Search

Here, There, & Everywhere

my travel notes

Category

Beijing

Waiting for The Lights at Beijing Olympic Park

Beijing Olympic Park
Beijing Olympic Park

Tujuan kami berikutnya adalah Beijing Olympic Park. Sekitar pukul 4 sore kami sampai di Beijing dan diturunkan oleh minivan di Yonghegong Station, kemudian kami naik subway line 2 dan turun di Guloudajie dan berganti ke subway line 8. Kami turun di Olympic Sports Center Station dan keluar di Exit B. Di Beijing Olympic Park ada dua bangunan yang dapat kita lihat, yaitu Beijing National Stadium (Bird Nest) dan Beijing National Aquatics Center (Water Cube).

image
Pintu masuk Beijing Olympic Park

Beijing National Stadium (Bird Nest)

image
Beijing National Stadium

Beijing National Stadium disebut Bird Nest karena tiang penyangga stadion ini membentuk seperti sarang burung.  Tiang penyangga yang dibuat memiliki desain khusus, walaupun terkesan tidak beraturan, namun tiang-tiang yang bersambungan tersebut tetap diperhatikan ukurannya, baik panjang lebar, tinggi dan letak tiang tersebut, sehingga tetap dapat menopang stadion. Stadion ini memiliki luas 260.000 meter persegi, dengan lapangan hijau dan kursi yang tertata rapi. Kapasitas dari stadion ini dapat menampung sekitar 91.000 pengunjung. Stadion ini pernah dijadikan tempat olimipiade di beijing pada tahun 2008 lalu.

image
Olimpiade 2008

Pada waktu kami sampai disini cuaca masih terang, kami pun berfoto-foto di depan bangunan ini. Jalan dari pintu keluar stasiun kesini cukup jauh, pokoknya kalo di Beijing harus kuat jalan jauh deh… Untuk masuk ke dalam stadion ini harus membayar tiket masuk CNY50 per orang. Stadion ini buka mulai pukul 09.00 s.d. 18.00, oleh karena itu kami tidak masuk kedalamnya karena pada waktu itu sudah sore. Setelah puas foto-foto di depan Bird Nest, kami pun pindah ke bangunan di sebelahnya, yaitu…

Beijing National Aquatics Center (Water Cube)

image

Dinamakan Water Cube karena bentuknya kubus transparan, dengan warna biru air yang terang. Bangunan ini merupakan salah satu bangunan yang didirikan untuk ajang Olimpiade di Beijing tahun 2008. Pada malam hari, penampakan bangunan Water Cube ini sangat keren. Cahaya lampu yang berwarna putih dan biru berpadu dengan warna air di kolam yang ada di dalam Water Cube ini, menghasilkan spektrum warna biru cerah yang luar biasa. Water Cube ini mampu menampung sekitar 17.000 penonton, dengan arena untuk olahraga air seluas 7.000 meter persegi. Dengan tinggi bangunan yang mencapai 31 meter, anda dapat melihat cahaya biru terang dari bangunan unik ini dari jarak ratusan meter. Kami tidak masuk ke dalam Water Cube ini, cukup melihat keunikannya saja dari luar. Jika ingin masuk harus membayar tiket masuk CNY 30 per orang.

Rendra & Nouri
Rendra & Nouri

Setelah berfoto-foto di depan Water Cube, kami menunggu hari gelap di taman dekat Water Cube. Kami memang sengaja menunggu hari menjadi gelap agar lampu-lampu di kedua bangunan tersebut menyala sehingga dua bangunan itu menjadi semakin indah. Sambil menunggu, rendra bermain mobil-mobilan yang kami bawa dari rumah, yakni Tayo (the little bus) dan Nouri taxi (temennya Tayo). Kemana-mana kami memang membawa dua mainan itu supaya kalo lagi bosen rendra bisa mainan dan ga rewel.

Oh ya, sedikit cerita tentang toilet umum di Beijing. Waktu menunggu di Beijing Olympic Park saya sempat menggunakan toilet umum disana. Toiletnya berbentuk bilik-bilik kecil yang sangat banyak (jadi ga perlu ngantri). Memang seperti cerita- cerita yang pernah saya dengar sebelumnya, kebanyakan toilet di Beijing memang jorok dan bau pesing. Oleh karena itu saya selalu menyiapkan masker dan gel pencuci tangan dettol jika mau ke toilet. Jadi saya teteskan dettol ke atas masker, trus dipake deh maskernya pas mau masuk toilet. Lumayanlah mengurangi bau pesing yang kita hirup diganti dengan bau dettol. Kebanyakan toilet umum di Beijing sudah menggunakan sistem flush otomatis, jadi begitu kita buang air langsung diguyur secara otomatis dan ada busa sabunnya di air flush-nya itu. Tapi meski udah otomatis gitu kok tetep bau pesing aja yaa. Bingung…

Setelah menunggu cukup lama, jam 7 malam hari baru gelap dan lampu-lampu pun menyala….

dsc_0671
Cantik kan kalo lampunya udah nyala
Buih-buih air berwarna biru
Buih-buih air berwarna biru

Indah bukan….? Ga sia-sia lah nungguin lama disini. Penampakan kedua bangunan itu emang keren banget di malam hari pada saat lampu-lampunya menyala.

dsc_0636
Gemeeess
dsc_0633
My cute little boy

Menyusuri Great Wall

Finally I'm HERE
Finally I’m HERE

Hari ini, Kamis tanggal 12  September 2013 kami akan berwisata ke Great Wall Mutianyu. Yipeee…. Kami sudah membeli paket tour seharga CNY 250 per orang (rendra gratis). Tour agent akan menjemput di lobi hostel pada pukul 07.30. Setelah membangunkan rendra dengan susah payah dan mengajaknya mandi, akhirnya kami siap di lobi pada pukul 07.30. Tapi  kami belum sempat sarapan. Harga yang kami bayar untuk hostel memang belum termasuk sarapan, tapi di hostel ada restoran yang menyediakan sarapan. Akan tetapi waktunya sudah mepet sekali, jadi kami memutuskan tidak sarapan di hostel. Kemarin saya melihat sebuah kios yang menjual makanan di sebelah hostel. Kelihatannya banyak yang membeli makanan disana untuk dibawa ke kantor atau sekolah. Saya pun kesana untuk membeli sarapan. Tapi ternyata tak semudah yang dibayangkan, penjualnya sama sekali tidak bisa bahasa inggris dan lagi-lagi saya tidak bisa bertanya mana makanan yang halal. Akhirnya saya memilih saja roti dengan isi daging, bentuknya seperti humberger kecil. Saya lalu membawa roti itu ke hostel untuk menanyakan daging apakah itu. Kebetulan tour guide kami, seorang wanita cantik, sudah datang menjemput, saya pun bertanya ke dia tentang daging itu. Dia tidak terlalu yakin karena dagingnya berbumbu merah. Dia pun bertanya dimana saya membelinya, kemudian dia berlari-lari menuju kios tadi untuk menanyakan ke penjualnya. Jawabannya daging itu adalah daging ayam. Alhamdulillah… Saya pun membeli dua lagi untuk sarapan kami bertiga.

Kios tempat beli sarapan
Kios tempat beli sarapan

Wanita cantik yang sudah berbaik hati menolong kami mengidentifikasi daging roti tadi bernama Amy, dialah yang menjadi tour guide kami. Kami berangkat ke Mutianyu Great Wall menaiki minivan yang kira-kira berisi sepuluh orang. Selama di perjalanan, Amy memberikan penjelasan tentang sejarah Great Wall. Dia juga mengatakan bahwa kami berwisata ke Great Wall pada waktu yang tepat. Cuaca pada hari itu cerah dan belum memasuki liburan nasional Cina, jadi jalanan dan tempat wisata belum ramai dengan masyarakat Cina yang berpergian. Selain itu, lokasi Great Wall yang kami pilih adalah yang paling tepat karena Mutianyu lebih sepi pengunjung tetapi sudah direstorasi dengan baik. Jika kami memilih Badailing maka yang bisa kita lihat hanyalah lautan manusia, temboknya malah ga akan kelihatan. Sedangkan Jinshanling memang sepi pengunjung, tapi masih minim restorasi dan lokasinya lebih jauh.

image
Tembok raksasa sepanjang mata memandang

Tembok Raksasa Cina (Great Wall) merupakan bangunan terpanjang yang pernah dibuat manusia. Great Wall membujur sepanjang 8,850 kilometers (5,500 miles) dari timur ke barat China melewati gurun pasir, padang rumput, gunung-gunung, dan dataran tinggi.  Bahkan hasil studi terbaru menyatakan bahwa tembok ini memiliki panjang 21,196.18 kilometer. Jadi Great Wall ini jauh lebih panjang daripada panjang Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Pada tahun 1987 bangunan ini ditetapkan sebagai World Heritage Site oleh UNESCO. Berbagai teori mengapa tembok besar didirikan antara lain sebagai benteng pertahanan, batas kepemilikan lahan, penanda perbatasan dan jalur komunikasi untuk menyampaikan pesan. Berdasarkan bukti tertulis yang bisa diterima umum, pada dasarnya Tembok Raksasa Cina dibangun mayoritas pada periode Dinasti Qin, Dinasti Han, dan Dinasti Ming. Namun sebagian besar tembok raksasa yang masih berdiri pada saat ini merupakan hasil dari periode Ming, yang konstruksinya paling kuat. Sedangkan hasil dari Dinasti sebelumnya sudah banyak yang rusak.

Amy, tour guide kami menjelaskan juga bahwa di Mutianyu Great Wall ini terdapat tiga pilihan untuk mencapai tembok raksasa. Yang pertama adalah dengan menaiki cable car yang akan membawa kita ke titik tertinggi dari Mutianyu Great Wall. Pilihan kedua adalah menaiki gondola yang akan membawa kita ke titik yang lebih rendah dari tembok raksasa ini. Sedangkan pilihan ketiga adalah berjalan kaki (yang jelas ga akan kami pilih). Jika memilih pilihan pertama (cable car), nanti untuk turun dari Great Wall juga akan naik cable car itu juga. Sedangkan jika memilih pilihan kedua (gondola), turunnya kita bisa memilih mau naik gondola lagi atau naik tobogan. Tobogan adalah semacam perosotan yang sangat panjang yang akan membawa kita turun dari Great Wall. Tentu saja saya memilih pilihan kedua, kapan lagi bisa main perosotan yang sangat panjang seperti itu. Untuk pilihan pertama atau pilihan kedua, kami harus membayar CNY 80 per orang (rendra gratis) karena ini belum termasuk di harga pake tour. Kalo mau gratis ya silakan berjalan kaki menanjak. Hihihi….

Pintu masuk Great Wall
Pintu masuk Great Wall
Naik Gondola
Naik Gondola

Setelah satu setengah jam perjalanan sampailah kami di Great Wall Mutianyu. Horeee…. Amy memandu kami memasuki kawasan pintu masuk Great Wall. Kemudian kami diantar ke sebuah restoran tempat meeting point kami setelah selesai menyusuri Great Wall. Di restoran itulah tempat kami makan siang nanti. Setelah menunjukkan tempat meeting point, Amy membagi kami menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang memilih cable car dan kelompok yang memilih gondola. Ternyata di dalam rombongan kami tidak ada yang memilih opsi berjalan kaki. Ya iyalah… capek tau. Meskipun di Cina ada pepatah yang mengatakan, “you’re not considered as a real man if you are not climbing the great wall”, tetep aja kita males. Tapi saya melihat banyak juga bule yang siap dengan dua tongkat untuk menaiki Great Wall dengan berjalan kaki. Kereenn…

Suereeeemm......
Suereeeemm……

Setelah membayar CNY 80 per orang untuk naik gondola kami mengantri dulu. Ternyata naik gondola ini lumayan serem juga. Gondola ini ga berhenti, jadi kami menunggu di sebuah titik kemudian langsung duduk pada saat gondola menghampiri kami. Lebih susah lagi karena sama rendra, jadi dia harus digendong dan duduk di pangkuan. Seremnya lagi gondolanya ini terbuka banget, jadi cuma kayak tempat duduk aja, sandaran kakinya juga cuma sebatang besi. Naiknya tinggi baget, jadi kalo lihat ke bawah asli sereeemm. Pas turun kita harus loncat dari gondola trus langsung ditarik ke pinggir sama petugasnya karena gondolanya ini ga berhenti, tetep jalan terus. Kami sempat bingung waktu itu karena sebelum turun, petugas itu teriak-teriak pake bahasa Cina. Ya mana kami tau lah artinya apa (capek deh). Setelah deket banget baru dia sadar kalo kami ga ngerti maksudnya, trus dia baru ngomong “foot off!!” (maksudnya kakinya suruh lepasin dari sandaran kaki supaya bisa loncat). Hhfiiuff… Untung ga telat. Lagian udah tau tampangku ga ada oriental-nya gini tetep aja diajak ngomong bahasa Cina (aku curiganya sih ini karena tampang suamiku yang sering dipanggil koko koko kalo di mall).

Mutianyu Great Wall
Mutianyu Great Wall

Finally We are Here…, at The Great Wall. Sumpah deh rasanya seneng banget. Dari dulu pengen banget kesini, cuma bisa terpesona kalo lihat fotonya. And now… my dream came true… Thanks God…

I made it to Great Wall
I made it to Great Wall

Dan aku lebih terpesona lagi pada saat melihat real-nya. Ini bener-bener KEREEENN…….

dsc_0442
Haiii… Rendra udh sampe Great Wall nih

Cuaca pada saat itu cerah, tidak hujan dan tidak panas. Kami mengeksplor tembok raksasa ini dengan riangnya. Berfoto-foto di tiap sudut. Rendra juga berlari-lari dengan gembira, meskipun dia ga ngerti itu tempat apaan. “Rendra…, jangan pernah lupakan ya kenangan kita di Great Wall”. He was only 3 years old, it seems he will forget it when he grows up. But I hope he won’t.

image
Rendra at The Great Wall

Disini kami bebas mau ambil jalan ke kanan atau kiri, pemandangannya sih sama saja, sama-sama AMAZING-nya. Yang penting nanti kembali ke titik awal tempat gondola dan tobogan. Kami mengambil jalan ke kiri dulu, kemudian kembali ke titik awal trus jalan lagi ke arah kanan, kemudian balik lagi ke titik awal.

image
Aku dan rendra

Kemudian tiba waktunya kami turun dari Great Wall. Ternyata rendra ga mau naik tobogan, jadi papanya terpaksa nemenin dia naik gondola. Sementara saya naik tobogan dong. Hihihi… Tobogan ini berbentuk alas duduk dengan roda di bawahnya dan dilengkapi tuas untuk mengatur kecepatan. Kalo mau cepet tinggal didorong ke depan tuasnya, sedangkan kalo mau nge-rem tuasnya ditarik ke belakang. So simple and so fun. You should try it. Meluncur pake tobogan ini durasinya sekitar 10 menit. Di titik-titik tertentu ada rambu-rambu yang meminta agar kita mengurangi kecepatan dan ada juga petugas yang berjaga. Pada saat musim salju atau hujan deras tobogan ini ditutup karena seluncurannya licin sehingga berbahaya.

Naik tobogan yang mengasyikkan
Naik tobogan yang mengasyikkan
dsc_0543
Sesampainya di bawah

Sesampainya di bawah rendra dan papanya sudah menunggu, kemudian kami langsung menuju restoran tempat meeting point. Nama restorannya adalah Yisonglou. Di restoran ini kami dijamu chinese food, lumayan enak kok. Harga paket tour sudah termasuk makan siang prasmanan di restoran ini. Setelah selesai makan kami kembali ke minivan untuk diantar kembali ke Beijing. And our next destination for today is Beijing Olympic Stadium.

dsc_0429
I am glad to be here
image
at the roof top
Pintu masuk untuk naik gondola
Pintu masuk untuk naik gondola

Bersantai di Behai Park

Behai Park
Behai Park

Setelah mengelilingi Forbidden City, tujuan kami selanjutnya adalah Behai Park. Untuk menuju Behai Park, kami naik bus nomor 109 dari depan pintu keluar Forbidden City ke arah kiri dan turun di satu pemberhentian berikutnya. Kami masuk ke dalam Behai Park melalui South Gate, tiket masuknya adalah CNY 10 per orang (dan tentu saja rendra gratis). Taman ini buka mulai pukul 06.30 s.d. 21.00 di bulan April, Mei, September, dan Oktober. Sedangkan pada musim dingin hanya buka sampai dengan pukul 20.00. Behai Park adalah sebuah taman yang sangat luas dan indah. Di dalam taman tersebut ada danau luas dengan pulau di tengahnya yang bernama Jade Islet. Di atas Jade Islet berdiri White Dagoba yang dibangun pada tahun 1651 pada masa kekuasaan Kaisar Shunzhi, Kaisar pertama dari Dinasti Qing. Kaisar Shunzhi setuju untuk membangun Dagoba khas Tibet untuk menunjukkan kepercayannya pada agama Budha dan keinginannya untuk penyatuan kelompok etnis China yang beragam.

South Gate of Behai Park
South Gate of Behai Park
Suka bgt sama jembatan ini

Suasana di Behai Park ini sangat tenang dan sepi, berbeda sekali dengan Forbidden City yang penuh dengan turis. Rasanya relax sekali disini. Saya sangat menyukai taman ini, terutama jembatan putih khas China yang cantik sekali. Jembatan ini menghubungkan kita ke Jade Islet. Selain itu, yang membuat taman ini terlihat indah adalah pohon-pohon willow yang tumbuh mengelilingi danau, daun-daunnya menjuntai sampai mengenai air danau. Ga tau kenapa saya suka banget sama taman ini, jadi membayangkan kalo musim gugur pasti akan terlihat lebih indah. Pada saat kami sampai disini, rendra sudah tertidur di gendongan papanya, jadi kami tidak bisa mengelilingi seluruh sudut taman ini. Lagian udah capek banget rasanya kaki ini. Kami hanya duduk di bawah pohon sambil memandang jembatan putih yang cantik tadi. Tidak jauh dari tempat kami duduk, ada seorang kakek yang melukis kaligrafi tulisan China di lantai, beberapa orang mengerumuninya. Disini juga ada electric bus yang bisa kita naiki untuk mengelilingi taman yang sangat luas ini. Tapi tarif untuk per orangnya CNY 20, cukup mahal ya, jadi kami tidak menaikinya (lagian rendra juga masih tidur). Sambil menunggu rendra bangun kami membeli mie instant (sejenis pop mie) di kios makanan. Harganya CNY 8, porsinya sangat besar, kami makan semangkuk berdua.

image
at The Bridge

Tidak lama kemudian rendra terbangun, kami pun mengajaknya berjalan melewati jembatan menuju Jade Islet. Di pinggir pulau ini ada sekelompok orang yang bermain musik, suara musik ini pun semakin menambah keindahan taman.

dsc_0356
Melewati jembatan menuju Jade Islet
image
Naik perahu tradisional

Di pinggir danau ada perahu-perahu tradisional China yang bisa kita naiki untuk mengelilingi danau. Tarif untuk naik perahu ini adalah CNY 30 per orang (rendra tetep gratis) untuk mengelilingi seperempat danau. Jika mau keliling lebih jauh lagi tarifnya lebih mahal.

dsc_0386
Kesayanganku

Setelah naik perahu, hari sudah menjelang malam, kami pun kembali ke hostel dengan menaiki bus nomor 109 lagi dan turun di bus stop depan Dongsi Station. Hari ini kami sangat lelah karena tadi malam hanya tidur sambil duduk di bangku airport, badan rasanya sakit semua. Sebenarnya saya merencanakan untuk jalan-jalan ke Wangfujing malam ini, tapi rasanya sudah benar-benar tidak sanggup lagi. Jadi akhirnya setelah mandi kami makan malam di warung muslim sebelah hostel kemudian setelahnya langsung istirahat dengan nyenyak. Selamat malam Beijing….. ^_^

dsc_0354
Behai Park
Seorang kakek yang menulis kaligrafi tulisan Cina
Seorang kakek yang menulis kaligrafi tulisan Cina
Sekelompok orang bermain musik di pinggir danau
Sekelompok orang bermain musik di pinggir danau

Menjadi Permaisuri di Forbidden City

Empresses
Empresses

Setelah makan kami berjalan menuju Dongsi Station. Saya membeli dua tiket subway seharga CNY 2 (rendra gratis). Di Beijing, tiket subway harganya CNY 2 untuk tujuan kemana pun. Jauh dekat harganya sama. Untuk menuju Forbidden City kami naik subway line 5 kemudian transfer ke subway line 1 dan turun di Tian Anmen East Station. Setelah berfoto-foto di depan gerbang mulailah kita masuk ke dalam Forbidden City dengan membayar tiket masuk CNY 60 per orang (rendra gratis dong). Waktu buka obyek wisata ini adalah mulai pukul 8.30 s.d. 17.00, akan tetapi penjualan tiket ditutup pada pukul 16.00.

Pintu masuk menuju Forbidden City
Pintu masuk menuju Forbidden City

Forbidden City ditetapkan sebagai World Heritage Site pada tahun 1987 oleh UNESCO. Dinamakan Forbidden City (Kota Terlarang) karena kompleks istana ini tidak boleh dimasuki oleh orang luar tanpa ada izin khusus dari Kaisar. Forbidden City ini menjadi istana Kaisar Cina mulai dari Dinasti Ming sampai dengan akhir Dinasti Qing. Kompleks istana yang dibangun pada tahun 1406 s.d. 1420 ini menjadi tempat tinggal Kaisar Cina selama hampir 500 tahun. Kompleks istana ini berdiri di tanah seluas 720.000 m2 dan berisi 980 bangunan. Sangat luas yaa…

Di depan pintu masuk Forbidden City terdapat tempat penyewaan automatic guide dalam berbagai bahasa. Bahasa Indonesia pun ada lho, berarti banyak juga orang Indonesia yang berwisata kesini ya, Kalo tidak salah harga sewa automatic guide ini CNY 40. Karena ngirit saya tidak menyewanya. Di luar kompleks ini juga banyak pedagang yang menjual peta Forbidden City. Saya sudah mengeprint peta itu hasil download dari internet, jadi ga usah beli deh.

dsc_0198
Meridian Gate

Kami memasuki Forbidden City melalui Meridian Gate dan berjalan menyusuri kompleks kota terlarang ini melalui jalan poros tengah (central axis). Ramai sekali pengunjung disini, kebanyakan wisatawan lokal dari seluruh penjuru Cina. Cina itu luas kan, jadi banyak masyarakat Cina yang belum pernah berkunjung kesini seperti saya. Saking ramainya kalo mau foto jadi susah banget, apalagi kalo sudah ada rombongan tour datang. Menurut pengamatan saya kebanyakan wisatawan lokal yang berkunjung kesini adalah orang-orang tua.

image
Hall of Supreme Harmony

Forbidden City terbagi menjadi dua bagian, bagian selatan atau yang dinamakan Outer Court adalah tempat dimana Kaisar menjalankan kekuasaan atas pemerintahan kerajaan. Sedangkan bagian utara atau yang dinamakan Inner Court adalah tempat Kaisar tinggal bersama keluarga kerajaan. Untuk memasuki Forbidden City kita akan melewati Meridian Gate terlebih dahulu. Meridian Gate ini dinamakan Five Phoenix Tower karena diatasnya terdapat lima menara yang terlihat seperti flying phoenix. Setelah melewati Meridian Gate, bangunan yang kami lewati berikutnya adalah Gate of Supreme Harmony. Di depan Gate of Supreme Harmony ini terdapat dua patung singa perunggu yang berjaga. Bangunan-bangunan berikutnya yang kami kunjungi antara lain Hall of Supreme Harmony, Hall of Central Harmony, dan Hall of Preserved Harmony yang merupakan tiga bangunan utama di Outer Court.

Hall of Central Harmony
Hall of Central Harmony
Hall of Preserved Harmony
Hall of Preserved Harmony

Setelah melewati tiga bangunan utama tersebut, kita akan melihat Gate of Heavenly Purity yang merupakan gerbang yang membatasi antara Outer Court dan Inner Court. Di balik gerbang ini adalah tempat tinggal keluarga kerajaan. Inner Court terdiri dari tiga bagian, yaitu tiga bangunan utama di poros tengah serta Six Western Palaces dan Six Eastern Palaces. Bangunan pertama di poros tengah Inner Court adalah Palace of Heavenly Purity yang dulunya merupakan kamar tidur dan ruang kerja Kaisar. Kemudian di belakang bangunan ini terdapat bangunan yang lebih kecil yang dinamakan Hall of Celestial and Terrestrial Union yang merupakan tempat Permaisuri menerima salam dari selir-selir. Bangunan ketiga di poros tengah adalah Palace of Earthly Tranquility yang merupakan kamar tidur Permaisuri. Bagian lain dari Inner Court yaitu Six Western Palaces dan Six Eastern Palaces merupakan kompleks tempat tinggal selir-selir. Di sebelah utara dari Inner Court terdapat Imperial Garden yang meskipun ukurannya kecil tapi ditata dengan sangat indah. Di dalamnya terdapat menara, paviliun, bukit buatan, batu-batuan bunga-bunga, rerumputan, dan pohon-pohon tua.

Salah satu sudut Forbidden City
Salah satu sudut Forbidden City
Jadi Permaisuri di Forbidden City
Jadi Permaisuri di Forbidden City

Ketika kami berjalan-jalan, di salah satu pojokan istana kami menemukan sebuah counter yang menyewakan kostum ala Kaisar dan Permaisuri. Tentu saja kami tidak melewatkan kesempatan untuk berfoto memakai kostum tersebut. Harga sewa kostum per buah adalah CNY 30. Kostum untuk anak juga ada, tapi sayangnya rendra ga mau dipakein kostum (sebel deh…). Counter ini hanya menyewakan kostum saja, untuk fotonya kita harus berfoto-foto sendiri. Untungnya kami bawa tripod, jadi ga masalah deh mau foto berdua (rendra ga diajak foto, abis dia ga mau pake kostum sih). Kami bebas berjalan-jalan di area istana untuk mencari background yang bagus untuk berfoto. Counter ini juga menawarkan pembuatan video dengan gaya terbang di atas forbidden city yang menurut kami sangatlah aneh, jadi kami sama sekali tidak tertarik.

Setelah mengelilingi kompleks istana yang sangat luas ini sampai gempor sampailah kami di pintu gerbang keluar di sebelah utara. Dari sini kami berencana menuju Behai Park yang letaknya tidak jauh dari Forbidden City.

Phoenix di atap Hall
Phoenix di atap
Forbidden City
Forbidden City

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Nicoline's Journal

by Nicoline Patricia Malina

Alid Abdul

Travel till you die!

Harival Zayuka

Just another WordPress.com site

My Sanctuary

my travel notes

Claraberkelana.com

Travel Stories

The Traveling Cows

my travel notes