Search

Here, There, & Everywhere

my travel notes

Pagi yang Indah di Ranu Kumbolo

IMG-20180808-WA0089
Sunrise

Pagi yang kami nantikan akhirnya datang juga. Saat saya keluar dari tenda, langit masih gelap, tapi sinar matahari sudah mengintip di antara dua bukit di seberang Ranu Kumbolo. Kami segera keluar dan menuju tepi danau untuk menikmati momen sunrise ini. Bersyukur sekali akhirnya saya bisa sampai di danau yang indah ini dan melihat matahari terbit.

IMG_1090
Danaunya berkilauan tertimpa sinar matahari
IMG_1085
Tanjakan Cinta

Setelah itu kami berpindah lokasi ke arah tanjakan cinta yang berada di belakang tenda kami. Disini kita bisa melihat pemandangan Ranu Kumbolo dan tenda2 yang memenuhi camping ground. Kemudian kami mendaki tanjakan cinta menuju Oro Oro Ombo. Tanjakan cinta ini terkenal dengan mitosnya yang katanya sih barang siapa yang bisa mendaki tanjakan ini tanpa menoleh ke belakang maka dia akan menemukan cintanya. Yang pasti sih memang sulit untuk tidak menoleh ke belakang saat mendaki tanjakan ini. Kenapa? Karena dalam kondisi lelah mendaki tentunya kita ingin berhenti sebentar dan melihat pemandangan indah yang ada di belakang kita.

DSC08880
View dari atas
IMG_1072Rakum
Diantara Ranu Kumbolo dan Oro-Oro Ombo

Sesampainya di atas kita akan melihat padang savana yang luas. Ini adalah Oro Oro Ombo. Saat itu Oro Oro Ombo dalam keadaan kering karena musim kemarau. Tapi pada saat musim hujan padang rumput ini akan dipenuhi tanaman Verbena Brasiliensis, tanaman invasif dari Amerika Selatan yang bunganya berwarna ungu seperti lavender. Pada saat itu Oro-oro Ombo akan terlihat indah dengan hamparan bunga berwarna ungu tersebut. Tapi meski indah, keindahan tanaman ini tidak berarti baik bagi Semeru karena ada ancaman ekologis di balik keindahan itu. Saya jadi penasaran pengen kesini lagi waktu Verbena-nya berbunga.

IMG_1029Rakum
Oro-Oro Ombo

Setelah puas kami kembali ke tenda. Lalu saya mengajak Grandis ke sisi kanan danau, pengen foto di atas batang pohon tumbang kayak orang2 itu. Akhirnya nemu juga lokasinya, ini dia fotonya…

IMG_1105-01
Beautiful morning

Saat kami kembali ke tenda, teman2 yang lain sudah mulai memasak sarapan. Mereka menggoreng sosis dan nugget, serta menyeduh mie instant. Hmm… udah laper banget ini. Nikmatnya makan bersama sambil memandang Ranu Kumbolo.

Matahari telah bersinar terik, setelah selesai sarapan kami segera membereskan tenda dan barang bawaan. Sampah2 harus dibawa kembali dengan karung yang sudah diberikan kepada pendaki di pos pendaftaran. Jangan sampai lupa ya, nanti bakal disuruh balik lagi ke Rakum kalo kita ga bawa balik sampahnya. Saat itu sudah pukul 10 lewat, perjalanan pulang masih panjang, tetapi hati senang karena sudah berhasil mencapai Ranukumbolo. Semoga next time bisa sampai puncak Mahameru ya…

IMG_1180
Foto full team sebelum pulang
IMG_8935
Perjalanan pulang
IMG_8911
TNBTS ini indah banget

Sampai Juga di Ranu Kumbolo

IMG_0852Rakum
Ranu Kumbolo

Akhirnya… setelah berusia setua ini saya bisa sampai juga di Ranu Kumbolo. Hehehe… Sebenernya ini agak memalukan sih, karena saya ini orang Jawa Timur yang dari lahir sampai besar ya tinggal di Jatim. Mungkin karena gaulnya bukan sama anak gunung ya, jadi ga ada yang ngajakin kesitu. Udah lama sih berangan2 ke Ranu Kumbolo, nyari-nyari temen yang mau ikutan, dapet sih, tapi ga ada realisasi juga. Lagi-lagi karena ga ada yang punya pengalaman naik gunung, jadi bingung kesananya naik apa dan gimana2nya nanti disana. Padahal emang niatnya cuma ke Ranu Kumbolo aja, ga sampe summit. Saya sadar diri lah sama kemampuan, jadi untuk pertama kali mending sampe Rakum aja.

Pada bulan Agustus 2018 ajakan buat camping di Rakum akhirnya datang juga. Grandis yang udah saya pesenin (pokoknya kalo ke Rakum harus ajak aku!!!), mengajak saya ke Rakum bareng adik dan teman2nya. Tentu saja saya mau dong meski ga ada yang kenal dari rombongan itu. Perencanaan trip kali ini semua dilakukan oleh mereka, saya tinggal ikut dan bayar patungannya aja.

Jumat jam 8 malam saya berangkat ke Terminal Bungurasih. Udah janjian sama Grandis dan temen2nya yang rombongan Surabaya untuk berangkat jam 9 dari Bungurasih ke Malang. Singkat cerita kami sampai di Malang dan menginap semalam di rumah salah satu teman pendakian kita. Dini hari pukul 3 kami berangkat naik angkot yang udah disewa untuk membawa kami menuju Desa Tumpang. Di Tumpang kami berhenti di rumah pemilik jeep yang akan kami sewa untuk mengantar kami ke Ranu Pani. Kami disuguhi sarapan disini, jadi sewa jeepnya ini include sarapan gitu. Pukul 6 pagi kami berangkat naik jeep menuju Ranu Pani dengan total rombongan 11 orang. Oya jeep-nya ini belakangnya terbuka dan tempat duduknya dilipat supaya bisa muat banyak. Jadi yang di belakang berdiri semua, seru deh…

20180804_063009
View yang kami lihat di perjalanan

Perjalanan menuju Ranu Pani menghabiskan waktu hampir 1 jam. Pemandangannya sangat indah, gunung Bromo dan lautan pasir terlihat dari jalan yang kami lalui. Sekitar jam 7 kami sampai di Ranu Pani. Dinginnya luar biasa saat itu. Dan yang menakjubkan adalah kami disambut hamparan rumput dan daun2 yang membeku. Yes… it’s frosting in Ranu Pani.

20180804_071550
Ranu Pani

Gara2 frosting ini kami jadi foto2 dulu deh di hamparan rumput  yang membeku. Dingin banget saat itu, padahal matahari sudah bersinar cerah. Jadi kepikiran gimana dinginnya nanti malam di Ranu Kumbolo yang lokasinya jauh lebih tinggi dari Ranu Pani.

IMG-20180804-WA0000
Frosting in Ranu Pani

20180804_084610

Setelah itu kami berjalan menuju pos pendaftaran. Oya untuk naik ke Semeru kita harus daftar online dulu ya lewat web resminya Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Ini harus ya karena ada batasan kuota pendaki untuk mendaki Semeru. Selain itu jangan lupa juga untuk bawa dokumen pendaftaran dan print out bukti pembayaran kalian. Kami sempat kerepotan karena tidak membawa print out bukti transfer karena petugas meminta print out dalam bentuk kertas. Jadi kami harus cari tempat ngeprint dulu di desa.

20180805_164018
Pos Pendaftaran

Setelah proses pendaftaran selesai, kami harus mengikuti briefing dulu sebelum mulai mendaki. Saat briefing kami diberi penjelasan tentang aturan2 yang harus kita patuhi selama mendaki. Point2 yang harus diingat adalah pendaki dilarang memasukkan anggota badan ke dalam danau, dilarang membuat api unggun, dan dilarang membawa tissue basah, jadi semua tissue basah yang terlanjur dibawa bisa dititipkan dulu di petugas.

Setelah briefing mulailah kami berjalan menuju gapura masuk pendakian. Kami tidak menggunakan guide dan porter karena sudah ada beberapa teman yang sudah berpengalaman ke Ranu Kumbolo. Ya lagipula kami memang ingin mengirit biaya. Katanya sih perjalanan sampai camping ground di Ranu Kumbolo menghabiskan waktu 4-5 jam. Kami baru start pukul 11 siang karena urusan print out bukti transfer tadi yang cukup menyita waktu.

20180804_105537
Semangat!!! Ranu Kumbolo…  kami datang

Tidak lama berjalan dari gapura jalan sudah menanjak. Menanjaknya lumayan nih hampir 45 derajat. Nafas saya udah hampir habis. Tapi untungnya ga lama sih jalan nanjaknya. Setelah itu jalan landai sampai Pos 1. Kami menghabiskan waktu satu jam untuk mencapai Pos 1. Di Pos 1 ini masih ada signal internet, jadi kalo mau memberi kabar ke orang tua, suami/istri, pacar, temen, atau gebetan segera lakukan di Pos 1. Setelah itu dipastikan sudah tidak ada signal internet dan telepon. Kami beristirahat sambil makan gorengan dan semangka. Nikmat sekali.

IMG_0697Rakum
Meski lelah tapi tetap senyum kalo ada kamera
20180804_130652
Pos 2

Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Pos 2. Jarak antara Pos 1 dan Pos 2 ga terlalu jauh, jadi ga terlalu capek lah. Tapi tetep aja kami istirahat dulu di Pos 2 dan makan semangka lagi dong.

Setelah beristirahat sebentar kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 3. Jarak antara Pos 2 dan Pos 3 ini lumayan jauh. Di jalan kami melewati Watu Rejeng, tebing terjal yang berdiri tegak lurus. Lokasi ini berada pada ketinggian 2350 mdpl.

20180805_133641
Watu Rejeng

 

 

Kemudian kami melihat sebuah jembatan berwarna merah di depan kami. Jembatan ini cukup terkenal dengan cerita mistisnya. Saat itu kabut tebal menutupi area di sekitar jembatan. Tapi karena kami melewatinya pada siang hari dan beramai-ramai jadi ya alhamdulillah aman-aman saja.

 

 

 

20180804_140817
Jembatan Merah

Setelah berjalan lagi beberapa menit, sampailah kami di Pos 3. Waktunya makan semangka lagi nih…

20180805_124011
Abis istirahat langsung melewati ini

Perjalanan menuju Pos 4 diawali dengan undakan tanah yang lumayan menguras energi untuk seorang amatir seperti saya. Kalo dilihat di foto samping ini sih kayaknya landai ya. Tapi foto itu sungguh menipu, apalagi naiknya sambil bawa keril. Untung tadi udah istirahat dan makan semangka. Satu demi satu undakan saya naiki dengan tabah. Semangat!!! Rasanya lega setelah undakan ini berakhir, jalan sudah landai lagi.

Setelah berjalan beberapa menit kemudian, kabut pun mulai turun membuat suasana mistis menjadi terasa. Untung masih siang kan ya.

 

IMG_0722Rakum
Kabut menyelimuti

Kemudian mulailah terlihat Ranu Kumbolo yang indah itu. Hmmm senangnya… rasa lelah terasa berkurang. Sekarang kami berjalan mengitari danau karena camping ground yang kami tuju berada di seberang danau.

IMG_0821Rakum
Udah terlihat danaunya

Meski makin semangat jalannya tapi sekarang jadi makin lama juga perjalanan kami karena sebentar2 berhenti buat foto. Sayang banget lah kalo sampai melewatkan buat foto2 disini. Lihat aja foto2 di bawah ini…

IMG_0850Rakum
Indah dan tenang ya
IMG_0865Rakum
Matahari sudah di ufuk barat
IMG_0875Rakum
Menanti teman seperjalanan
20180805_114729
Semangka terenak yang pernah kumakan

Lalu sampailah kami di Pos 4 yang memiliki view Ranu Kumbolo. Makan semangka lagi lah kami sambil melihat pemandangan yang indah. Nikmat banget makan semangka yang dijual di tiap pos ini, rasanya manis, segar, dan dingin serasa baru keluar dari kulkas.

Nah perjalanan tinggal sebentar lagi, camping ground sudah terlihat jelas dari sini. Matahari sudah berada di ufuk barat jadi kami segera melanjutkan perjalanan  sebelum hari gelap. Setelah berjalan mengitari danau kami sampai di sebuah tanah lapang yang berada di tepi danau. Tapi ini bukan camping ground yang kami tuju, meski ada beberapa pendaki yang mendirikan tenda disini.

20180805_112252
Beberapa pendaki mendirikan tenda disini

Kami berjalan lagi menaiki bukit, lokasi camping ground yang kami tuju ada di balik bukit. Setelah menaiki bukit, jalanan menurun lagi dan sampailah kami di Ranu Kumbolo. Masya Allah indahnya…

20180804_163418
Alhamdulillah sampai juga

Ranu Kumbolo ini berada di ketinggian kurang lebih 2400 mdpl. Senangnya saya akhirnya sampai juga di danau ini. Beberapa teman saya yang sudah sampai duluan sudah memilih lokasi untuk mendirikan tenda. Saat itu camping ground sudah penuh dengan tenda karena kami sampai disana sudah pukul 5 sore. Jadi waktu tempuh kami dari gapura masuk sampai di camping ground adalah 6 jam. Hahaha… dasar amatiran, kebanyakan berhenti istirahat dan foto2 sih. Kami memilih lokasi di bagian belakang, disana masih cukup lenggang, meski jauh dari tepi danau.

20180804_163304
Camping ground

Sementara para laki-laki memasang tenda (inilah enaknya kalo camping sama cowok2, tenda biar jadi urusan mereka), kami yang perempuan pergi mengambil air di danau. Peraturan terpenting yang harus kita ingat disini adalah dilarang memasukkan anggota tubuh kita ke dalam danau. Air danau ini digunakan pendaki untuk minum dan memasak jadi kita harus sama2 menjaga kebersihannya.

DSC08868 (2)
Tenda kami

Oya kabar gembiranya, sekarang di Ranu Kumbolo ada toilet umum. Jadi ga ada masalah lah kalo kebelet. Toilet ini bayarnya Rp5000 per orang, airnya banyak melimpah. Tapi ga boleh mandi disini, dan kupikir kan juga ga bakal ada yang mau mandi dengan suhu udara dan air sedingin es itu ya. Ternyata besoknya saya lihat ada lho yang mandi dan keramas pula. Luar biasaaa…

Oya di dekat toilet ini ada api unggun yang dinyalakan oleh ranger. Para pendaki dilarang untuk menyalakan api unggun, jadi kalo mau mencari kehangatan bisa mendekati api unggun ini. Malam pun tiba, kami mulai menyalakan kompor dan memasak mie instant. Saya semangat masak dengan modus supaya bisa menghangatkan diri deket api. Sumpah dingin banget malam itu. Setelah mie instant sudah jadi semua kami makan bersama2 sambil ngobrol. Tapi kami tidak tahan berada terlalu lama di luar, jadi selesai makan dan minum kopi/susu hangat kami segera masuk ke dalam tenda dan bersiap2 tidur. Dan dimulailah malam yang menyiksa itu….

DSC08873
Menjelang malam di Ranu Kumbolo

Saya pikir saya bakal tidur nyenyak malam itu karena kondisi badan yang lelah, tapi ternyata saya salah besar. Saya luar biasa kedinginan, padahal baju udah dilapisi long john, pake jaket, kaos kaki, kaos tangan dan syall, serta berada di dalam sleeping bag. Oya sleeping bag ini juga hukumnya wajib ya buat dibawa ke Semeru. Malam jadi terasa panjang, saya ga bisa tidur nyenyak, tengah malem kebangun trus susah tidur lagi. Jadi nyesel ga bawa obat tidur waktu itu. Dinginnya luar biasa sampai wajah saya juga saya tutupi syall, trus abis itu bingung gimana nafasnya. Hmmm….

 

 

 

Menemui Baby-Baby Panda yang Menggemaskan di Chengdu Research Base of Giant Panda Breeding

 

DSC01440
Yeaaay… mau ketemu baby panda

Hari ini adalah saatnya bertemu dengan Pandaaaa. Siapa sih yang ga suka sama binatang yang satu ini. Pasti semua orang menyukainya kan. Memang tujuan kami ke Chengdu adalah untuk melihat panda di habitat aslinya. Tempat konservasi panda ini bernama Chengdu Research Base of Giant Panda Breeding. Lokasinya ada di pinggiran kota Chengdu, sekitar 10 km dari pusat kota. Berhubung tarif taxi di Chengdu ini gak mahal-mahal amat maka kami pergi kesana menggunakan taxi supaya cepat sampai.

DSC01447.JPG
Pintu masuk Chengdu Research Base of Giant Panda Breeding

Chengdu Research Base of Giant Panda Breeding ini dibangun semirip mungkin dengan habitat asli Giant Panda supaya mereka mendapatkan lingkungan terbaik untuk tumbuh dan berkembang biak. Tanaman dalam jumlah besar dan sedikitnya sepuluh ribu rumpun bambu telah ditanam untuk menyediakan habitat dan bahan makanan panda-panda yang tinggal disini. Tempat ini mulai buka pada pukul 7.30 s.d. 18.00. Waktu terbaik untuk datang adalah pukul 9.00 s.d. 10.00 yaitu saat mereka sedang makan dan beraktifitas.

DSC01426
Hutan bambu

Setelah sampai kami langsung membeli tiket dan masuk ke dalam. Harga tiketnya adalah CNY 58. Tujuan pertama kami adalah ke tempat baby panda. Kami menaiki shuttle car untuk menuju ke dalam karena lokasi baby panda ini cukup jauh. Naik shuttle car ini bayarnya CNY 10, bisa dipake mondar mandir seharian.

DSC01445
Shuttle car

Sebelum sampai di kandang baby panda kami melewati kandang- kandang panda dewasa. Panda dewasa menempati satu kandang untuk satu panda. Di depan kandangnya ada papan yang berisi biodata si panda beserta fotonya. Jadi di papan tersebut tertulis nama panda, student number, tanggal lahir, jenis kelamin, serta deskripsi sifat dan perilaku si panda. Contohnya Cheng Ji, panda betina yang lahir pada tanggal 11 September 2000. Di papan tertulis bahwa Cheng Ji ini cukup rewel soal kebersihan, dia sering membersihkan diri dan selalu kencing di tempat yang sama. Lucu juga ya, ada panda yang selalu menjaga kebersihan diri. Lalu ada Xi Lan, panda jantan yang lahir pada tangal 31 Agustus 2008. Meski terlihat manis, tapi Xi Lan ini suka milih-milih makanan dan lama kalo makan. Hihihi… mungkin bambu yang mau dimakan dipilihin dulu kali yang segar aja yang mau dia makan.

DSC01379
Panda dewasa

 

DSC01382
Biodata panda

Kemudian tiba lah kami di tempat baby panda. Bayi-bayi panda ini ditempatkan di satu tempat beramai-ramai. Mereka ini cute banget. Menggemaskan deh, pengen nguleng-nguleng rasanya. Beberapa baby panda ada yang sedang tiduran di pohon. Lucu deh, mereka bisa ga jatuh gitu meski pohonnya kecil dan merekanya gendut. Lalu yang lain ada yang lagi bermain bersama, lagi makan, lagi manjat pohon, dan ada pula yang lagi iseng gangguin temennya yang lagi tidur. Hihihi… mungkin maksudnya mau ngajak main bareng. Lihat tingkah polah baby panda ini bikin ketawa. Kami sampe betah nongkrong di depan kandang itu selama satu jam lebih.

20160402_110302
Kandang baby panda

Berhubung hari semakin siang, maka kami harus menyudahi acara nonton baby panda. Kalo diturutin bisa seharian nongkrongin para baby panda yang menggemaskan itu. Oya, disini kita juga bisa mendonasikan uang untuk konservasi panda. Dan menariknya, dengan memberikan donasi sebesar CNY 100 kita diberi souvenir berupa boneka panda yang lucu. Kami bertiga akhirnya membawa pulang masing-masing satu boneka panda. Tempat untuk memberikan donasi ini berada di sebuah bangunan kayu yang terletak di dekat area baby panda.

DSC01393
Tempat untuk memberi donasi

Setelah itu kami menuju area red panda. Tapi sayangnya red panda-nya lagi bobo. Jadi kami tidak berlama-lama disana. Saat naik shuttle car kami melewati bioskop mini. Kami pun turun dan masuk ke Panda Story Cinema ini. Di bioskop ini diputar film dokumentasi giant panda mulai dari lahir sampai dewasa.

DSC01417
Panda Story Cinema

Giant Panda bukan hanya binatang yang merupakan harta kekayaan China, namun binatang ini juga disukai semua orang di dunia. Giant Panda hanya dapat ditemukan di Provinsi Sichuan, Shaanxi and Gansu. Secara total saat ini hanya terdapat kurang dari 2000 ekor, dimana 70 persennya berada di wilayah Provinsi Sichuan. Oleh karena itu, ketika turis domestik China dan luar negeri berkunjung ke Chengdu, Provinsi Sichuan, pasti salah satu tujuan utamanya adalah untuk melihat binatang ini secara langsung. Begitu juga kami ^_^

DSC01371
Lagi bobo di atas pohon
20160402_111442
Bola-bola bulu yang menggemaskan
20160402_112422
Lucuuu banget
DSC01385
Meski gendut tapi mereka bisa nyaman bobo di atas pohon
DSC01433
Ga bisa foto sama baby panda ya udah foto aja sama bonekanya

Tiba di Chengdu dan Menghabiskan Malam Berbelanja di Jinli Street

DSC01313
Gerbang masuk Jinli Street

Pagi ini saya bangun di kereta dan menyadari bahwa perjalanan masih lama. Kereta kami baru akan sampai di Chengdu pada pukul 14.26. Bingung mau ngapain aja. Ada penjual nasi yang menjajakan jualannya sepanjang gerbong pada pagi hari. Jadi syukurlah pagi ini kami tidak kelaparan. Saya menyapa cewek China yang satu kompartemen dengan kami, dan ternyata dia lancar berbahasa Inggris. Akhirnya kami mengobrol dengan dia, namanya Yang Yi Men. Dia adalah mahasiswi yang akan berlibur ke rumah temannya di Chengdu.

Setelah kereta sampai Chengdu kami mengikuti Yang Yi Men menuju stasiun MRT. Lokasi stasiun MRT ini dekat tapi cukup membingungkan bila kita pertama kali kesini, apalagi jalan menuju kesana penuh orang. Kemudian Yang membantu kami untuk membeli tiket di ticketing machine. Setelah semua mendapat tiket kami masuk ke dalam. Lalu Yang berkata akan mengantarkan kami ke hostel, katanya dia khawatir kami tersesat. Woouww baik sekali ya dia. Jadi dia naik kereta bersama kami dan ikut turun di stasiun yang terdekat dari hostel. Dia menggunakan smartphone-nya untuk mencari lokasi hostel kami, yaitu  Chengdu Lazy Bones Backpackers Boutique Hostel. Selama di China, kami memang tidak menggunakan internet selain wifi hostel. Hostel kami sangat dekat dengan stasiun MRT, tak perlu berjalan jauh untuk menemukannya. Setelah sampai kami pun berpisah dengan Yang Yi Men. Terima kasih banyak Yang Yi Men, senang berkenalan denganmu.

DSC01348
Hostel kami di Chengdu

Kami memesan triple room untuk 2 malam. Tarifnya adalah CNY 80 per orang per malam. Setelah mandi kami segera keluar menuju Jinli Street. Jinli street adalah sebuah area yang berbentuk jalan kecil yang di kanan kirinya berdiri rumah-rumah kuno yang sekarang dijadikan pertokoan dan rumah makan. Jalan in terletak di sebelah timur Wuhou Temple. Untuk menuju kesana kami tinggal berjalan kaki sedikit menuju perempatan besar dan naik bus dari sana.

DSC01321
Menyenangkan sekali jalan-jalan disini

Jinli street dulunya adalah area komersial tersibuk pada masa Shu Kingdom (221-263). Oleh karenanya jalan ini juga dinamakan First Street of the Shu Kingdom. Untuk mengembalikan kejayaannya pada masa lampau, jalan ini dan bangunan-bangunan di dalamnya direstorasi dengan kontribusi dari Wuhou Temple dan dibuka untuk umum pada Oktober 2004. Sejak itu pengunjung dari seluruh penjuru China dan luar negeri datang kesana untuk bersantai, mengagumi bangunan-bangunan tradisional yang ada disana, dan menikmati jajanan lokal, serta tentunya berbelanja souvenir.

DSC01339
Saat malam Jinli Street makin cantik karena lampu-lampu yang menyala

 

 

Karena kami belum makan siang, maka kami langsung masuk ke restoran terdekat yang ada di Jinli Street. Restoran ini menjual aneka macam mie dan pangsit. Kami memesan mie kuah dan pangsit kuah. Setelah kenyang, sekarang saatnya berkeliling Jinli Street. Jalan ini sudah tertata dengan rapi dan cantik, berbeda dengan muslim quarter di Xian yang berupa pasar. Bangunan-bangunan tradisional yang mengapit jalan ini merupakan daya tarik tersendiri saat berjalan-jalan disini. Saat malam tiba, lampu-lampu dan lampion mulai menyala sehingga menambah kecantikan jalan ini. Selain toko souvenir, disini juga terdapat banyak restoran, cafe, dan penjual jajanan tradisional. Souvenir yang dijual pun bermacam-macam, mulai gantungan kunci, tempelan kulkas, kaos, pajangan, sampai karya seni dengan harga mahal. Malam itu kami puas berkeliling dan berbelanja di Jinli Street sampai larut malam.

DSC01346
Membeli souvenir untuk oleh-oleh
DSC01322
Kanan kirinya dipenuhi toko-toko

 

 

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Nicoline's Journal

by Nicoline Patricia Malina

Alid Abdul

Travel till you die!

Harival Zayuka

Just another WordPress.com site

My Sanctuary

my travel notes

Claraberkelana.com

Travel Stories

The Naked Traveler

Journey Redefined

The Traveling Cows

my travel notes