pabrik kopi, di dekat pabrik kopi itulah berdiri Catimor Homestay yang merupakan bangunan kuno peninggalan Belanda. Kami melanjutkan perjalanan menuju pemandian, kemudian jalannya jadi tidak beraspal lagi dan menurun ke bawah agak curam. Kami bertanya pada penduduk yang lewat bagaimana kondisi jalan ke bawah. Orang itu berkata “normal”. Oh oke baiklah kalo gitu aman. Kami pun melanjutkan perjalanan, tapi kok jalannya agak ngeri ya turunannya. Untung ga lama udah sampai deh di pemandian.

Pemandian air panas belerang
Pemandian air panas belerang

Mandi di pemandian air panas ini sebenarnya bukan termasuk rencana kami, oleh karena itu kami ga bawa baju untuk berendam. Akhirnya kami memakai baju yang kami pakai hari ini plus celana yang rencananya dipake tidur. Tarif untuk mandi disini adalah Rp2 ribu per orang. Setelah mengganti celana jeans dengan celana kain kami pun langsung nyemplung di kolam. Waahhh enaknya…. Air belerangnya cukup panas, jadi rasa pegal-pegal menjadi hilang. Ada dua kolam disini, yang membedakan adalah kadar panasnya. Yang satu agak panas dan yang satunya panas sekali. Untuk masuk ke kolam yang sangat panas kami harus membiasakan tubuh kami dulu dengan mengguyur air ke tubuh sebelum nyemplung. Selain dua kolam tersebut, disana juga terdapat kamar-kamar mandi yang berisi bath tub berisi air panas. Jadi kalo mau berendam naked gunakan saja bath tub ini. Hehehehe…..

Yuk kita nyemplungg....
Yuk kita nyemplungg….

Setelah hari gelap kami segera berganti pakaian kering dan berangkat ke homestay. Di parkiran mobil, kami dikagetkan oleh statement seorang pengemudi jeep yang mengantar tamunya kesini. “Lho… ini avanza kok sampe sini. Biasanya avanza itu cuma sampe di atas”. Whaattt??? Bikin jiper aja orang ini. Kami jadi makin ngeri untuk kembali ke atas scara jalannya rusak dan tanjakannya cukup curam. Haadduuuhhh…. Bismillah aja deh… Alhamdulillah setelah agak ngoyo dikit, avanza kami berhasil mencapai atas. Alhamdulillah yaaa…. “NORMAL” kok…. Hahaha….

Kami kembali ke jalan yang kami lalui sebelumnya untuk menuju Arabica Homestay. Sesampainya di homestay kami langsung menaruh tas di kamar masing-masing. Saya bertanya ke petugas homestay apa bisa memesan makan malam disini. Ternyata bisa, tapi harganya cukup mahal Rp 50 ribu per orang. Petugas homestay itu menyarankan kami untuk pergi ke warung makan di terminal yang letaknya tidak jauh dari homestay (tapi kalo jalan kaki ya jauh yaa…). Di terminal ada tiga warung, tapi yang buka hanya dua. Yang satu menjual nasi campur dan rawon, sedangkan yang satunya menjual bakso. Harga nasi campurnya Rp10 ribu dan baksonya harganya Rp5 ribu. Muraaah kaann….

Setelah kenyang kami kembali ke homestay untuk tidur. Besok janjian mau berangkat ke  Kawah Ijen jam 1 pagi. Sekarang sudah jam 9 malam. Hhhmm cuma punya waktu 3 jam buat tidur.

Kamar VIP di Arabica Homestay
Kamar VIP di Arabica Homestay

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Nicoline's Journal

by Nicoline Patricia Malina

Alid Abdul

Travel till you die!

Harival Zayuka

Just another WordPress.com site

My Sanctuary

my travel notes

Claraberkelana.com

Travel Stories

The Traveling Cows

my travel notes