DSC01313
Gerbang masuk Jinli Street

Pagi ini saya bangun di kereta dan menyadari bahwa perjalanan masih lama. Kereta kami baru akan sampai di Chengdu pada pukul 14.26. Bingung mau ngapain aja. Ada penjual nasi yang menjajakan jualannya sepanjang gerbong pada pagi hari. Jadi syukurlah pagi ini kami tidak kelaparan. Saya menyapa cewek China yang satu kompartemen dengan kami, dan ternyata dia lancar berbahasa Inggris. Akhirnya kami mengobrol dengan dia, namanya Yang Yi Men. Dia adalah mahasiswi yang akan berlibur ke rumah temannya di Chengdu.

Setelah kereta sampai Chengdu kami mengikuti Yang Yi Men menuju stasiun MRT. Lokasi stasiun MRT ini dekat tapi cukup membingungkan bila kita pertama kali kesini, apalagi jalan menuju kesana penuh orang. Kemudian Yang membantu kami untuk membeli tiket di ticketing machine. Setelah semua mendapat tiket kami masuk ke dalam. Lalu Yang berkata akan mengantarkan kami ke hostel, katanya dia khawatir kami tersesat. Woouww baik sekali ya dia. Jadi dia naik kereta bersama kami dan ikut turun di stasiun yang terdekat dari hostel. Dia menggunakan smartphone-nya untuk mencari lokasi hostel kami, yaitu  Chengdu Lazy Bones Backpackers Boutique Hostel. Selama di China, kami memang tidak menggunakan internet selain wifi hostel. Hostel kami sangat dekat dengan stasiun MRT, tak perlu berjalan jauh untuk menemukannya. Setelah sampai kami pun berpisah dengan Yang Yi Men. Terima kasih banyak Yang Yi Men, senang berkenalan denganmu.

DSC01348
Hostel kami di Chengdu

Kami memesan triple room untuk 2 malam. Tarifnya adalah CNY 80 per orang per malam. Setelah mandi kami segera keluar menuju Jinli Street. Jinli street adalah sebuah area yang berbentuk jalan kecil yang di kanan kirinya berdiri rumah-rumah kuno yang sekarang dijadikan pertokoan dan rumah makan. Jalan in terletak di sebelah timur Wuhou Temple. Untuk menuju kesana kami tinggal berjalan kaki sedikit menuju perempatan besar dan naik bus dari sana.

DSC01321
Menyenangkan sekali jalan-jalan disini

Jinli street dulunya adalah area komersial tersibuk pada masa Shu Kingdom (221-263). Oleh karenanya jalan ini juga dinamakan First Street of the Shu Kingdom. Untuk mengembalikan kejayaannya pada masa lampau, jalan ini dan bangunan-bangunan di dalamnya direstorasi dengan kontribusi dari Wuhou Temple dan dibuka untuk umum pada Oktober 2004. Sejak itu pengunjung dari seluruh penjuru China dan luar negeri datang kesana untuk bersantai, mengagumi bangunan-bangunan tradisional yang ada disana, dan menikmati jajanan lokal, serta tentunya berbelanja souvenir.

DSC01339
Saat malam Jinli Street makin cantik karena lampu-lampu yang menyala

 

 

Karena kami belum makan siang, maka kami langsung masuk ke restoran terdekat yang ada di Jinli Street. Restoran ini menjual aneka macam mie dan pangsit. Kami memesan mie kuah dan pangsit kuah. Setelah kenyang, sekarang saatnya berkeliling Jinli Street. Jalan ini sudah tertata dengan rapi dan cantik, berbeda dengan muslim quarter di Xian yang berupa pasar. Bangunan-bangunan tradisional yang mengapit jalan ini merupakan daya tarik tersendiri saat berjalan-jalan disini. Saat malam tiba, lampu-lampu dan lampion mulai menyala sehingga menambah kecantikan jalan ini. Selain toko souvenir, disini juga terdapat banyak restoran, cafe, dan penjual jajanan tradisional. Souvenir yang dijual pun bermacam-macam, mulai gantungan kunci, tempelan kulkas, kaos, pajangan, sampai karya seni dengan harga mahal. Malam itu kami puas berkeliling dan berbelanja di Jinli Street sampai larut malam.

DSC01346
Membeli souvenir untuk oleh-oleh
DSC01322
Kanan kirinya dipenuhi toko-toko