Search

Here, There, & Everywhere

my travel notes

Terracotta Warriors, Pasukan Pelindung Kaisar Qin di Alam Baka

DSC00908
Berfoto bersama Terracotta Warriors

Hari kedua di Xi’an adalah inti dari tujuan perjalanan saya ke China kali ini yaitu melihat Terracotta Army. Terracotta Army atau Terracotta Warriors and Horses adalah kumpulan koleksi dari 8.099 patung terakota atau tanah liat berbentuk tokoh prajurit dan kuda dengan ukuran asli yang terletak di dekat makam dari Kaisar pertama dinasti Qin ,Qin Shi Huang. Tokoh prajurit itu ditemukan pada tahun 1974 di Lintong District, Xi’an, Provinsi Shaanxi oleh para petani lokal. Terakota dibangun tahun 210 SM–209 SM sebagai bentuk seni pemakaman dengan maksud untuk melindungi Kaisar Qin pada kehidupan sesudah kematian.

Untuk menuju lokasi Museum of Qin Terracotta Warriors and Horses kami naik tourist bus no 5 (306) dari Xi’an Railway Station. Tarif bus ini adalah CNY 7 per orang dengan waktu tempuh 1 jam. Sebelum sampai di Terracotta Warriors kami mampir dulu ke Huaqing Palace yang terletak sekitar 30 km dari Kota Xian. Huaqing Palace Scenic Area meliputi Imperial Pools dari zaman Dinasty Tang (618 – 907), Pear Garden, Frost Flying Hall, Nine-Dragon Lake, Five-Room Building and Mount Li. Huaqing Palace ini terkenal dengan kisah cinta romantis antara Kaisar Xuanzong dan selirnya, Yang Yuhuan. Tiket masuk ke Huaqing Palace adalah CNY 150.

DSC00873
Patung Kaisar Xuanzong dan selirnya, Yang Yuhuan

Di dalam Huaqing Palace terdapat lima hot springs: Lotus Pool, Haitang Pool, Star Pool, Shangshi Pool, and the Prince Pool. Lotus Pool adalah kolam pribadi Kaisar Xuanzong yang terlihat menyerupai teratai. Haitang Pool, yang juga dinamakan Guifei Pool, adalah kolam untuk Yang Yuhuan. Star Pool adalah kolam tanpa atap sehingga bisa melihat bintang-bintang saat mandi malam hari. Shangshi Pool adalah kolam untuk para pejabat, dan Prince Pool, yang tentu saja adalah kolam untuk pangeran.

DSC00797
Huaqing Palace

Setelah mengelilingi Huaqing Palace kami meneruskan perjalanan menuju Museum of Qin Terracotta Warriors and Horses. Sebelum memasuki museum kami makan siang dulu di KFC yang ada di luar museum. Tiket masuk museum ini adalah CNY 150. Terracotta Wariors dibuat atas perintah Kaisar Qin dengan tujuan sebagai pasukan yang menjaga dan melayaninya pada kehidupan setelah kematian. Pembuatan patung-patung ini menghabiskan waktu sekitar 40 tahun yang dilakukan oleh lebih dari 700.000 pematung dan pekerja. Setiap patung terakota ini berbeda wajah, ekspresi muka, tata rambut, pakaian, dan sikap tubuh anatara satu patung dengan yang lainnya. Luar biasa ya…

DSC00881
Prajurit dan kuda perangnya

 

Museum ini berisi 3 pit dan 1 exhibition hall yaitu Pit 1, Pit 2, Pit 3, dan The Exhibition Hall of the Bronze Chariots. Pit-pit ini terletak menghadap timur menuju musuh lama pemerintahan Qin, dengan Pit 1 di sayap kanan dan Pit 2 di sayap kiri serta Pit 3 di belakang sebagai pusat komando.

DSC00922
Pit 1

Pit 1 adalah pit yang terbesar dengan panjang 230 meter dan lebar 62 meter, seukuran hangar pesawat terbang. Di Pit 1 dipercaya terdapat lebih dari 6000 patung tentara dan kuda, tapi hanya kurang dari 2.000 patung yang sudah dipamerkan. Semua tentara dan kuda menghadap ke arah timur dalam barisan persegi panjang. Pasukan garda depan adalah pasukan infanteri yang berada di tiga baris paling timur. Tepat dibelakangnya adalah pasukan utama yang memegang senjata diikuti oleh 38 kereta tempur.

DSC00876
Pit 2

Pit 2 berukuran setengah dari ukuran Pit 1 dengan panjang 94 meter dan lebar 84 meter. Pit ini berisi 4 unit. Unit pertama adalah barisan pasukan pemanah yang berlutut dan berdiri. Unit kedua adalah kesatuan kereta tempur. Unit ketiga adalah gabungan pasukan infanteri, kereta tempur dan pasukan berkuda yang membentuk barisan persegi panjang. Yang terakhir, unit keempat meliputi pasukan berkuda yang membawa senjata dengan jumlah yang sangat banyak. Pit 2 ditemukan pada tahun 1976 bersamaan dengan Pit 3.

DSC00888
Pit 3

Pit 3 berukuran panjang 28,8 meter dan lebar 24,57 meter. Investigasi menunjukkan bahwa Pit 3 pernah dihancurkan pada masa lampau. Hanya 68 tentara, 1 kereta tempur, dan 34 senjata yang telah digali dari pit ini. Pit 3 adalah pusat komando untuk Pit 1 dan Pit 2 karena figure yang ada di Pit 3 semuanya adalah pejabat.

DSC00945
Patung-patung yang ada di Pit 1

The Exhibition of Bronze Chariots

Dua kereta perunggu yang dipamerkan disini ditemukan sekitar 20 meter dari sisi barat makam Kaisar Qin Shi Huang pada Desember 1980. Masing-masing kereta memiliki sekitar 3.400 bagian dan ditarik oleh 4 kuda.  Ukuran kereta ini adalah panjang 3,17 meter dan tinggi 1,06 meter. Sedangkan kuda perunggunya bervariasi ukuran tingginya mulai dari 65 cm sampai dengan 67 cm, dan panjang 120 cm. Setiap kereta memiliki berat total 1.234 kg. Kedua kereta ini terbuat dari perunggu, tapi ada 1.720 ornamen emas dan perak dengan berat 7 kg di setiap kereta.

DSC00874
The Bronze Chariots

Pada Desember tahun 1987 makam Kaisar Qin dan Terracotta Army ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO. Sampai saat ini para arkeolog masih bekerja di area museum ini untuk merestorasi patung-patung yang tersisa.

DSC00879
Arkeolog yang sedang merestorasi patung teracotta

 

Setelah mengeksplor museum ini kami kembali ke kota Xi’an dengan menaiki bus. Sesampainya di Xi’an, kami menuju Big Wild Goose Pagoda North Square untuk melihat musical fontain yang katanya terbesar se-Asia. Jadwal musical fontain show ini adalah pukul 12.00 dan 20.30. Berhubung waktu kami datang sudah mepet dengan mulainya show maka seluruh tempat yang viewnya bagus sudah penuh. Untuk melihat musical fontain ini tidak dipungut biaya alias gratis. Tapi ada tempat duduk khusus yang dijual tiketnya. Tempat ini adalah yang paling bagus posisinya untuk melihat show. Sayangnya tiket tempat duduk ini juga sudah habis terjual saat itu. Akhirnya kami menonton dengan posisi yang kurang enak deh.

274---big-wild-goose-pagoda-northern-square-9508
Musical Fontain Water Show – foto diambil dari google

Malam ini kami mengunjungi Muslim Quarter lagi untuk membeli makan malam. Saya makan mie bayam lagi (emang enak sih mie ini). Lalu tidak lupa membeli sate cumi yang paling lezat itu. Selain itu saya mencoba jajanan yang berupa kripik kentang ditusuk sate dan kue apel. Rasanya menyenangkan sekali berada di negara lain tapi tidak perlu khawatir tentang ke-halal-an makanannya.

DSC01004
Jajan lagi di Muslim Quarter

Setelah kenyang kami pulang menuju hostel. Berhubung sudah lelah, kami memutuskan untuk naik bajaj yang mangkal di dekat Drum Tower. Setelah menyepakati harganya (saya lupa berapa) kami naik bertiga di bajaj itu. Dan itu menjadi pengalaman yang tidak terlupakan buat kami. Jika ingin merasakan gimana rasanya ketakutan sambil tertawa terpingkal-pingkal naiklah bajaj di Xian. Bajaj ini jalannya ngebut dan lincah sekali, ngepot kesana kemari sehingga kami dibuat terguncang-guncang di dalamnya. Bajaj ini juga hampir menyerempet beberapa orang dan kendaraan lain. Pokoknya cara menyetir tukang bajaj ini bikin kami tercengang dan sport jantung sampai tertawa terpingkal-pingkal. Tapi alhamdulillah kami sampai di hostel dengan selamat.

DSC01018
Ini dia sopir bajaj yang nyetirnya gila-gilaan

Xi’an Kota Tua yang Penuh dengan Peninggalan Sejarah

DSC00446
Bell Tower

Ini cerita perjalanan saya di tahun 2016 lalu. Cerita ini terlambat ditulis karena saya berpindah kerja ke Jakarta tepat setelah saya pulang dari perjalanan ini. Jadi ceritanya saya penasaran pengen melihat Terakotta Army yang berada di Xian. Saat Air Asia membuka promo dan ada tujuan Xi’an di daftarnya, saya langsung mengajak teman-teman saya untuk travelling kesana. Akhirnya saya mendapat dua orang yang ingin ikut ke Xi’an. Agar lebih banyak yang bisa kami lihat maka saya menambahkan Chengdu sebagai kota tujuan kedua. Kebetulan saya juga ingin melihat panda di kota asalnya. Jadi kami membeli tiket pulang pergi Jakarta-Xian dan Chengdu-Surabaya untuk keberangkatan akhir Maret sampai awal April 2016.

Setelah perjalanan yang melelahkan dari Surabaya-Jakarta-KualaLumpur-Xian, akhirnya pesawat kami mendarat di Xian Xianyang International Airport pukul 11 malam. Saya sudah memesan pihak hostel untuk menyediakan mobil yang menjemput di bandara. Berhubung kami tiba tengah malam maka saya tidak mau mengambil resiko untuk menaiki transportasi umum lainnya. Setelah melewati imigrasi kami mencari-cari driver yang menjemput kami. Ternyata yang menjemput adalah pengemudi taxi. Oke gapapa yang penting kami sampai di hostel dengan cepat dan aman tanpa ada resiko nyasar karena kesulitan komunikasi dengan driver.

DSC00419
Hostel kami di Xi’an

Kami menginap di Ancient City Youth Hostel yang terletak di Lian Hu Road. Saya memilih hostel ini karena lokasinya yang strategis, hanya perlu berjalan sedikit menuju pemberhentian bus terdekat. Kamar yang kami tempati adalah standard 3 bed private ensuite dengan harga CNY 240 per malam. Kami menginap tiga malam disini sebelum berpindah kota ke Chengdu. Setelah urusan check in selesai kami segera beristirahat malam ini.

Besoknya, tujuan pertama kami setelah makan di KFC adalah ke stasiun kereta Xi’an untuk mengambil tiket. Saya sudah memesan tiket kereta melalui situs ctrip. Untuk rute Xi’an-Chengdu saat itu belum ada high speed train (kalo sekarang sudah ada), jadi waktu tempuhnya cukup lama yaitu 16 jam. Ada 3 pilihan di kereta ini yaitu, soft sleeper, hard sleeper dan hard seat. Saya memilih kereta soft sleeper agar nyaman selama di perjalanan. Harga tiket kereta soft sleeper pada saat itu adalah CNY 315.

DSC00431
Stasiun Kereta Xi’an

Sesampainya di stasiun kereta kami menunjukkan kertas print out reservasi kereta ke petugas stasiun, lalu mereka menunjukkan loket mana yang harus saya datangi. Kami mendatangi loket 1 dan menunjukkan print out reservasi dan paspor kami, kemudian kami diberi tiket kereta. Cukup mudah bukan. Pastikan kalian melakukan reservasi online terlebih dahulu agar tidak kehabisan tiket.

Setelah urusan tiket beres, tujuan pertama kami adalah Bell Tower. Bell Tower adalah salah satu landmark kota Xian yang dibangun pada tahun 1384 oleh Kaisar Zhu Yuanzhang. Bangunan ini terletak di bundaran di tengah jalan raya. Untuk mencapainya kita harus melalui underpass. Harga tiket masuk ke Bell Tower adalah CNY 35. Tapi jika kita sekaligus membeli tiket masuk Drum Tower maka harganya menjadi CNY 50 untuk dua tower tersebut, jadi lebih hemat. Bangunan ini memiliki tinggi 36 meter, berdiri di atas bata sepanjang 35,5 meter dan tinggi 8,6 meter di tiap sisinya. Diberi nama Bell Tower karena terdapat lonceng raksasa yang terbuat dari logam yang memberitahukan waktu. Bell Tower ini berdiri tepat di tengah-tengah kota Xian, di persimpangan empat jalan utama: South Main Street, North Main Street, East Main Street, dan West Main Street.

DSC00487
Lonceng raksasa di Bell Tower

Selanjutnya kami menuju Drum Tower yang letaknya tidak jauh dari Bell Tower. Drum Tower dibangun pada tahun 1380 oleh Kaisar Hongwu pada masa Dinasty Ming, dan telah direnovasi dua kali pada masa Dinasty Qing pada tahun 1699 dan 1740.  Pengunjung dapat naik ke lantai dua dan menikmati pemandangan dari atas. Terdapat 24 drum di sisi utara dan selatan drum tower. Dahulu kala, khususnya pada jaman Dinasty Yuan, drum-drum yang ada disini digunakan sebagai penanda waktu dan juga alarm saat ada keadaaan darurat.

DSC00542
Drum Tower
DSC00514
Deretan Drum di Drum Tower

Persis di sisi utara Drum Tower terdapat Beiyuanmen Muslim Market yang di sepanjang jalannya menjual beraneka makanan halal. Sore ini kami berencana untuk mengunjungi Great Mosque dulu, setelah itu wisata kuliner di Muslim Quarter. Jalan menuju Great Mosque berupa gang sempit yang kanan kirinya dipenuhi kios-kios penjual souvenir. Sesampainya di Great Mosque kami membeli tiket masuk seharga CNY 25. Sebenarnya untuk orang muslim gratis masuk ke area masjid ini, tapi karena kami lagi tidak sholat dan kesana untuk berwisata jadi kami membeli tiket saja.

DSC00595
Great Mosque

Area Great Mosque ini cukup luas, halamannya dipenuhi dengan taman yang indah dengan pohon-pohon dan bunga-bunga yang sedang bemekaran. Masjidnya berada di bagian paling belakang. Masjid ini dibangun tahun 742 pada masa Dinasty Tang, merupakan hasil dari penyebaran agama Islam di barat laut China oleh pedagang dan pengembara dari Persia dan Afganistan selama pertengahan abad ketujuh. Beberapa pedagang dan pengembara tersebut menetap di China dan menikahi wanita-wanita bangsa Han. Keturunan mereka menjadi muslim sampai saat ini.

DSC00579
The Wooden Memorial Archway

Great Mosque berdiri di area seluas 13.000 meter persegi, dengan luas bangunan seluruhnya 6.000 meter persegi. Areanya berbentuk persegi panjang dari timur ke barat dan dibagi menjadi empat halaman. Di halaman pertama terdapat The Wooden Memorial Archway. Gapura ini dibangun pada awal abad ke-17, jadi telah berumur 390 tahun. Di kedua sisi gapura terdapat beberapa rumah yang di dalamnya dipamerkan furniture-furniture yang dibuat pada jaman Dinasty Ming dan Qing.

DSC00600
The Five – Room Hall

Di tengah-tengah halaman kedua terdapat The Five – Room Hall. Kemudian setelah melewati The Five – Room Hall kita akan menjumpai The Stone Memorial Gateway. Di atas gerbang utamanya terdapat tulisan kaligrafi China yang berarti: The Court of The Heaven. Kompleks batu ini dibangun pada jaman Dinasty Ming.

DSC00605.JPG
The Stone Memorial Gateway

Di tengah halaman ketiga terdapat The Introspection Tower yang berbentuk menara, merupakan bangunan tertinggi di seluruh kompleks masjid yang berfungsi untuk menyuarakan adzan, memanggil orang-orang muslim untuk shalat. Menara ini memiliki dua lantai dengan tiga lapis atap yang berbentuk oktagonal. Menurut guide book yang saya baca, di sisi selatan menara berdiri Official Reception Hall dan di sisi utara berdiri Lecture Hall, dimana di dalamnya disimpan Al Quran tulisan tangan dari jaman Dinasty Ming dan peta Kota Mekkah dari jaman Dinasty Qing.

the-great-mosque-7
The Introspection Tower – foto diambil dari google

Pada halaman terakhir, pengunjung pertama kali akan melihat The One God Pavilion. Bangunan ini berbentuk kombinasi antara gerbang dan paviliun tradisional China. Paviliun-nya sebagai bangunan utama di tengah berbentuk segi enam dengan atap menengadah. Sementara kedua bagian sampingnya berbentuk segitiga dan menengadah seperti gapura. Arsitektur keseluruhan dari bangunan ini terlihat seperti burung Phoenix yang sedang membuka sayapnya dan akan terbang, oleh karena itu bangunan ini juga dinamakan The Phoenix Pavilion. Di bawah atapnya, terdapat papan kecil dengan dekorasi ukiran naga yang tergatung. Tulisan di papan itu adalah “One God”, yang ditulis oleh seorang pejabat tinggi pada jaman Dinasty Ming.

DSC00680copy
The One God Pavilion

Setelah melewati empat halaman sampailah kita di bangunan masjid yang terletak di paling ujung kompleks ini. Masjid ini besar dan sangat indah dengan arsitektur tradisional China. Atapnya ditutup dengan genteng berwarna biru. Masjid ini bisa menampung seribu jamaah untuk menjalankan shalat pada waktu yang sama.Saya sangat menyesal saat itu tidak bisa masuk dan shalat di dalam masjid ini karena selain ingin merasakan shalat di salah satu masjid tertua, saya juga ingin melihat arsitektur di dalamnya. Menurut guide book yang saya baca, di dalam masjid, seluruh halaman Al Quran diukir di 600 papan kayu besar, 30 diantaranya tertulis dalam tulisan China dan sisanya ditulis dengan huruf Arab. Ini adalah karya seni ukir yang menakjubkan dan jarang ditemukan di masjid-masjid lain di seluruh dunia.

DSC00635
Bangunan Masjid

Jika berkunjung ke Xian, jangan lewatkan Great Mosque ini, karena selain sejarahnya dari berabad-berabad yang lampau, masjid ini juga memiliki arsitektur yang merupakan perpaduan gaya muslim dan China tradisional. Pada saat kami disana menjelang waktu ashar, adzan dikumandangkan dan orang-orang berdatangan untuk sholat. Sayang sekali saat itu kami tidak bisa mengikuti sholat di salah satu masjid yang tertua di China ini.

DSC00672
Para jemaah selesai melaksanakan sholat Ashar

Setelah mengeksplor Great Mosque sekarang tiba saatnya untuk berbelanja souvenir dan wisata kuliner di Muslim Quarter. Sambil berjalan menuju Muslim Quarter kami melihat-lihat souvenir yang dijual di sepanjang jalan. Kami membeli beberapa kaos untuk oleh-oleh. Saya juga membeli satu set patung perunggu Terracotta Army untuk pajangan di rumah.

DSC00565copy
Beiyuanmen Street

Beiyuanmen Muslim Market berada di sebuah jalan sepanjang 500 meter yang terletak d sebelah utara Drum Tower. Jalan ini dipaving batu berwarna gelap dan di kanan kirinya berjajar pohon-pohon yang membuat teduh jalan ini. Banyak sekali makanan halal yang dijajakan di Beiyuanmen Muslim Market dan semuanya halal lhooo… Penjualnya semua muslim. Rasanya pengen makan semua makanan yang dijajakan disana. Atas rekomendasi dari seorang turis Indonesia yang kami temui di Great Mosque, malam ini kami ingin makan mie bayam yang katanya lezat. Setelah memakannya memang enak sekali mie ini. Sluuurrrp… lezat….

DSC00703
Mie Bayam

Lalu ada banyak sate-satean yang sangat menggiurkan disana. Ada sate bakso, sate tempura, sate fish cake, sate daging, dan sate cumi yang sangaaat enak. Yang bikin enak semua sate ini adalah bumbunya yang sangat khas. Dan menurut saya yang paling juara adalah sate cuminya. Mungkin kalo saya tinggal selama satu bulan di kota ini saya akan menggendut dengan pasti.

DSC00702
Aku, Yuni dan Sate Cumi
DSC00708
Semua makanan disini halal

 

DSC00731
Drum Tower at night

 

 

Trekking Seru ke Air Terjun Tumpak Sewu

IMG_2186
Air Terjun Tumpak Sewu

Sudah lama saya penasaran dengan air terjun Tumpak Sewu sejak mulai terkenal di tahun 2015 lalu. Akses jalan menuju air terjun ini memang baru dibuka pada tahun 2015. Berdasarkan informasi yang saya baca di internet jalan menuju air terjun cukup sulit untuk dilalui, oleh karena itu saya masih menunggu siapa tau nanti akan ada perbaikan akses menuju air terjun ini sehingga menjadi mudah untuk dilalui.

Akhirnya pada akhir november kemarin ada ajakan dari teman-teman saya untuk berwisata ke Tumpak Sewu. Tentu saja saya langsung bersedia, kebetulan weekend itu memang jadwal saya pulang ke Surabaya. Tapi yang jadi masalah adalah saya harus mengajak anak saya kesana. Oleh karena itu sebelum berangkat saya mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai medan yang harus dilalui untuk menuju air terjun ini.  Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari internet medannya cukup sulit dan sepertinya tidak ada anak-anak yang pernah sampai ke dasar air terjun. Akhirnya di sebuah blog saya menemukan nomor telepon seorang guide yang juga pengelola wisata air terjun Tumpak Sewu. Menurut bapak guide yang bernama Pak Yanto, jalur menuju dasar air terjun tidaklah sulit dan berbahaya. Saya juga bertanya ke Pak Yanto apakah anak kecil bisa ikut turun dan jawabannya adalah bisa asal didampingi guide. Sejak awal saya memang ingin menggunakan jasa guide supaya aman dan tentram hati ini *Eeaaa….

Karena jarak dari Surabaya menuju Lumajang cukup jauh, kami memutuskan untuk mengunjungi Tumpak Sewu pada Minggu pagi. Jadi kami berangkat dari Surabaya Sabtu pagi menuju pantai selatan Malang dulu baru sorenya kami lanjutkan perjalanan menuju Lumajang. Lokasi Tumpak Sewu ini memang berada di perbatasan Kabupaten Malang dan Lumajang. Air terjun ini bisa diakses dari dua kabupaten, dari sisi Malang melalui Desa Sidorenggo dan dari sisi Lumajang melalui Desa Sidomulyo. Kami memilih akses dari Desa Sidomulyo, Kec Pronojiwo karena disini ada spot panorama untuk melihat air terjun dari ketinggian. Jadi seandainya cuaca buruk dan kami tidak bisa turun kami masih bisa menikmati keindahan air terjun ini dari spot panorama. Pada musim hujan seperti sekarang jika ingin turun ke air terjun lebih baik pada pagi hari karena cuaca pagi biasanya cerah, belum turun hujan.

Jalan menuju Tumpak Sewu dari arah Malang adalah melewati rute Bululawang – Dampit – Tirtomoyo – Pronojiwo. Dari perbatasan Malang-Lumajang sekitar 500 meter sampailah kita di Desa Sidomulyo, Kecamatan Pronojiwo, di sebelah kanan jalan kita akan melihat papan tanda masuk obyek wisata Air Terjun Tumpak Sewu. Sesampainya di tempat parkir, Pak Yanto sudah menyambut. Kami akan menginap di homestay miliknya malam ini. Harga homestay nya adalah Rp50 ribu per orang. Murah dan praktis kan. Besok paginya kita tinggal berjalan kaki menuju air terjun.

DSC06823
Pintu masuk

Keesokan paginya setelah sarapan kami berangkat ke air terjun pukul 07.30. Harga tiket masuk per orang adalah Rp10 ribu. Kami melewati kebun salak sebelum mencapai spot panorama. Jarak dari pintu masuk ke spot panorama ini sekitar 400 meter, jalannya sudah disemen jadi mudah dilalui oleh siapa saja.

DSC06824
Rendra di kebun salak

Di spot panorama kita bisa melihat megahnya air terjun raksasa ini dari ketinggian. Saat kami baru tiba disana tiba-tiba kabut naik dari bawah, wah jadi tertutup kabut nih air terjunnya. Tapi Pak Yanto bilang tidak usah khawatir, tunggu saja 5 menit nanti kabutnya hilang. Dan memang benar tidak lama kemudian kabut hilang dan kami pun mulai berfoto disana. Saat kami berfoto muncul pelangi yang terlihat di depan air terjun, awalnya pelanginya masih pendek dan tidak jelas, lama kelamaan pelanginya makin panjang dan jelas. Indah sekali… Melihat air terjun raksasa ini saja sudah indah apalagi ditambah pelangi yang menghiasinya.

IMG_1957
Pelangi di air terjun

Setelah menghabiskan waktu cukup lama di spot panorama kami memulai perjalanan turun ke dasar air terjun. Pagi ini cuaca cerah jadi kami bisa turun, tapi tadi malam hujan deras sehingga jalan yang harus kami lalui menjadi licin. Kami menuruni tangga bambu yang cukup panjang. Sebenarnya tidak sulit jika tangga bambunya masih bagus dan lengkap. Yang menjadi masalah adalah tangga ini sudah banyak yang rusak. Banyak anak tangga yang hilang, kadang ada dua anak tangga yang hilang sekaligus jadi kami harus duduk dulu dan menggapai anak tangga berikutnya. Kami yang perempuan-perempuan cukup kesulitan melewati tangga ini, tapi Pak Yanto dengan mudah dan cepat melewatinya sambil menggendong anak saya. Yup… anak saya sebagian besar digendong dalam perjalanan ini kecuali saat jalannya datar dia berjalan sendiri. Saat musim hujan seperti sekarang kita harus ekstra hati-hati karena jalurnya licin.

IMG_2025
Menuruni tangga bambu
IMG_1996
Tangganya sudah banyak yang rusak

 

Selain tangga bambu kami juga harus melewati tebing yang dialiri air. Yang pertama hanya menyeberang saja, yang kedua kami harus menuruninya. Pak Yanto sama sekali tidak kesulitan menuruni tebing ini sambil menggendong anak saya. Cepat sekali gerakannya sampai saya tidak sempat memfotonya. Kami yang perempuan2 dibantu Pak Yanto untuk menuruni tebing ini, ada tali tambang juga untuk membantu kita turun. Setelah menuruni tebing ini perjalanan turun tinggal sedikit lagi.

IMG_2035
Menyeberangi aliran air
IMG_2047
Dibantu guide menuruni tebing
IMG_2067
Turun tebing

Sesampainya di bawah kami bertemu persimpangan jalan, ke kanan menuju air terjun, ke kiri menuju Goa Tetes. Di arah menuju air terjun ada pos penjaga, disini kita harus membayar uang masuk Rp5 ribu per orang. Kemudian kami berjalan lagi  menuju dasar air terjun. Pemandangan disini sangat memukau, jalan yang kami lalui diapit tebing-tebing tinggi. Entah kenapa suasananya terasa magis. Rasanya seperti berada di setting film-film petualangan fiksi, membuat saya jadi membayangkan sebentar lagi ada naga yang terbang di atas kami.

IMG_2086
Jalur favoritku
IMG_2104
Full team

Medan yang kami lalui berikutnya adalah sungai. Sungai ini memisahkan wilayah Kabupaten Malang dengan Kabupaten Lumajang. Kami dua kali menyeberangi sungai, yang pertama dengan melewati jembatan besi kecil. Jembatannya sangat kecil, hanya selebar satu kaki dan pegangannya hanya satu sisi. Kemudian menyeberang yang kedua kali tidak ada jembatannya, hanya ada tali tambang untuk berpegangan agar tidak terseret arus. Sungai ini memang tidak dalam, tapi arusnya cukup kuat.

IMG_2112
Melewati jembatan kecil
IMG-20171208-WA0018
Menyusuri sungai
20171126_094813
Menyeberangi sungai

Setelah dua kali menyeberangi sungai sampailah kami di dekat dasar air terjun. Pak Yanto mengajak kami naik ke atas bukit kecil untuk mendapatkan spot foto terbaik. Dan saat melihat spot foto terbaik yang dimaksud Pak Yanto saya tidak yakin untuk berfoto disitu. Spot ini adalah sebuah batu yang menjorok di tempat yang tinggi. Ketinggiannya dari dasar kira-kira mencapai 8 meter. Saat saya masih ragu tiba-tiba Pak Yanto sudah menggeret saya ke batu itu dan bilang “Udah sampai sini sayang mbak kalo gak foto disitu. Itu temennya udah nungguin di seberang buat motoin” Iya juga sih mengingat perjuangannya buat turun kesini. Akhirnya saya foto juga deh di batu itu.

IMG_2190
Ini ga berani gerak.. takut kepleset

Kalo mau foto disitu hati-hati ya… Batunya selalu basah karena terkena percikan air terjun jadi licin. Saya aja ga berani pindah posisi pas disitu, padahal pengen foto menghadap belakang. Hahaha…..

 

IMG_2247
Full team basah kuyup

Setelah puas menikmati kemegahan air terjun ini kami berbalik arah menuju Goa Tetes karena nanti kami akan keluar melalui jalur Goa Tetes. Kami kembali harus menyeberangi sungai lagi dan berjalan menyusuri sungai.

20171126_110107
Jalur trekking ke arah Goa Tetes

Setelah menyusuri sungai kami bertemu sebuah telaga yang diberi nama Telaga Biru oleh penduduk sekitar. Kenapa diberi nama telaga biru? Hmm sepertinya sih karena ada bagian telaga yang warna airnya biru. Yah walaupun hanya bagian kecil, yaitu di sudut dekat curug. Oya disini ada pos penjaga lagi dimana kita harus membayar Rp 5 ribu per orang untuk menikmati telaga ini.  Kami beristirahat dulu disini, saya nyobain berendam di telaga sambil foto ala ala bidadari yang lagi mandi. Hehehe…

IMG_2301
Mandi di telaga biru
DSC06844
Indah banget kan telaganya
DSC06841
Ada yang lagi pemotretan

Setelah menikmati telaga tibalah saat yang tidak menyenangkan yaitu perjalanan kembali ke atas. Kami melewati jalan berundak yang licin kemudian menaiki tebing yang dialiri air. Pak Yanto dengan mudah dan cepatnya menaiki tebing sambil menggendong anak saya (saya sampai tidak sempat mengabadikan gambarnya). Sementara saya bingung gimana cara naiknya. Hahaha… Untunglah Pak Yanto kembali lagi untuk menjemput kami dan memandu kami untuk naik ke atas. Yang menyulitkan disini adalah batunya banyak yang licin sehingga harus memilih mana yang aman untuk dipijak.

DSC06846
Jalur yang kami lalui.. Batu-batuan licin yang ditumbuhi lumut

Setelah sukses menaiki tebing ini, Pak Yanto mengajak kami untuk naik lagi ke atas menuju ke dalam Goa Tetes. Kami pun menolak mentah-mentah ajakannya. Kami sudah lelah jadi tidak sanggup lagi jika harus naik ke atas dengan jalur bebatuan yang licin. Ampuun deh… mana perjalanan naik masih panjang lagi.

DSC06849
Hati-hati terpleset

Jalur selanjutnya adalah tangga semen yang curam dan panjang. Entah kenapa undakan tangga ini dibuat tinggi sehingga membuat cepat lelah. Sepertinya tangga ini yang membuat paha saya kaku selama 3 hari. Di tengah jalur ada warung yang menjual gorengan dan minuman, kami pun beristirahat dulu disini sambil menikmati gorengan. Setelah mengisi tenaga kami lanjutkan lagi perjalanan sampai anak tangga habis. Alhamdulillah sampai juga ya di atas.

IMG-20171214-WA0006
Tangga di jalur Goa Tetes – minjem foto Yunia

Kami keluar melewati pos pintu masuk Goa Tetes. Pos ini berjarak sekitar 500 meter dari pintu masuk Tumpak Sewu. Dari sini kami langsung kembali ke homestay untuk mandi dan makan mie instant yang sudah disiapkan oleh istri Pak Yanto.

DSC06820
Homestay Pak Yanto

Bagi orang-orang yang sering mendaki gunung mungkin jalur trekking ke Tumpak Sewu ini terasa mudah, tapi bagi saya yang seringnya jalan hanya di jalan-jalan datar saja jalur ini cukup menantang. Oleh karena itu jika kalian bukan pecinta alam dan pendaki, sebaiknya gunakanlah jasa guide untuk turun ke dasar air terjun. Silahkan hubungi Pak Yanto di nomor 085331238963. Orangnya sangat ramah dan helpfull.

IMG_2046
Pak Yanto membantu saya menuruni tebing

Walaupun jalur trekkingnya cukup susah, saya sangat menikmati perjalanan  ke Tumpak Sewu ini. Seru, menyenangkan, dan menantang. Ditambah lagi dengan pemandangan yang indah dan hijau selama perjalanan. Dan tentunya pemandangan air terjun Tumpak Sewu itu sendiri yang megah, indah, dan menakjubkan. Bolehlah kalo diajak kesini lagi…. Tapi tahun depan yaa… ^_^

IMG_2168
Air terjun yang indah dan megah

 

 

 

Jalan-jalan di Hong Kong Island Bersama Rendra

20151029_153210 1
The Peak, 2015

Hari berikutnya kami berencana jalan-jalan di seputaran Hong Kong Island. Dari hostel kami berjalan ke Kowloon Point Ferry Piers at Salisbury Road. Kami naik ferry untuk menyeberang ke Hong Kong Island. Perjalanan naik ferry ini sangat menyenangkan, kita bisa melihat pemandangan gedung-gedung tinggi yang berjajar di Hong Kong island.

DSC_0195
di atas ferry

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, ferry yang bernama Star Ferry ini sudah menjadi tumpuan hidup warga Hong Kong sejak 100 tahun lalu, tidak pernah berhenti beroperasi kecuali saat ada angin topan. Untuk menyeberangi lautan dari Kowloon ke Hong Kong Island, ferry adalah alat transportasi yang paling murah (lebih murah daripada MTR). Ada dua jenis tempat duduk di ferry ini, yaitu upper deck dan lower deck. Tarif untuk upper deck adalah HKD 2,5, sedangkan untuk lower deck HKD 2. Pilihlah tempat duduk upper deck agar bisa melihat pemandangan dengan leluasa. Pintu masuk di dermaga dibedakan untuk upper deck dan lower deck, jangan salah masuk, perhatikan petunjuk arahnya. Interval keberangkatan ferry ini cukup cepat yaitu antara 10 – 20 menit. Waktu tempuhnya dari dermaga Kowloon ke Central sekitar 15 menit. Tiket ferry bisa dibayar menggunakan Octopus Card.

DSC_0202
Star Ferry

Tujuan kami yang pertama adalah Victoria Park. Sebenarnya kami kesana hanya karena ingin merasakan naik tram. Tram hanya ada di Hong Kong Island mulai dari Northpoint di sisi Timur hingga Kennedy Town di sisi paling Barat. Setelah keluar dari Central Pier kami berjalan melewati jembatan panjang menuju halte tram terdekat. Kami naik tram menuju Victoria Park di daerah Causeway Bay. Cara naik tram ini adalah naiknya dari pintu belakang, kemudian keluar dan bayarnya di pintu depan. Tram bisa dibayar menggunakan Octopus Card.

DSC_0227
Tram

Kami turun tepat di depan Victoria Park. Victoria Park adalah sebuah taman luas yang di dalamnya terdapat fasilitas olah raga, yaitu antara lain lapangan basket dan futsal. Taman ini diberi nama sesuai dengan nama Ratu Inggris yaitu Queen Victoria mengingat Hong Kong merupakan bagian dari negara persemakmuran Inggris sebelum tahun 1997. Victoria Park menjadi tempat berkumpulnya pahlawan devisa dari Indonesia pada hari Minggu, hari libur mereka. Kami ke taman ini pada hari Selasa, jadi taman ini sepi sekali. Di pintu masuk taman terdapat patung Queen Victoria yang sedang duduk di singgasana.

DSC_0236
Victoria Park

Setelah beristirahat duduk-duduk di taman, kami melanjutkan perjalanan menuju The Peak. Kami naik Peak Tram dari Lower Peak Tram Terminus yang berlokasi di Garden Road, Central. Peak Tram adalah tram khusus yang berjalan di jalur menanjak hingga 50 derajat kemiringan. Tram ini akan mengantarkan kami menuju Victoria Peak. Peak tram beroperasi setiap hari mulai jam 7 pagi sampai tengah malam. Interval keberangkatan tram ini adalah setiap 10 sampai 15 menit. Waktu tempuh menuju The Peak adalah sekitar 7 menit. Perjalanan cukup seru dan mendebarkan karena tram ini berjalan menanjak dengan kemiringan hampir 50 derajat. Tiket satu paket naik Peak Tram + Museum Madam Tussaud + Sky Terrace adalah HKD 220 per orang.

DSC_0268
Peak Tram

Begitu sampai di atas kami langsung naik menuju Sky Terrace. Sky Terrace adalah tempat tertinggi untuk melihat kemegahan gedung-gedung pencakar langit Hong Kong dari atas The Peak. Dengan ketinggian 428 mdpl, Sky Terrace adalah tempat tertinggi dan terbaik dimana kita bisa melihat Hong Kong dari ketinggian yang menakjubkan dengan daya pandang seluas 360′. Waktu yang paling tepat untuk mengunjungi Sky Terrace adalah mulai sore sampai malam. Jadi kita bisa melihat pemandangan dengan dua waktu yang berbeda. Pada malam hari pemandangan Hong Kong dari The Peak semakin terlihat indah karena lampu-lampu dari gedung-gedung tinggi menyala. Tapi karena waktu itu kami sampai disana masih siang hari maka kami melewatkan pemandangan malam harinya. Di Hong Kong matahari terbenam sekitar pukul 7 malam, jadi terlalu lama jika menunggu sampai gelap.

20151029_154323
Sky Terrace

Setelah puas melihat view kota Hong Kong dari Sky Terrace kami turun menuju Madame Tussauds Museum. Madame Tussauds Museum adalah sebuah museum lilin terkenal di London, Inggris, dengan cabang-cabang di beberapa kota besar di dunia, termasuk di Hong Kong. Museum ini pertama kali didirikan oleh pematung lilin Marie Tussaud. Patung-patung lilin Madame Tussauds terdiri atas tokoh-tokoh sejarah, keluarga kerajaan, bintang film, atlet tenar dan tokoh-tokoh kriminal yang tenar.

DSC_0371
Mama nempel sama Harry Styles aja

Rendra sangat menikmati kunjungan kami ke museum ini. Dia bersemangat untuk berfoto dengan patung-patung lilin. Tumben ya… biasanya susah banget disuruh senyum pas foto apalagi disuruh bergaya. Disini dia mau disuruh bergaya mengikuti gaya si patung dan juga sambil tersenyum lebar.

DSC_0383
Kung fu sama Jackie Chan

Hari sudah sore ketika kami turun dari Victoria Peak. Kami naik Peak Tram lagi kemudian naik MRT untuk kembali ke Kowloon. Kami mampir sebentar ke Tsim Sha Tsui Promenade untuk melihat view gedung-gedung pencakar langit di Hong Kong island. Cuaca sore ini mendung dan berkabut sehingga pemandangan menjadi tidak terlihat jelas. Sebenarnya  ada pertunjukan laser Symphony of Lights yang dimulai setiap pukul 20.00, tapi karena saat itu waktu baru menunjukkan pukul 17.30 maka terlalu lama jika kami menunggu. Kami masih harus berbelanja oleh-oleh malam ini. Rendra sudah terlihat lelah dan mengantuk tapi dia juga berulang kali mengingatkan agar jangan lupa membeli oleh-oleh untuk guru-gurunya. Oleh karena itu kami segera menuju Ladies Market untuk berbelanja.

DSC_0486
Promenade

Sampai disini petualangan Rendra di Hong Kong…. sampai jumpa di petualangan Rendra berikutnya ^_^

 

DSC_0366
Marilyn Monroe
DSC_0452
The Hulk
DSC_0406
Muhammad Ali
DSC_0454
Doraemon

 

DSC_0391
Bruce Lee
DSC_0432
The Beatles

 

 

 

 

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Alid Abdul

Travel till you die!

Harival Zayuka

Just another WordPress.com site

My Sanctuary

my travel notes

Claraberkelana.com

Travel Stories

The Traveling Cows

my travel notes