My dream came true
My dream came true

Rencana perjalanan saya ke China berawal dari melihat obrolan di forum next trip backpacker indonesia (BPI) Disitu ada ajakan untuk nge-trip bareng ke Beijing n Shanghai. Mereka bilang ada promo Cebu Pacific Air untuk rute Jakarta – Manila – Beijing. Saya pun langsung tertarik untuk ikutan, apalagi kalo tidak ada teman yang bisa saya ajak saya berencana untuk ikut trip teman-teman BPI. Pada saat saya ceritakan keinginan saya untuk travelling ke Beijing dan Shanghai ke suami saya (sekalian minta ijin maksudnya), ternyata suami saya juga ingin ikut. Akhirnya kami putuskan untuk mengajak rendra, karena kasian kan dia kalo tidak diajak sementara mama papanya liburan. Karena rendra ikut, maka saya putuskan kami berangkat sendiri, tidak ikutan trip bareng temen-temen BPI. Saya pun segera hunting tiket Cebu untuk bulan September 2013, karena katanya bulan September adalah bulan yang paling tepat untuk travelling ke China. Di bulan September udara di China sejuk, tidak panas dan tidak dingin. Dari hasil hunting tersebut saya dapat tiga tiket pp Jakarta – Manila – Beijing dan Shanghai – Manila – Jakarta senilai Rp1.500.000,00 per orang. Murah banget kan… Asyiikk…

Dari dulu saya ingin sekali pergi ke China untuk melihat Great Wall. Menurut saya Great Wall ini keren banget, pantes kalo dijadikan salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Great Wall ini membujur sepanjang 8,850 kilometers (5,500 miles) dari timur ke barat China melewati gurun pasir, padang rumput, gunung-gunung, dan dataran tinggi. Jadi Great Wall ini jauh lebih panjang daripada panjang Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Bahkan hasil studi terbaru menyatakan bahwa tembok ini memiliki panjang 21,196.18 kilometer. Imagine that… Selain Great Wall, China memiliki obyek wisata lain yang juga spektakuler antara lain Forbidden City, Temple of Heaven, dan Summer Palace. Keempat obyek wisata inilah yang harus saya kunjungi selama berada di China. Sebenarnya masih ada satu lagi obyek wisata yang sangat ingin saya kunjungi yaitu patung terracotta armies di Xian. Tapi sayangnya lokasinya terlalu jauh dari Beijing sehingga membutuhkan waktu dan dana ekstra. Perjalanan dari Beijing ke Xian saja menghabiskan waktu 13 jam dengan menggunakan kereta. Jadi kalo pulang pergi jadi 2 hari saja untuk perjalanan, sangat tidak mungkin untuk dilakukan, jadi saya terpaksa mencoret Xian dari itinerary saya.

Ini adalah perjalanan pertama saya bersama rendra ke luar negeri, oleh karena itu harus saya rencanakan dengan matang, Saya ga boleh ngegembel banget selama disana. Jadi meski di Manila kami hanya transit dari pagi sampai malam, saya tetap membooking hotel untuk istirahat. Kami akan transit dua kali di Manila, untuk itu saya membooking dua hotel yang berbeda, Yang pertama di daerah Makati dan yang kedua di Intramuros. Sedangkan di Beijing kami akan menginap di 161 Hotel dan di Shanghai di The Phoenix Hotel. Kedua hotel ini berjarak cukup dekat dari stasiun subway, bisa ditempuh dengan jalan kaki. Ini yang terpenting supaya tidak kelelahan dan menekan biaya. Oya, untuk pesawat dari Surabaya ke Jakarta saya memilih menggunakan Air Asia karena ada promo Surabaya – Jakarta pulang pergi Rp350.000,00. Lumayan kan….

Untuk masuk ke negara China, kita harus memliki visa. Kami mengurus visa sebulan sebelum tanggal keberangkatan. Untungnya di Surabaya ada Konsulat China dan ada Chinese Visa Application Service Center yang terletak di Jl Pakis Argosari F / 24. Jadi kami tidak perlu jauh-jauh ke Jakarta untuk mengurus visa. Proses pengurusannya pun sangat mudah, kita bisa mendownload formulir aplikasi visa di internet atau langsung datang dan mengisi formulir di visa center. Persyaratan yang dibutuhkan adalah paspor, foto ukuran 4 x 6 dengan latar belakang putih, dan formulir aplikasi visa yang sudah diisi. Saya juga menyiapkan semua tiket pesawat, reservasi hotel, asuransi perjalanan, dan itinerary kami selama disana. Tapi ternyata tidak diminta sama sekali oleh petugasnya. Setelah dokumen kami diterima, petugas visa center memberikan tanda bukti untuk pengambilan visa. Kemudian visa tersebut bisa diambil setelah 4 hari kerja dengan biaya Rp540.000,00 per orang. Mudah bukan…

Selain visa, tiket pesawat, dan reservasi hotel, yang saya siapkan untuk travelling ke China adalah peta subway, peta obyek-obyek wisata, serta petunjuk arah untuk menuju tempat wisata. Ini sangat penting karena di China jarang yang bisa berbahasa Inggris, jadi daripada kita kesasar dan menghabiskan waktu, lebih baik kita persiapkan semuanya dengan matang. Kemudian yang tidak kalah penting adalah kamus bahasa Mandarin di gadget kami supaya bisa membantu komunikasi selama disana. China adalah negara yang kaya akan budaya dan warisan sejarah, oleh karena itu travelling ke China menjadi salah satu impian saya.