Tomok
Tomok

Tomok adalah desa wisata yang cukup lengkap, disana ada Museum Batak, Makam Raja Sidabutar, Rumah Adat dan Patung Sigale-gale. Sebelum memulai wisata kami cari makan siang dulu. Aya ingin mencoba kuliner khas Toba yaitu ikan mas arsik, tapi susah juga nyarinya. Akhirnya kami makan di rumah makan jawa yang terletak di dekat pasar Tomok.

Museum Batak
Museum Batak
Koleksi peninggalan masa lalu di dalam Museum Batak
Koleksi peninggalan masa lalu di dalam Museum Batak

Obyek wisata yang pertama kami kunjungi adalah Museum Batak. Museum ini berbentuk rumah adat Batak dengan ornamen warna merah, warna hitam, dan warna putih yang menghiasi bagian atasnya, seperti halnya warna yang terdapat pada bangunan-bangunan khas Batak lainnya. Warna-warna tersebut diyakini memiliki filosofis tersendiri bagi masyarakat Batak dan bermakna sakral. Di dalam museum ini terdapat berbagai benda peninggalan sejarah Batak yang mengandung nilai historis tinggi. Beberapa diantaranya adalah senjata, peralatan pertanian tradisional, perlengkapan dapur, uang kuno, alat musik, kain ulos, ukiran kayu dan patung Sigale-gale. Disini juga terdapat persewaan ulos untuk berfoto dengan biaya Rp10 ribu per orang.

Pake baju adat Batak Toba
Pake baju adat Batak Toba

Obyek wisata kedua adalah Makam Raja Sidabutar. Sebelum masuk ke area makam, kami dipinjami ulos untuk kami kenakan selama di dalam area makam. Memakai ulos ini adalah pertanda kesopanan bahwa wisatawan menghormati tradisi Batak. Menurut catatan sejarah, Raja Sidabutar adalah orang pertama yang bermukim di Tomok dari Gunung Pusuk Buhit, yang dikenal oleh masyarakat sebagai daerah asalnya nenek moyang etnis Batak. Raja Sidabutar mulai membangun pemukiman di daerah ini sekitar ratusan tahun yang lalu dan seiring dengan berjalannya waktu pemukiman di daerah Tomok ini pun semakin luas dengan perkembangan generasi-generasinya. Makam Raja Sidabutar bentuknya cukup unik dengan peti yang terbuat dari batu pahatan berupa sarkofagus. Di bagian depan peti terdapat pahatan wajah Raja Sidabutar, pahatan tersebut tampak menyambung dengan peti batu. Di atas peti terdapat pita berwarna hitam, merah, dan putih. Di sebelah makam Raja Sidabutar juga terdapat makam dari beberapa orang keluarga Raja Sidabutar, seperti Raja Tomok kedua yang bentuk petinya hampir menyerupai peti batu Raja Sidabutar, hanya saja ornamennya sedikit berbeda. Dan kemudian terdapat makam Raja Tomok ketiga yang bernama Solompoan Sidabutar, yang letaknya persis di sebelah makam Raja Sidabutar. Namun uniknya, makam Solompoan Sidabutar ini berbeda dengan makam-makam lainnya yang memiliki ornamen berupa pahatan wajah, sebab di salah satu bagian peti dari Solompoan Sidabutar terdapat ornamen berbentuk salib yang diyakini masyarakat sekitar bahwa Solompoan Sidabutar telah memeluk agama Kristen.

Makam Raja Sidabutar
Makam Raja Sidabutar

Obyek wisata ketiga yang kami kunjungi di Tomok adalah obyek wisata budaya Sigale-gale. Disini terdapat empat rumah adat Batak yang berderet dan sebuah Patung Sigale-gale di depannya. Disini kita bisa menyaksikan pertunjukan tarian Sigale-gale dengan membayar Rp80 ribu sekali show, kami pun membayarnya untuk melihat tarian itu (masa udah jauh-jauh kesini ga nonton tariannya, rugi dong…). Patung Sigale-gale ini menari dengan digerakkan tali-tali yang terletak dibelakangnya oleh seorang dalang. Selain melihat Sigale-gale menari, kami pun diajak untuk ikut menari bersama Sigale-gale. Ibu pemilik pertunjukan ini yang mengajari kami menari tarian khas Batak diiringi musik khas Batak. Gerakannya cukup sederhana dan mudah untuk ditirukan. Cihuuuyyy senangnya…..

Patung Sigale-gale yang bisa menari
Patung Sigale-gale yang bisa menari

Setelah selesai menari dengan Sigale-gale sekarang tiba saatnya belanjaaaa. Di sepanjang jalan yang menghubungkan ketiga obyek wisata itu berderet kios-kios yang menjual souvenir khas Batak, kebanyakan yang dijual adalah kain ulos. Disini saya membeli kain ulos panjang berwarna merah dengan hiasan sulaman warna-warni yang rencananya akan saya pigura untuk dijadikan hiasan dinding. Selain itu saya juga membeli kain ulos untuk dijahit menjadi pakaian, warnanya merah juga.

Dari Tuk Tuk kalo ke kiri menuju Tomok, kalo ke kanan menuju Ambarita
Dari Tuk Tuk kalo ke kiri menuju Tomok, kalo ke kanan menuju Ambarita