Penyu Bertelur di Pantai Sukamade
Penyu Bertelur di Pantai Sukamade

Perjalanan kami berlanjut menuju Pantai Sukamade. Pantai Sukamade adalah kawasan konservasi penyu, disini kita bisa melihat secara langsung penyu bertelur. Selain itu kita juga bisa melihat penangkaran tukik dan mengikuti kegiatan pelepasan tukik ke laut. Pantai Sukamade dikenal sebagai salah satu dari tiga tujuan wisata utama di Banyuwangi yang disebut Triangle Diamonds yang terdiri dari Pantai Plengkung, Kawah Ijen, dan Pantai Sukamade. Sebenarnya jarak antara Teluk Hijau dan Pantai Sukamade hanya sekitar 15 km, akan tetapi jarak ini harus ditempuh dalam waktu 2 jam lebih karena jalan yang berbatu.

Siap2 menyeberangi sungai
Siap2 menyeberangi sungai

Selain melewati jalan yang rusak dan berbatu, jeep kami juga harus melewati sungai, seruuu kan… Dan karena saat ini musim hujan maka tidak hanya satu sungai yang harus kita lewati, tapi tiga sungai. Jika musim kemarau, air di sungai 1 surut, oleh karena itu jeep bisa melewatinya. Tapi di musim hujan sungai 1 jadi dalam dan arus airnya sangat deras serta sungai ini sangat lebar sehingga jeep tidak bisa melewatinya. Oleh karena itu kami harus memutar lebih jauh dan melewati tiga sungai. Saat melewati sungai pertama yang kecil dan cetek kami pun berkata aah… cuma segini aja. Tapi begitu sampai di sungai kedua… wouuww sungainya lebar dan arusnya deras. Pak Slamet turun dari mobil dan berjalan ke sungai untuk memeriksa kedalaman air. Setelah dirasa aman dia kembali ke mobil dan kami bersiap-siap menyeberangi sungai. Waahh… seru… Alhamdulillah jeep kami bisa sampai di seberang sungai dengan selamat. Setelah itu masih ada satu sungai lagi yang harus kami lewati. Sungai ketiga ini ternyata lebih besar, lebih dalam, dan arusnya lebih kencang. Pak Slamet turun lagi dari mobil untuk memeriksa kedalaman air. Pada saat itu banyak anak-anak yang mandi di sungai dengan riang gembira. Mereka membantu kami mengarahkan mobil untuk melintasi sungai. Tapi waktu kami kasih uang ke mereka, mereka malah berebutan dan lupa untuk mengarahkan mobil. Untung ada dua anak yang tetap fokus membantu kami mengarahkan mobil. Fhiiiuhhh…. Alhamdulillah jeep kami sampai di seberang dengan selamat.

Ban belakang jeep nya harus diperbaiki dulu
Ban belakang jeep nya harus diperbaiki dulu

Setelah sampai di seberang sungai perjalanan kami lanjutkan lagi. Tapi kenapa ban belakang jeep ini berbunyi ya? Kayaknya ada yang gak beres nih. Pak Slamet meneruskan perjalanan sampai di area pemukiman PTPN. DIsini beliau berhenti untuk memeriksa ban belakang. Satpam dan pekerja PTPN membantu Pak Slamet memeriksanya. Ternyata ada yang putus (saya gak tau apanya), jadi harus diganti. Selama Pak Slamet dan pekerja PTPN memperbaiki mobil, kami diajak satpam PTPN untuk melihat pabrik karet yang ada disana. Pabriknya merupakan bangunan tua yang sudah ada sejak jaman Belanda, jadi horor gitu deh. Setelah selesai dari jalan-jalan di pabrik karet ternyata mobil belum selesai diperbaiki. Kami diundang oleh penjaga wisma untuk beristirahat di wisma PTPN. Disini juga ada wisma yang disewakan untuk tamu. Tapi harganya lebih mahal daripada guesthouse yang sudah kami booking di Sukamade. Kami diijinkan untuk menggunakan kamar mandi di wisma ini, kebetulan ada kamar yang masih kosong. Kemudian karena hari sudah gelap dan kami lapar, kami memesan mie goreng telur disini.

Pabrik karet PTPN
Pabrik karet PTPN

Sekitar pukul 7 malam mobil sudah selesai diperbaiki dan siap untuk melanjutkan perjalanan. Sebenarnya jarak antara wisma PTPN dengan guesthouse kami hanya 5 km. Tapi karena jalan rusak parah kami baru sampai di guesthouse hampir pukul 8 malam. Di perjalanan beberapa kali Pak Slamet membunyikan klakson tiga kali. Padahal waktu itu tidak ada kendaraan lain selain kami yang melintas. Hiii.. ada apa ya….

Sesampainya di guesthouse kami harus segera mandi karena seharusnya pukul 8 kami berangkat ke pantai untuk melihat penyu bertelur. Pak Slamet meminta kepada ranger untuk menunggu kami. Untungnya saat itu para ranger juga sedang rapat, jadi lumayanlah ada waktu untuk mandi. Oya guesthouse Sukamade ini harga per kamarnya Rp300 ribu, bisa diisi sampai 4 orang. Ada juga kamar yang kecil (isi 2 orang) seharga Rp200 ribu.

Setelah semua siap kami bergabung dengan para ranger dan wisatawan lainnya di depan kantor ranger. Disini kami dibriefing mengenai peraturan untuk melihat penyu bertelur, antara lain adalah ga boleh berisik dan ga boleh nyalain lampu apapun. Sinar dari mobile phone juga ga boleh. Motret juga dilarang pake flash. Setelah briefing kami berjalan menuju pantai dengan dipandu mas ranger. Jarak antara area guesthouse dengan pantai sekitar 700 meter melewati hutan. Di jalan kami hanya bergantung pada cahaya senter yang dibawa mas ranger. Sekitar 100 meter sebelum sampai pantai, mas ranger mematikan senternya, jadi gelap gulita deh.

Sesampainya di pantai kami disuruh duduk oleh mas ranger untuk menunggu penyu datang. Kami duduk dalam kegelapan dan kesunyian karena ga boleh berisik. Dingin juga angin malam itu, untung pake jaket yang ada penutup kepalanya. Tak lama kemudian mas ranger memanggil kami, sepertinya mereka sudah menemukan penyu yang akan bertelur. Kami mengikuti mas ranger berjalan dalam kegelapan malam.

Penyu sedang bertelur
Penyu sedang bertelur
Telurnya seperti bola ping pong
Telurnya seperti bola ping pong

Kemudian terlihatlah seekor penyu sedang dalam proses bertelur. Menurut mas ranger, ini adalah penyu hijau. Kami mendekatinya dan berjongkok di belakangnya. Kami dilarang berada di area depan kepala penyu agar penyu tersebut tidak terganggu. Rasanya amazing banget lihat proses penyu bertelur ini secara langsung dengan jarak yang sangat dekat. Ibu penyu mengeluarkan telurnya satu demi satu. Telurnya berwarna putih berbentuk bulat sempurna seperti bola ping pong. Setelah ibu penyu mengeluarkan semua telurnya, mas ranger mengambil telur-telur itu dan dihitung. Jumlahnya 93 butir.  Kami diijinkan untuk memegang satu butir telur yang boleh kami pegang bergiliran. Setelah semua telur dihitung, telur-telur ini dimasukkan ke dalam tas untuk dibawa ke tempat penangkaran. Tujuan penangkaran telur ini adalah agar telur ini aman dari babi hutan dan pencurian oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab sampai waktunya menetas nanti.

Menghitung telur penyu
Menghitung telur penyu

Setelah mengeluarkan seluruh telurnya, ibu penyu mengubur lagi lubang itu dengan pasir. Tapi ibu penyu ga tau kalo telurnya sudah diambil oleh mas ranger. Kasian juga ya. Setelah selesai proses mengubur, ibu penyu berdiam diri di atas lubang selama sekitar satu jam. Saat itu kami pergunakan untuk berfoto bersama ibu penyu. Tapi tentu saja fotonya tanpa menggunakan flash light, jadi hanya dibantu cahaya dari senter mas ranger yang remang-remang. Selesai berfoto kami diminta untuk menunggu di tempat yang agak jauh. Sekitar satu jam kemudian ibu penyu mulai bergerak kembali ke laut, kami dipanggil ranger untuk mengikutinya. Kami mengikuti ibu penyu yang bergerak perlahan-lahan itu dari belakang sampai dia masuk ke dalam laut. Byee… ibu penyu… Terimakasih telah berbagi pengalaman yang menakjubkan ini.

Ibu penyu kembali ke lautan
Ibu penyu kembali ke lautan