di dalam A Ma Temple
A Ma Temple

Hari ini adalah hari terakhir travelling kami di Macau. Kami bersiap-siap packing, kemudian check out dan menitipkan koper di resepsionis. Sarapan kami pagi ini masih sama dengan kemarin, portuguese egg tart dari Pastelaria Koi Kei.

Kun Iam Ecunumical Centre

DSC_0162
Kun Iam Ecunumical Centre

Tujuan pertama hari ini adalah Kun Iam Ecunumical Centre yang terletak di Avenida Dr Sun Yat Sen. Disini terdapat patung Kun Iam, Goddess of Mercy, yang letaknya menjorok ke laut. Patung ini berwarna bronze, tingginya 20 meter, dan berdiri di atas kubah berbentuk bunga lotus yang menjadi tempat Kun Iam Ecunumical Centre. Di tempat ini kita bisa melihat sebuah pameran kecil untuk memperoleh pengetahuan tentang Buddhisme, Taoisme, Konfusianisme. Tempat ini buka setiap hari mulai pukul 10.00 s.d. 18.00 kecuali hari Jumat, tiket masuknya gratis.

A Ma Temple

A Ma Temple
A Ma Temple
ngadem dulu disini
ngadem dulu disini

Tujuan berikutnya adalah A Ma Temple yang terletak di sebelah tenggara Macau Peninsula. Ini adalah kuil tertua di Macau, dibangun sejak tahun 1.488 di era Dinasti Ming (1368-1644). Di dalamnya berisi artefak-artefak historis. Kuil ini juga merupakan bangunan yang paling lama bertahan di Macau. Terdapat beberapa bagian dalam kuil ini yaitu: Pavilion Gate, Arch Memorial, Hall Doa, Aula Kebajikan, Aula Guanyin, dan Zhengjiao Chanlin (paviliun Buddha). Lokasi A Ma Temple ini adalah tempat pertama kalinya bangsa Portugis mendarat di Macau sekitar 400 tahun yang lalu. Pendaratan inilah yang menjadi titik awal sejarah Macau. Konon, bangsa Portugis bertanya pada masyarakat setempat, apa nama daratan ini. Tapi masyarakat setempat salah mengerti, mereka mengira bangsa Portugis menanyakan nama kuil itu. Jadi mereka menjawab “Ma Ge”. Kemudian bangsa Portugis menterjemahkan nama itu menjadi Macau yang dijadikan nama daratan ini. Kuil ini buka setiap hari mulai pukul 07.00 s.d. 18.00 tanpa biaya masuk.

Moorish Barracks

DSC01691
Moorish Barracks
DSC01685
Jalan menanjak

Setelah keluar dari A Ma Temple kami menyusuri sebuah jalan kecil dan melewati Moorish Barracks. Bangunan ini dibangun pada tahun 1874 oleh arsitek Italia bernama Cassuto. Moorish Barack pada awalnya dibangun sebagai rumah bagi tentara India yang dikirim ke Macau. menurut catatan, ada 200 tentara India yang ditempatkan di Moorish Barack saat itu. Pada tahun 1905, gedung ini digunakan Marine and Customs Police dan kini digunakan untuk Macau Maritime Administration.

Warna utama Moorish Barrack adalah kuning dengan kombinasi putih di beberapa bagian. Gaya arsitekturnya mengintegrasikan dua budaya yakni Moghul-India dan Inggris. Gaya India terlihat dari model pintu yang melengkung di bagian atasnya. Jajaran pintu yang berjumlah cukup banyak dan seragam ini memberikan pemandangan ritmis yang elok. Beberapa bagian dari bangunan ini menggunakan tiang-tiang penyangga yang cukup tinggi dan besar. Kusen pintu dan jendela di bagian dalam berwarna coklat dan terbuat dari kayu. Wisatawan memang tidak diperbolehkan masuk namun kita dapat melihat sekeliling gedung eksotis.

Mandarin’s House

Mandarin's House
Mandarin’s House

Kemudian kami berjalan menanjak lagi dan melewati Lilau Square. Tidak jauh dari Lilau Square berdirilah Mandarin’s House. Mandarin’s House merupakan kompleks perumahan yang dibangun sejak tahun 1881. Di kompleks perumahan kuno ini berdiri rumah salah satu tokoh terkenal di China yakni Zheng Guanying yang karya-karyanya di bidang ekonomi sangat dipengaruhi oleh pemikiran Dr. Sun Yat Send an Mao Tse Tung. Dua tokoh ini pulalah yang ikut menstimulasi adanya perubahan – perubahan di China.

pekarangan Mandarin's House
pekarangan Mandarin’s House

Mandarin’s House berdiri di wilayah seluas 4.000 meter persegi. Seluruh kompleks ini terdiri dari pos jaga, halaman, ruang untuk pembantu dan tuan rumah. Hunian kuno ini berjajar di 120 meter sepanjang Barra Street. Gerbang utama berada di sebuah halaman yang sekaligus memisahkan ruangan antara majikan dan pelayan. Sedangkan pintu di masing-masing rumah berorientasi pada arah yang sama yakni menghadap barat laut. Kita bisa mengunjungi tempat ini setiap hari mulai pukul 10.00 s.d. 18.00 tanpa dipungut biaya, kecuali hari Rabu Mandarin’s House tutup. Di bagian depan kompleks ini terdapat toko souvenir. Lumayan bagus barang-barangnya, bahkan ada juga tas totte disini. Harganya lebih murah daripada yang di Macau Tower dengan bentuk dan desain yang berbeda. Tapi karena kemarin saya sudah beli jadi tidak beli lagi disini.

salah satu sudut di dalam Mandarin's House
salah satu sudut di dalam Mandarin’s House

Setelah puas mengelilingi Mandarin’s House kami pun pulang naik bus. Ada halte bus di Lilau Square, jadi kami tidak perlu berjalan lagi. Kami naik bus no 28, di dalam bus ada tiga orang WNI yang asyik mengobrol menggunakan Bahasa Indonesia. Waktu itu, kamera dan kaca mata hitam sudah saya masukkan ransel. Mereka kemudian menyadari kalo kami berdua adalah WNI juga, dan terjadilah pembicaraan ini:

Mereka: ” Orang Indonesia ya mbak?”

Kami: “Iya”

Mereka: “Oh… lagi nyari majikan ya disini?”

Gubraaakk…..

Kami: “Enggak sih mbak, lagi jalan-jalan aja.”

Mereka: “Oh… jalan-jalan sambil nyari majikan ya mbak? Ini saudara saya juga lagi nyari majikan”

Gubraaaakkk lagi…. Oh my God…. kenapa sih mereka masih nuduh aja…

Kami: “Enggak mbak, cuma jalan-jalan aja. Kami lagi travelling.”

Mereka: “Oh gitu… Udah berapa lama disini mbak?”

Kami: “Di Macau mulai kemarin lusa. Tapi sebelumnya kami ke Hong Kong empat hari. Sore ini udah mau pulang ke Indonesia.”

Mereka: “Lho kok bentar banget mbak. Kan sayang banget tuh visa nya.”

Kami: (bingung…..) “Kalo buat turis ke Hong Kong dan Macau kan ga perlu pake visa mbak.”

Mereka: “Ahh… masa sih mbak?”

Kami: “Iya” (bingung)

Begitulah percakapan kami di bus itu. Entah kenapa saya merasa sepertinya mereka tetep ga percaya kalo kami ini bener-bener turis. Mungkin di konsep pikiran mereka itu turis harusnya pake bus pariwisata atau minivan dan ditemani guide untuk pergi ke obyek-obyek wisata. Bukannya keleleran naik bus kota seperti kami. Hehehe…

Nyegat bus di Lilau Square
Nyegat bus di Lilau Square

Kami berpisah dengan tiga orang itu di Terminal Barra. Di terminal ini kami turun dari bus dan lanjut naik bus menuju Avenida Almaida de Ribeiro dan turun di dekat Senado Square. Sebelum balik ke hotel kami beli makan siang dulu di Mc D dan makan di bawah pohon karena di restonya sudah tidak ada kursi kosong. Setelah makan saya mau mampir dulu di kios penjual kaos di jalan menuju Ruins of St Paul. Itu satu-satunya penjual kaos di daerah ini. Ternyata harganya cukup murah dan fix price, ga perlu repot-repot menawar lagi. Saya memilih kaos dengan gambar sketsa Ruins of St Paul dan tulisan Macau warna hitam dan merah dengan harga MOP 29 per buah.

Setelah dapat kaos, kami kembali ke hotel dan kemudian berangkat ke airport naik bus. Bye.. bye… Macau…. Senang bisa mengunjungimu ^_^

salah satu sudut Lilau Square
salah satu sudut Lilau Square